Jalan Araucaria ini berakhir di kolam besar. Kita bisa menyusuri jalan ini dengan naik kuda, yang bisa disewa dengan biaya Rp 30.000 untuk 15 menit. Saat hujan, berteduh di kafe adalah pilihan terbaik. Menyeruput kopi atau makan mi goreng sambil menikmati hujan dan kabut yang turun ke lapangan sudah pasti merupakan kemewahan tersendiri.
Deretan pohon Araucaria juga bisa ditemui setelah melewati jalan menaik di samping Curug Cibogo. Di area ini juga ada pohon-pohon Libocedrus macrolepis Benth dari Cina. Diamater pohon terakhir ini sekitar satu meter dan bercabang di dekat permukaan tanah, sehingga susah dipeluk. Sebenarnya, ini lokasi yang paling asyik buat foto-foto, karena semua sudut di sini instagrammable banget. Tapi entah mengapa area ini selalu sepi pengunjung.
Surga Air Terjun
Di dalam kebun raya ada dua air terjun. Yang kecil, Curug Cibogo, ada di dekat Taman Sakura. Yang lebih tinggi, Curug Ciismun, bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dari Araucaria Avenue tadi. Perginya enak karena jalannya menurun. Cuma untuk pulangnya, ya, nanjak. Kalau tidak mau gempor, mintalah diantarkan anak-anak kecil yang suka menjadi pemandu, untuk melalui rute alternatif yang datar – tapi lebih jauh.

Cantiknya Curug Ciismun, tersembunyi di sudut Kebun Raya Cibodas.
Kecantikan Curug Ciismun yang tersembunyi di sudut kebun raya.Masih ada dua curug lainnya, yakni Curug Ciwalen dan Curug Cibeureum. Curug Ciwalen terletak di belakang kebun raya, masuk area Taman Nasional Gede-Pangrango. Untuk mencapai curug ini mesti melalui izin khusus dan juga melewati jembatan gantung sepanjang 210 meter, membentang di atas jurang sedalam 40 meter.Sedangkan Curug Cibeureum, yang terdiri dari tiga air terjun, terletak di jalur pendakian ke Gunung Gede-Pangrango. Menuju ke curug ini perlu trekking sekitar 2 jam. Jalur trekkingnya sudah bagus, berupa jalan berbatu. Namun tentu saja, tetap ngos-ngosan.
Oleh-oleh Serba Rp 5.000
Jangan pulang dari Kebun Raya Cibodas tanpa oleh-oleh. Begitu melewati pintu keluar, deretan penjual pisang sale goreng, bayam goreng, aneka dodol, kerupuk, sampai para penjual kaos, topi dan kaktus, berjejer memenuhi bahu jalan. Pisang sale gorengnya saja bermacam-macam, semuanya bisa dicicipi dulu sebelum beli, dan bisa ditawar.
Setelah itu, mampirlah ke tempat parkir bus, yang saat akhir pekan berubah menjadi pasar buah dan sayur. Nanas Cilembu dijual Rp 15.000 per 5 buah. Tapi umumnya semua sayuran dijual dengan harga Rp 5.000 per kilo (tentu saja, ditawar). Manggis, rambutan, sawo, wortel, lobak, jagung, semuanya dijual dengan harga hampir sama, Rp 5.000. Alhasil, bagasi mobil jadi penuh, dan bahu rasanya mau patah akibat keberatan membawa oleh-oleh…. [T]




Keren mas, taman Cibodas yang sudah “umum” tetap bisa menjadi tulisan yang menarik 🙂
Ini travelingnya dengan penuh perasaan, wakakak!
CIBODAS ini padahal gak jauh dari rumah saya yang di Cipanas. Tapi baru sempat 2 kali main kesini. Padahal pengen banget menjelajah, main air, piknik gelar tikar sambil ngunyah pop-mie bakso sepuas mungkin. Dan eh bawak termos isi kopi sembari menikmati sejuknya udara di sekitar situ. Segera ah diwujudkan setelah pandemi berlalu.
Iya, paling enak piknik di lapangan besar dekat kolam itu. Gelar tiker, sambil ngopi dan baca buku. Kalo laper tinggal pesen mi goreng di kafe deket situ. Sayang sekarang ini yg menikmati malah keluarga-keluarga dari Timteng.