Check In

Hati Tertambat di Roemahkoe

Lorong-samping-Roemahkoe-Solo

Dalam sebuah kunjungan yang singkat, tiba-tiba saya jatuh cinta pada sebuah rumah kuno.

 

Sambil menunggu pembukaan Solo Batik Carnival yang baru akan dibuka nanti siang jam 2, pagi itu saya membuka-buka Katalog Wisata Kota Solo yang diberi oleh seorang teman, dan mencari-cari kalau ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk mengisi waktu luang beberapa jam ini. Menjelang bagian akhir katalog, pandangan saya tiba-tiba terantuk pada Roemahkoe Bed & Breakfast. Di katalog itu hanya ada alamat, tidak tercantum nomor teleponnya. Tapi tak masalah. Tukang becak yang saya tanyai segera tahu tempatnya dan ia pun mengantar saya.

Primbon-Jawa-Roemahkoe-Solo

Ruang tamu dengan lukisan primbon jawa.

Tampak depan rumah ini, dengan dua pilar utama di sisi kanan dan kiri yang berstruktur bulat dengan dua garis lengkung di bagian atas, segera mengingatkan saya pada sesuatu: rumah ini pasti bergaya art deco, dan dibangun antara tahun 1920-1940.

Saya masuk ke lobinya, dan segera saya terkagum-kagum. Lobi yang setengah terbuka ini memadukan dinding rumah yang kokoh dengan ornamen-ornamen kaca patri yang cantik dan bernuansa kuning di bagian atas, dengan elemen-elemen kayu jati coklat tua yang menonjolkan nuansa Jawa.

Ruang-tamu-Roemahkoe-Solo

Pandangan ke luar dari ruang tamu.

Dari poster yang ada di lobi kemudian saya tahu, rumah yang berdiri di atas tanah seluas 2.000 meter persegi ini dibangun tahun 1938. Awalnya rumah ini dimiliki oleh Ibu Hajjah Pusposumarto, salah satu saudagar batik di Laweyan, sebelum kemudian akhirnya dimiliki oleh Nina Akbar Tanjung. Tahun 2000, Nina menjadikan rumah ini sebagai sebuah resto bed & breakfast –konsep yang populer di Inggris setelah Perang Dunia II– dengan tetap mempertahankan keaslian dan nilai-nilai historis rumah ini.

“Ubin, dinding, kayu-kayu, dan kaca-kaca patri yang ada di rumah ini semuanya masih asli,” kata Sugi, yang dipercaya untuk mengelola rumah ini, bersama 11 staf lainnya. “Kalau ada kaca yang pecah, gantinya harus sama atau semirip mungkin dengan yang asli.” Saya memperhatikan ubin di bawah kaki saya, dan saya terpesona. Ubin dari tegel-tegel berukuran 20×20 cm itu berwarna merah jambu, dengan pola berupa bulatan-bulatan seperti percikan air. Di beberapa sudut, pola ini diselingi oleh garis tegel berwarna kuning dengan ukuran dan pola yang sama. Benar-benar cantik!

Bagian tengah rumah ini, yang dipisahkan dari lobi oleh pintu-pintu kayu berornamen kaca patri, mempunyai permukan lantai yang lebih tinggi, dengan dua pilar jati yang kokoh di kiri-kanan, dan sebuah pelaminan di tengahnya. Memang, Roemahkoe (ejaan lama dari ‘rumahku’) bisa juga dipakai sebagai tempat untuk resepsi pernikahan, dan bisa menampung hingga 400 tamu untuk tipe standing party. “Tidak perlu lagi ada hiasan-hiasan lain di pelaminan, karena pelaminannya sendiri sudah cantik,” Sugi sedikit berpromosi. Tapi memang benar begitu adanya.Di balik pelaminan ini ada ruang privat di mana tersimpan almari, piano kuno, dan perhiasan-perhiasan dan aksesoris dari perak. Sebuah pintu dan empat jendela kayu yang masing-masing mempunyai engsel antik, memberikan akses dari bagian tengah ke bagian kanan dan kiri rumah yang berupa koridor terbuka membentuk pola U dengan bagian belakang rumah. Koridor yang berhiaskan lukisan-lukisan bernuansa ceria ini tampak elegan dikontraskan dengan foto-foto kuno, serta meja dan kursi yang kuno pula. Dari sini, setelah melewati taman kecil dengan kolam berisi ikan-ikan mas dan bunyi gemericik air, sampailah saya ke kamar-kamar untuk menginap, yang juga membentuk struktur huruf U mengelilingi rumah utama.

Kaca-patri-kamar-Roemahkoe-Solo

Kaca patri dan aksen kayu mendominasi hingga ke kamar.

Di sini ada 10 kamar tipe deluxe (tarif Rp 375 ribu/malam), 1 junior suite (Rp 430 ribu/malam), dan 2 royal suite (Rp 645 ribu/malam). Meski tak bisa melongok royal suite-nya karena saat itu sedang dihuni tamu, masuk ke kamar deluxe pun membuat saya sangat terkesan: tempat tidur kayu yang terletak di atas platform yang ditinggikan dan dilapis plywood; hiasan kelambu di atasnya; foto-foto dan furnitur kuno; serta jendela kayu dengan kaca patri berwarna-warni. Well, apa yang lebih cantik daripada sebuah jendela kayu dengan aksen kaca patri? Bahkan hotel bintang lima pun tak memiliki kemewahan ini.

Laras Restaurant, di belakang rumah utama, menarik minat saya untuk mampir. Tiga wanita tengah menikmati makanan sambil bercakap-cakap santai, tak jauh dari dinding yang berhiaskan lukisan besar. Meski menyajikan juga menu internasional, saya memesan menu tradisional yang menjadi signature restoran ini: nasi jemblung, wedang cemol, es cincau kawista, dan pisang owol. Bonus: satu basket krupuk gendar.

Nasi-Jemblung-Roemahkoe-Solo

Nasi Jemblung dengan lubang berisi semur di tengah.

Nasi jemblung hadir dengan penyajian yang unik: beralaskan daun pisang, nasi dibuat melingkar seperti roda, bagian lubang di tengahnya diisi bistik (semur) lidah sapi dengan kuah yang kental dan lezat. Sambal, lalapan, dan krupuk rambak menjadi pelengkap menu ini.

Wedang cemol berupa minuman panas yang terdiri dari wedang jahe, kacang tanah, kelapa muda, irisan roti, dan kolang-kaling. Aroma jahenya lebih kuat, mirip aroma yang keluar dari masakan India. “Itu karena jahenya kami bakar dulu, lalu ditumbuk, baru kemudian direbus,” jelas Sugi.

Es cincau-nya kelihatan simpel, tapi rasanya berbeda karena menggunakan sirup kawista yang didatangkan dari Rembang, kota di Jawa Tegah bagian timur laut. Tak ketinggalan, pisang cemol, yang memadukan kontras antara panas dan dingin, menjadi hidangan penutup yang sempurna. Empat potong pisang bakar ditaburi meses, disajikan bersama satu skup es krim stroberi. Hmmm….

Lukisan-di-dinding-Roemahkoe-Solo

Duduk di mana saja terasa berkesan.

Kita bisa duduk di mana saja untuk menikmati sajian ini. Kalau datang malam jumat atau malam minggu, pasti pengalaman dinner di sini akan lebih mengesankan, karena setiap malam jumat ada musik live, sedangkan malam minggu ada gamelan live. Para tamu juga bisa minta diajari menabuh gamelan, membatik, atau diramal dengan primbon (horoskop Jawa).

Oh ya, berapa yang harus saya bayar untuk makanan-makanan ini? Ternyata hanya Rp 63 ribu.

Kalau saja tak harus meliput karnaval batik, saya akan menghabiskan waktu lebih lama menikmati kecantikan rumah ini. Satu catatan penting saya simpan begitu becak yang membawa saya meninggalkan Roemahkoe: saya harus menginap di sini kalau ke Solo lagi.

Roemahkoe Bed & Breakfast
Jl. Dr. Rajiman No. 501 Laweyan, Solo 57148
Tel: 0271-714024, Fax: 0271-720097
E-mail: roemahkoe@indo.net.id
www.roemahkoe.info

Standard
Indonesia, Journey

Romansa Rhoma

Bus-Kalideres-Mauk-Banten

Perjalanannya biasa saja, tapi Rhoma Irama berhasil membawa saya kembali ke masa lalu.

 

Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan

Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi…

Saya yang tadinya mau tidur, tersentak mendengar syair-syair lagu ini. Apakah ini déjà vu? Rasanya saya pernah mendengar lagu ini ketika saya naik elf jurusan Kalideres-Mauk saat hendak ke Pulau Laki, beberapa bulan yang lalu. Kok sekarang saya mendengar lagu itu lagi? Jangan-jangan… saya naik elf yang sama?

Saya jadi tak bisa tidur setelah mendengar lagu Pertemuan ini. Bukan karena syairnya klop dengan apa yang akan saya alami – bertemu lagi dengan Ella dalam trip ke Pulau Lancang kali ini. Namun karena lagu dangdut yang dinyanyikan Rhoma Irama dan Nur Halimah ini merupakan lagu ‘klasik’ yang sudah saya dengar di akhir era 80-an, sewaktu saya masih di kampung saya di Brebes sana, dan juga saat naik angkot ataupun naik bis antar-kota jurusan Semarang-Tegal sewaktu saya masih kuliah dulu.

Dulu, saat naik bis dan melewati daerah seperti Weleri, Kaliwungu, atau Pekalongan, dan mendengar lagu ini, entah kenapa, rasanya klop sekali dengan suasana yang tergambar di kiri-kanan jalan. Suasana kota kecil yang damai dan tenang, dengan dokar, becak, pasar, serta para pedagang kaki lima berjejeran di trotoar. Salah satunya pedagang kaset yang menarik pembeli dengan memutar lagu-lagu seperti Pertemuan ini.

Bagi para backpacker yang sering menjelajahi pelosok Jawa, pasti juga sering mendengar lagu-lagu dangdut ‘jadul’ seperti ini diputar di dalam angkot maupun di angkutan pedesaan. Dan anehnya kok ya sampai sekarang, sudah bertahun-tahun lewat, bahkan sudah ganti milenium, lagu itu masih saja diputar, bahkan di pinggiran Jakarta ini! Entah apakah ini karena sesuai dengan tipikal orang Jawa yang masih suka terbuai dengan romantisme masa lalu, ataukah sekadar pertanda bahwa lagu-lagu dangdut lama ini memang timeless dan lebih baik mutunya dibanding lagu-lagu yang lebih baru.

Lagu yang mellow dan romantis ini juga seperti menjadi penawar kecewa saya, yang baru berangkat dari Terminal Bus Kalideres jam 8 pagi. Padahal saya sudah janjian mau ketemu Ella –dan juga Marley dan Bolang– di perempatan Mauk jam 9. Sementara, waktu tempuh Kalideres-Mauk sekitar 1,5 jam. Itu kalau elf berjalan cepat. Sayangnya, kali ini elf berjalan pelan sekali, mungkin dengan kecepatan 10 km/jam. Sang sopir tampaknya ikut terbuai oleh lagu yang diputarnya sendiri, sampai dia lupa menginjak pedal gas! Kalau saya lihat wajahnya yang kalem dan sabar, sepertinya dia orang Jawa juga. Jangan-jangan aslinya dari Kaliwungu! Oke lah, demi Bang Rhoma Irama dan kenangan masa lalu, dia saya maafkan. Biasanya sih pasti saya sudah teriak, “Mas! Bisa cepet dikit nggak!?”

[Kalau di Brebes, sindiran untuk angkot atau angkudes yang berjalan pelan sekali –karena mencari penumpang– ini biasanya lebih kasar. Begini: “Mas, ini angkot apa katil!” Katil itu keranda orang mati, yang digotong oleh empat orang. Jadi, seperti katil artinya jalannya pelan sekali, sama dengan berjalan kaki biasa!]

Elf baru mulai berjalan cepat setelah melewati Penjara Wanita Tangerang. Saya, tentu saja, tidak mengerti apa hubungannya.

Sepertinya, seluruh lagu yang diputar dari CD dan dikumandangkan melalui dua speaker active yang sudah ditempeli stiker Michelin dan Repsol ini merupakan karya Bang Haji semua, yang berpasangan dengan Nur Halimah atau Riza Umami. Tidak ada satu lagu pun yang merupakan duet Bang Haji dengan Rita Sugiarto atau Elvy Sukaesih, pasangan sebelumnya.

Setelah lagu Pertemuan, lagu berikutnya berjudul Bahtera Cinta. Syair awalnya begini:

Beredar sang bumi
Mengitari matahari
Merangkaikan waktu
Tahun-tahun berlalu

Namun cintaku takkan pernah berubah
Masa demi masa
Kita berdua takkan pernah berpisah
Baur dalam cinta… 

Standard
Indonesia, Journey

Kereta Api Hantu ke Sindangbarang

KRL-kereta-jurusan-Bogor

Perjalanan yang tak sampai-sampai, kereta yang bolak-balik antara dua stasiun, orang-orang yang diam tak bicara…

 

Sabtu pagi, 16 Januari 2010, pukul 7.10

Saya bergegas naik mikrolet M16 jurusan Pasar Minggu untuk mengejar KRL yang akan ke Bogor dari Stasiun Kalibata. Sebenarnya, dari Stasiun Tebet ada kereta Pakuan Ekspres yang ke Bogor, namun baru tiba di Tebet pukul 8 lebih, jadi saya tak mengambil pilihan ini. Mengapa? Karena saya buru-buru hendak ke Sindangbarang, meliput acara Seren Taun. Ini adalah Seren Taun yang kelima kalinya, dan belum sekalipun saya sempat ke sini. Jadi kali ini saya harus datang.

Perayaan yang berlangsung sejak Kamis ini tinggal menyisakan 2 hari lagi sebelum acara puncak besok Minggu. Hari ini acaranya pecah kue (membagi-bagikan kue kepada para penduduk), dan ngarak munding (mengarak kerbau) untuk dijadikan kurban. Acara berlangsung mulai jam 8 pagi. Jadi dengan berangkat sepagi mungkin dari Jakarta, saya berharap masih bisa meliput prosesi acara, meskipun mungkin hanya sebagian saja.

Tadinya saya hendak ke Sindangbarang bersama Vivi, tapi pagi-pagi dia SMS, katanya sakit perut, jadi batal ikut. Jadi saya sekarang jalan sendirian. Saya sampai di Stasiun Kalibata pukul 7.28, dan setelah membeli karcis, saya langsung naik begitu ada kereta ekonomi jurusan Depok  masuk stasiun. Ya, saya tahu kereta ini tidak akan sampai Bogor, melainkan Stasiun Depok Lama. Nanti saya akan nyambung lagi kereta lain yang akan ke Bogor. Mudah-mudahan bisa sampai ke Bogor lebih pagi daripada kalau memakai Pakuan, harapan saya.

Terus-terang saya tidak melakukan kebiasaan rutin saya di pagi hari: minum kopi. Saya hanya minum teh dan makan roti bakar, untuk mendampingi minum Panadol karena kepala saya agak sakit. Begitu kena angin pagi yang sejuk, efek obat ini pun mulai terasa. Saya jadi ngantuk. Jadi sepanjang perjalanan, saya antara tidur dan tidak, sambil mendekap ransel berisi tas kamera dan baju ganti, karena saya berencana menginap di Sindangbarang. Tapi ini tak mengurangi kewaspadaan saya, dan saya hampir selalu sadar setiap kali kereta ini berhenti di stasiun yang dilewatinya. Saya sendiri hafal nama dan urutan stasiun kereta dari Kalibata sampai Depok Lama: Pasar Minggu Baru-Pasar Minggu-Tanjung Barat-Lenteng Agung-Pancasila-UI-Pondokcina-Depok Baru-Depok Lama. Dan kalaupun saya tidur, toh nanti pasti terbangun di perhentian terakhir.

Alhamdulillah, akhirnya saya sampai di Stasiun Depok Lama dengan selamat, dan bersama para penumpang lain turun, lalu saya duduk di kursi peron, menunggu kereta lain yang akan ke Bogor. Eh, tidak disangka-sangka, dari arah Jakarta masuk kereta Pakuan jurusan Bogor. “Aduh, kalau tahu begini, mendingan saya tadi naik Pakuan dari Tebet,” dalam hati saya mengeluh.

Saya menunggu, dan menunggu lagi, sampai akhirnya datang juga kereta ekonomi yang ke Bogor. Kali ini keretanya agak penuh, jadi saya berdiri, dan ransel saya taruh di tempat barang di atas kepala. Namun ini tak lama, karena seorang penumpang wanita di depan saya kemudian hendak turun di Stasiun Citayam. Saya lalu duduk dan minta tolong seorang pemuda untuk mengambilkan ransel saya. Ransel saya pangku dan peluk, dan saya pun meneruskan kantuk saya. Saya hafal nama dan urutan stasiun antara Depok Lama dan Bogor: Depok Lama-Citayam-Bojonggede-Cilebut-Bogor. Jadi, mudah-mudahan 30 menit lagi sampai di Bogor….

Perasaan saya, semuanya normal-normal saja, ya penumpangnya, ya keretanya. Dan lamat-lamat, antara sadar dan tidur, saya mendengar kereta api berhenti dua kali. Dengan kata lain, berhenti di Stasiun Bojonggede dan Cilebut, dan tinggal menuju stasiun tujuan akhir saja, Bogor.

Baru di sinilah keanehan terjadi.

Standard
Journey, Mancanegara

Pria Telatan di Bangkok

Grand-Palace-Bangkok

Come on, Pak Supir. Mooove!

 

Sudah menjadi rahasia umum, orang Indonesia itu sukanya telat alias tidak tepat waktu. Entah itu telat memulai konferensi pers, telat datang ke pesta, telat ikut ini-itu, dan sebagainya dan sebagainya. Tidak cuma saat berurusan dengan sesama orang Indonesia sendiri, tapi yang lebih memalukan, juga saat berurusan dengan orang-orang dari negara lain.

Sudah tentu, saya, berusaha menghapus kesan suka telat itu sebisa mungkin. Meski, ternyata, akhirnya masuk juga ‘menjadi bagian’ dari orang-orang yang telat itu! Tiga kali malah, dan semuanya terjadi saat di Bangkok, saat saya mengikuti event internasional tentang travel and tourism!

Jangan keburu sewot dulu. Baiklah saya jelaskan sebab-musababnya kenapa saya sendiri sampai mengalami hal yang memalukan itu sampai tiga kali.

Pertama saat mengikuti Thailand Travel Mart (TTM) kira-kira setahun lalu. Di samping diundang untuk melihat pameran wisata dan produk-produk Thailand, para undangan dari berbagai negara -termasuk saya- mendapat juga complimentary tour ke Chachoengsao, kira-kira 2 jam perjalanan ke timur dari Bangkok, dan ke Chiang Mai serta Chiang Rai, Thailand Utara.

Nah, masalah terjadi ketika hendak ke Chachoengsao. Malam sebelumnya, sewaktu pulang dari acara TTM, saya sudah diwanti-wanti Ms. Liem, tour guide kami, untuk sudah duduk manis di bis yang menunggu di depan hotel, tepat jam 8 pagi. Tentunya bersama para peserta tur yang lain. Tapi, dasar baru pertama kali ke Bangkok, habis pulang dari TTM itu -baru jam 10 malam- saya gunakan untuk pergi ke Bed Supperclub. Apa lagi, kalau bukan… liputan! (Bener loh, liputan. Tulisan tentang klub ini kemudian masuk di majalah Garuda).

Bed-Supperclub-Sukhumvit-Bangkok

Bed Supperclub yang bikin saya lupa segalanya.

Yeah, saya enjoy sekali di klub ini, hingga baru pulang ke hotel ketika klub sudah tutup, jam 2 pagi! Sebelum tidur, jam 3 pagi, saya set alarm handphone ke jam 5.

Perasaan, saya mematikan alarm handphone itu ketika berbunyi. Tapi kemudian saya… tidur lagi! Saya terbangun lagi oleh bunyi telepon di kamar. “Pak Teguh, Anda sudah ditunggu di bis, sekarang juga!” suara Ms. Lim di ujung sana terdengar tegas.

Saya gelagapan. Saya lihat jam, ternyata sudah jam 8.15! Mati deh saya. “Ok, sebentar, saya mandi dulu,” kata saya. “Tidak usah, langsung turun saja sekarang, atau Anda kami tinggal!”

Oops, kalau saya sampai ditinggal, bagaimana reputasi saya dong. Secepat kilat saya cuci muka dan menyikat gigi sekadarnya, terus langsung turun. Kaos, celana, semuanya tidak sempat saya ganti. Jadi yang nempel di badan ya yang saya pakai semalam, dan juga saya pakai tidur.

Ms. Lim berdiri di dekat pintu bis, dan begitu saya melihatnya, saya ngeles.” Aduh maaf sekali, tadi malam saya liputan ke Bed Supperclub sampai jam 2….” Mungkin karena melihat muka saya yang kusut masai, Ms. Lim jadi nggak tega marah. Begitu saya masuk bis, dia mewakili saya minta maaf ke para peserta tur lain yang sudah cembetut. Dia bilang, “Mohon bisa dimaafkan, salah satu teman kita ini bangun kesiangan karena dia terlalu bersemangat meliput tentang Bangkok untuk majalahnya.” Yesss! Thanks Maam!

Sampai siang itu saya tidak mandi. Saya baru bisa mandi setelah mengunjungi Rainbow Arokaya Resort & Spa di Chachoengsao. Setelah mencoba fasilitas dome di spa itu (mesti naked, terus selonjor di dalam tabung yang berfungsi seperti alat sauna). Karena keringetan banget, tentu saja ini alasan yang bagus untuk mandi, hehehe!

Telat yang kedua dan ketiga (!) terjadi beberapa hari lalu, ketika saya diundang untuk menerima award Friends of Thai. Saya, bersama para penerima award dari negara-negara ASEAN, dijadwalkan untuk dinner dengan direktur Tourism Authority of Thailand (TAT) untuk kawasan ASEAN, Mrs. J, jam 6 petang. Dari Indonesia sendiri ada dua penerima, saya dan Pak W dari Airasia. Dinner-nya di mana, nah ini yang belum jelas. Saya cuma dibilangin oleh panitianya, “Jam 6 sudah harus di lobi bawah ya!”

Saya menginap di Centara Grand Hotel, tepat di samping Centralworld, Ratchaprasong, Bangkok. Hotel ini baru dibuka sebulan lalu dan masih bau cat. Saya diberi tahu, lobinya ada 2, yakni di lantai dasar dan lantai 23 (Sky Lobby). Di lantai 1, lantai 23, 24, dan lantai 55 juga ada restoran-restoran. Saya sendiri menginap di lantai 41, sementara teman saya di lantai 39.

Standard
Taste

Sesal dalam Sepiring Nasi Lengko

Dua kali berkunjung ke tempat yang sama, dua kali pula pipi saya basah oleh air mata.

 

Saya tidak sedang bersimpuh di depan sebuah pusara, atau berada di sebuah bangsal rumah sakit di mana para pasiennya tengah berbaring lemah menunggu ‘dijemput’. Saya justru tengah berada di sebuah warung nasi lengko. Tepatnya, di Warung Nasi Lengko Pak B di Jalan Pagongan, Cirebon. Oleh para traveler dan orang-orang yang suka berburu makanan enak, nasi lengko ini dianggap yang paling lezat di kota ini. Karena alasan itu pula saya ingin membuktikannya dengan datang ke sini.

Saya duduk di sebuah bangku panjang, di warung yang juga memanjang ke belakang. Selain nasi lengko, warung ini juga menyajikan sate kambing. Saya memesan 10 tusuk.

Begitu nasi lengko pesanan saya datang, saya pun mencicipinya. Namun, setelah dua sendok, saya bisa mengambil kesimpulan: nasi lengko ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan nasi lengko buatan ibu saya. Kecap nasi lengko ini terlalu encer dan hambar karena kurang bumbu. Tempe dan tahunya juga tawar, kurang gurih dan renyah. Orang-orang yang bilang bahwa nasi lengko ini enak, pastilah bukan food reviewer yang baik. Mereka tidak bisa membedakan mana nasi lengko yang enak dan yang tidak. Nasi lengko ini sama sekali tidak enak, tidak seperti nasi lengko buatan ibu saya.

Ibu saya, kalau membuat nasi lengko, rasanya seperti tengah membuat masakan paling istimewa sedunia. Terutama kalau saya yang memintanya. Terlebih, setelah saya kuliah di Semarang, dan hanya pulang ke rumah di Brebes sekali dalam enam bulan. Makanya begitu saya pulang, sebelum saya meminta, ibu sudah lebih dulu bertanya, “Mau dimasakkan apa hari ini, Lis? Nasi lengko, kan?” (Di rumah, keluarga memanggil saya Ulis, bukan Teguh. Saya tidak tahu bagaimana awalnya mengapa bisa dipanggil begitu).

Ibu tahu saya tak akan menolak tawarannya. Maka beliau pun pergi ke pasar, membeli tauge kacang hijau, mentimun, tempe, tahu kuning, kecap manis, daun salam, bawang merah, bawang putih, dan bumbu-bumbu lainnya. Sebagai orang Brebes asli, ibu tahu pasti bagaimana cara membuat nasi lengko yang enak, karena nasi ini merupakan makanan khas daerah ini, dan juga dua daerah di dekatnya, Tegal dan Cirebon.

Saya biasanya kemudian menjumpai ibu lagi di dapur, ketika beliau tengah mengulek bumbu-bumbu. Tauge kacang hijau sudah direbus setengah matang, dan kini tengah ditiriskan dalam irig (saringan dari anyaman bambu). Mentimun sudah dipotong dadu kecil-kecil seukuran satu sentimeter. Tempe sudah dipotong-potong kecil panjang, lebih lebar sedikit dari ukuran korek api. Tahu sudah dipotong-potong kubus seukuran satu sentimeter. Keduanya sudah digoreng hingga kering dan renyah.

Tinggal yang terakhir, menggangsa (menumis) kecap manis dengan bumbu-bumbu. Dua sendok makan minyak goreng dipanaskan dalam wajan, lalu ditambahkan bawang merah rajangan, digoreng hingga keluar harumnya, kemudian ditambahkan bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan. Saya tidak tahu bumbu apa saja yang digunakan, namun kemungkinan mengandung kemiri, ketumbar, bawang putih, garam, sedikit gula, dan daun salam. Yang terakhir ini dibiarkan utuh, tidak ikut digerus.

Begitu bumbu sudah harum, barulah dituangkan kecap manis. Ibu saya hanya menambahkan sedikit air saja, sekadar kecapnya tidak lengket di wajan. Setelah diaduk-aduk dan mendidih, api pun dimatikan. Nasi putih panas disiapkan di piring, kemudian ditaburi tauge, lalu mentimun, lalu tempe dan tahu, dan terakhir, disiram kecap kental tadi. Selesai.

Ibu saya tidak menambahkan rajangan daun bawang dan seledri seperti nasi lengko Pak B. Tapi saya yang memakannya, tidak perlu tambahan apapun untuk menghabiskan sajian istimewa ini. Nasi di piring segera tandas, lalu diam-diam saya menambah lagi, sementara ibu saya mencuci peralatan masak di pekiwan (tempat mencuci) di dekat sumur.

Masalahnya hanya satu: ibu saya sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Kelezatan nasi lengko yang dibuatnya, ikut hilang bersama kepergiannya, karena saya tidak pernah meminta beliau untuk menuliskan resepnya, apalagi belajar memasak. Saya terlalu sibuk dengan keluarga, dengan pekerjaan, dengan traveling, sampai-sampai saya jarang pulang ke rumah untuk menengok ibu yang mulai sakit-sakitan. Saya baru pulang ketika diberitahu kakak bahwa beliau sudah tiada.

Dan kini, di depan sepiring nasi lengko yang tidak enak, tiba-tiba saja penyesalan saya datang menyeruak. Bayangan wajah ibu saya dan kenangan bersamanya, tergambar lagi di hadapan saya. Wajahnya yang teduh dan dahinya yang berhias kerutan-kerutan, menggambarkan kebahagiaan, kesedihan, dan penderitaan yang bercampur-aduk jadi satu. Tenggorokan saya terasa tercekat, dada menyesak, dan tanpa terasa air mata merembes pelan-pelan dari sudut mata. Saya berusaha keras agar tidak sesenggukan di warung nasi lengko ini.

Duh, Ibu, andai saja engkau masih hidup, tentu anakmu ini masih bisa menikmati lagi nasi lengkomu yang jauh lebih lezat itu. Ibu, maafkanlah putramu ini, yang baru bisa menyadari arti kasih sayangmu, di sini, di depan sepiring nasi lengko yang tidak enak…. [T]

Catatan:

Beberapa bulan kemudian, saat saya ke Cirebon lagi bersama seorang teman, dia meminta saya untuk mengantar ke warung nasi lengko itu, yang dengan sangat terpaksa saya turuti. Saya makan lagi nasi lengko itu, dan kejadian yang sama terulang kembali. Sejak itu saya berjanji, saya tidak akan pernah kembali ke warung itu lagi…. 

Standard