Journey, Mancanegara

Bertemu Wajah Sendu Helene Sedelmayer

Main-Hall-Schloss-Nymphenburg

Pengunjung langsung dimanjakan dengan lukisan alfresco di Aula Utama.

Di bagian depan istana ada taman, lapangan rumput, dan kolam air mancur yang lebarnya sama dengan ketiga bangunan istana. Di kedua ujung tali busur ada kompleks istana yang lebih besar berbentuk bujursangkar dengan taman tersendiri di dalamnya. Di bagian lengkung luar busur yang dekat jalan raya ini sepertinya kompleks rumah para punggawa dan pegawai istana.

Yang tak kalah menarik adalah bagian belakang. Tepat di balik bangunan istana ada Large Parterre, taman utama yang bergaya barok, dengan patung-patung dewa Romawi bertebaran di setiap sudut. Di ujungnya ada air terjun bertingkat dengan patung Danube, Sang Dewa Sungai, sebagai penjaganya. Di belakang patung ini adalah kanal air besar sepanjang 800 meter(!) yang membentang hingga ujung paling belakang kompleks hutan istana.

Kanal ini menyuplai air ke danau buatan Badenburg Lake di hutan sisi kiri di mana terdapat istana pemandian Badenburg, Monopteros (kuil Dewa Apollo), patung-patung Pan, rumah pompa yang disebut Little Village, serta istana berburu Amalienburg. Ke sini kanan, air kanal menyuplai Pagodenburg Lake di mana terdapat istana untuk pesta raja, Pagodenburg, dan gereja Magdalenenklause. Akhirnya air kanal mengalir ke kolam depan berair mancur tadi, terus ke kanal depan yang menuju jalan raya.

Sepertinya, saya akan butuh waktu seminggu kalau ingin menjelajah keseluruhan kompleks istana ini – dengan catatan kaki tidak kram lebih dulu. Karena waktu saya terbatas, yang paling penting saya mesti bertemu Helene Sedelmayer dulu, di galeri istana yang kini menjadi museum ini.

Gerimis tipis menyambut kami begitu sampai di pintu depan istana utama, lantai dasar. Ditta tidak menemani saya karena dia akan meneruskan jalan kaki bersama dua putri kecilnya ke Kebun Raya Munich, di samping kompleks istana. Saya pun segera membeli tiket tur istana sebesar 6 euro, tapi tidak menyewa walkman pemandu audio (3,5 euro) karena saya repot membawa kamera.

Main-Hall-Nymphenburg-Palace

Langit-langit Aula Utama yang penuh cerita dewa-dewi Romawi.

Ruangan pertama dan sekaligus fitur utama istana ini adalah Great Hall alias Aula Utama di lantai satu. Ini sebuah ruang tengah yang luas dengan langit-langitnya dihiasi penuh dengan lukisan fresco -cat air yang dilukiskan saat tembok masih basah- berkisah tentang kehidupan istana, kereta-kereta kencana, dan dewa-dewi Romawi, dibingkai dengan ornamen-ornamen ukir bergaya rokoko. Ruangan ini penuh cahaya karena sisi depan dan belakangnya dihiasai jendela-jendela lengkung yang besar. Di balik jendela ini ada undak-undakan yang langsung mengarah ke halaman depan atau taman belakang.

Lukisan-di-Schloss-Nymphenburg

Lukisan-lukisan di istana ini besar-besar dan begitu hidup.

Di sisi utara Great Hall ini ada dua kamar tamu dan kamar tidur Max Emanuel, berisi lukisan-lukisan yang menggambarkan karier militer sang pangeran. Lalu berlanjut ke koridor Galeri Utara yang berisi lukisan-lukisan besar yang menggambarkan progres pembangunan istana ini. Di sepanjang lorong yang didominasi warna putih, hijau emerald, dan ukir-ukiran warna emas ini terdapat tiga ruangan lagi. Pertama, yang berisi lukisan-lukisan keluarga Raja Louis XIV dari Prancis koleksi Max Emanuel. Lalu ruangan berisi patung-patung dan baju kebesaran Elector Karl Theodor, serta ruangan ketiga berisi lukisan-lukisan besar Karl Theodor bersama kedua istrinya.

Koridor ini berujung ke Paviliun Utara yang dulu didiami Max Emanual dan dikenal sebagai Crown Prince Building, namun sekarang tidak dibuka untuk umum. Jadi, saya berbalik arah dan menuju Galeri Selatan di mana tujuan utama saya berada: 36 lukisan wanita cantik yang ada di Gallery of Beauties.

Wajah Melankolis Puteri Tukang Sepatu

Di sisi selatan Great Hall terdapat dua ruang tamu serta kamar tidur sang ratu. Nuansa dindingnya merah hati yang lebih sedikit ornamen ukir namun elegan, dengan lukisan-lukisan yang menggambarkan sang ratu bersama anak-anak, serta lukisan langit-langit yang bertema kehidupan wanita dan para bidadari. Lalu berlanjut ke koridor Galeri Selatan yang berisi lukisan istana-istana kerajaan yang ada di beberapa tempat di Bavaria. Setiap istana seperti satu kota tersendiri saking luasnya. Berhadapan dengan galeri ini adalah ruang tunggu dan ruang kerja Karl Theodor, yang saya lewatkan saja karena galeri lukisan yang mau saya tuju ada di Paviliun Selatan, yang menjadi kediaman ratu.

Standard

4 thoughts on “Bertemu Wajah Sendu Helene Sedelmayer

    • Wahh, coba ditanyain sama temen Mbak Suci itu, apa dia ada darah keturunan Jerman? 😍
      Soalnya beberapa wanita lain yang dilukis di galeri itu juga punya riwayat hidup yang unik-unik, semuanya diceritakan di dalam buku yang aku beli di museum itu (cuma aku nukil 2 orang saja di artikel ini).

  1. Setiap melihat lukisan wajah dan fashion Eropa jaman jadoel itu saya suka termenung. Fashion tastenya sungguh unik bahkan dalam beberapa gaya rasanya rada “aneh” di mata saya. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. No wonder jika sekarang setiap nonton atau melihat foto-foto Paris Fashion Week, selera itu kembali.
    BTW luas dua ratusan hektar gitu enaknya ditelusuri pake otoped atau motor listrik kali ya Mas. Bawa payung lebar, bekal makanan dan minuman berliter-liter hahahaha.

    • Kalau aku itu lebih ke mengagumi sebegitu natural dan hidupnya ya lukisan-lukisan itu, mirip sama orang sekarang yang foto di studio foto.
      Iya sepertinya mesti bawa sepeda listrik buat keliling taman belakang. Orang lokal sendiri kayaknya nggak eksplor semuanya karena luas dan sepiii banget. Pake sepeda juga kayaknya bakal seharian karena banyak paviliun, kapel, labirin, dan tempat-tempat unik lain yang dulu digunakan oleh keluarga raja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *