Puncak Gunung Anak Krakatau, Lampung.
Indonesia, Journey

Di Atas Magma Anak Krakatau

Mula-mula pendakian ini mudah, karena saya memang masih mendaki dengan rute menyamping yang agak datar. Namun sepuluh menit kemudian, jalur pendakian mulai menaik. Di kanan-kiri saya berserakan batu-batu hitam besar dan kecil. Sesekali asap panas keluar dari bebatuan itu. Hanya satu-dua tanaman suplir yang bisa bertahan di gunung ini. Dan lagi-lagi pasir yang saya injak menghambat langkah saya karena pasir yang cukup dalam dan hangat itu masuk ke dalam sandal gunung saya. Saya juga harus berhati-hati agar tidak terpeleset, yang jika naas, bisa membawa saya ke jurang di samping kiri.

Para wisatawan di puncak pertama Gunung Anak Krakatau.

Sepertinya lebih asyik berfoto-foto saja di sana daripada kepayahan mendaki Anak Krakatau.

Berkali-kali saya hanya naik sekitar sepuluh meter, lalu beristirahat menenangkan nafas yang memburu. Kamera di punggung saya agak menyulitkan gerak karena cukup besar, tapi bagaimanapun harus saya bawa. Di atas saya Thai juga beristirahat sambil minum. Di bawah sana, agak jauh, Anastasia dan Santoso menyusul. Setengah merangkak saya mendekati Thai, dan minta sisa air yang ada. Saya menyesal, mengapa saya tadi meninggalkan botol air di bawah?

Isi Kawahnya Ternyata…

Air yang membasahi kerongkongan seperti memberi tenaga baru kepada saya. Marlon, yang sudah jauh meninggalkan saya dan Thai, berteriak, “Ayo, tinggal sedikit lagi!”

Jarak antara kami dengan Marlon hanya sekitar 30 meter saja. Namun menuju ke tempatnya adalah bagian yang paling berat, karena sekarang jalurnya berupa garis lurus menaik dengan kemiringan sekitar 60 derajat.

Batu-batu di puncak Gunung Anak Krakatau.

Batu-batu gunung mengepul, pertanda ada aktivitas vulkanik di bawahnya.

Sudah tanggung sampai di sini, masa tidak saya selesaikan, pikir saya. Kini saya tidak berjalan lagi, tapi harus merangkak setapak demi setapak di antara batu-batu hitam yang mulai terasa panas, dengan tangan mencari-cari batu yang kokoh untuk pegangan sebelum kaki melangkah. Rasa-rasanya saya seperti Frodo yang sedang susah payah mendaki Gunung Mordor dalam film Lord of the Rings.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *