Kompleks-pemakaman-paling-indah-di-tepi-Danau-Toba
Indonesia, Journey

Tiga Surga di Sisi Barat Danau Toba

SD-Simangulampe-Bakkara-Danau-Toba

Keceriaan anak-anak SD Simangulampe menyambut saya.

Terus terang saya agak kecewa, karena saya mengira Aek Sipangolu ini sebuah kolam air terjun yang bagus dan bernuansa alami. Ternyata tidak. Jadi saya memutuskan untuk numpang ke toilet saja. Tapi begitu saya membuka salah satu bilik mandi untuk laki-laki, ternyata di dalamnya ada sebuah pipa air berdiameter sekitar 5 cm, dengan air dingin yang mencurah deras. Tiba-tiba saja saya jadi ingin mandi! Apa lagi tadi pagi saya memang tidak mandi karena airnya dingin sekali. Mas Harto yang sedang mengopi di warung pun tertawa melihat saya muncul dengan badan segar dan rambut basah.

Air-Aek-Sipangolu-Danau-Toba-yang-dipercaya-bisa-membuat-awet-muda

Bu Erni sedang mengambil air dari kolam sesaji Aek Sipangolu.

Di warung itu ada juga Ibu Erni Tagor dari Asahan, yang sengaja datang ke sini diantar saudara laki-lakinya. Erni membawa sebuah jeriken, dan meminta saya untuk memfotonya begitu dia mengambil air. Ternyata di kolam kecil buatan itu ada sesajian, dan orang-orang yang datang dari jauh mengambil air di situ untuk mendapat berkah.

Dari Aek Sipangolu ini, kalau memandang ke seberang danau, akan tampak dua air terjun menjulang tinggi. Salah satunya tampak seperti air terjun bersusun. Air dari air terjun itu masuk bukit, lalu keluar lagi menjadi air terjun kedua di bawahnya. “Itu kan Air Terjun Janji yang tadi Mas ke sana,” terang Mas Harto. Astaga, kenapa saya lupa dengan perkataan Lala, bahwa air terjun itu bertingkat? Mengapa tadi saya tidak melihatnya? “Kalau pas di bawahnya memang tidak kelihatan, kecuali Mas mendaki lagi jalan setapak di samping air terjun. Lagipula tadi kan hujan waktu Mas di sana.”

Air terjun satunya lagi yang juga tinggi, bahkan lebih tinggi, adalah Air Terjun Tipang. Ah, sepertinya saya harus ke sini lagi lain kali dan menginap di Tipang agar bisa menjelajahi kedua air terjun itu dengan lebih tuntas.

Stempel Huruf Batak dan Arab

Matahari hampir di atas kepala. Sekarang saya tinggal ke kompleks makam raja, lalu balik ke Dolok Sanggul untuk meneruskan perjalanan ke Tele. Karena angkot baru ada pukul 3, kami pun balik ke rumah Ibu Bidan dulu untuk mengambil backpack dan pamit. Kami pun melaju ke makam raja.

Makam-Raja-Sisingamangaraja-XI-di-Bakkara-Danau-Toba

Makam Raja Sisingamangaraja XI dengan lambang bendera kerajaan.

Kompleks makam dan istana Sisingamangaraja terletak di pinggir jalan Desa Lumbanraja -–sekarang bernama Desa Simamora–- bersebelahan dengan rumah-rumah penduduk. Suasana bagian depannya sepi, namun tertata rapi. Saya naik undak-undakan untuk sampai ke makam sebenarnya. Salah satu anggota keluarga penjaga yang ada di sini, Pak Markoni Sinambela, menjelaskan makam-makam di sini. Yang seperti sumur ditutup beton adalah makam Raja Sisingamangaraja X. Yang dikuburkan di sini hanya kepalanya saja, sementara badannya konon terkubur bukit di tempat lain saat beliau gugur dalam perang melawan Tuanku Rao. Makam anaknya, Sisingamangaraja XI merupakan sebuah cungkup tertutup, dengan bagian depannya berhias bendera kerajaan berwarna merah dengan dua pedang dan bulan-bintang.

Sisingamangaraja XII, yang melancarkan perlawanan gerilya selama 31 tahun terhadap penjajah Belanda (1876-1907), tidak ada di sini. Semula makamnya berada di Tarutung, namun kemudian dipindah ke Soposurung, Balige, atas saran Presiden Soekarno. Setelah Sisingamangaraja XII wafat, tidak ada lagi raja yang menjadi penerusnya, hingga sekarang. Namun Pak Markoni sendiri mengaku bahwa kalau dirunut, dirinya adalah Sisingamangaraja XV. Saya, tentu saja, tak ingin mempertanyakan benar-tidaknya klaim beliau.

Yang unik, di samping makam ini ada tiga bangunan rumah kayu khas Batak, yang dulu merupakan istana raja. Orang luar ternyata boleh menginap di sini, asal minta izin lebih dulu ke Pak Markoni. Dinding luar istana-istana ini mempunyai gorga (ukiran tradisional Batak) yang unik, yang didominasi warna putih, hitam, dan merah. Markoni membacakan ukiran stempel raja, yang ternyata ditulis dalam huruf Batak dan huruf Arab! Konon hal itu karena adanya percampuran budaya antara Parmalim –agama asli orang Batak– dengan agama Islam. Hal lain yang unik, di tiap istana ini pasti ada ukiran cecaknya. Menurut Markoni, hal itu karena dalam kepercayaan orang Batak, cecak merupakan pelindung rumah dan juga lambang keuletan.

Gorga-hiasan-khas-Batak-di-makam-Sisingamangaraja-Bakkara-Danau-Toba

Gorga di istana keluarga Raja Sisingamangaraja.

Saya meninggalkan kompleks makam raja, melaju di jalan yang meliuk dan makin meninggi, hingga kemudian sampai di tikungan dengan pemandangan indah yang saya lihat kemarin. Begitu turun dari motor untuk memotret, suara gemericik air Sungai Bakkara yang membelah lembah di bawah sana terdengar jelas sekali dari tempat saya berdiri, bercampur dengan desau angin. Lembah Bakkara yang luas memanjang hingga menyentuh tepi Danau Toba ini sungguh menakjubkan, layaknya negeri dongeng. Dan ternyata tidak hanya satu, tapi ada tiga tikungan jalan yang menawarkan pemandangan luar biasa lembah ini. Mendadak saya jadi sedih, mengapa saya baru menikmati keindahan ini ketika hendak pulang? Kalau saja saya tidak harus ke tempat lain, pasti saya akan meminta Mas Harto untuk membawa saya balik ke Bakkara, dan tinggal lebih lama lagi di surga ini…. [T]

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *