Jalan mendaki pun dimulai, dan mulailah saya tertinggal dari rombongan, karena pasir yang saya injak ternyata memberati langkah-langkah saya. Sebagian pasir masuk ke sandal dan menimbulkan rasa sakit. Baru sepersekian perjalanan menuju puncak pertama saja, saya sudah ngos-ngosan. Beberapa kali saya istirahat sambil memegangi lutut. Wah, baru segini saja sudah kerepotan. Bagaimana kalau mendaki gunung yang tingginya ribuan meter?

Jalur menanjak dan pasir yang membenamkan langkah – kombinasi sempurna yang bikin ngos-ngosan.
“Ayo, jangan kalah sama Nadja!” seru Faisal, wartawan sebuah majalah hiburan. Di kiri saya, agak jauh, saya lihat Nadja, putri Budi yang baru berusia 7 tahun, sedang beradu cepat naik gunung dengan pamannya, Sudaryanto. Mereka tertawa-tawa, seperti sedang bermain-main saja. Sialan, hati saya menggerutu. Tapi saya memang tak bisa dibandingkan dengannya. Kalau saya baru pertama kali ini mendaki gunung, Nadja sudah menaklukkan lima puncak gunung, dan pendakian ke Krakatau ini untuk yang ketiga kalinya.
Dengan susah payah, akhirnya saya sampai juga ke puncak pertama. Hmm, rasa lelah segera hilang begitu disuguhi pemandangan membiru puncak kerucut Anak Krakatau, dan pulau-pulau di sampingnya. Di puncak pertama ini pula ada alat pemantau aktivitas Anak Krakatau, namun tidak ada penjaga gunung. Menurut cerita, ia sering menodongkan senapannya kepada siapa saja yang nekat mendaki ke puncak kedua, kalau gunung sedang tidak ramah. Mungkin karena hari masih pagi sang penjaga belum datang. Gunung ini tampaknya juga tengah tidur.
Sebagian peserta trip asyik berfoto-foto. Namun ketika saya melayangkan pandangan ke puncak kedua, hei, di kejauhan sana tampak tiga orang tengah berjalan di punggung gunung, menuju ke puncak! Tidak salah lagi, yang paling depan adalah Roman. Mereka tampak seperti titik-titik yang sedang bergerak. Dalam hati saya berpikir, sudah sampai di sini, mengapa saya tidak mendaki ke puncak tertingginya sekalian? Sepertinya tidak sulit, karena mereka mendaki dengan mengitari pinggang gunung.

Alat pendeteksi aktivitas Anak Krakatau. Mudah-mudahan tidak ada yang iseng mencurinya.
Saya tinggalkan tas kamera dan botol air minum, dan hanya membawa kamera yang saya selempangkan di punggung. Saya pun menyusul rombongan yang sudah lebih dulu mendaki. Marlon dan Thai di depan saya. Namun tak lama kemudian, Marlon meninggalkan saya dengan langkah-langkahnya yang cepat.

Jangan menganggap enteng meski gunungnya tampak tidak tinggi-tinggi amat.