Gereja Katedral Jakarta dilihat dari Masjid Istiqlal
Indonesia, Journey

Jumat Bersama Maria

Pembangunan katedral baru, yang rancangan arsitekturnya dibuat oleh P. Antonius Djikmans, S.J. sebenarnya sudah dimulai 1 November 1890. Namun setelah pemancangan batu pertama, setahun kemudian pembangunan dihentikan karena kekurangan dana. Hanya dengan melakukan pengumpulan donasi yang masiflah, mulai dari mengadakan undian berhadiah hingga menyebarkan kotak-kotak amal misi ke seluruh penjuru Belanda, akhirnya dana untuk pembangunan katedral bisa terkumpul.

Pada 16 Februari 1899 pembangunan katedral pun dimulai lagi, dengan arsitek Marius Hulswit. Dua tahun kemudian, tepatnya 21 April 1901, gereja katedral yang baru ini akhirnya selesai dibangun, dan diresmikan oleh uskup Mgr. Luypen.

Pekerja sedang membersihkan fasad depan Gereja Katedral Jakarta

Seorang pekerja masih sibuk membersihkan fasad katedral di tengah hari.

Renovasi yang cukup besar baru dilakukan lagi 87 tahun kemudian, tepatnya tahun 1988. Atap gereja yang tadinya dari sirap, diganti dengan lembaran-lembaran tembaga yang lebih awet dan tidak mudah bocor.

Menara Malaikat

Jika diamati, ruang ibadah katedral yang punya panjang 60 meter dan lebar 20 meter ini mempunyai denah seperti salib. Lorong utama dari pintu depan sebagai batang salib, pintu utara dan selatan sebagai batang mendatar, dan bagian altar utama sebagai kepala salib. Jika ditarik garis lurus ke atas, di pertemuan batang salib ini berdirilah Menara Angelus Dei (Malaikat Tuhan) setinggi 45 meter.

Dua menara utama yang ada di atas pintu masuk, masing-masing tingginya 60 meter dan ditanam hingga ke tanah. Kedua menara ini mempunyai desain yang berbeda. Menara selatan yang disebut Menara Gading—lambang kesucian Bunda Maria—keempat sisinya disangga empat menara kecil yang lancip. Ciri khasnya adalah adanya jam dinding bertuliskan van Arcken & Cie. Sedangkan menara utara yang disebut Benteng Daud—lambang perlindungan Bunda Maria kepada umatnya—disangga empat menara kecil berbentuk benteng. Setiap hari, lonceng di menara ini berdentang-dentang sebanyak tiga kali, yakni pada pukul 6 pagi, 12 siang, dan 6 sore.

Diapit kedua menara ini, tepat di atas pintu masuk, terdapat Rozeta, jendela bulat dari kaca patri yang bermotif Rosa Mystica, lambang Bunda Maria. Kalau dari luar mungkin warnanya cuma terlihat abu-abu dan hijau lumut saja. Namun kalau dilihat dari dalam, terlebih saat terkena sinar matahari sore, jendela berhias 12 mahkota mawar ini akan berkilau indah berwarna-warni.

Katedral ini merupakan bangunan bergaya gotik, namun dengan beberapa penyimpangan. Misalnya bangunan menara yang dibuat dari besi cor—seharusnya dari beton—untuk mengantisipasi terjadinya gempa. Pilar-pilar utamanya yang berornamen bunga-bunga, bergaya Romawi. Lalu langit-langit ruang ibadah utamanya dari kayu jati, dengan polanya yang berbentuk seperti pelepah melengkung pohon palma, khas Timur Tengah. Tak heran jika katedral ini lebih tepat disebut bergaya neo-gotik.

Kaca-kaca patri cantik yang ada di tiap jendela, dan motif-motif bunganya tidak ada yang sama. Kaca-kaca itu sudah ada semenjak gereja ini berdiri, dan konon hingga kini belum ada yang pecah.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *