Motif Lawang Sewu Ngawang by Batik Semarang 16
Indonesia, Journey

Menghidupkan Kembali Batik The Little Netherlands

Mbak Umi sendiri sudah menciptakan lebih dari 1.000 motif batik tulis maupun cap. Jadi motif yang antri untuk mendapatkan sertifikat HAKI masih banyak. Bisa dipastikan koleksi ruangan ini seiring waktu akan makin meningkat pula. Dan tentu saja, waktu untuk menghabiskan semua halaman buku batik raksasa ini akan makin lama. Ini saja sudah satu jam tapi saya belum selesai membaca semua keterangan motifnya!

Berawal dari Kandang Kambing

Semua fasilitas di sanggar batik ini, yang membuatnya menjadi one-stop shopping and learning, tentu saja tidak terjadi dalam satu atau dua tahun.

Saya ingat, di kunjungan pertama ke sanggar batik ini tahun 2010, saya mesti dijemput Mbak Umi dari pusat kota, agar benar-benar bisa sampai ke sanggarnya. Waktu itu tempatnya belum di Meteseh ini, melainkan di dalam Perumahan Bukit Kencana Jaya, sekitar 4 kilometer ke barat. Di sebuah rumah dua lantai yang sempit, lantai pertama digunakan untuk butik batik, pengecapan kain, serta menyimpan bahan-bahan membatik. Lantai dua untuk tempat membuat motif dan mencanting. Bagian melorod dan menjemur kain tempatnya lain lagi. Kami mesti jalan kaki agak jauh menuju sebuah pekarangan kosong yang keempat sisinya kini dipagari gedhek agar asap perebusan kain batik tidak menyebar ke rumah-rumah sebelah.

Melorod kain batik di Sanggar Batik Semarang 16

Aktivitas melorod batik, full asap dan panas.

“Kami menyebut tempat ini kandang kambing,” Mbak Umi tertawa. “Pekarangan ini sebelumnya memang sering dipakai untuk kandang kambing kurban.”

Menjemur batik di Sanggar Batik Semarang 16

Hati berbunga ketika melihat warna-warni kain batik saat dijemur.

Baru pada 2 Mei 2011, sanggar batik ini pindah seluruhnya ke Meteseh. Awalnya, tempat mencantingnya masih berupa rumah bambu panjang dua lantai. Beberapa tahun kemudian baru diubah lagi menjadi bangunan tembok yang lebih kuat seperti sekarang.

Mau Belajar yang Mana?

Banyak yang ingin saya pelajari setiap kali ke sanggar batik Mbak Umi ini. Yang selalu menjadi ‘misteri’ bagi saya tentu saja, bagaimana cara mengaplikasikan zat-zat warna tertentu, dikombinasikan dengan sekian kali mencanting dan melorod, agar bisa menghasilkan kain batik dengan warna-warna yang kita inginkan. Terlebih Mbak Umi ini lebih suka menggunakan bahan-bahan pewarna alam, yang mengharuskan proses pewarnaannya lebih lama dan lebih berulang agar warna kainnya bisa tahan lama.

Membuat cap batik di Sanggar Batik Semarang 16

Membuat cap batik, skill langka yang menarik untuk dikuasai.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *