Jalan aspal yang kami lalui sempit dan menurun, namun cukup mulus sehingga mobil melaju dengan kencang. Duduk di belakang supir membuat saya bisa menikmati pemandangan di depan. Hanya ada beberapa kampung di sisi jalan, sisanya bukit di sisi kanan dan lembah di sisi kiri.
Setelah melewati beberapa tikungan tajam dan menurun, kami memasuki daerah yang di sisi kirinya dipenuhi jejeran pohon cemara, dan… tiba-tiba saja di depan bawah sana terhampar pemandangan yang menakjubkan. Terbentang lembah yang luas dengan hamparan sawah menghijau, kelokan alur sungai tepat di tengahnya, dengan kanan-kiri diapit bukit-bukit yang tinggi. Kesemuanya berujung ke… Danau Toba! Jauh di belakang air danau yang biru memutih itu masih ada lagi bukit-bukit yang menjulang tinggi. Pemandangan seperti ini saya temui di beberapa tikungan. Sayang, mobil tidak bisa berhenti.
Setelah melewati jalan yang agak sedikit rusak, kami memasuki Desa Simamora, yang dulu bernama Desa Lumbanraja. Kami melewati sebuah kompleks rumah Batak di sisi kanan jalan, dan Pak Banjar memberi tahu saya. “Di situ ada makam Sisingamangaraja X dan Sisingamangaraja XI. Tapi pasti sudah tutup, jadi besok saja kalau mau mampir.” Beliau juga bilang kalau makam Raja Sisingamangaraja XII, yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional, tidak satu kompleks dengan ayah dan kakeknya, tapi di Soposurung dekat kota Balige, 2 jam berkendara dari Bakkara ini.
Bakkara sendiri merupakan nama untuk daerah yang mencakup keseluruhan lembah ini. Di dalamnya terdapat beberapa desa: Simamora, Sionggang, Sinambela, Marbun, dan Simangulampe. Marga-marga Batak yang mendiami daerah ini, selain Simamora, Sinambela, dan Marbun, juga ada Lumbanraja, Malau, dan Manalu. Bakkara ini masuk ke dalam Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Udara terasa sejuk dan hari sudah gelap saat mobil kami berhenti di depan sebuah warung, dan Pak Banjar ‘menitipkan’ kami ke Lala Marbun, kerabat yang sepertinya silsilahnya ada di bawah, karena Lala memanggilnya opung (kakek).
Sepertinya tidak ada tempat untuk saya tidur di warung ini, karena hanya ada satu kamar yang ditempati Lala dan adiknya, Rugun, serta bapaknya tidur di bangku panjang. Di Bakkara ini memang ada sebuah wisma pemerintah, tapi untuk bisa menginap di situ, saya harus minta izin dulu sebelumnya ke Pak Camat. Lala mengontak sepupu laki-lakinya, Berlin, untuk mencarikan rumah penduduk yang bisa ditumpangi saya menginap. Berlin kemudian datang membawa motor dan sebuah kabar baik: saya bisa menginap di rumah Ibu Bidan Ainur Malau. Kami pun berboncengan naik motor, dan setelah melewati sebuah pekan (pasar) sampailah kami di rumah yang dituju, di sebuah gang.
Ibu Ainur, yang belakang rumahnya langsung berbatasan dengan Danau Toba, dengan ramah dan keibuan menerima saya. Beliau mempunyai 7 anak yang sudah menyebar ke berbagai kota. Sekarang, dia hanya tinggal bersama anak perempuannya yang meneruskan profesinya menjadi bidan, sang menantu yang menjadi pegawai kelurahan, dan dua cucu laki-lakinya yang masih balita. Untuk ukuran Bakkara, rumahnya cukup bagus, meski tidak mewah. Ternyata dia mempunyai lima kamar kosong di tingkat dua. Cuma entah mengapa tidak dibuka menjadi penginapan. Mungkin dia terlalu repot untuk mengurusnya, atau mungkin karena jarang ada wisatawan mampir ke sini.
Di lantai atas ini terdapat sebuah beranda di belakang. Tak jauh di bawahnya ada kandang babi, lalu tepi Danau Toba. Hanya riak-riak kecil terdengar dari air danau. Udara malam di sini cukup dingin dan suasananya sepi sekali. Saya yang sudah cukup lelah karena seharian memutari sisi barat Danau Toba, akhirnya tertidur dengan cepat.
Aek Sipangolu, Air Kehidupan
Sunrise yang saya tunggu-tunggu ternyata tidak muncul, karena pagi tertutup mendung. Namun dari dermaga kecil di samping rumah, saya melihat seorang nelayan mendayung sampan kecilnya merapat ke dermaga, dan tampaklah setengah sampannya berisi ikan pora-pora. Ini adalah ikan khas Danau Toba, besarnya sekitar dua jari tangan, dengan badan berwarna keperakan dan berpunggung biru. Ikan-ikan ini nanti akan dijual ke pengumpul. Dari dermaga ini pula, setiap hari pasar, yakni Rabu, ada kapal yang melayani rute Bakkara-Nainggolan di Pulau Samosir. Sayang, sekarang hari Senin. Setelah minum kopi dan pisang goreng di warung dekat dermaga, saya cuma bisa melewati pasar dengan los-los yang sepi.
Beberapa lelaki tengah mengobrol di sebuah warung kopi di pinggir jalan, dan saya bertanya arah ke Air Terjun Janji. Kata Lala semalam, Air Terjun Janji mesti dikunjungi karena indah dan bertingkat. Sedangkan Aek Sipangolu, kata seorang teman di Jakarta, mesti dikunjungi karena situs itu merupakan sumber air kehidupan.
“Jalan kaki saja menyusuri jalan aspal ini, nanti air terjunnya ada di samping warung pinggir jalan,” kata salah seorang bapak.
Mula-mula saya melewati rumah-rumah penduduk, lalu kebun bawang merah, yang berseberangan dengan sawah menghampar hijau, luas sekali hingga ke ujung bukit sana. Kalau ke sini satu bulan lagi, pasti sawah ini menjadi hamparan padi kuning keemasan. Pagi masih mendung, namun air danau yang menghampar luas dan tenang di kanan jalan, dikelilingi gunung-gunung yang biru dan udara yang sejuk, memberikan perasaan damai dan tenang. Sebuah jalan di seberang selatan sana yang menggaris gunung, pastilah jalan menuju Muara, kota di timur Bakkara. Sedangkan jalan yang saya tapaki ini akan menuju ke sebuah desa di kejauhan sana, yang kemudian saya tahu bernama Desa Tipang. Di depan desa ini ada sebuah pulau kecil tanpa penghuni, yang disebut Pulau Simamora.
Sekitar 10 menit berjalan, saya mendengar bunyi gemuruh saat mendekati sebuah warung yang baru dibuka oleh pemiliknya. Tak salah, inilah Air Terjun Janji. Air limpahan air terjun ini dibendung di beberapa titik sehingga menciptakan kolam-kolam kecil yang asyik untuk berendam.
Saya baru memotret beberapa kali, ketika mendung berubah menjadi gerimis. Saya pun berteduh di warung. Tak lama kemudian datang seorang pengunjung yang juga ikut berteduh. Jadilah kami mengobrol. Menurut pengunjung tadi, Pak Aman Simamora, air terjun ini dinamakan Air Terjun Janji karena dulu pernah menjadi rebutan kepemilikan antara Bakkara dan Tipang. Kedua daerah akhirnya mengadakan perjanjian damai, dan air terjun ini masuk wilayah Bakkara. Dari situlah nama ‘Janji’ berasal.
Mendengar saya hendak ke Aek Sipangolu, sang pemilik warung, Mas Harto Marbun, menawarkan diri untuk mengantar. Begitu gerimis mereda, kami pun balik lagi ke Bakkara, melintasi sungai utama, masuk Desa Sinambela, lalu belok kiri mengikuti petunjuk arah ke Aek Sipangolu. Kami melewati jalan yang kanan-kiri dipenuhi sawah dengan padi-padi hijau menguning, dan di beberapa tempat berdampingan dengan kebun kopi. Seumur hidup, baru kali ini saya melihat ada tanaman kopi berdampingan dengan padi, di tepi sebuah danau. Kami melewati beberapa orang yang tengah mengemas ikan pora-pora ke dalam bak-bak fiberglass untuk diangkut dengan truk.
“Ikan-ikan itu akan dijual ke Pekanbaru dan Padang,” tutur Harto. Sungguh mengagumkan, danau ini setiap hari menghasilkan ribuan ikan yang bisa menghidupi penduduk di sekitar danau. Dan ini tak hanya di Bakkara saja. Di hari-hari sebelumnya, saya juga melihat nelayan di Tolping, Tongging, dan Silalahi memanen ikan-ikan ini.
Kami melewati sebuah gereja yang berdampingan dengan SD Simangulampe, dan tak lama kemudian, kami sampai di sebuah jembatan kecil. Sungai kecil mengalir dari bukit di kanan kami, airnya menerobos di bawah jembatan, masuk ke sebuah kolam buatan kecil. Dari sini, air sebagian mengalir ke danau, sebagian lagi masuk ke bilik-bilik mandi. Rupanya ini yang disebut Aek Sipangolu, yang artinya ‘air kehidupan’. Menurut cerita, mata air ini muncul setelah Raja Sisingamangaraja XII menancapkan tongkatnya untuk memberi minum gajahnya yang kehausan. Konon air ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dan orang yang mandi di sini bisa awet muda.



