Kiri ke kanan: Gunung Bromo, Batok, dan Semeru
Indonesia, Journey

Mendadak Batok

Belum juga kami selesai berfoto-foto, tiba-tiba dua lelaki bule muncul begitu saja dari jalur treking di bawah bendera merah-putih itu. Mereka keringatan, tapi tidak tampak terengah-engah. Kami pun berkenalan. Ternyata mereka berasal dari kota kecil di dekat Lyon, Prancis Selatan. Yang tinggi besar Edward, yang satunya Felix. Mereka tengah keliling Jawa, dan sehabis ini berencana ke Kawah Ijen, lalu ke Bali.

“Berapa lama kamu naik dari bawah tadi?” tanya saya.
“Sekitar 30 menit,” jawab Edward.
Saya melongo. Cepat amat!
“Apa jalur yang tadi kamu naiki cukup mudah?”
“Tidak. Jalurnya terjal sekali,” tambah Felix. “Sebaiknya jangan turun lewat jalur itu.”
Jalurnya terjal, tapi cuma 30 menit. Sedangkan saya 2 jam 15 menit!

Dua pendaki Prancis di Gunung Batok

Berfoto dulu bersama dua bule Prancis yang supercepat.

Tapi ya, karena dibilang terjal, saya tak berani turun lewat jalur itu. Pak Mul juga menyarankan supaya kami turun melalui jalur yang sama dengan waktu naik tadi, karena sudah ketahuan medannya seperti apa. Kami pun turun, meninggalkan Edward dan Felix yang tampaknya masih ingin menikmati puncak dulu.

Awalnya Pak Mul meminta saya untuk gantian turun dulu dan beliau di belakang saya. Maksudnya supaya saya tidak terus-terusan kena debu seperti tadi. Tapi begitu melihat jalur turunnya yang seperti vertikal, lutut saya langsung gemetaran. Jadi kembali lagi, Pak Mul yang di depan, saya mengikutinya beberapa langkah di belakang. Kalau boleh jujur, turun gunung ini lebih berat buat saya daripada naik tadi. Selain karena paha mulai sakit, jari kaki juga ikut sakit karena sering menjadi rem saat turun agar kaki tidak terpeleset. Perjalanan turun pun jadi lambat, dan saya lebih banyak memakai ceruk di jalur treking ini sambil setengah jongkok atau ngesot untuk memerosotkan badan ke bawah. Debu yang beterbangan dan hinggap ke muka dan pakaian saya tak sempat saya hiraukan.

Kemudian saya tahu, ceruk ini memang ‘jalur bantuan’ untuk menapakkan atau memerosotkan kaki saat turun. Dengan cara ini, pendaki lebih aman karena badannya terlindungi dinding tanah di kanan-kirinya. Kalau menginjak jalur pendakian di sisi kanan atau kiri ceruk seperti saat mendaki, khawatirnya kalau terpeleset sedikit saja, kita bisa langsung menggelundung ke bawah.

Edelweis di Gunung Batok

Menemukan satu gerumbul edelweis saat turun. Nggak sadar kalau muka sudah berbedak debu.

Matahari kini mulai tertutup puncak gunung di belakang saya. Cuaca masih cerah seperti tadi pagi, tapi kini agak lumayan karena tanah di jalur pendakian tidak lagi panas, ditambah angin menjelang sore yang sejuk. Tapi ini tak mengurangi fakta bahwa saya lambat sekali turun, dan mesti berkali-kali memanggil Pak Mulyadi untuk menunggu karena saya tak yakin harus menapak di bagian mana.

Satu-satunya hiburan saat turun ini adalah ketika saya menemukan satu pohon edelweis yang tengah berbunga lebat di jalur turun, dan beberapa gerumbul lain di jurang di kanan-kiri. Tadi waktu naik entah mengapa saya tidak melihatnya, mungkin karena terlalu fokus mendaki. Baru saat berfoto-foto di bunga ini saya menyadari kalau muka saya, termasuk bulu-bulu mata saya, sudah nggak karuan karena tertutup debu.

Begitu kami menemukan tiga buah pisang yang tadi kami tinggal di batang pohon mlandingan, saya pun makin bersemangat turun. Kini jalur turun menuju gerumbul pohon cemara itu sepertinya lebih landai di mata saya.

Gerumbul cemara ini akhirnya saya capai, dan Pak Mul yang sudah lebih dulu di situ turun lurus ke gerumbul cemara paling bawah, tidak membelok ke kanan mengikuti jalur waktu kami baru mulai mendaki. Ketika saya sampai di gerumbul cemara itu, beliau tengah memetik daun nogosari, yang merambat di pohon cemara, untuk dibawa pulang. “Ini buat sayur bening yang tadi pagi Bapak makan,” terangnya.

Ooh, sayur itu. Dalam hati saya tertawa. Tadi pagi saya sudah mencicipinya. Saya kira tadinya mirip sayur bayam bening. Tapi setelah saya gigit, daunnya terasa seperti ampelas. Dan entah mengapa, sayur beningnya itu tidak ada rasa sama sekali, bahkan tidak ada rasa garam atau gerusan bawang merah. Benar-benar tawar. Atau jangan-jangan Bu Mul lupa memberi bumbu?

Kawah Gung Bromo dan lereng Gunung Batok

Gunung Batok, terlihat kecil tapi sebenarnya jauh lebih besar dibanding titik-titik jip di bawah kakinya.

Kami menyeberangi ceruk pasir, dan akhinya sampai ke jip Pak Mul yang sedari tadi diparkir di samping pura. Saya lihat jam, sudah pukul 3 sore! Artinya, untuk turun gunung, saya juga butuh waktu sekitar 2 jam, mengingat kami tadi turun menjelang pukul 1 siang.

Area ini masih ramai oleh para turis yang datang memakai motor dan hendak naik kuda atau berjalan kaki ke tangga Bromo. Tapi kaki saya sudah pegal dan gemetaran, jadi saya tidak berminat lagi untuk ke tangga Bromo. Saya duduk saja di bumper jip dan beristirahat. Sambil memandang ke arah puncak Gunung Batok yang menjulang tinggi dan kini sebagian gelap karena tidak terkena bias cahaya matahari, barulah kemudian saya berpikir: ini sungguh aneh. Bagaimana saya tadi bisa mendaki gunung seterjal itu, dan bisa kembali ke sini dengan selamat? [T]

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *