Bibir kawah Gunung Bromo Malang Jawa Timur
Indonesia, Journey

Mencari Lautan Pasir Atas

Padang savana dipagari Gunung Kursi dan Gunung Jantur

Lautan pasir tak hanya ada di kaki Gunung Bromo. Ada satu lagi tersembunyi di atas sana, tapi hanya bisa dicapai dengan mengelilingi puncak kawah gunung ini.

Sejak kemarin siang, bahkan sebelum menginjakkan kaki di Desa Ngadas ini, hujan deras, angin dan kabut sudah menyambut kami. Pohon-pohon berubah menjadi bayang-bayang hitam, semuanya diselimuti kabut putih tebal. Begitu juga persawahan terasering di kiri-kanan jalan desa. “Padahal kalau cuaca cerah, pemandangan di sini indah sekali,” kata Purnawan, dosen sekaligus peneliti masyarakat Tengger, yang menemani kami ke Ngadas.

Tujuan kami adalah ke Segara Wedi Anakan alias Lautan Pasir Atas, yang kalau melihat Google Earth letaknya di samping selatan kawah Gunung Bromo. Selama ini, umumnya orang hanya tahu lautan pasir di bawah Gunung Bromo, yang biasa dilewati saat hendak melihat sunrise di Penanjakan atau naik tangga ke kawah Bromo.

Desa Ngadas (2.140 mdpl), salah satu desa tertinggi di Jawa dan masuk dalam Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS), menjadi basecamp kami. Lokasinya tepat berada di tengah-tengah antara Gunung Bromo dan Semeru, dan biasa dilewati para pendaki yang hendak ke Semeru melalui Ranupani, desa di sebelah timur Ngadas ini. Saya, teman seperjalanan Arif, dan Purnawan, tinggal di rumah Pak Mulyadi. Beliau mantan kepala desa Ngadas yang kini bertani dan sesekali mengantar wisatawan dengan jipnya.

Suasana pagi yang dingin dan berkabut di Desa Ngadas, Malang

Penduduk lokal memaksakan diri beraktivitas di antara dingin dan kabut pekat.

Pagi ini, kami membatalkan rencana untuk melihat sunrise dari bibir kawah Bromo, akibat hujan dan kabut tebal yang tak kunjung hilang. Rencana untuk mencari Segara Wedi Anakan pun menjadi tidak jelas. Cuaca seperti ini ternyata sudah berlangsung sejak 10 hari yang lalu. Sebagian warga desa tampak sudah beraktivitas, namun sebagian lagi berselimut sarung dan menggigil kedinginan. Sesuatu yang menurut saya lucu, mengingat mereka sudah puluhan tahun tinggal di tanah leluhur mereka ini.

Penduduk lokal Desa Ngadas, Malang

Penduduk lokal saja kedinginan, apalagi saya yang baru sehari di Desa Ngadas.

Solusi datang ketika kami bertamu ke rumah Pak Ngatrulin, ketua adat Desa Ngadas. “Kenapa tidak minta tolong ke Pak Untung, pawang hujan di sini?” sarannya ketika tahu kami bingung dengan cuaca yang tidak bersahabat ini. Pak Mulyadi pun mengantar kami ke rumah sang pawang.

Pak Untung saat itu sedang tidur. Dia bersungut-sungut ketika dibangunkan istrinya. “Kalau perlunya sekarang, kenapa tidak bilang dari kemarin?”

Melihat posturnya yang tinggi, muka dan rambutnya yang seram, saya langsung mengkeret. Namun tampaknya dia tidak marah. Sambil membawa rokoknya, dia berjongkok di halaman depan rumah, lalu mulutnya komat-kamit membaca mantra. Matanya menerawang jauh ke langit. Sekitar lima menit, ritualnya pun selesai.

Pak Untung pawang Bantengan Desa Ngadas, Malang

Pak Untung sedang memberi makan hewan-hewan peliharaannya.

Dia tak keberatan ketika Pak Mulyadi memintanya mengeluarkan ‘hewan-hewan peliharaannya’, yang tak lain berupa topeng harimau, macan putih, sapi, kera putih, kerbau, dan kuda lumping beserta cambuknya. Pak Untung adalah pawang bantengan, salah satu kesenian tradisional masyarakat Tengger. Menurutnya, setiap topeng ada penunggunya dan harus secara teratur diberi makan dengan dupa dan berbagai sesajian, agar orang yang memakainya tidak kesurupan.

Savana, Kabut, dan Edelweis

Cuaca masih berkabut ketika kami berlima berangkat menuju Gunung Bromo. Sebagai pemandu, selain Pak Mulyadi kami juga menyewa Pak Puliono, penduduk asli Tengger yang sehari-hari berkeliling mencari jamur dan tanaman obat ke gunung-gunung di wilayah Tengger. Hanya dia yang tahu rute ke Segara Wedi Anakan.

Standard
Batik Semarang 16 Motif Lawang Sewu
Indonesia, Journey

10 Destinasi Wajib Kunjung di The Little Netherlands

Gereja Blenduk Semarang

Dengan lansekap kotanya yang memadukan dataran rendah dan perbukitan, Semarang adalah destinasi wisata yang memesona. Gedung-gedung kuno, tur underground, hingga miniatur Grand Canyon ada di sini.

 

Beberapa tahun lalu, mungkin orang akan mengernyitkan dahi kalau diajak traveling ke kota Semarang. Apa yang bisa dilihat dari kota yang sering diolok-olok dengan sebutan ‘Semarang kaline banjir’ ini?

Tapi, sebagai orang yang pernah 8 tahun(!) kuliah dan bekerja di sini, serta telah menyusuri jalan-jalan kota ini dan blusukan hingga ke daerah-daerah pinggirannya, percayalah, ibukota provinsi Jawa Tengah ini adalah kota yang makin hari makin cantik, ramah, dan menyenangkan.

Lansekap kota Semarang memadukan kota bawah yang hidup dengan aktivitas bisnis, jalan-jalan yang lebar, gedung-gedung cantik peninggalan Belanda, serta kota atas yang sejuk dan rimbun dengan kafe-kafe dan resto yang cozy. Masjid, gereja, kelenteng, tempat-tempat ziarah yang unik, serta kuliner dan oleh-oleh yang hanya ada di Semarang, bertebaran di setiap sudut. Hampir semua airlines mempunyai rute penerbangan ke Semarang, termasuk penerbangan dari luar negeri seperti Kuala Lumpur dan Singapura. Jadi, tak ada alasan untuk tidak memasukkan Semarang ke dalam bucket list tujuan liburan berikutnya. Dan ini, 10 destinasi pilihan saya buat para traveler yang ingin menjelajahi kota berjuluk The Little Netherlands ini:

1. Simpang Lima, Segala Macam Ada

Ini sebuah alun-alun yang menjadi pertemuan 5 jalan utama di Semarang, sekaligus menjadi pusat kota. Di kawasan ini terdapat Masjid Baiturrahman, Hotel Ciputra, Horison, Holiday Inn Express, Santika Premiere, Hotel Louis Kienne, dan mal-mal serta pertokoan dan kafe-kafe. Tak jauh dari sini terdapat kantor gubernur, kantor DPRD, Polda, dan Universitas Diponegoro Kampus Pleburan.

Simpang Lima Semarang

Simpang Lima, di mana semua lapisan masyarakat Semarang bisa bergembira-ria.

Setiap malam Simpang Lima menjadi tempat favorit untuk bersantai, karena warung-warung tenda menggelar dagangannya di keempat sisi alun-alun ini. Selain menyajikan STMJ, roti bakar, dan sego kucing (itu, nasi sekepal dan lauknya yang dijual pedagang angkringan), yang wajib dicoba adalah tahu gimbal. Ini makanan khas Semarang yang mirip ketoprak atau gado-gado, namun dengan tambahan bakwan udang yang gurih dan crunchy.

Tapi yang paling menyenangkan adalah kalau ke sini saat Minggu pagi. Penduduk Semarang seperti tumpah ruah di sini, baik yang ingin berolahraga maupun sekadar piknik bersama keluarga. Alun-alun dan trotoar yang mengelilinginya akan penuh oleh para pedagang lesehan yang menggelar berbagai dagangan, mulai dari mainan, pakaian, makanan, gadget, hingga burung merpati, anak itik, dan kelomang yang cangkangnya dicat warna-warni.

Sayangnya, aktivitas ‘pasar kaget’ ini selama beberapa tahun belakangan telah dilarang oleh Pemda Kota Semarang, dan dipindah ke Jalan Mangunsarkoro, sekitar 200 meter di timur Simpang Lima. Mungkin tujuannya agar pengunjung Simpang Lima bisa lebih santai dan tenang menikmati keasrian alun-alun kota.

Waktu terbaik berkunjung:
Sabtu malam pukul 19.00-21.00, atau Minggu pagi pukul 06.00-8.00

2. Tugu Muda, Lawang Sewu dan Underground Tour

Ini juga kawasan ‘simpang lima’ kedua yang ada di pusat kota Semarang, sekitar 500 meter sebelah barat Simpang Lima. Di tengah kawasan ini terdapat sebuah taman yang di dalamnya berdiri Tugu Muda, sebuah monumen untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Pertempuran ini terjadi pada 15-19 Oktober 1945 antara para pejuang Semarang dengan tentara Jepang yang masih tersisa. Bangunan yang paling menonjol di sini adalah Lawang Sewu, landmark kota Semarang. Lalu ada Gereja Katedral, Museum Mandala Bakti, rumah dinas Gubernur Jawa Tengah, kantor Walikota dan DPRD Kota Semarang. Tak jauh dari sini juga ada Paragon Mall, Pasar Bunga Tamansari, Pasar Tradisional Bulu, Hotel Crowne Plaza, Novotel, Hotel Dafam, dan Hotel Whiz.

Mozaik Kaca Patri Lawang Sewu Semarang

Jangan lewatkan spot foto paling ikonik di Lawang Sewu ini.

Lawang Sewu merupakan bangunan zaman kolonial Belanda dan dulu merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau Jawatan Kereta Api. Disebut Lawang Sewu (pintu seribu) karena gedung megah yang dibangun tahun 1904-1907 ini mempunyai pintu-pintu dan jendela yang jumlahnya banyak sekali. Kompleks yang terdiri dari dua gedung ini dulu sempat tidak terurus dan menimbulkan kesan angker. Saya yang pernah lama tinggal di Semarang saja tidak pernah sekalipun masuk ke gedung ini!

Standard
Wat Phra Mahathat Ayutthaya Thailand
Journey, Mancanegara

Mengayuh Ayutthaya

Wat Chai Wattanaram Ayutthaya Thailand

Bersepeda menyambangi kuil-kuil di Ayutthaya dari pagi sampai petang, mencari Buddha yang terlilit akar pohon. Capek sih pasti, tapi puas!

 

Kereta api yang mengantar saya dari Stasiun Hualamphong Bangkok dari pukul 8.20 tadi pagi, pelan-pelan berhenti di Stasiun Ayutthaya, kota kecil 85 km utara Bangkok. Waktu menunjukkan pukul 9.40. Sungguh mengagumkan, kereta ekonomi yang bertiket hanya 20 baht –sekitar Rp 6.000– itu berangkat dan tiba tepat waktu.

Saya menyeberangi jalan di depan stasiun, mampir ke salah satu dari beberapa toko kelontong yang menyewakan sepeda dan sepeda motor untuk para turis yang ingin menglilingi Ayutthaya. Bekas ibukota Kerajaan Siam antara tahun 1350-1767 M ini memang kaya dengan kuil-kuil dan reruntuhan istana, dan itulah yang menarik para turis datang ke sini. Umumnya, para turis akan berjalan terus melewati deretan toko-toko ini, hingga sampai ke pier (dermaga) dan menyeberangi Sungai Pa Sak dengan perahu, bayar 4 baht. Dari sana mereka lalu bisa menyewa sepeda atau angkutan lain untuk mengelilingi kota yang telah ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage Site sejak tahun 1991.

Stasiun Kereta Ayutthaya Thailand

Stasiun KA Ayutthaya. Suasananya mengingatkan pada stasiun kereta api di kota kecil di Jawa.

Tapi saya punya rencana lain. Mengingat saya hanya punya waktu satu hari di sini, maka supaya efektif, saya akan menyusuri bagian luar kota dulu, baru kemudian ke bagian dalam kota yang dikelilingi sungai, dan kembali ke stasiun kereta. Tujuan pertama saya adalah ke Wat Yai Chai Mongkhon.

King Naresuan Sang Idola

Sepeda mini warna pink yang saya sewa –sengaja memilih warna ini biar ngejreng– berjalan dengan lambat. Kata pemilik toko di depan stasiun, saya harus mengembalikan sepeda ini paling lambat pukul 6 petang, sebelum toko tutup. Ongkos sewanya 40 baht. Ada alternatif lain sebenarnya, yakni sepeda motor, dengan sewa 150 baht. Tapi saya tidak memilihnya karena dua alasan. Pertama karena saya tidak ingin menambah polusi udara, yang kedua karena saya tidak punya SIM.

Penyewaan sepeda dan motor di depan Stasiun Ayutthaya.

Penyewaan sepeda dan motor di depan Stasiun Ayutthaya. Pilih sepeda dong biar ramah lingkungan.

Bergerak ke selatan, jalanan yang sepi hanya sebentar saya temui, karena begitu membelok ke kiri, saya menemui Pridi Damrong Road yang lebar, dengan kendaraan dan bis-bis antarkota melaju cepat. Saya cek kedua rem tangan, yang ternyata tidak terlalu pakem, jadi saya mesti lebih hati-hati. Berbelok ke kanan dari perempatan yang ditandai dengan chedi (stupa) besar berwarna cokelat, saya melihat dua puncak chedi  Wat Yai Chai Mongkhon, yang salah satunya terlihat agak miring.

Standard
Mirabellgarten depan Mirabell Palace Salzburg
Journey, Mancanegara

Bertamu ke Rumah Mozart

Mozartkugel Salzburg

Kadang seru juga traveling tanpa perencanaan, apalagi ini menyusuri Salzburg, kota sejuta wisatawan.

 

Terbawa oleh suasana dalam film The Sound of Music, tadinya saya membayangkan Salzburg adalah kota Austria yang masih ‘kuno’ seperti dalam film itu. Saya lupa kalau film itu dibuat tahun 1965, bahkan sebelum saya lahir. Pastilah keadaan Salzburg sekarang jauh berbeda. Tapi mudah-mudahan saja lokasi syuting film itu masih ada, dan saya bisa mengunjunginya dalam lawatan mendadak setengah hari ini.

Dan benar saja. Stasiun keretanya yang saya kira masih kuno, ternyata sudah modern, bertingkat dua, dan seperti masih baru. Keluar dari kereta yang membawa saya 2 jam lalu dari Munich, saya segera turun ke lantai dasar, mencari info jadwal kereta pulang ke Munich, dan juga info cara ke Hotel Sacher, misi utama saya ke Salzburg hari ini.

Ya, sebenarnya saya memang tidak berencana ke Salzburg. Tiga hari terakhir ini saya menginap di rumah teman lama saya Ditta di Munich, Jerman, setelah sebelumnya liputan selama lima hari di Swiss. Tapi karena mendadak seorang teman lain di Jakarta menodong saya untuk membelikan Sacher Torte, sebuah sponge cake khas buatan Hotel Sacher, maka saya pun ke Salzburg. Teman saya itu, Arlita, pernah ke Vienna, dan tergila-gila dengan kue itu. Untungnya saya cukup ke Salzburg saja yang lebih dekat dari Munich, karena Hotel Sacher juga ada di kota ini. “Ayolah, belikan aku dua Sacher Torte yang ukuran besar,” pinta Arlita. “Nanti aku ganti uang jalannya 100 euro.”

The Sound of Music Do-Re-Mi Mirabell Palace Salzbyrg

Adegan ikonik dalam The Sound of Music di undak-undakan Mirabell Palace, Salzburg.

Dengan membeli Bayern Ticket, yakni tiket kereta diskon untuk bepergian ke kota-kota Jerman dan kota-kota negara tetangga termasuk Salzburg, saya hanya perlu bayar 22 euro untuk tiket pergi-pulang Munich-Salzburg. Syaratnya, tiket itu hanya berlaku dari jam 9 pagi sampai jam 3 pagi berikutnya. Jadi kalau saya tidak menginap, sisa uang jalan itu masih cukuplah untuk lain-lainnya. Jadi saya pun berangkat ke Salzburg dengan kereta pukul 8.48 pagi dari Munich.

Kota Ramah Pejalan Kaki

Saya mampir ke bagian Train Information Salzburg dan petugasnya memberi selembar brosur jadwal perjalanan kereta. Hmm, dari Salzburg ke Munich ada kereta setiap jam, dan saya lihat ada kereta pukul 18.02, 18.09, 19.09, dan 20.09. Sepertinya saya akan memilih yang 18.09 atau 19.09 saja supaya nanti sampai Munich tidak terlalu malam.

Mampir ke Tourist Information di ruang sebelahnya, si ibu petugas menyobek selembar peta kota begitu saya menanyakan bagaimana cara ke Hotel Sacher. Tangannya dengan cepat membuat garis dengan ballpoint di peta dan memberi tanda silang. “Di sini,” katanya. “Kalau jalan kaki sekitar 15 menit.” Dia menunjukkan lagi satu titik tak jauh dari hotel, ketika saya menanyakan di mana bisa menyewa sepeda. “Tapi saya tak yakin penyewaan sepedanya buka atau tidak.”

Standard
Penang Street Art, Malaysia
Journey, Mancanegara

Senang-senang di Pulau Penang

Cheong Fatt Tze Mansion Penang Malaysia

Pusat kotanya kecil, jalan-jalannya sempit dan banyak, namun setiap sudut Penang penuh dengan bangunan cantik.

 

Mau berlibur ke Pulau Penang dan membayangkan pulau itu seperti Bali? Jangan kaget dengan kenyataannya. Begitu keluar dari Bayan Lepas Airport dan menuju ibukotanya, George Town, jalanan macet. Di mana-mana berderet rapat apartemen  yang menjulang tinggi. Di sisi kanan jalan, tampak Jembatan Penang mengular sepanjang 13.5 kilometer, menghubungkan pulau ini dengan daratan utama Malaysia.

Begitu memasuki George Town, kita segera terkaget-kaget lagi karena kota ini kontras sekali dengan pemandangan modern tadi. Hampir setiap sudut kota ini didominasi bangunan kuno. Mulai dari toko-toko etnis Tionghoa, penginapan dan hotel bergaya jadul, rumah-rumah tua berwarna-warni ngejreng, hingga gedung-gedung pemerintah bergaya kolonial Inggris. Jalan-jalan kecilnya membentuk sebuah labirin. Di sinilah kita menemukan Penang yang sebenarnya, pulau tempat bercampurnya berbagai budaya: Melayu, China, India, Arab, Inggris, Thai, dan konon… Jawa.

Penang Cityscape

Di balik menjamurnya apartemen dan gedung-gedung pencakar langit, Penang masih mempunyai kota tua yang asyik dijelajahi dengan berjalan kaki.

Kota yang didirikan tahun 1786 oleh Kapten Francis Light dan diberi nama sesuai King George IV yang memerintah Inggris saat itu, mempunyai pusat kota yang padat. Jadi, asyik untuk wisata jalan kaki. Pusat kotanya terdiri dari Chinatown yang membentang dari sisi barat yang dibatasi Lebuh (Jalan) Penang, hingga pantai timur di Lebuh Pantai. Di sini bisa ditemui klenteng, rumah-rumah kongsi milik berbagai klan Tionghoa, serta rumah-rumah China peranakan yang disebut rumah Babah dan Nyonya. Tak jauh di selatan Chinatown ada kompleks perdagangan Komtar dan Prangin Mall, ‘Mangga Dua’-nya Penang.

Tak jauh di utara Chinatown terletak Little India, di mana setiap tokonya menyediakan pernak-pernik yang berbau India: sari, kalungan bunga, kemenyan, gambar artis-artis Bollywood hingga buku-buku bekas dan kaki lima penjual teh tarik. Pantai yang bagus ada di Batu Ferringhi, agak jauh di barat kota, dan daerah yang berbukit ada di Stasiun Kereta Penang Hill dan Kek Lok Si Temple di sisi selatan.

Meski Penang lebih dikenal dengan fasilitas medisnya yang sering menjadi rujukan untuk berobat, tak ada salahnya juga kalau sambil berobat itu sekalian jalan-jalan, kan? Tapi, kalau punya waktu terbatas, dan bingung mau jalan ke mana dulu karena begitu banyaknya tempat yang bisa dilihat, jalan terbaik adalah membeli peta kota George Town, supaya bisa menentukan dari mana mulai jalan dan di mana berakhirnya. Beberapa spot wisata berikut ini hanya sebagian dari yang ada di Penang, dan ditulis karena menjadi tempat-tempat yang wajib dikunjungi.

KHOO KONGSI

Rumah kongsi ini dibangun oleh klan Khoo (khookongsi.com.my), salah satu dari 5 klan Tionghoa yang berpengaruh di Penang pada zamannya. Pendiri klan ini berimigrasi dari daerah Fujian, China Selatan, pada abad ke-17. Rumah kongsi ini, yang awalnya disebut Leong San Tong (Dragon Mountain Hall) pernah diratakan dengan tanah tahun 1894, lalu dibangun  lagi tahun 1902 dan selesai 1906. Saat perang Dunia II rumah ini rusak berat, namun kemudian dilakukan renovasi besar-besaran sehingga menjadi cantik seperti sekarang.

Khoo Kongsi di Lebuh Cannon Penang

Dari tampak depan rumahnya sudah tergambar betapa kayanya Klan Khoo ini.

Standard