Journey, Mancanegara

Bertemu Wajah Sendu Helene Sedelmayer

Tampak-depan-Schloss-Nymphenburg

Mengunjungi sebuah istana dengan halaman seluas kota Munich, namun akhirnya saya tenggelam dalam sihir sebuah lukisan.

 

“Sudah sampai di sini, jangan lupa mampir ke Schloss Nymphenburg,” kata teman saya, Ditta, di mana saya menumpang tidur di rumahnya selama tiga hari mengunjungi Munich ini.

Mula-mula saya tidak ‘ngeh’ dengan apa yang dikatakannya. Maklum, tadi seharian saya sibuk mencoba kereta bawah tanah, menjelajahi kawasan kota tua Munich di seputaran Marienplatz, hingga mengunjungi stadion Allianz Arena yang menjadi kandang klub sepakbola Bayern Muenchen. Hingga saat malam, ketika sedang membuka-buka sebuah buku panduan wisata kota yang tergeletak di meja, pandangan saya terantuk pada sebuah foto kecil lukisan seorang wanita muda di halaman buku itu. Dalam balutan baju tradisional Bavaria elegan bernuansa sutera pink dan biru, tatapan matanya yang menerawang ke atas itu menyisakan misteri. Antara kepolosan, kekhawatiran, sendu, keanggunan, bercampur jadi satu.

Air-mancur-utama-depan-Schloss-Nymphenburg

Air mancur utama depan Schloss Nymphenburg yang terlihat dari jalan raya.

Gallery of Beauties ini ada di mana? Aku mau berkunjung,” saya tak tahan untuk menanyakannya ke Ditta.

“Iya itu, di Schloss Nymphenburg!”

Ooh. Berarti saya harus ke sini.

Pagi, sambil menggandeng si sulung Maruscha dan mendorong stroller si bayi Sophia, Ditta mengantar saya ke schloss alias istana itu. Kami cuma sekali naik tram, dan turun di halte di depan istana ini. Dari pinggir jalan raya, mengikuti alur kanal air, di ujung depan sana saya bisa melihat gedung utama istana ini, yang berbentuk kotak kubus bertingkat lima, bercat putih, di belakang sebuah air mancur yang menjulang tinggi. Dari jalan raya ke istana itu sepertinya satu kilometer sendiri, jadi kami mampir dulu ke Kafe Backspielhaus di ujung jalan untuk ngopi dan mengisi perut. Baru kemudian kami berjalan kaki menyusuri pinggiran kanal.

Kalau cuma melihat dengan pandangan mata, kita bisa tertipu. Benar, untuk menuju halaman depannya saja kita perlu berjalan kaki cukup lama. Tapi sebenarnya ini -termasuk keseluruhan bangunan istananya- hanya bagian kecil dari keseluruhan kompleks yang mencakup istana, paviliun, taman, kanal, museum, dan hutan, yang keseluruhannya mencapai 221 hektar. Sebagai perbandingan, luas Taman Mini Indonesia Indah adalah 150 hektar. Saat tanah ini dibeli tahun 1663 oleh Ferdinand Maria, elektor Bavaria (memerintah tahun 1651-1679), luasnya bahkan lebih besar dari kota Munich saat itu.

Schloss-Nymphenburg-alias-Nymphenburg-Palace-di-kota-Munich

Nymphenburg Palace – yakin bisa menjelajahi dalam sehari? [Dok. Schloss Nymphenburg]

Pembelian tanah itu sebagai hadiah untuk istrinya, Henriette Adelaide, di ulang tahun pertama putera mahkota mereka, Max Emanuel. Maklum, mereka menunggu 10 tahun untuk kelahiran pewaris takhta ini. Elektor sendiri adalah sebutan untuk raja yang mempunyai hak pilih dan dipilih sebagai kaisar Holy Roman Empire, gabungan beberapa kerajaan di Eropa Tengah dan Timur.

Henriette akhirnya memilih desain istana musim panas yang dibuat arsitek Agostino Barelli, yang saat itu juga tengah diminta membangun Gereja Theatinekirsche di Munich. Tahun 1664, peletakan batu pertama istana dimulai, begitu juga pembuatan taman belakang. Namun progres pembangunannya lambat sekali karena dananya juga dipakai untuk membangun istana-istana yang lain, dan baru benar-benar dikebut tahun 1670. Akhirnya, tahun 1672 Nymphenburg Palace selesai dibangun. Bangunan istana utama berbentuk kotak kubus berlantai lima -desain yang tidak umum saat itu- diapit oleh bangunan paviliun berlantai tiga di kanan-kiri, dan ketiganya dihubungkan dengan koridor yang sekaligus galeri seni.

Ferdinand-Maria-Henriette-Adelaide-pendiri-Schloss-Nymphenburg

Ferdinand Maria dan Henriette Adelaide.

Pembangunan kompleks istana ini tidak sekaligus, melainkan berlangsung secara bertahap hingga pertengahan abad ke-19, melibatkan lima raja dari Dinasti Wittelsbach ini. Jika dilihat dari udara, kompleks istana yang menghadap ke timur ini berbentuk seperti busur dengan anak panah di tengahnya, dengan bangunan utama istana berada di pusat busur itu.

Standard
Journey, Mancanegara

Antara Tokyo, Kyoto, dan Nozomi

Shinkansen-Nozomi-N700-di-Stasiun-Tokyo

Traveling ke Jepang tak lengkap tanpa mencoba Shinkansen si kereta peluru.

 

Saya bergegas menaiki undak-undakan stasiun sentral Tokyo menuju peron di lantai atas, begitu terdengar pengumuman bahwa kereta Nozomi 221 sudah tersedia di jalur 15. Pagi ini saya bersama Umi dan Lia bermaksud ke Kyoto, dan transportasi yang kami pilih adalah naik shinkansen alias kereta peluru.

Kunjungan kami ke Tokyo untuk sebuah keperluan keluarga ini agak mendadak, begitu pula dengan keinginan untuk pergi ke Kyoto memanfaatkan dua hari yang tersisa. Makanya kami tak sempat membeli JR Pass, tiket kereta api terusan yang lebih murah, yang diperuntukkan bagi wisatawan yang ingin berkeliling Jepang dengan kereta api. Tapi saat membeli tiket kereta ini kemarin di konter Japan Railways (JR) di Stasiun Ikebukuro, ternyata memang kereta Nozomi –tipe shinkansen yang tercepat– tidak tercakup dalam JR Pass. Jadi kami memang mesti membeli tiket lagi. JR Pass hanya berlaku untuk shinkansen Hikari dan Kodama yang lebih lambat.

Saya setengah berlari mencari gerbong keempat sesuai yang tertera di tiket. Ternyata letaknya agak jauh di depan. Maklum, kereta Nozomi tipe N700 ini sekali jalan membawa 16 gerbong dan panjang rangkaiannya bisa mencapai 455 meter. Begitu ketemu gerbongnya, saya pun segera meloncat masuk, tak memperdulikan seorang bapak berjas rapi yang sedang berdiri di peron di depan gerbong itu.

Tiket-Shinkansen-Nozomi-Kyoto-Tokyo-setara-harga-tiket-pesawat.

Tiket Shinkansen Nozomi Kyoto-Tokyo – setara harga tiket pesawat.

Tapi, begitu masuk, saya disambut seorang ibu petugas cleaning service yang mengibas-ngibaskan tangannya. “No, no, no!” katanya menyuruh saya keluar. Saya bertiga pun keluar lagi, dan begitu melihat lantai peron, ternyata si bapak berjas tadi –yang tanpa ekspresi tapi mungkin menertawakan keudikan saya– berdiri di atas jalur antri. Jalur itu ditandai dengan anak-anak panah yang berkelak-kelok ke belakang. Ooh, jadi saya mesti antri toh untuk masuk keretanya.

Penumpang-shinkansen-antri-di-Stasiun-Tokyo

Tolong antri sesuai arah anak panah.

Antrian makin banyak, dan kereta pun selesai dibersihkan. Petugas kereta yang berjas dan bertopi hitam pun mempersilakan para penumpang, dan kami masuk kereta dengan tertib. Gerbong keretanya cukup panjang, sekitar 25 meter, dengan 17 baris kursi yang masing-masing berisi 5 kursi dengan konfigurasi 3+2. Semua kursinya reclining berwarna biru indigo dengan ruang kaki yang lega seperti di kereta eksekutif di Indonesia. Masing-masing deretan kursi mempunyai fasilitas colokan listrik serta kantong majalah dan meja lipat di kursi depannya. Tapi ternyata tidak ada layar televisi dan in-flight entertainment seperti di pesawat, dan juga tidak ada sandaran kaki. Kompartemen untuk menaruh tas ada di atas kepala, namun tidak mempunyai penutup.

Pramugari-shinkansen-seperti-pramugari-pesawat

Tak ubahnya seperti pramugari pesawat terbang. [Dok. JNTO]

Begitu melihat tempat duduk kami bertiga yang nomor 11 A-B-C, saya agak kecewa, karena letak kursinya ada di sisi kiri. Padahal nanti kereta ini akan melewati Gunung Fuji (3,776 mdpl), yang ada di sisi kanan kereta kalau dari Tokyo. Kursi D-E lah yang ada di sisi kanan. Kemarin sewaktu membeli tiket, mungkin karena melihat kami bertiga, petugasnya membelikan tiket yang tiga kursi berderet. Saya lupa menanyakan harus duduk di kursi mana kalau ingin melihat Gunung Fuji dari kereta.

Okelah, saya terima nasib saja. Terlebih karena gerbong ini memang penuh oleh penumpang, tidak ada kursi D-E yang kosong. Lagipula cuaca pagi ini mendung, jadi mudah-mudahan nanti memang gunungnya tidak kelihatan.

Ada-berbagai-jurusan-Shinkansen-di-Jepang

Ada banyak nama dan jurusan shinkansen di Jepang. [Dok. JNTO]

Kereta mulai bergerak dengan sangat halus, seperti meluncur di permukaan es, nyaris tanpa suara roda kereta beradu dengan rel. Padahal kereta ini masih menggunakan rel, hanya saja memang relnya tersendiri, dengan lebar antar-rel 1435 mm. Sementara kalau rel kereta biasa lebarnya 1067 mm.

Pagar dan bangunan-bangunan yang kebanyakan berbentuk kubus mulai tampak berlari dari balik jendela. Tapi kereta belum memakai kecepatan maksimumnya, karena kemudian kereta melambat dan berhenti di stasiun Shinagawa. Di dalam kota Tokyo, Nozomi memang hanya berhenti di dua stasiun. Nanti, menuju stasiun akhir Shin-Osaka (shin menunjukkan bahwa stasiunnya agak di luar kota) kereta ini hanya akan berhenti di stasiun Yokohama, Nagoya, dan Kyoto.

Kereta-shinkansen-bersiap-untuk-berangkat

Persiapan berangkat. [by Simon Launay on Unsplash]

Kereta kembali melaju, dan satu atau dua menit kemudian, tampaknya kereta sudah sampai di kecepatan optimalnya, 270 km per jam (kecepatan maksimum 300 km/jam). Pagar pembatas rel, tiang-tiang, dan bangunan-bangunan rumah dan kantor semakin cepat berlari hingga rasanya tak sempat menikmati suasana kehidupan di pinggir rel, karena apa yang saya lihat segera menghilang ditelan laju kereta.

Shinkansen ini memang simbol keunggulan teknologi perkeretaapian Jepang, yang sangat efisien dalam mempersingkat waktu bepergian. Dulu, selama berabad-abad, Jalan Raya Tokaido sepanjang 513,6 km merupakan satu-satunya rute yang menghubungkan Tokyo dengan Kyoto. Jarak ini harus ditempuh selama 12-13 hari perjalanan. Dengan beroperasinya kereta api Jalur Tokaido pada Juli 1889, jalan raya ini ditinggalkan karena sekarang waktu tempuh cukup 20 jam saja. Tahun 1906, saat kereta super express mulai dikenalkan, lama perjalanan pun makin singkat, menjadi 13 jam 40 menit.

Panjang-shinkansen-bisa-sampai-setengah-kilometer

Mengular sampai hampir setengah kilometer.

Jalur Tokaido diubah menjadi jalur kereta listrik pada tahun 1956. Di tahun ini pula muncul proposal untuk mempunyai jalur kereta yang lebih cepat antara Tokyo dan Osaka (515,4 km). Osaka ini sekitar 43 km barat daya Kyoto. Proposal itu bukan untuk memperbaiki Jalur Tokaido, namun membuat shinkansen –yang arti harfiahnya ‘jalur kereta api baru’– yang dapat mengakomodasi kecepatan kereta hingga 300 km/jam. Tujuannya, agar para pebisnis bisa pergi-pulang antara kedua kota ini tanpa perlu menginap. Proposal itu disetujui tahun 1958 dengan syarat harus bisa selesai dalam enam tahun agar bisa dipakai saat pembukaan Olimpiade Musim Panas Tokyo tahun 1964. Deadline itu terpenuhi, dan tepat pukul 6.00 pagi 1 Agustus 1964, jalur baru yang menelan biaya 380 miliar yen itu pun diresmikan. Sekarang, dengan memakai Nozomi, waktu tempuh Tokyo-Kyoto hanya 2 jam 18 menit, dan Tokyo-Shin-Osaka 2 jam 26 menit.

Standard
Kompleks-pemakaman-paling-indah-di-tepi-Danau-Toba
Indonesia, Journey

Tiga Surga di Sisi Barat Danau Toba

Danau-Toba-menjelang-senja

Mari menjelajahi surga tersembunyi di Tongging, Silalahi, dan Bakkara dengan cara yang tak biasa.

 

Jalan aspal yang menurun tajam dan berkelok-kelok ini membuat jantung saya berdegup kencang. Terlebih, Bang Ronal, sang supir bentor yang saya sewa, melarikan becak motornya dengan kecepatan tinggi. Mungkin dia sedang memburu waktu karena hari sudah sore.

Namun ekpresi wajahnya tampak kalem saja dari balik helm hitamnya, seakan tak berhubungan dengan suara becak motornya yang meraung dan sesekali mencicit saat menginjak rem. Itu membuat saya lebih tenang, dan saya mulai mencoba menikmati pemandangan yang tersaji di depan mata.

Air-Terjun-Sipisopiso-di-Tongging-dekat-Danau-Toba

Air Terjun Sipisopiso diambil dari jalan setapak menuju dasar air terjun.

Air Terjun Sipisopiso kini terlihat tinggi di bukit di kanan atas sana. Tadi saya sempat turun hingga separuh jalan menuju dasar air terjun, tapi urung sampai ke dasarnya karena kemiringannya yang nyaris vertikal, dan waswas juga nanti naiknya bagaimana karena hari menjelang senja.

Tapi pemandangan yang lebih menakjubkan ada di depan bawah sana. Desa Tongging, yang berada di tepi Danau Toba, tampak sebagian tertutup oleh kabut yang turun perlahan dari bukit-bukit di sekelilingnya. Di sanalah tujuan saya hari ini.

Desa Tongging ini masuk wilayah Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Saya memang dalam perjalanan mengelilingi sisi barat Danau Toba, dan ini baru hari kedua. Tadi pagi saya berangkat dari rumah teman yang saya inapi di Tolping – Pulau Samosir, naik angkutan umum ke Simanindo. Dari sini saya menyeberang dengan kapal kayu ke Tigaras, lalu naik angkutan umum dua kali sebelum sampai ke pertigaan Tongging-Merek di mana saya bertemu Ronal, yang kemudian mengantar ke Air Terjun Sipisopiso dan menunggui saya. Besok saya berencana ke Silalahi di selatan Tongging, terus ke kota kopi Sidikalang, lalu ke Bakkara. Sekarang sudah terlalu sore, jadi saya mesti mencari penginapan dulu di sekitar sini.

Tongging-salah-satu-destinasi-wisata-di-tepi-Danau-Toba

Kabut senja mulai turun di Tongging yang terletak di lembah.

Atas saran seorang tukang parkir, kami menuju Penginapan Roman Sinasi Bungalows, yang letaknya ternyata agak jauh dari pusat desa. Kami terpaksa melewati saja deretan warung-warung ikan bakar –mendadak perut jadi berkeruyuk– lalu dermaga kecil dengan kapal-kapal kayu yang tengah sandar, melewati pasar, kampung, gereja, akhirnya sampai juga kami ke penginapan yang dituju. Meski senja telah meremang, saya lihat penginapannya sungguh cantik dan asri, dengan gaya bangunannya perpaduan arsitektur Batak dan ornamen Bali. Halaman belakang penginapan berbatasan langsung dengan Danau Toba, dengan sebuah gazebo untuk duduk-duduk melihat pemandangan. Beberapa orang tampak memancing di pinggir danau di luar pagar penginapan.

Standard
Gunung-Pangrango-terlihat-dari-Kolam-Besar-Kebun-Raya-Cibodas
Indonesia, Journey

Menikmati Surga yang Sepi

Kolam-Besar-Kebun-Raya-Cibodas

Ketika sebuah taman surga yang setiap sudutnya instagenik luput dari perhatian kaum milenial, apakah ini sebuah ironi atau justru keberuntungan?

Saya kembali duduk di bangku beton sederhana ini, di ujung timur sebuah kolam besar. Hangat sinar mentari terasa mengusap punggung, ditingkahi cericit tupai dan gemeresak daun dari pohon-pohon besar di belakang saya.

Biasanya, air mancur di tengah kolam ini akan memancar dengan deras, memendarkan kabut air yang jatuh kembali ke kolam, dan sebagian terbawa angin. Tapi mungkin ini masih terlalu pagi, jadi petugasnya belum datang untuk membuka keran saluran airnya.

Pikiran dan mata saya segera tersita oleh pemandangan di sebelah barat sana. Ujung kolam ini menyambung dengan sebuah lapangan berumput hijau segar yang agak menanjak, yang kemudian dipagari oleh deretan pohon Araucaria dengan cabang-cabangnya yang membentuk seperti kipas raksasa. Jauh di belakangnya, menyembul dengan gagah kerucut Gunung Pangrango yang membiru, dengan sepotong awan putih di atas puncaknya. Alur-alur dan bekas guguran lerengnya dapat terlihat dengan jelas dari tempat saya duduk, dan ini adalah pemandangan yang baru pertama saya lihat dari enam atau tujuh kali berkunjung ke Kebun Raya Cibodas dan duduk di bangku ini.

Spot foto terbaik Kebun Raya Cibodas

Spot terbaik memotret Kebun Raya Cibodas dari Kolam Besar

Tapi kebun raya ini tak hanya cantik di saat pagi cerah dan rumput menghijau. Berada di ketinggian antara 1.300-1.425 meter di atas pemukaan laut dan tepat di kaki Gunung Gede dan Pangrango, berharaplah bahwa cuaca cerah di taman ini dapat berubah cepat menjadi berkabut, mendung, dan hujan disertai angin dingin. Namun di saat mendung tebal pun, Gunung Pangrango di sana akan tetap menampilkan pesonanya, karena kini ia menjadi siluet ungu, dan seorang fotografer atau pelukis pasti tak akan melewatkan momen ini untuk mengabadikannya.

Guung Pangrango dari Kebun Raya Cibodas.

Saat mendung pun Gunung Pangrango tetap memesona.

Di kunjungan tahun lalu, pertengahan Oktober, saya menemukan rumput lapangan besar di samping kolam ini meranggas akibat kemarau. Awalnya saya agak kecewa. Sudah datang ke sini agak kesiangan, eh rumputnya tidak hijau lagi. Namun begitu matahari meninggi dan bersinar benderang, rumput lapangan itu pun berubah menjadi kuning keemasan dan membuat anak-anak dan beberapa orang dewasa bergembira bermain bola.

Di kunjungan sebelumnya, entah di kunjungan kedua atau ketiga, saya duduk di bangku beton itu lagi. Tak berapa lama, sepasang anak muda datang membawa beberapa sepeda ke pinggir kolam. Yang saya tahu kemudian, mereka mau menyiapkan sebuah sesi pemotretan iklan dengan bintangnya anak-anak balita. Sambil menunggu kru lainnya datang, mereka lalu berfoto-foto sendiri, dan kesempatan itu tak saya lewatkan untuk membuat mereka menjadi ‘model’ di dalam foto saya. Saya mendapat beberapa frame foto yang bagus, dan segera pindah begitu tempat itu telah ramai oleh anak-anak.

Kemarau membuat rumput di Lapangan Besar Kebun Raya Cibodas menjadi keemasan.

Kemarau membuat rumput di Lapangan Besar Kebun Raya Cibodas menjadi keemasan.

Tapi secara umum, saya cukup heran dengan sepinya kebun raya seluas 87 hektar ini. Berbeda dengan saudara tuanya, Kebun Raya Bogor, yang banyak pengunjungnya bahkan di hari kerja – terlebih di akhir pekan. Jarak yang lebih jauh dan kemacetan rutin di jalur Puncak setiap akhir pekan mungkin menjadi alasan utamanya. Ditambah lagi, bus-bus mini yang biasa melayani rute Jakarta-Cianjur dan melewati Cibodas, kini rutenya dialihkan melalui Jonggol dan langsung menuju Cianjur, sehingga waktu tempuhnya lebih lama, sekitar tiga jam. Jadi, membawa mobil sendiri ataupun memakai transportasi umum sama-sama dilematisnya.

Dan uniknya lagi, orang-orang yang telah berhasil menjadi ‘survivor’ dari kemacetan lalulintas itu, mereka umumnya terbagi antara anak-anak sekolah yang akan kemping di Bumi Perkemahan Mandalawangi dan Mandala Kitri di depan kebun raya, dan anak-anak milenial yang akan mendaki Gunung Gede-Pangrango. Salah satu pintu masuk jalur pendakiannya memang dari Cibodas ini. Entah mereka tidak punya waktu atau tidak tahu tentang taman surga ini.

Tapi sepanjang saya bolak-balik ke sini, pengunjung yang paling sering saya temui adalah anak-anak desa di sekitar kebun raya dan para wanita penyedia tikar sewa. Yang paling banyak malah keluarga-keluarga dari Timur Tengah. Mereka datang bersama anak-anak untuk piknik, atau yang muda bersama teman-teman sebayanya mengisap shisha di tepi kolam besar. Para traveler maupun instagramer yang datang untuk berfoto-foto, ataupun yang memakai jaket lab dan meneliti pohon-pohon (bukankah kebun raya ini laboratorium biologi yang sangat besar?) hampir-hampir tak pernah saya temui. Jadi, apakah ini sebuah ironi, atau justru keberuntungan bagi orang yang tahu tentang taman surga ini, waktulah yang akan menentukan.

Mengantarkan shisha di Kebun Raya Cibodas.

Mengantarkan shisha untuk para wisatawan Middle East.

Tapi, kalau saya saja tidak pernah bosan untuk kembali dan kembali lagi ke sini, berarti ada banyak hal unik yang menjadi magnet dari tempat ini dong. Dan inilah, menurut saya, beberapa hal yang menjadi daya tarik utama taman surga ini:

Sakura dan Lumut Liliput

Daya tarik utama Kebun Raya Cibodas tentu saja koleksi tanamannya, yang terdiri dari 1.014 jenis tumbuhan tinggi. Ini belum termasuk koleksi kaktus, anggrek, sukulen –tanaman berdaun tebal dan mengandung banyak air– dan koleksi yang lebih baru yakni tanaman lumut dan bunga sakura.

Standard
Tips

Memotret Festival dengan Lensa Tele

Festival-Lembah-Baliem-Wamena-Papua

Dengan hanya memakai lensa tele, kita bisa lebih fokus dalam memotret festival.

 

Memotret festival itu hectic tapi menyenangkan. Terlebih Indonesia adalah negeri yang kaya festival. Hampir tiap bulan ada festival, bahkan kadang di minggu yang sama ada beberapa festival.

Dari berbagai kesempatan meliput festival seni dan budaya, pengalaman mengajarkan bahwa untuk menghasilkan foto yang unik, colorful, dan tajam, maka kemampuan mengejar momen dan fokus pada satu subjek saja yang benar-benar unik, menjadi sangat penting. Karena itu saya sering hanya memakai satu lensa yang benar-benar saya percayai kualitasnya, dan tidak mengganti-ganti dengan lensa lain selama memotret. Dengan cara ini, saya menjadi lebih fokus terhadap apa yang ingin saya foto, tidak terganggu pemikiran untuk mengganti-ganti lensa yang kadang membuang waktu dan membuat saya kehilangan momen.

Festival-Dugderan-Semarang

Dengan lensa tele tetap bisa mendapat foto yang ‘lebar’.

Salah satu lensa tele zoom standar yang sering saya pakai adalah Nikkor AF-S 55-200 mm f/4-5.6 ED VR. Ini bukan lensa profesional, dan dipasangkan dengan Nikon D40 yang ‘jadul’ -resolusinya cuma 6 megapiksel- serta flash tambahan SB-400 sepertinya bukanlah ‘tim juara’.  Tapi dengan kamera di-set ke mode Program, ISO disetting supaya kecepatan shutter-nya di atas 1/60 detik (di atas 1/200 detik lebih bagus), dan flash SB-400 sudah nangkring di dudukannya, saya siap membuat foto-foto yang bagus.

Festival-Tujuh-Gunung-Sindangbarang-Bogor

Berani ambil foto dari dekat?

Selain karena sudah terbukti menghasilkan gambar yang tajam dengan warna maknyus, ada beberapa alasan lain mengapa saya lebih memilih lensa tele ini dibanding lensa wide atau fixed.

Festival-Tujuh-Gunung-Sindangbarang-Bogor

Awas, awas, lesung edan mulai beraksi!

Pertama, saya lebih leluasa memotret dari jarak yang cukup jauh, karena pada umumnya dalam festival, peserta membutuhkan tempat yang lebih luas agar bisa bergerak leluasa.

Kedua, dengan jarak yang cukup jauh, subjek tidak merasa ‘terintimidasi’ saat difoto candid.

Jakarnival-menyambut-ulang-tahun-Jakarta

Fokus ke Point of Interest yang mau dibidik – cowok keren ini.

Ketiga, dengan ruang bidik yang lebih sempit, kita dipaksa untuk lebih fokus ke Point of Interest yang sebenarnya kita incar. Kita juga tidak perlu lagi meng-cropping foto karena tidak ada lagi space yang sia-sia.

Keempat, lensa tele sekaligus juga bisa menjadi lensa portrait, karena biasanya wajah peserta festival merupakan bagian paling menarik untuk difoto. Namun lensa tele juga masih fleksibel untuk mengambil foto yang lebar asal kita bisa mengatur jarak.

Standard