Gunung Batok dan Gunung Bromo difoto dari sisi barat
Journey

Surga Baru di Sisi Barat Bromo

“Kayaknya saya salah bawa gear nih,” kata Donny, sambil menimbang-nimbang kamera DSLR besar di tangannya, dengan lensa telenya yang berwarna putih. Tripod dan tas kamera besar yang saya duga isinya peralatan lengkap memotret, seperti ragu-ragu hendak diangkatnya.

Ooh, saya tahu maksudnya. Pasti dia tidak akan mau –atau tidak mampu– untuk treking menanjak yang entah akan berapa lama waktunya, dengan beban seberat itu di pundaknya! Hahaha!

Gunung Semeru dilihat dari sisi barat Bromo

Semeru di selatan sana, tertutup aliran debu bercampur kabut.

Akhirnya kamera dan lensa itu dia masukkan ke dalam ranselnya, dan akan dibawa oleh Pak Kliwon. Sementara tripod dan juga kamera saya akan dibawa Pak Mul. Donny hanya membawa ponsel dan sebotol air, sementara saya hanya membawa kamera poket dan juga sebotol air. Kayaknya saya juga tidak akan memakai kamera DSLR lagi di trip ini. Selain berat, tadi saya lihat tas kamera yang saya geletakkan sewaktu memotret sunrise, ternyata sudah diselimuti lapisan debu. Waduh, pasti kamera saya juga sudah kemasukan debu nih, dan mesti dibawa ke tempat servis kamera setelah pulang nanti. Makanya saya akan memakai kamera poket saja. Kalaupun kemasukan debu ya, sudah nasib.

Bakal Naik-Turun Bukit Selama…

Mendaki bukit yang pertama ini rasanya seperti menyongsong matahari, karena kini matahari seperti di atas bukit. Sinarnya menerangi ilalang yang sebagian menguning dan sebagian meranggas, menyisakan garis hitam jalur treking yang sebagian tertutup ilalang setinggi lutut itu. Kami berjalan satu-satu dengan jarak yang agak berjauhan agar tidak mengirup debu yang beterbangan akibat langkah kami. Pak Kliwon paling depan, diikuti Donny, saya, dan Pak Mul. Tapi akhirnya, seperti biasa, saya yang tercecer paling belakang, karena memang harus memfoto-foto, meski alasan yang lebih tepat sebenarnya adalah untuk meredakan nafas yang tersengal-sengal.

Sisi barat Gunung Bromo

Mari mendaki bukit, menyongsong matahari!

Selesai menanjak bukit pertama dikuti dengan menuruni bukit, naik bukit lagi, turun lagi. Tapi jalur trekingnya masih di tepi patahan bukit dengan lembah di kanan kami yang kini tanpa kabut lagi. Hanya aliran awan debu kelabu yang mengapung di atas kami, yang berasal dari asap kawah Bromo. Debu kelabu itu menghalangi pandangan kami ke arah Gunung Ider-ider di selatan sana, dan Gunung Semeru yang hanya terlihat puncaknya, jauh di belakang. Lembahnya sendiri kini seperti mozaik, dengan warna tanah bercampur hitam, abu-abu, dan kelokan jalur jalan berwarna putih, mengular dari ujung lembah di sepanjang kaki Gunung Widodaren hingga menghilang di balik tikungan menuju Gunung Batok. Sepertinya itu jalur jalan kaki atau jalur trek sepeda motor. Entah berapa puluh kali ukuran lapangan bola lembah itu, saking luasnya. Tapi kami tidak akan turun ke sana karena memang tujuan kami menyusuri tepian tebing sisi barat Bromo ini.

Jalur treking yang kami lalui ini dipakai oleh penduduk kawasan Tengger untuk mencari rumput maupun jamur. Pak Kliwon sudah bertahun-tahun menjelajahi kawasan ini, makanya beliau kami pilih sebagai pemandu.

Pak Mul, yang mantan kepala desa Ngadas, lebih berperan sebagai logistik dan porter. Sebab meski beliau penduduk asli di sini, dia mengaku belum banyak menyusuri kawasan Taman Nasional ini. Tapi karena dia mulai bergerak di bidang pariwisata dengan menyewakan jip dan juga rumahnya sebagai homestay, mau tidak mau dia mesti ikut mengiringi tamunya. Pernah, dua tahun lalu, beliau juga menemani saya menyusuri bibir kawah Bromo hingga ke Lautan Pasir Atas, dengan dipandu tetangganya, Pak Puliono. Baru kemudian saya tahu bahwa itu juga pengalaman pertama Pak Mul ke Lautan Pasir Atas. Jangan-jangan, yang treking kali ini pun pengalaman pertamanya, hahaha!

Jalur treking sisi barat Bromo

Donny, dan Pak Mul yang kebagian tugas membawa tripodnya.

“Treking ini nanti melewati Jurang Ndingklik, dan ujungnya di jalan aspal yang ke Penanjakan,” tutur Pak Kliwon. “Kalau jalan santai ya, mudah-mudahan pukul 12 kita sudah sampai di sana.”

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *