Gunung Batok dan Gunung Bromo difoto dari sisi barat
Journey

Surga Baru di Sisi Barat Bromo

Tanpa sadar saya mengelap peluh di kening. Pukul 12, berarti kami akan treking selama… 5 jam? Glek. Saya menelan ludah, dan membuka botol minum untuk meredakan haus.

Makam di Atas Bukit

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Meski harus banyak berhenti dan terengah-engah, kami sangat dimanjakan oleh keindahan lansekap pagi ini. Meski tanpa pohon-pohon tinggi, ditambah matahari yang cetar membahana tanpa penutup awan sepotong pun, namun angin dan udara dingin di ketinggian ini cukup meminimalkan keringat. Saat berada di puncak bukit, di sisi kiri kami bisa melihat puncak Gunung Arjuna dan deretan pegunungan di sekelilingnya, anggun di bawah langit biru. Saat menuruni bukit, maka padang rumput, ilalang kering, dan pohon-pohon pakis yang berselimut debu, membentang luas hingga bertemu lembah, Gunung Bromo, Gunung Batok, dan punggung-punggung pegunungan yang perlahan menghilang ditelan kabut putih. Beberapa pohon edelweis saya temui, meski tak sebanyak seperti di lereng Gunung Watangan yang pernah saya daki.

Jalur treking sisi barat Bromo

Entah berapa bukit lagi mesti kami daki. Tapi yang jelas pemandangannya indah.

Saya membayangkan, kawasan ini pasti surga buat para fotografer lansekap, fotografer pre-wedding, atau fotografer fashion yang memakai model. Dari tadi, memotret dengan kamera poket saja hasilnya membuat mulut menganga. Kalau tahu begini, tadi saya mestinya tidak perlu bawa kamera DSLR, pikir saya.

Hari makin siang, dan di sebuah puncak bukit kami menjumpai sebuah makam, tak jauh dari patok penanda dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berkode ‘BTS M4’. Entah makam siapa dan sejak kapan ada di sini, tapi menurut Pak Mul mungkin makam penduduk Desa Mororejo yang ingin dimakamkan di sini. Saat kami menuruni bukit, kami bertemu dua lelaki yang sedang ngarit, mencari rumput untuk pakan sapi. Mereka adalah Mas Slamet dan Mas Karwo, dari Desa Mororejo. Masing-masing membawa motor butut yang sudah tidak karuan bentuknya. Saya heran, bagaimana cara mereka membawa rumput dengan motor itu naik-turun bukit di jalan setapak? Kami berfoto-foto untuk kenang-kenangan.

Patok Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Petugas Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru sampai ke sini juga rupanya.

Kami mendaki bukit lagi, lalu menuruni bukit yang cukup curam, diikuti menanjak bukit sesudahnya yang nyaris vertikal. Ini rupanya yang disebut Jurang Ndingklik. Mudah-mudahan ini bukit terakhir yang kami daki.

Menyusuri jalur datar, kami menemukan sebuah rangka bangunan yang terbengkalai. Mungkin bekas sebuah saung atau gardu pandang, karena dari sini pemandangan indah langsung mengarah ke Gunung Batok.

Jurang Ndingklik, titik terendah di jalur treking sisi barat Bromo

Jurang Ndingklik, titik terendah di jalur treking. Habis ini bakal merangkak menanjak bukit.

Beberapa menit dari situ, di sebuah tikungan datar kami bertemu tugu sesajian, yang berselimut kain putih dan kuning. Di sebuah ceruk tanah di sampingnya, ada sesajian berupa kembang tujuh rupa, satu badan utuh ayam bakar (glek!), serta beberapa sisir pisang ranum. Orang Suku Tengger yang umumnya beragama Buda Jawa –mirip dengan Hindu Bali– menamakan tempat sesajian ini padmasari, dan ada di beberapa sudut kawasan Tengger ini. Saya pernah melihatnya ada di pintu masuk jalur pendakian ke Gunung Widodaren.

Pak Mul berdoa sebentar di sini, sementara saya mengambil dua buah pisang untuk mengganjal perut. Kita memang boleh memakan sesajian ini, asal secukupnya saja dan sebelumnya ‘meminta izin’ kepada yang ‘menunggu’ tempat ini.

Kopi Campur Debu

Saya meneruskan perjalanan sambil makan pisang dan memutar lagu-lagu house music dari ponsel, agar sedikit melupakan kaki yang sudah gempor dan sakit-sakit di ujung jarinya. Hingga tiba-tiba…

Di balik gerumbul pohon cantigi yang posisinya di atas jalur treking, samar-samar saya mendengar suara orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Saya menguatkan langkah, menyibak gerumbul pepohonan itu, dan… aha! Saya melihat Pak Mul sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita yang tengah duduk di besi pembatas jalan, di sisi sebuah jalan aspal! Di belakang wanita itu, tampak Gunung Batok di bawah sana, dengan Lautan Pasir di sekelilingnya.

Jalan aspal ke Penanjakan, Bromo.

Selamat datang kembali ke peradaban!

Alhamdulillah, berarti treking kami sudah atau hampir selesai, karena kami telah sampai di jalan aspal yang menuju Penanjakan. Turis-turis yang ingin melihat sunrise Bromo dan memakai jip selalu lewat jalur ini. Tapi karena sekarang sudah pukul, sebentar… 11.30, dan juga jalan aspal di bagian bawah ada yang longsor, hanya motor saja yang bisa lewat jalur ini. Wanita tadi tengah menunggu suami dan anaknya yang akan menjemput.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *