Merapi Sunrise Lava Tour, Kaliadem, Yogyakarta
Indonesia, Journey

Selamat Pagi, Merapi…

Belum adanya kesepakatan inilah yang sepertinya membuat sebagian orang kembali ke kampung mereka. Satu hal yang disyukuri Slamet, ternak-ternak sapi yang mati akibat letusan Merapi diganti rugi oleh pemeintah, meski jumlahnya tidak seharga sapi dewasa. “Alhamdulillah, pemerintah berbaik hati mengganti. Padahal bencana kan bukan salah pemerintah.”

Museum Letusan Merapi alias House of Memory

Gelas saja bisa melengkung, bisa dibayangkan panasnya.

Kami membelok dan berhenti di pekarangan samping sebuah rumah tanpa atap, yang kini menjadi museum. Melihat luas bangunan rumah dan pekarangannya, serta tembok rumah dari batu kali yang masih tersisa, bisa diduga dulu pemiliknya hidup cukup makmur. Kini yang tersisa hanya empat rangka motor di halaman dan di ruang tengah, serta meja-kursi di ruang belakang. Foto-foto letusan Merapi dan jam kaca yang pecah menghiasi dinding belakang. Piring, televisi, gelas-gelas yang melengkung hingga pita kaset yang meleleh dipajang di paviliun samping. Tak ketinggalan dipajang pula sapi yang cuma tersisa rangkanya, di Museum ‘House of Memory’ ini.

Jam menunjukkan saat meletusnya Gunung Merapi

Berhenti berdetak di letusan berikutnya.

Jip kami kembali melaju, mengambil jalan putar untuk kembali ke arah atas, menuju Kali Kuning. Ternyata ini adalah sebuah sungai curam dengan bekas-bekas bendungan dan sebuah jembatan kecil di atasnya. Kerusakan akibat letusan pun terlihat di sini, ditandai dengan jejeran pohon pinus yang tinggi namun gundul karena terbakar. Tapi kami tak lama, karena jalan menuju ke sini tadi sedang diaspal. Kami hanya diberi waktu 15 menit, nanti jalan itu akan ditutup.

Tur sunrise pun berakhir begitu kami kembali ke pangkalan jip di tempat tadi kami menaruh motor. Suasana telah menjadi lebih hidup dan ramai dengan motor-motor trail berjejer, berharap ada wisatawan yang datang. Cuma kemudian tiba-tiba saya ingat sesuatu: bukankah kami belum ke rumah Mbah Maridjan?  Sungguh tidak sopan, sudah datang ke sini tapi tidak sowan ke rumah juru kunci yang mengabdikan hidup hingga nafas terakhirnya untuk menjaga Sang Merapi.

Membonceng Andri, kami pun naik ke Dusun Kinahrejo tempat kediaman Mbah Maridjan, sekitar 1 kilometer ke atas. Mendung menggelayut tebal dan gerimis jatuh satu-dua kali. Merapi telah hilang ditelan kabut kelabu yang kini bergerak ke barat.

Hanya ada sepasang pengunjung yang sudah bersiap pergi dari halaman rumah Sang Juru Kunci ketika kami datang. Satu-satunya pedagang suvenir malah baru menata dagangannya. Sebuah pendopo yang belum sepenuhnya jadi, sebuah petilasan seperti makam, dan sebuah bekas rumah tembok, menjadi penanda kompleks rumah Mbah Maridjan ini.

Meninggal di letusan pertama Merapi tanggal 26 Oktober 2010 bersama 16 orang penduduk di sekitarnya, jenasah beliau ditemukan tengah bersujud di paviliun samping rumah, yang kini menjadi petilasan dengan cungkup dan kendi itu, dinaungi genteng dan tiang bambu tanpa dinding. Ini bukan makam Mbah Maridjan, karena makam beliau ada di Dusun Srunen, Desa Glagaharjo, beberapa kilometer dari sini. Tapi makam itu juga telah hilang tersapu debu dan awan panas di letusan hari-hari berikutnya. Sementara rumah utama Mbah Maridjan kini sudah menjadi museum, dengan mobil evakuasi dan perangkat gamelan miliknya yang sudah berkarat sebagai koleksi. Yang masih tampak baru adalah masjid bercat kuning di seberang jalan, yang dibangun Mbah Maridjan dari hasil honornya sebagai bintang iklan minuman berenergi.

Rumah Mbah Maridjan di Kinahrejo lereng Gunung Merapi

Mbah Maridjan Sang Juru Kunci dan quote-nya yang membekas.

Gerimis mulai turun satu-satu, dan kami pun pamit dari rumah Sang Juru Kunci. Memandang lagi sosok kecil beliau yang sudah tua dan ringkih, namun tetap gagah dengan pakaian dinas kratonnya, saya catat baik-baik petuah beliau yang tertulis di spanduk pagar petilasannya: Ajining menungso iku gumantung ono ing tanggung jawabe marang kewajibane. Kehormatan seseorang itu dinilai dari tanggung jawabnya terhadap kewajibannya. [T]

 

BOKS 1:
Mau Ikut Sunrise Tour?

Ditemukannya ide untuk menjadikan bekas letusan Merapi sebagai objek wisata beberapa tahun belakangan ini membuat warga di kawasan Kaliadem membentuk kelompok-kelompok wisata adventure. Ada kelompok jip Willys, Hardtop, Landcruiser, hingga kelompok motor trail dan penyewaan alat kemping. Masing-masing menawarkan paket dengan berbagai pilihan biaya.  Paket motor trail berbiaya Rp 50-150 ribu per orang, tergantung rute yang dipilih. Paket jip Willys bisa jadi yang paling ekonomis jika kita datang berempat atau berlima, karena bisa menyewa 1 jip dengan biaya Rp 300-400 ribu. Kalau ingin jemput-antar dari hotel di Jogja, biayanya tambah Rp 500 ribu per jip.

Lava Tour Merapi menggunakan jip Willys

Suasana pagi yang asri dan rumah-rumah baru yang dibangun pascaletusan.

Karena ada di ketinggian, cuaca tidak bisa diprediksi. Usahakan mengejar dulu sunrise tour. Jika tertunda karena cuaca kurang bagus, masih punya waktu pagi dan siang hari. Berbagai homestay dan penginapan sederhana pun bisa dijumpai di sepanjang jalan kawasan ini, dan bisa datang langsung untuk booking. Untuk paket-paket tur Merapi, kontak: Eko, Belantara Merapi Adventure, Kali Kuning, Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta 55583, Tel: 0852-27366130 atau 0856-01995334.

 

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *