Puncak Gunung Anak Krakatau, Lampung.
Indonesia, Journey

Di Atas Magma Anak Krakatau

Pulau yang hanya dihuni beberapa keluarga ini mempunyai pasir pantai yang putih, air yang jernih, dan pemandangan yang indah, dengan latar belakang Gunung Sebesi membayang di kejauhan. Memotret dengan kamera saku pun menghasilkan gambar seperti pemotretan di studio. Sepertinya, kalaupun tidak sampai ke Krakatau, berjemur, berenang, dan berfoto-foto seharian di pulau ini pun cukuplah.

Kontras Sebuku dan Sebesi

Perjalanan ke Pulau Sebesi menghabiskan waktu setengah jam. Untunglah, laut sudah lebih ramah kepada kami. Kapal melaju dengan tenang tanpa diombang-ambing bak gabus seperti tadi.

Kami beristirahat di sebuah pendopo terbuka dekat dermaga. Di pulau yang pantainya berpasir hitam ini terdapat 2.000 orang. Sebagian berdagang kayu kelapa yang akan dijual ke Jawa, sebagian lagi menjadi nelayan, atau memberi jasa pengangkutan penumpang dari Sebesi ke Canti, dengan biaya Rp 11 ribu per orang.

Dermaga kapal Pulau Sebesi.

Jalan-jalan sore hari, melihat aktivitas di dermaga kapal Pulau Sebesi.

Kami menghabiskan waktu sore hari dengan berjalan-jalan melihat aktivitas penduduk pulau di dermaga. Menjelang senja, kami berperahu sebentar dan menikmati sunset di Pulau Umang-umang yang berpasir putih, tak jauh dari Sebesi.

Anak yang Terus Tumbuh

Jam 4 pagi Budi membangunkan seluruh peserta trip. Mata yang masih berat diganjal dengan kopi, dan kami pun naik kapal lagi untuk menuju Krakatau, yang akan ditempuh selama 1,5 jam. Hari masih gelap gulita, dan bayangan Gunung Sebesi dekat tempat kami menginap perlahan-lahan menghilang di belakang. Angin dingin menampar-nampar tulang pipi, dan kami semua terdiam, hanya bunyi motor kapal yang memecah kegelapan dini hari ini.

Langit yang semula gelap, perlahan bersemu merah, dan sunrise yang indah pun muncul dari sisi kiri kapal. Bayangan Gunung Krakatau dan pulau-pulau yang mengelilinginya mulai nampak di kejauhan.

Sunrise dari atas kapal menuju Gunung Anak Krakatau

Sunrise terasa berbeda ketika menikmatinya dari tengah Selat Sunda.

Sebenarnya, nama yang lebih tepat adalah Gunung Anak Krakatau, karena induknya, Gunung Krakatau Besar, telah tenggelam ke dasar laut bersama 60 persen bagian Pulau Rakata yang ditempatinya, ketika terjadi letusan hebat di tahun 1883. Baru kemudian di tahun 1927-1929 mulai muncul Gunung Anak Krakatau dari dasar laut, yang makin lama makin meninggi, hingga tercatat mencapai 280 meter pada dua tahun lalu.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *