Kiri ke kanan: Gunung Bromo, Batok, dan Semeru
Indonesia, Journey

Mendadak Batok

Saya berlari menuju titik tertinggi gunung ini yang ada di sisi utara, dan mengukur ketinggiannya dengan aplikasi Altimeter di iPhone. Tercatat tingginya 2.418 meter. Tadi di awal pendakian di dekat pura, tingginya 2.132 meter. Dengan kata lain, kalau diukur vertikal, sebenarnya kami cuma mendaki 286 meter, dan itu butuh waktu lebih dari 2 jam!

Dibanding Gunung Bromo yang tingginya 2.290 meter, berarti Gunung Batok ini lebih tinggi sekitar 128 meter. Cuma, gunung ini kalah populer dibanding tetangganya itu, karena Batok tidak punya kawah, dan juga perlu susah payah untuk mendakinya. Padahal, Gunung Batok juga punya legenda yang unik. Konon, gunung ini terbentuk akibat seorang raksasa yang marah kepada Rara Anteng –nenek-moyang orang Tengger– dan membuang batok alias tempurung kelapa yang dipakainya untuk mengeruk tanah dan membuat lautan, karena sudah keburu pagi.

Bule 30 Menit

Dari puncak Batok, sekarang saya bisa melihat keseluruhan area kawah Bromo yang masih mengepulkan asap putih, juga orang-orang yang seperti titik-titik bergerak di anak tangga menuju kawah. Dari tempat saya berdiri pula, Gunung Semeru tampak jauh di selatan sana, dan puncak Pundak Lembu dan B29 di timur. Penanjakan yang penuh dengan menara-menara pemancar sinyal telepon ada di utara, dan lembah serta pegunungan di Kawasan Tengger di sisi barat.

Luas puncak Gunung Batok ini kira-kira setengah lapangan bola, terdiri dari tanah padat dan lapisan kerak pasir. Areanya datar namun agak bergelombang di beberapa tempat. Tak heran kalau di sini sering dijadikan titik awal paralayang atau paragliding. Helikopter bisa mendarat di sini, karena area datarnya cukup luas. Sebagian area puncak ini ditumbuhi gerumbul tanaman cantigi yang berbuah kecil merah dan sering menjadi cemilan darurat oleh para pendaki.

Padmasari di puncak Gunung Batok

Padmasari yang masih menyisakan makanan yang sepertinya masih baru.

Pak Mul dan saya mengitari area puncak ini dan berakhir di sisi selatan yang punya pandangan luas ke Gunung Widodaren yang lerengnya juga bergaris-garis, ke kawah Bromo, dan Gunung Semeru. Sebuah tugu padmasari atau tempat sesajian menjadi penanda area ini. Entah siapa yang kemarin ke sini, saya lihat banyak makanan sesaji yang belum terlalu kering. Di berbagai lokasi di Kawasan Tengger ini, kita memang bisa menemui tempat sesaji seperti ini di berbagai sudut gunung, meski umumnya saya cuma menemukannya secara kebetulan saat treking. Kalau terpaksa, misalnya kehabisan bekal, kita bisa makan sesaji ini, setelah sebelumnya ‘meminta izin’.

Pak Mul bersembahyang sebentar di sini, lalu kami membuka bekal nasi dan lauk yang dibuat Bu Mul tadi pagi. Sambil duduk makan, kami menikmati angin semilir puncak ini. Meski matahari bersinar terik, rasanya tak terlalu panas di sini. Gunung Bromo masih mengepul, tapi bau asapnya tak sampai ke sini. Saat melongok ke bawah kaki, terlihat bahwa Gunung Batok ini menyambung dengan Gunung Bromo di sisi barat daya, namun menyambungnya juga di bagian yang rendah. Jadi kalau mau mendaki Batok dari Bromo, malah lebih panjang jalurnya karena kita mesti mendaki Bromo dulu, menyusuri pinggir kawahnya, turun ke lembah, baru naik lagi ke Batok. Dan sayangnya, jalur pendakiannya juga sama curamnya.

Bendera Merah Putih di puncak Gunung Batok

Berkibarlah, benderaku!

Kami pindah ke sisi timur, dan menegakkan kembali bendera merah-putih yang rebah, tak jauh dari bendera putih yang kami lihat dari bawah tadi. Sambil berfoto-foto, kami menunggu kalau-kalau lima pendaki tadi sampai ke puncak ini juga. Tapi setelah hampir satu setengah jam beristirahat di puncak, mereka tak juga muncul. Kesimpulan kami, mereka tidak sampai ke puncak. Yang Pak Mul lihat malah dua tamu lain yang bergerak cepat dari bawah, menuju ke puncak ini.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *