Tadi saya sudah bilang, jangan terpisah lebih dari 5 meter dari saya. Tapi sepertinya beliau sering lupa, atau saya yang memang lambat. Maklum, baru naik beberapa langkah, berhenti. Naik beberapa langkah, berhenti lagi. Tapi kalau mendaki bareng-bareng itu memang jangan meninggalkan teman yang ‘lemah’ kan? Kalau terjadi apa-apa terus kita tidak tahu, bagaimana?
Para Pendaki Kesiangan
Kami beristirahat di gerumbul cemara yang sepertinya hanya ada satu-satunya di jalur pendakian ke atas. Saya minum dan makan buah jeruk yang dibawa Pak Mul. Karena tanahnya miring, kami beristirahat sambil berdiri. Satu tangan memegang batang cemara, dan satu kaki menginjak dahannya untuk menahan tubuh. Tangan saya sudah baret-baret karena memegang ilalang kering untuk membantu mendaki.
Saya berniat memakai sarung tangan, tapi Pak Mul memberi nasihat. “Sebaiknya pakai tangan telanjang saja, Pak. Kalau pakai sarung tangan khawatirnya nanti kalau pegang ilalang nggak bisa merasakan akarnya masih kuat apa nggak.”
Benar juga sih. Dengan tangan telanjang, kita langsung dapat feeling kalau ilalang yang kita pegang itu akarnya masih kuat atau sudah rapuh. Sarung tangan bisa mengurangi feeling itu. Meski, tentu saja, saya mesti menerima risiko tangan baret-baret kena ujung daun ilalang yang tajam. Untungnya tangan saya tidak halus dan manja, jadi masih tahan baretan.
Kami meneruskan pendakian, dan target saya sekarang adalah mencapai sebatang pohon yang meranggas sendirian, kira-kira 50 meter ke atas. Matahari bersinar dengan cerahnya, dan langit biru bersih di atas sana mendorong saya untuk meneruskan pendakian. Harapan saya, nanti di puncak Batok saya masih bisa mendapatkan langit biru itu agar foto saya kelihatan bagus.
Puncak gunung dan kawah Bromo yang mengepul di sisi kiri masih terlihat jelas, pertanda saya belum naik cukup tinggi. Begitu juga suara-suara turis dan mobil jip di dekat pura masih bisa saya dengar. Kini malah ditambah suara bising rombongan motor trail yang sedang ngetrek di Lautan Pasir. Karena keseluruhan Kaldera Tengger ini dikelilingi dinding gunung, bising suara knalpot motor trail itu akan dipantulkan oleh dinding-dinding gunung itu dan terasa lebih keras saat kita di ketinggian. Sepertinya bagus sekali kalau motor yang knalpotnya bising dilarang masuk kawasan ini.

Bagaimana saya bisa mendaki jalur yang nyaris vertikal ini kalau tidak ada pohon mlandingan?
Pohon meranggas yang saya lihat dari bawah itu ternyata pohon mlandingan, yang masih kerabat pohon petai atau lamtoro. Meski sudah mati, batang pohonnya yang sebesar satu jari itu sangat membantu pendaki yang kerepotan naik seperti saya. Akar pohon itu kuat sekali tertanam di dalam tanah dan bisa saya pegang untuk membantu naik. Pak Mul malah sudah di gerumbul pohon mlandingan lain yang masih hidup di atas sana, tengah duduk menunggu saya. “Banyak pohon mlandingan di jalur ini Pak!” serunya. “lumayan buat pegangan kalau capek.”
Berpegangan mlandingan sambil mengatur nafas, saya melayangkan pandangan ke bawah dan lereng-lereng di sekeliling saya. Pandangan saya mendadak terantuk pada lima orang yang tengah bergerak di lereng yang terpisah oleh dua jurang di sisi kanan saya. Eh, pasti mereka pendaki kesiangan juga, karena mereka masih di bagian yang lebih bawah dari posisi kami.
“Hoooiii!” Saya berteriak ke mereka. Senang saja rasanya kalau menemukan teman dalam pendakian ini, supaya saya tidak merasa kesepian, dan juga bisa saling membantu kalau ada apa-apa, bukan? Mereka mendengar teriakan saya, dan melambai-lambaikan tangan. Saya memberikan kode akan naik lagi, dan mereka mengacungkan jempol. Mudah-mudahan nanti kami bertemu di puncak.
Saya mencapai gerumbul mlandingan tempat Pak Mul beristirahat. Beliau mengeluarkan buah jeruk, pisang, dan air minum. Matahari makin panas, dan gerumbul tanaman ini tidak cukup menolong kami untuk berteduh, jadi kami meneruskan pendakian. Pak Mul meninggalkan tiga buah pisang di batang mlandingan. “Nanti kalau pulang lewat sini lagi bisa kita makan,” katanya. “Kalau tidak lewat sini ya, anggap saja buat sajen.”
Makin ke atas, jalur pendakian makin menanjak, dan saya sering minta tolong ke Pak Mul untuk menarik saya karena kadang tanah yang akan saya pijak berikutnya terlalu tinggi untuk langkah kaki. Karena sering berdekatan ini, lebih banyak lagi debu beterbangan di sekitar kami. Saya tidak tahu lagi rupa saya sekarang. Mungkin sudah belang-bonteng berbedak debu. Seharusnya kami tadi membawa tali yang cukup panjang, jadi Pak Mul bisa menarik saya dari jauh kalau saya kesulitan naik.
Bendera warna putih yang berdiri miring di puncak Gunung Batok, sejak tadi sudah kami lihat, tapi rasanya kami nggak sampai-sampai juga ke sana. Puncak Bromo kini sudah tidak bisa kami lihat lagi karena terhalang lereng di kiri kami. Langit masih membiru di atas Gunung Batok yang kini tampak makin mengerucut, berselimut ilalang yang kuning meranggas.

Pak Mul yang sudah sampai puncak duluan. Tolong jangan tinggalkan saya Pak.
Saya masih butuh berhenti berkali-kali untuk mengatur nafas dan meneguk air yang masih tersisa di botol, ketika Pak Mul berteriak dari atas. “Ayo Pak, sedikit lagi! Pohon cantigi itu tandanya!” Dia menunjuk gerumbul pohon pendek yang sejajar dengan bendera putih itu, kira-kira 20 meter lagi di atasnya. Dia lalu bergerak mendaki lagi, dan saya pun mesti mengejarnya supaya jarak kami tidak terlalu jauh. Tak lama kemudian, Pak Mul melambai dari atas. “Lewat sini Pak!” Dia menunjuk ke jalur pendakian yang sebaiknya saya ambil, yang ke arah bendera putih. Kini jalurnya memang bercabang dan tanahnya makin gundul.
Alhamdulillah, sambil memegangi kedua lutut dan nafas tersengal-sengal, saya akhirnya menginjak tanah yang gundul, padat, dan datar, dengan pohon-pohon cantigi tumbuh tak teratur di beberapa tempat. Saya sudah mencapai puncak Gunung Batok!
Melihat kembali ke bawah yang seperti tegak lurus, saya seperti tak percaya bisa mendaki sampai sejauh ini. Terlebih di sepanjang jalur pendakian tadi tidak ada sedikit pun jalur datar yang saya temui. Waktu menunjuk pukul 11.15. Jadi, ternyata kami butuh waktu 2 jam 15 menit untuk pendakian ini, karena tadi kami naik sekitar pukul 9 pagi.