Kulit wajahnya pucat, matanya terpejam. Namun segurat senyum masih tersirat dari wajahnya yang ayu dan teduh. “Semua keturunanku menyebut aku bahagia,” katanya.
Sebagai warga Jakarta, tentu bukan baru pertama kali ini saja saya mengunjungi Gereja Katedral Jakarta. Saya pernah, datang minggu pagi ke sini. Bukan untuk ikut misa, melainkan untuk melihat bagaimana suasana misa di pagi hari. Ternyata nuansanya khidmat sekali ya, terlebih karena matahari perlahan-lahan naik dan sinarnya yang kuning menerobos masuk jendela katedral. Beberapa burung gereja, yang saya kira sudah tidak ada lagi di Jakarta, ramai berkicau dan berlompatan masuk ke atas ruang altar utama.
Di waktu lain, saya mengantar bapak mertua saya yang datang dari Cebu City, Filipina. Terbiasa dengan suasana Basilica Santo Nino di sana yang setiap hari ramai oleh ribuan jemaat dan peziarah, beliau justru lebih menikmati keanggunan dan ketenangan di katedral ini. Kekagumannya makin bertambah ketika kami menyeberang jalan dan masuk ke Masjid Istiqlal. “Hebat ya, katedral dan masjid bisa berhadap-hadapan. Di Filipina tidak ada yang seperti ini.”

Seorang jemaat yang datang awal tengah khusyu berdoa.
Di pagi ini, ketika saya menginjakkan kaki lagi di halaman katedral, rasa bangga dan kagum kembali menyeruak di dalam hati. Di usianya yang menjelang 125 tahun, katedral ini tetap berdiri dengan kokoh dan anggun, dan menjadi landmark kota yang patut diapresiasi oleh pemeluk agama manapun. Sebab sebenarnya, perjuangan untuk bisa mempunyai gereja Katolik di Hindia Belanda (Indonesia) saat itu tidak diperoleh dengan mudah, melainkan melalui perjuangan para imam secara terus-menerus selama beberapa abad.
