Motif Lawang Sewu Ngawang by Batik Semarang 16
Indonesia, Journey

Menghidupkan Kembali Batik The Little Netherlands

Sanggar Batik Semarang 16 di Sumberejo Meteseh Semarang Selatan

Keelokan batik bermotif khas semarangan mulai bersinar kembali berkat usaha keras seorang ibu rumahtangga yang imajinatif dan tak lelah belajar.

 

Mungkin sudah kelima kalinya saya datang ke tempat ini. Entahlah, saya tidak sempat menghitungnya. Sebab kadang saya datang ke sini karena diundang oleh sang pemilik tempat ini yang tengah mengadakan suatu acara. Kadang saya yang mampir karena kebetulan ada acara di kota yang sejalur dengan Semarang ini. Di lain waktu, saya pernah minta izin ke pemiliknya untuk mengadakan workshop editing video bagi para bloger Semarang, di resto yang ada di sudut kompleks bangunan ini.

Ya, ini adalah kompleks Sanggar Batik Semarang 16 yang ada di Kampung Sumberejo, Desa Meteseh, di ujung tenggara kota Semarang. Lokasi tepatnya ke arah timur dari kampus Undip Tembalang, tak jauh dari lokasi wisata Brown Canyon.

Gerbang kayu yang tinggi, dinding pagar batubata merah berhias relief seorang wanita sedang membatik, menyambut saya setiap kali datang ke sini. Begitu gerbang terbuka, terlihatlah suasana asri pepohonan dan halaman sanggar dengan kontur tanahnya yang agak menurun.

Mata saya langsung tertuju pada bangunan berlantai tiga yang didominasi batubata merah. Tulisan ‘Batik Semarang 16’ tertempel di dindingnya, di atas pancuran yang dilengkapi canting batik berukuran besar. Bangunan ini melebar memenuhi tangkapan pandangan mata, dari ujung utara hingga selatan.

Praktek mengecap kain batik di Sanggar Batik Semarang 16.

Pak Pono membimbing seorang turis yang tengah belajar membuat batik cap.

Lantai bawah bangunan ini semi terbuka, dengan banyak aktivitas yang bisa dilihat. Para wanita tengah mencanting dengan posisi melingkar mengelilingi beberapa kompor malam (cairan pembatik).  Dua pria, Pak Pono dan Mas Pendi, keduanya bertelanjang dada, sedang mengecap batik. Di samping kirinya ada Mas Faruk yang tengah merangkai potongan-potongan kecil lempeng tembaga menjadi motif cap batik. Di belakangnya, sebuah ‘perpustakaan’ memajang koleksi ratusan cap batik yang sudah dibuat oleh sanggar batik ini.

Para wanita sedang membatik di Sanggar Batik Semarang 16.

Mencanting, aktivitas membatik yang menyenangkan namun juga butuh ketelitian.

Standard
Batik Semarang 16 Motif Lawang Sewu
Indonesia, Journey

10 Destinasi Wajib Kunjung di The Little Netherlands

Gereja Blenduk Semarang

Dengan lansekap kotanya yang memadukan dataran rendah dan perbukitan, Semarang adalah destinasi wisata yang memesona. Gedung-gedung kuno, tur underground, hingga miniatur Grand Canyon ada di sini.

 

Beberapa tahun lalu, mungkin orang akan mengernyitkan dahi kalau diajak traveling ke kota Semarang. Apa yang bisa dilihat dari kota yang sering diolok-olok dengan sebutan ‘Semarang kaline banjir’ ini?

Tapi, sebagai orang yang pernah 8 tahun(!) kuliah dan bekerja di sini, serta telah menyusuri jalan-jalan kota ini dan blusukan hingga ke daerah-daerah pinggirannya, percayalah, ibukota provinsi Jawa Tengah ini adalah kota yang makin hari makin cantik, ramah, dan menyenangkan.

Lansekap kota Semarang memadukan kota bawah yang hidup dengan aktivitas bisnis, jalan-jalan yang lebar, gedung-gedung cantik peninggalan Belanda, serta kota atas yang sejuk dan rimbun dengan kafe-kafe dan resto yang cozy. Masjid, gereja, kelenteng, tempat-tempat ziarah yang unik, serta kuliner dan oleh-oleh yang hanya ada di Semarang, bertebaran di setiap sudut. Hampir semua airlines mempunyai rute penerbangan ke Semarang, termasuk penerbangan dari luar negeri seperti Kuala Lumpur dan Singapura. Jadi, tak ada alasan untuk tidak memasukkan Semarang ke dalam bucket list tujuan liburan berikutnya. Dan ini, 10 destinasi pilihan saya buat para traveler yang ingin menjelajahi kota berjuluk The Little Netherlands ini:

1. Simpang Lima, Segala Macam Ada

Ini sebuah alun-alun yang menjadi pertemuan 5 jalan utama di Semarang, sekaligus menjadi pusat kota. Di kawasan ini terdapat Masjid Baiturrahman, Hotel Ciputra, Horison, Holiday Inn Express, Santika Premiere, Hotel Louis Kienne, dan mal-mal serta pertokoan dan kafe-kafe. Tak jauh dari sini terdapat kantor gubernur, kantor DPRD, Polda, dan Universitas Diponegoro Kampus Pleburan.

Simpang Lima Semarang

Simpang Lima, di mana semua lapisan masyarakat Semarang bisa bergembira-ria.

Setiap malam Simpang Lima menjadi tempat favorit untuk bersantai, karena warung-warung tenda menggelar dagangannya di keempat sisi alun-alun ini. Selain menyajikan STMJ, roti bakar, dan sego kucing (itu, nasi sekepal dan lauknya yang dijual pedagang angkringan), yang wajib dicoba adalah tahu gimbal. Ini makanan khas Semarang yang mirip ketoprak atau gado-gado, namun dengan tambahan bakwan udang yang gurih dan crunchy.

Tapi yang paling menyenangkan adalah kalau ke sini saat Minggu pagi. Penduduk Semarang seperti tumpah ruah di sini, baik yang ingin berolahraga maupun sekadar piknik bersama keluarga. Alun-alun dan trotoar yang mengelilinginya akan penuh oleh para pedagang lesehan yang menggelar berbagai dagangan, mulai dari mainan, pakaian, makanan, gadget, hingga burung merpati, anak itik, dan kelomang yang cangkangnya dicat warna-warni.

Sayangnya, aktivitas ‘pasar kaget’ ini selama beberapa tahun belakangan telah dilarang oleh Pemda Kota Semarang, dan dipindah ke Jalan Mangunsarkoro, sekitar 200 meter di timur Simpang Lima. Mungkin tujuannya agar pengunjung Simpang Lima bisa lebih santai dan tenang menikmati keasrian alun-alun kota.

Waktu terbaik berkunjung:
Sabtu malam pukul 19.00-21.00, atau Minggu pagi pukul 06.00-8.00

2. Tugu Muda, Lawang Sewu dan Underground Tour

Ini juga kawasan ‘simpang lima’ kedua yang ada di pusat kota Semarang, sekitar 500 meter sebelah barat Simpang Lima. Di tengah kawasan ini terdapat sebuah taman yang di dalamnya berdiri Tugu Muda, sebuah monumen untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Pertempuran ini terjadi pada 15-19 Oktober 1945 antara para pejuang Semarang dengan tentara Jepang yang masih tersisa. Bangunan yang paling menonjol di sini adalah Lawang Sewu, landmark kota Semarang. Lalu ada Gereja Katedral, Museum Mandala Bakti, rumah dinas Gubernur Jawa Tengah, kantor Walikota dan DPRD Kota Semarang. Tak jauh dari sini juga ada Paragon Mall, Pasar Bunga Tamansari, Pasar Tradisional Bulu, Hotel Crowne Plaza, Novotel, Hotel Dafam, dan Hotel Whiz.

Mozaik Kaca Patri Lawang Sewu Semarang

Jangan lewatkan spot foto paling ikonik di Lawang Sewu ini.

Lawang Sewu merupakan bangunan zaman kolonial Belanda dan dulu merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau Jawatan Kereta Api. Disebut Lawang Sewu (pintu seribu) karena gedung megah yang dibangun tahun 1904-1907 ini mempunyai pintu-pintu dan jendela yang jumlahnya banyak sekali. Kompleks yang terdiri dari dua gedung ini dulu sempat tidak terurus dan menimbulkan kesan angker. Saya yang pernah lama tinggal di Semarang saja tidak pernah sekalipun masuk ke gedung ini!

Standard