Turun dari Gunung Watangan ke savana Bromo
Indonesia, Journey

Kembali ke Lautan Pasir Atas

Tampaknya keripik ini terjadi akibat pengaruh gas belerang, hujan, dan suhu dingin. Kemarin, waktu melihat print-out Google Earth untuk kawasan Bromo ini, kami mengira daerah ini juga sebuah lautan pasir. Ternyata bukan. Setelah kami naik ke punggungan Gunung Watangan, dari watu kripik tadi kalau diteruskan berjalan ke barat akan sampai ke sebuah lembah berlekuk-lekuk di kedua sisinya, dengan di tengah-tengahnya berupa cekungan seperti sungai. Mungkin dulu merupakan sungai tempat mengalirnya lava.

Ranting Penanda Pertigaan

Menyusuri punggungan Gunung Watangan –disebut watangan karena dulu pernah terjadi kebakaran dan banyak batangan-batangan kayu besar rebah di gunung ini– kami menemukan keindahan lain. Tipikal medannya sama seperti di Gunung Keduwung, yakni hutan ilalang, namun kini kami mulai menjumpai banyak tanaman… edelweis! Bunga-bunga edelweis ini ada di sepanjang trek yang kami lalui dan juga di jurang kanan-kiri kami. “Sekarang ini jumlah edelweis masih sedikit,” kata Pak Pul. “Nanti, menjelang akhir musim hujan, sekitar Maret dan April, bunga-bunga itu akan bermekaran semua.” Wohoo, pasti akan sangat indah!

Gunung Semeru dilihat dari punggungan Gunung Watangan

Puncak Semeru yang megah terlihat dari punggungan Gunung Watangan.

Kami menyusuri punggungan Gunung Watangan ke barat. Pak Pul akan membawa kami ke Hembus-hembusan Angin, yakni lubang-lubang kecil tempat keluarnya gas dari perut bumi. Tempatnya ada di salah satu bagian Kalimati, sungai kering yang terlihat jauh di bawah sana, tapi yang di bagian sebelah barat. Jadi kami pun menyusuri punggungan gunung ini dulu, mencari jalur turun. Di sebelah kanan kami masih terlihat Gunung Bromo, Segoro Wedi Anakan, dan Gunung Batok. Sementara di kiri kami terlihat Gunung Ider-ider, di mana Desa Ngadas ada di salah satu lerengnya, dan di belakangnya lagi berjejer tiga gunung, dengan yang paling belakang dan paling tinggi adalah Gunung Semeru. Saat ini sebagian badan Semeru terselimuti awan putih.

Gunung Watangan, Gunung Bromo

Berhenti dan berfoto-foto dulu sambil mengatur napas sebelum mendaki lagi.

Tak terasa, matahari sudah condong ke barat begitu kami sampai di pertigaan Tomprang. Waktu menunjukkan hampir pukul 3.30 sore. Padahal kami memulai pendakian ke puncak Bromo tadi sekitar pukul 9 pagi. Yang dimaksud ‘pertigaan’ ini ternyata juga hanya sebuah persimpangan jalur trekking, dan hanya ditandai oleh sebatang kayu kecil yang ditancapkan oleh para pencari jamur. Kalau terus ke barat, kami akan sampai ke Gunung Widodaren, yang dulu kami pernah tersesat saat mencarinya. Tapi kami mengambil jalur ke kiri, yang turun.

Kalau dilihat dari Ngadas atau Gunung Ider-ider, Gunung Watangan ini sepertinya berpermukaan mulus, dengan bagian lembah berupa rumput hijau, dan bagian atas serta puncaknya berupa rumput abu-abu. Namun ketika kami ada di puncak Watangan ini, ternyata yang berwarna abu-abu ini hutan yang didominasi ilalang lebat setinggi hingga dua meter!

Perjalanan turun tak semudah dan secepat yang saya kira. Kami membutuhkan waktu satu setengah jam sebelum akhirnya sampai ke dasar lembah. Yang menghibur saya hanya edelweis yang makin banyak saya jumpai di sepanjang jalur turun. Satu atau dua bulan lagi, tempat ini pasti menjadi ‘surga’ yang penuh dengan edelweis bermekaran!

Sungai Setinggi 5 Meter

Dasar lembah yang menghijau ini dipenuhi tanaman pakis dan rumput ninjalan setinggi lutut. Rumput ini merupakan makanan kesukaan sapi. Dulu orang-orang Tengger suka mengembala di sini, namun kemudian dilarang oleh pengelola kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Kami berjalan menuju Kalimati, dan sepanjang jalan di padang rumput yang luas menghijau ini tak henti-hentinya saya menghirup udara sore yang terasa begitu segar.

Savana di Kalimati Gunung Bromo

Sampai juga ke savana di dasar lembah setelah menembus hutan ilalang.

Kejutan lain saya temui ketika sampai di Hembus-hembusan Angin. Jika dilihat dari atas, sungai mati ini tampaknya seperti garis kecil yang mengular. Tapi begitu melihatnya dari dekat, ternyata ini sebuah sungai kering yang kedua sisinya dipagari bukit-bukit setinggi kira-kira lima meter! Kami harus berjalan hati-hati di bibir sungai untuk mencapai tempat keluarnya gas bumi itu. Ternyata sumber gasnya tidaklah besar, dan hanya ada dua, masing-masing berupa sebuah lubang di dinding sungai, dengan diameter sekitar 10 cm. Dari lubang ini keluar gas tak berwarna yang menimbulkan bunyi mendesau.

Kalimati Gunung Bromo

Ukuran sebenarnya Sungai Kalimati, yang terlihat seperti garis kalau dari kejauhan.

Hari mulai gelap dan kami pun meneruskan langkah untuk pulang ke Ngadas dengan cara… naik gunung lagi! Tak lain Gunung Ider-ider. Kami tidak akan mendaki sampai puncaknya, karena di pinggang gunung ini telah ada anak Pak Mulyadi dengan temannya, yang menunggu dengan motor mereka sejak jam 3 tadi sore. Tapi tetap saja, pendakian ini merupakan yang paling berat, karena tenaga saya rasanya sudah terkuras habis. Di pendakian terakhir ini, Purnawan, yang entah mengapa masih terlihat segar, menghitungkan langkah untuk saya. Setiap berjalan 50 langkah, kami berhenti untuk mengatur napas. Begitu terus, hingga akhirnya kami sampai juga ke sebuah jalan beton, dan pendakian ini pun berakhir…. [T]

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *