Kami mampir ke sebuah area yang lebih terbuka, bekas penambangan pasir. Dari sini ternyata lebih bagus untuk berfoto-foto dengan latar belakang Merapi mengepul daripada dekat bungker tadi.
Perjalanan dilanjutkan ke arah selatan, dengan kontur tanah yang makin menurun, dan begitu membelok ke kiri berpapasan dengan truk-truk pengangkut pasir, kami sampai di area lapang dengan sebuah bongkahan batu besar yang menjadi landmark. Ini rupanya yang disebut Batu Alien.

Batu Alien yang lebih mirip si hidung pesek Voldemort.
Batu sebesar gajah ini konon terlontar dari gunung saat Merapi meletus, dan menancap di lokasi ini dengan punggungnya yang seperti sirip hiu mengarah ke atas. Untuk memperoleh gambaran wajah alien, Slamet menunjukkan dari angle mana saya harus memandang batu itu. Wajah batu yang memunggungi gunung itu kemudian terlihat mempunyai hidung yang pesek, mata kanan yang tipis membuka, dan mata kiri yang lebih kecil dan agak menyipit. Kalau mau dibayangkan, tekstur wajah alien yang gepeng ini menurut saya lebih mirip wajah Voldemort, musuh utama Harry Potter. Jadi, kenapa namanya bukan Batu Voldemort saja?

Selesai bencana, tinggallah debu dan pasir.
Tapi hal yang lebih menarik ada di sebelah utara batu ini. Sebuah cekungan lembah mirip sungai, ramai dengan penambangan pasir dan truk-truk hilir mudik, dengan latar belakang Merapi mengepul. Truk-truk pasir itu juga yang sesekali menghalangi atau berpapasan dengan rute tur jip kami begitu kami turun lagi untuk menuju Museum Merapi. Sejak tadi, saya hanya berpapasan dengan satu jip Willys yang membawa satu keluarga berjumlah enam orang. Mungkin karena ini Senin, orang-orang sudah masuk kerja. “Kemarin Minggu ramai, tapi cuacanya mendung, tidak sebagus ini,” terang Slamet.
Menuju Museum Merapi, jalan kampung semakin bagus, beraspal mulus, dan rimbun dengan pohon mahoni, sengon, bambu, dan alang-alang. Tidak ada pohon jati di ketinggian ini, dan juga tidak ada kebun sayur. Rumah-rumah yang rusak dan ditinggal pemiliknya saya temui satu-dua, berselang-seling dengan bangunan-bangunan rumah baru di beberapa lokasi terpencar. Entah mereka membangun secara resmi atau diam-diam, letusan Merapi memang membuat dilema bagi penduduk yang tinggal di lereng gunung ini. Dulu, pekerjaan mereka sehari-hari adalah beternak sapi, dengan tiap keluarga punya lahan yang cukup luas. Slamet misalnya, punya lima sapi dan pekarangan seluas 3 hektar.
Letusan Merapi membuat mereka mengungsi, meninggalkan kampung halaman dan juga ribuan sapi yang tak sempat mereka selamatkan. Pemerintah menyediakan lahan relokasi beberapa kilometer ke selatan, dan setiap keluarga disediakan rumah dan tanah seluas 100 meter persegi. Tanah-tanah yang ada di lereng ini berniat dibeli pemerintah, namun belum ada kesepakatan harga dengan penduduk. Masalah utamanya, karena lahan di tempat relokasi dirasa kurang luas untuk beternak. Sementara, untuk berubah profesi menjadi petani bagi mereka bukan hal yang mudah. Mereka juga belum setuju dengan harga beli tanah yang ditawarkan pemerintah, yang hanya Rp 70 ribu per meter persegi. “Soalnya, untuk membeli tanah yang baru di daerah yang lebih aman, harganya sudah Rp 250 ribu per meter persegi.”

Rombongan turis satu-satunya yang kami temui pagi ini.