
Maestro perajin wayang golek ini mampu membuat karakter wayang tanpa perlu membuat sket atau melihat contekan gambar. Ia masih berharap ada orang yang mau meneruskan keahliannya.
Lelaki berkaus kuning dan berkepala plontos itu santai saja duduk lesehan di lantai teras rumahnya. Ia tak menghiraukan kausnya yang sudah basah oleh keringat, di pagi yang baru lewat pukul 9 ini. Sesekali ia menjawab pertanyaan seorang reporter TV wanita yang duduk di bangku kayu kecil di depannya, dan seorang kameraman yang menyorot gerak-geriknya. Tangan Kang Enday, lelaki itu, dengan terampil memainkan pisau pahat ke sebuah topeng kayu yang sudah hampir jadi, tinggal membuat lubang pada matanya.
“Topeng ini selingan saja, karena ada pesanan khusus,” tutur Enday Ia memungut satu kepala karakter wayang golek dekat kakinya, yang lebih dulu selesai ia buat. Di belakang Enday teronggok berbagai potongan kayu dan kepala wayang golek yang belum dicat, dan juga dua karakter wayang berukuran besar yang baru separuh jadi. Di dinding atasnya, berderet kepala-kepala karakter wayang yang tengah dikeringkan, ditancapkan pada dinding, ditopang oleh sebatang bambu melintang. “Kalau mau melihat wayang golek yang sudah jadi, masuk saja ke rumah.”

Kang Enday Media bersama koleksi wayang golek karyanya
Terus-terang tadi saya agak kaget saat menuju lokasi sanggar pembuatan wayang golek sunda ini. Bahkan dengan membonceng sepeda motor pun tadi drivernya mesti melewati gang-gang yang hanya cukup untuk satu sepeda motor, dan perlu waktu cukup lama untuk sampai di sini. Padahal lokasi sanggar ini masih di dalam kota Bogor.
Yang lebih membuat saya heran, sanggar yang juga ada di sebuah gang sempit ini ternyata ramai oleh pengunjung. Di ujung lain bagian depan sanggar ini ada seorang pekerja yang tengah mengecat kepala wayang. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi galeri, anak-anak muda yang sedang mengerjakan tugas kuliah, bergantian melakukan syut pada puluhan karakter wayang yang dipajang berjejer.

Kepala-kepala wayang golek yang menunggu dicat.
Kang Enday memang salah satu dari beberapa perajin wayang golek yang masih bertahan di kota Bogor. Nama lengkapnya Enday Media, dan nama belakangnya itu yang membuat saya tertawa dan ingin tahu, apa benar namanya ‘Media’?
“Iya memang benar itu nama belakang saya,” senyum Kang Enday melebar. “Yaa, orangtua menamainya begitu, bagaimana lagi? Makanya sanggar ini saya namai Media Art & Handicraft Bogor. Tapi teman-teman saya juga pernah mengusulkan, sebaiknya nama belakang saya diganti, menjadi Enday Wayang Golek, hahaha!”








