Dari sebelas kamar yang ada, saya memilih di tingkat atas salah satu rumah panggung, yang memiliki fasilitas air hangat dan tivi, dan hanya Rp 125 ribu per malam termasuk sarapan pagi. Setelah menikmati makan malam ikan bakar yang saya pesan (akhirnya!) saya pun terlelap ditemani bunyi jengkerik dan serangga malam dari sawah di samping penginapan.
Makam Indah di Tepi Danau
Satu-satunya angkot yang melayani jurusan Tongging ke Silalahi –11 km ke arah selatan– ternyata sudah lewat ketika saya tengah sarapan. Jadi saya berjalan balik dulu ke arah pasar sambil mengacungkan jempol di pinggir jalan untuk mencari angkutan apa saja yang bisa membawa saya ke Silalahi. Untungnya hari ini cerah sekali dan langit membiru menghiasi bukit dan sawah yang melingkupi desa ini. Suara anak-anak yang bersekolah Minggu terdengar ramai dari Gereja HKBP Tongging yang saya lewati.
Saya akhirnya mendapatkan tukang ojek yang mau mengantar ke Silalahi, dengan biaya Rp 50 ribu. Kami pun segera melaju menyusuri jalan-jalan aspal di pinggir danau, yang di beberapa bagian agak rusak. Air danau begitu tenang, dan bukit-bukit di seberang sana tampak berlapis-lapis, sungguh menyegarkan mata.
Di belokan jalan tak jauh dari Desa Paropo, saya melihat sebuah kompleks makam keluarga yang berada di bukit kecil yang menjorok ke danau. Salah satu makam itu berwarna hijau pupus dan berbentuk seperti Tugu Monas mini. Saya pun meminta Jo, tukang ojek saya, untuk berhenti. Entah ini makam dari marga mana, karena tidak ada keterangan di nisan-nisannya. Tapi dari beberapa makam yang saya temui selama mengelilingi Danau Toba ini, menurut saya makam ini yang paling indah. Saat berdiri di cungkup makam yang paling tinggi, rasanya saya seperti sedang berdiri di anjungan kapal besar yang tengah mengarungi danau, dengan lima bukit di depan sana membentuk lapisan-lapisan hingga jauh sekali.
‘Pantai’ Mutiara Silalahi
Kami melewati Desa Paropo, lalu Kodon-kodon, Batu Horbo, dan akhirnya mampir sejenak ke monumen Tugu Raja Silahisabungan. Dinding bagian dasar monumen berisi relief-relief dan silsilah Raja Silahisabungan yang menurunkan banyak marga Batak, salah satunya marga Silalahi. Dari kedua istrinya, yakni Pinggan Matio dan Siboru Nailing, sang raja menurunkan 8 putra dan 1 putri. Salah satu relief yang unik adalah gambaran yang mirip dengan cerita Jaka Tarub dan 7 Bidadari kalau di Pulau Jawa. Ternyata relief itu menggambarkan saat-saat Raja Silahisabungan memilih Pinggan Matio, putri Raja Parultep dari negeri Pakpak, sebagai istrinya.


