Batu hitam terakhir saya gapai, dan… di depan saya pun terhampar dataran yang berbatu-batu, campuran antara batu hitam dan batu putih yang mengepul. Kira-kira 20 meter di depan sana, beberapa teman yang sudah sampai lebih dulu tengah berfoto-foto di bibir kawah Anak Krakatau. Hati saya memekik. Akhirnya sampai juga!

Kawah Gunung Anak Krakatau. Ternyata tidak ada magma menggelegak.
Setengah berlari saya bergegas menuju bibir kawah untuk melihat seperti apa isi di dalamnya.
Semula saya mengira, kawah itu berisi magma cair yang menggelegak dan meletup-letup. Namun ternyata, kawah yang tidak terlalu dalam itu hanya berupa cekungan kering yang tertutup tanah dan pasir. Hanya bibir kawah di seberang saya saja yang mengeluarkan asap dari sela-sela batuannya yang berwarna putih kekuningan. Begitu juga batu-batuan di dekat tempat kami berpijak, mengepulkan asap putih.
Dari seluruh peserta, akhirnya 14 orang berhasil sampai ke puncak Anak Krakatau, dua di antaranya peserta perempuan. Dari alat GPS Roman, diketahui tinggi Anak Krakatau kini telah menjadi 287 meter, atau naik sekitar 7 meter dari catatan dua tahun lalu.
Namun kami tidak bisa berlama-lama di puncak. “Mohon semua segera turun karena matahari sudah tinggi,” kata Sudaryanto. “Sebentar lagi pasir di gunung ini akan menjadi sangat panas.”
Masalahnya, bagaimana cara turunnya? Sudaryanto lalu memberi contoh. “Masukkan dulu kaki kanan ke dalam pasir, lalu setelah dirasa dasar pasirnya kokoh, baru langkahkan kaki kiri sambil tangan berpegangan pada batu yang ada di dekat kita.”

Roman dan Marlon menyusuri bibir kawah Anak Krakatau menuju titik tertinggi.
Saya pun menuruti perintahnya. Dan benar, begitu kaki kanan masuk ke pasir, rasa panas langsung menyergap. Pasir-pasir itu telah menjadi panas, dan kalau sampai tengah hari baru turun dari puncak, pasti kaki saya akan melepuh. Kami pun bergegas turun, meski kadang kami lakukan dengan ngesot (setengah duduk). Lagi-lagi, saya termasuk yang paling akhir sampai ke puncak pertama.

Perjalanan turun, sama sulitnya dengan ketika mendaki.
Begitu semua peserta sudah berkumpul, kami pun turun menuju ke pantai. Kali ini, sambil meluapkan kegembiraan karena telah menggapai puncak Anak Krakatau, kami berlari menuruni gunung, seperti mobil yang meluncur dengan kecepatan penuh dari atas bukit.
Pukul sebelas siang, kapal mulai bergerak meninggalkan pulau. Dari atas geladak kapal, tak puas-puasnya saya memandangi puncak putih Anak Krakatau yang makin lama makin mengecil di kejauhan. Satu mimpi telah tercapai…. [T]
BOKS:
Banyak Jalan Menuju Krakatau
Ada beberapa cara menuju Krakatau. Bisa dari Anyer, Carita, atau Labuan di ujung barat Pulau Jawa. Bisa juga dari Canti – Kalianda, ujung selatan Sumatra.

Sampai berjumpa lagi, Anak Krakatau!
Fun Trip 2 Volcano sekarang sudah tidak mengadakan weekend trip lagi. Namun operator tur yang mengadakan trip ke Anak Krakatau juga sudah banyak. Coba Googling dengan kata kunci ‘tur ke Krakatau’, nanti akan ditemukan beberapa operator tur dengan reputasi yang baik.