Roman tak menjawab ketika saya tanya mengapa ia mau mendaki Krakatau, yang tingginya hanya sekitar 280 meter. Ia cukup menunjukkan buku tebal yang selalu dibacanya: Krakatoa, The Day the World Exploded. Saya pun segera paham apa maksudnya.
Kapal yang Bikin Waswas
Perjalanan tengah malam selama 2 jam dengan minibus dari Jakarta ke Merak, diteruskan dengan menyeberang ke Lampung dengan feri selama 3 jam –belum termasuk antri lama ketika memasuki pelabuhan– sebenarnya sudah cukup membuat badan pegal-pegal. Namun rasa pegal itu segera hilang ketika pagi harinya kami sampai di Canti, desa nelayan di Kalianda, Lampung Selatan. Dari sini nanti kami akan naik kapal kayu menuju Krakatau.

Kapal sekecil itu berkelahi dengan ombak Selat Sunda.
Kami tidak akan langsung menuju Krakatau, yang bisa ditempuh dalam 3 jam. Kami akan mampir dulu dan berenang-renang di Pulau Sebuku Kecil, kemudian menginap di Pulau Sebesi. Keesokan paginya baru kami akan menuju Krakatau.
Begitu kapalnya datang, hati saya pun menciut. Mampukah kapal kayu kecil yang memakai mesin bekas Isuzu Panther dan hanya diawaki dua orang ini mengarungi laut menuju Krakatau?
“Jangan khawatir, Pak Anwar dan Mas Isnen ini sudah terbiasa membawa penduduk dan mengantar saya ke Krakatau,” Budi mencoba menenangkan. “Tapi, demi keselamatan, mohon semua peserta memakai jaket pelampung.”
Mula-mula kapal melaju dengan tenang, karena ombak masih kecil. Namun setengah jam kemudian, ombak mulai membesar dan begitu kapal terombang-ambing, beberapa peserta mulai mabuk laut. Saya yang duduk di geladak depan pun harus berpegangan erat-erat ketika kapal dipermainkan ombak dan seperti mau menghunjam ke laut begitu diturunkan oleh gelombang.

Pulau Sebuku Kecil, kecantikannya sudah terlihat dari kejauhan.
Untunglah, kami kemudian melihat dua pulau bersisian, yang dari jauh kelihatan garis pantainya yang berwarna putih. Yang di sebelah kanan adalah Pulau Sebuku Besar, sementara di kirinya, yang lebih kecil, adalah Pulau Sebuku Kecil. Semakin mendekat ke Pulau Sebuku Kecil, saya pun melihat warna air lautnya yang bergradasi, mulai dari biru tua, biru muda, hijau, hingga putih. Kami pun berloncatan begitu kapal merapat ke pantai.

Ketika Pulau Sebuku Kecil seindah ini, mengapa juga mesti lanjut ke Krakatau?