Kami meneruskan perjalanan memasuki Desa Silalahi, yang tampaknya terbagi atas Silalahi III, Silalahi II, dan Silalahi I. Desa-desa ini sudah masuk wilayah Kabupaten Dairi. Keramaian desa berpusat di satu-satunya jalan aspal yang kami lewati. Jo mengira saya akan ke tempat wisata, jadi dia mengantar saya hingga ke Pantai Mutiara, sekitar 1 km membelok ke timur setelah melewati desa.
Meski bukan di tepi laut, orang di sini kreatif juga menamai tepi danau yang landai dan berpasir putih agak abu-abu itu dengan sebutan ‘pantai’. Garis pantainya lumayan panjang, dengan ombak yang tenang sekali, hanya riak-riak kecil. Ada beberapa warung dan penyewaan ban pelampung di sini, dan hanya tiga anak belasan tahun tengah berenang.
Suasana yang sepi dan teduh ini lama-lama membuat saya mengantuk, jadi saya mencegat bentor untuk kembali ke pusat Desa Silalahi untuk mencari angkot yang akan ke kota Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi. Dari sana nanti saya akan meneruskan perjalanan ke Bakkara, ujung barat daya Danau Toba.
Dirman, sang supir bentor, adalah anak muda yang baik hati. Ia bertanya-tanya ke beberapa orang di pinggir jalan, bahkan menelepon seseorang untuk menanyakan kapan jadwal angkot ke Sidikalang. Angkot di sini hanya di jam-jam tertentu saja ke Sidikalang, dan jadwal berikutnya ternyata pukul 11.30, sekitar 35 menit saja dari sekarang. Dirman pun mengantar saya ke tempat mangkal angkot, dan tak lama kemudian, angkot dari Sidikalang datang dan berputar balik, dan saya pun naik. Entah berapa lama saya di perjalanan dan melewati apa saja, karena sebagian besar saya habiskan dengan tidur. Tahu-tahu, angkot yang mengantar saya sudah sampai saja di depan agen bus mini CRB di kota Sidikalang menjelang pukul 3 sore.
Lembah Para Raja
Hari sudah menjelang pukul 5 sore ketika saya turun dari bus mini CRB di pertigaan Dolok Sanggul yang menuju Bakkara, tujuan akhir perjalanan hari ini. Masih 10 km lagi untuk sampai di Bakkara (kadang ditulis juga Bakara) di tepi barat daya Danau Toba. Mengapa saya harus menjelajah sampai ke tempat asal Sisingamangaraja XII ini, tak lain karena saya pernah melihat keindahan lembah negeri ini saat mencari info tentang Danau Toba di internet.
Di sebuah warung dekat pertigaan, rupanya banyak juga orang yang ‘terdampar’ dan menunggu angkot yang ke Bakkara. Salah satunya Pak Banjar Nahor dan istrinya dari Sidikalang juga, yang hendak pulang ke Bakkara karena ada kerabatnya yang akan menikah.
“Nanti menginap di mana?” tanya lelaki berjas biru pudar itu dengan suaranya yang lirih.
Terus-terang saya belum punya gambaran mau menginap di mana, karena memang tidak menemukan informasi tentang penginapan di Bakkara. Dalam rencana saya, menginap di rumah penduduk atau di gereja pun tidak apa-apa.
“Nanti menginap di rumah saudara saya saja, di Warung Lala,” tawar Pak Banjar. Oh, tentu saja saya mau! Lagi-lagi, di perjalanan mengelilingi Danau Toba ini saya selalu bertemu dengan orang-orang yang baik. Kontras sekali dengan gambaran tentang orang Batak kalau di Jakarta, hahaha!
Setelah menunggu hampir satu jam, angkot L300 warna putih kusam yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Ternyata ini angkot yang kebetulan lewat saja setelah habis dicarter orang dari Bakkara.

