Bias kuning dan awan-awan cokelat tua makin terang di sisi timur, ketika kami sampai di bungker, yang ditandai dengan pagar dan gapura bambu. Merapi terlihat biru gelap membayang di sisi utara, mengepulkan uap putih perlahan-lahan. Ternyata bungker yang berupa ceruk bangunan beton ini dekat saja, sekitar 15 menit dari titik awal berangkat tadi. Dan saya mengira Slamet akan memberi sedikit penjelasan, tapi ternyata tidak. “Silakan ya, kalau mau foto-foto, saya tunggu di sini.” Waah!
Saya tak mengharapkan sunrise bakal spektakuler juga, mengingat matahari akan muncul dari punggungan bukit di timur, sementara Merapi ada di utara. Saya hanya berharap, matahari pagi ini cerah dan sinarnya yang kuning bisa menerangi gunung, lereng, dan hutan di bawah Merapi.

Bunker yang ternyata tak sanggup melindungi dari letusan Merapi.
Saya melewatkan dulu bungker, yang dulu dimaksudkan sebagai area perlindungan tapi ternyata tidak berfungsi, karena letusan Merapi 26-28 Oktober 2010 lalu itu datang dalam bentuk debu dan awan panas. Seorang relawan dan seorang mahasiswa yang memilih berlindung di bungker saat Merapi meletus, mesti merelakan nyawanya tertimbun material letusan.
Beberapa batu besar berserakan di tanah berpasir padat yang saya pijak, cukup datar hingga ke arah gunung jauh di depan sana. Dulu konon daerah ini penuh dengan pohon pinus, tapi sekarang gundul, hanya menyisakan tanaman pakis dan alang-alang, sisanya tanah berbatu-batu dengan sebuah ceruk kecil membelah berkelok-kelok menuju gunung, hingga terpotong oleh jurang sungai kering di depan sana.
Semakin saya berjalan mendekat ke arah jurang sungai kering itu, matahari makin menaik, dan tekstur mengerucut Merapi yang mengepulkan asap putih terus-menerus makin terlihat. Sebuah lubang rekahan terlihat menganga di puncak sisi selatan yang menghadap ke saya. Bekas efek letusan itu menyisakan dinding gunung yang gundul dan curam. Dulu jalur selatan ini menjadi salah satu jalur pendakian Merapi. Tetapi setelah letusan tahun 2010, pendakian mesti dilakukan dari sisi utara, dari Kabupaten Boyolali.

Cerah dan cantik begitu mentari menyinari Merapi.
Langit mulai membiru, rumput dan hutan di lereng Merapi pun makin hijau menguning tertimpa cerah matahari pagi. Tidak ada penikmat gunung yang lain di sini kecuali saya dan Andri. Merapi mengepul pelan, tenang, dan tanpa suara. Sungguh pagi yang sepi dan damai. Sepertinya akan pas sekali kalau saya membawa kuas, kanvas, dan setermos kopi, lalu melukis. Sungguh sulit dipercaya bahwa gunung yang cantik ini kadang dalam sekejap bisa berubah ‘emosional’ dan begitu meledak bisa merenggut nyawa ratusan manusia dan ribuan ternak.