Kereta Api Serayu jurusan Pasar Senen-Purwokerto
Indonesia, Journey

Kereta Penuh Drama

Hmm, hebat sekali nih kereta. Sampainya malah lebih cepat 5 menit dari jadwal seharusnya. Saya pun turun dan mampir dulu ke toilet stasiun yang sederetan dengan kantor stasiun, beberapa langkah dari peron. Keretanya masih berhenti.

Tapi… di luar kok mendadak ramai ya orang-orang pada berbicara. Dan kayaknya kok ada yang mencari-cari saya, karena pintu toilet kemudian diketuk-ketuk.

“Mas, Mas, keretanya mau berangkat. Cepetan yaa!”

Oh, itu ternyata. Saya santai saja membuka pintu toilet. Ternyata yang nyari saya itu train boy. Itu lho, mas-mas di kereta yang bertugas membuka pintu kereta saat kereta berhenti, dan menyiapkan tangga buat penumpang yang mau turun. Mungkin juga mengecek mana penumpang yang turun sebentar untuk merokok atau ke toilet.

“Saya memang turun di sini kok Mas, nggak naik kereta lagi,” jelas saya.

“Oooh…”

Dia pun berteriak ke petugas pengatur perjalanan kereta. Peluit ditiup, dan kereta pun berangkat kembali. Saya pun mendadak sakit perut. Aduh, kok drama sekali ya hari ini? Hahaha! [T]

 

Catatan:

Saya akhirnya menghabiskan waktu sekitar 3,5 jam di Plered itu untuk mencicipi Sate Maranggi, bertemu teman, dan mengunjungi tiga workshop pembuatan gerabah.

Sate Maranggi samping Stasiun Plered

Setelah pagi yang penuh drama, mampir dulu ke Pusat Kuliner Sate Maranggi di samping Stasiun Plered.

Saya kembali ke Jakarta dari Plered pukul 14.55 memakai kereta Serayu 215 dan sampai di Jatinegara, Jakarta pukul 17.05. Saya turun di sini karena lebih dekat ke rumah dibanding kalau turun di Pasar Senen. Serunya seperti apa pembuatan gerabah Plered itu, silakan baca di artikel ini.

Standard

One thought on “Kereta Penuh Drama

  1. Pingback: Berkah Gerabah Plered - TeguhSudarisman.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *