Dengan asumsi nanti kursi deretan A-B-C akan berada di sisi kiri seperti kemarin, dan saya akan bisa memandang Gunung Fuji yang bersalju dari balik kaca jendela, saya pun membeli tiket yang tiga kursi. Tapi kali ini di gerbong 12. Dan tebak apa yang terjadi begitu saya masuk keretanya. Ternyata, deretan kursi A-B-C itu ada di sisi… kanan!
Putus asa karena nggak bakal bisa melihat Gunung Fuji, saya pun memilih kursi C yang dekat aisle (gang). Begitu selesai pemeriksaan karcis, saya pun tertidur. (Kemudian saya tahu, saat kereta hendak balik ke Tokyo, keretanya tidak memutar, melainkan kursi-kursinya saja yang diputar balik oleh para petugas cleaning service agar selalu menghadap ke depan. Jadi yang selalu mendapat pemandangan Gunung Fuji adalah kursi D dan E!).
“Guh, Guh, katanya kamu mau melihat Gunung Fuji?” Umi menggoncang-goncang bahu saya. “Tuh, kelihatan dari jendela!”
Astaga! Saya kaget dan segera tersadar dari tidur. Terlihat puncak bersalju gunung tertinggi di Jepang itu dari jendela di samping kiri saya, timbul tenggelam oleh tiang-tiang dan bangunan yang berlari cepat. Tanpa berpikir panjang, khawatir tidak sempat melihat lagi, saya pun menuju ke dekat pintu keluar dengan hanya membawa smartphone. Saya memotret dengan menempelkan smartphone itu di kaca pintu, di tengah kereta yang sama sekali tidak memperlambat larinya. Cuaca menjelang sore ini tengah cerah dengan hanya sedikit awan, dan saya beruntung bisa mendapat beberapa gambar, meski kualitasnya sekedar ‘lumayan’ saja. Sekurangnya sudah mengobati kekecewaan dan rasa penasaran, gumam saya menghibur diri-sendiri.
Kemudian saya tahu, kalau dari Kyoto, pemandangan Gunung Fuji itu akan terlihat jelas sekitar 10 menit sebelum kereta sampai di stasiun Yokohama. Hmm, sepertinya saya mesti berkunjung lagi ke Jepang nanti, khusus untuk memotret Gunung Fuji. Tidak hanya dari kursi E shinkansen, tapi kalau memungkinkan, sekalian saja mendaki hingga ke puncaknya. [T]



Asik banget pengalamannya, Pak!
Tapi kalau mau liburan ke Jepang dengan Shinkansen mesti nabung banyak nih.
Iya, itu cita-cita yang kesampaian Mas. Untungnya gratis lagi naiknya, karena jadi guide buat teman. 😁
“Pastikan, jangan berasumsi!” Itu pelajaran lain yang juga didapat dari naik shinkansen ini :D. Iya, sebaiknya jangan tidur ya kalau naik shinkansen karena cepat sampainya – atau terlewat mau motret pemandangan apa yang ada di sisi kereta :D.
Suka lihat foto2 hasil jepretannya Bang, memang beda kalau fotografer yang ngeshoot ya…
Hahaha siiplah. Terima kasih udah mampir. Maap baru balas, masih sibuk yang lain sih. 😀