Journey, Mancanegara

Antara Tokyo, Kyoto, dan Nozomi

Shinkansen-mempersingkat-perjalanan-dari-beberapa-hari-menjadi-beberapa-jam-saja

Yang awalnya bisa berhari-hari, dengan shinkansen cukup beberapa jam saja. [Dok. JNTO]

Jepang kini mempunyai enam jalur shinkansen yang menghubungkan Tokyo dengan berbagai kota di pulau-pulau utama Jepang. Ada beberapa jenis kereta shinkansen yang melayani tiap jalur. Di rute Tokyo-Shin-Osaka, selain Nozomi juga ada Hikari dengan waktu tempuh 3 jam tepat, dan Kodama yang 4 jam tepat. Namun skedul keduanya tidak sebanyak Nozomi yang 3-4 kali keberangkatan per jam. Nozomi paling pagi dari Tokyo pukul 06.00 dan paling malam pukul 21.20, begitu juga dari Shin-Osaka. Konon, shinkansen Jalur Tokaido ini saja setiap tahun mengangkut 150 juta penumpang.

Kopi yang So-so

Seperti umumnya tipikal orang Jepang kalau di kereta, di dalam shinkansen pun sepi, tidak ada penumpang yang bercakap-cakap, apalagi dengan suara keras. Sebagian penumpang kini malah sudah tidur, apalagi cuaca mendung di luar seperti ikut mendukung. Saya yang duduk di kursi A di pinggir jendela juga tidak menemukan pemandangan yang memanjakan mata di luar, selain dataran rendah tanpa laut yang sepi, kadang diselingi kota kecil dengan rumah-rumahnya yang kotak-kotak.

Petugas-shinkansen-memeriksa-karcis

Memeriksa tiket sendirian dan tanpa kata.

Kemudian datang sang kondektur berbadan tinggi dengan uniform dan topi hitamnya untuk memeriksa karcis. Ia memeriksa sendirian –tidak seperti di Jawa yang beberapa orang dan membawa petugas keamanan– dan hanya memberi stempel tanpa berkata-kata. Tak lama kemudian giliran seorang pramugari datang membawa kereta dorong, menawarkan minuman dan camilan yang kita mesti beli, bukan gratis. Saya membeli kopi, yang kemudian saya sadari itu sebuah kesalahan. Bukankah Jepang lebih terkenal tehnya? Benar saja, kopi instan dalam gelas plastik itu pahit dan tanpa aroma, meski sudah diberi sirup gula dan susu.

Daripada tak bisa tidur –saya khawatir keretanya segera sampai di Kyoto– saya iseng menuju toilet di bagian ujung gerbong, yang dibatasi pintu geser dengan ruang penumpang. Biasanya di bagian ini pula penumpang menelepon atau menerima telepon. Ruangan toilet ini bernuansa kayu lapis warna cokelat. Di bagian lorong ada wastafel, tempat sampah, dan tabung pemadam kebakaran. Di sampingnya ada ruangan berbentuk kapsul dengan pintu geser. Di dalamnya ada toilet duduk, urinoir, tempat ganti popok, dan wastafel. Meski lega, namun tetap harus bergiliran satu-satu kalau ingin menggunakan. Di semua kereta shinkansen ini penumpang dilarang merokok. Di dalam satu rangkaian kereta ada beberapa ruang merokok, namun tak ada di ruangan toilet di gerbong ini.

Kopi-di-shinkansen-tidak-enak

Lain kali jangan beli kopi di sini.

Tak terasa, dua jam lebih berlalu, dan running text di layar di atas pintu mengingatkan kalau sebentar lagi kereta akan sampai di Kyoto. Mengingat waktu berhenti di setiap stasiun paling hanya 1 menit, para penumpang yang akan turun, termasuk saya dan dua teman yang dari tadi tidur terus, segera mengemasi tas-tas. Kami ikut berbaris teratur di gang menuju pintu. Ini yang saya suka dari orang Jepang: sangat tertib dan teratur. Begitu kereta berhenti sempurna, kami pun keluar dan disambut udara musim gugur Kyoto yang mulai dingin.

Gunung Fuji!

Liburan dua hari di Kyoto, yang diisi dengan mengunjungi berbagai kuil dan istana, segera berlalu. Kini kami sudah berada di peron stasiun Kyoto, bersiap pulang ke Tokyo dengan… Nozomi lagi. Kali ini Nozomi 24 yang akan berangkat pukul 13:16 dan diharapkan tiba di Tokyo pukul 15:33. Tiketnya sudah kami beli kemarin begitu kami sampai di Kyoto, dan harganya sama, per orang 13,320 yen (1 yen = Rp 120). Jadi sekitar Rp 1.6 juta. Mahal? Buat saya iya. Tapi lebih mahal lagi naik pesawat dari Tokyo ke Osaka yang 22,670 yen, ditambah sekitar 1,600 yen lagi untuk sampai ke Kyoto, karena di Kyoto tidak ada bandara. Total waktu yang diperlukan, kalau menurut perhitungan aplikasi skedul kereta di www.hyperdia.com, adalah 3 jam 42 menit. Jadi, lebih mahal sekaligus lebih lama dibanding naik shinkansen.

Standard

5 thoughts on “Antara Tokyo, Kyoto, dan Nozomi

  1. “Pastikan, jangan berasumsi!” Itu pelajaran lain yang juga didapat dari naik shinkansen ini :D. Iya, sebaiknya jangan tidur ya kalau naik shinkansen karena cepat sampainya – atau terlewat mau motret pemandangan apa yang ada di sisi kereta :D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *