Merapi Sunrise Lava Tour, Kaliadem, Yogyakarta
Indonesia, Journey

Selamat Pagi, Merapi…

Tadinya saya sempat berharap bakal ada sedikit bunyi batuk-batuk atau menggelegak begitu, tapi untungnya itu cuma dalam imajinasi saya saja. Kalau sudah seperti itu, pasti saya sudah kabur duluan.

Kami balik ke bungker setelah puas berfoto-foto. Bungker yang pintunya tergenang air ini cukup untuk menampung sekitar 10 orang. Di dalamnya ada meja beton dengan debu gunung yang mengeras di atasnya, mungkin memang sengaja tidak dikeruk.

“Kita pulang?” tanya Mas Slamet. Ia sudah melipat atap Willys hijau lumutnya sehingga jip itu kini kelihatan macho seperti kendaraan tentara AS di Perang Vietnam.

Saya melongo. “Lho, jadi cuma segini saja? Nggak ke tempat lain?”

“Kemarin saya dibilangnya Mas ambil paket yang Rp 300 ribu. Kalau paket yang itu memang cuma sampai di sini saja,” Slamet menjelaskan.

Berfoto dulu di bunker Kaliadem berlatar Merapi yang biru.

Berfoto dulu sebelum mengakhiri tur yang ternyata cuma sampai di sini.

Oops, sepertinya ada miskomunikasi. Rupanya paket yang kami beli itu memang sampai di sini saja, sementara kalau mau diantar hingga ke Batu Alien, Museum Merapi, dan rumah Mbah Maridjan, mestinya beli paket yang Rp 400 ribu. Karena hari ini sepi dan Slamet juga tidak sibuk, dia setuju saja kami menambah Rp 100 ribu lagi untuk mengantar ke tempat-tempat yang belum kami datangi.

Jip bergerak lagi ke timur, di jalur yang menurun. Sepertinya, bungker tadi adalah batas tertinggi yang bisa dicapai wisata ini, meski sebenarnya saya berharap kami bisa maju lagi sampai di ujung utara kawasan datar ini, tepat di bawah puncak Merapi. Mungkin wisatawan mesti memakai motor trail untuk bisa mencapai area itu.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *