Kiri ke kanan: Gunung Bromo, Batok, dan Semeru
Indonesia, Journey

Mendadak Batok

Nah, saat memotret itu, kami melihat kilatan lampu dan gerakan-gerakan di puncak Gunung Batok, yang ternyata berasal dari lampu kamera beberapa pendaki. Saya sudah kelima kali ini menjelajahi wilayah Bromo-Tengger, namun belum pernah sekalipun mendaki gunung yang tepat berada di samping Bromo ini. Di kunjungan sebelumnya, Pak Mul pernah memberitahu tentang jalur-jalur pendakian menuju puncak Gunung Batok. Tandanya adalah adanya garis-garis jalur treking yang mengarah ke puncak, di lereng-lereng itu. Namun karena sejak semalam kami tidak tidur meliput Festival Kasada di Pura Poten yang juga tak jauh dari Gunung Batok, pagi itu kami memutuskan untuk pulang dulu beristirahat di Ngadas. Baru esoknya, atau pagi ini, kami memutuskan untuk mendaki.

Menikmati sunrise Gunung Bromo

Sunrise Bromo akan lebih indah kalau bisa dinikmati berdua. Atau sekurangnya ada yang motoin.

Pak Mul memarkir jipnya di samping Pura Poten, di batas yang diperbolehkan untuk jip dan motor. Dari titik ini, wisatawan yang ingin mendaki anak tangga Bromo hingga ke bibir kawah, mesti naik kuda sewa atau berjalan kaki. Dan pagi ini para tukang kuda rupanya tengah menangguk rezeki karena banyak pengunjung hendak menuju kawah Bromo yang mengepulkan asap putih. Sepertinya cuma kami berdua yang punya tujuan berbeda.

Gunung Batok berdiri kokoh di hadapan kami. Lereng-lerengnya yang berselang-seling dengan jurang, membentuk alur-alur seperti gunung yang bekas dicakar godzilla. Barulah saat berdiri di bawah kakinya ini, saya menyadari gunung ini tinggi dan besar sekali, dengan lereng-lerengnya yang menanjak curam. Sangat kontras dengan saat melihatnya dari jauh –atau dari tangga Bromo– yang terlihat kecil dan pendek. Peluh mulai mengalir di dahi, dan keraguan pun muncul. Bisakah saya yang bukan pendaki ini mendaki hingga puncaknya?

Gunung Batok, TNBTS

Langit masih membiru sempurna. Tapi kenapa Gunung Batok ini tinggi sekali?

Ya, saya bukan pendaki gunung, dan juga tidak pernah mengklaim diri sebagai pendaki, meski saya telah menapaki puncak Gunung Anak Krakatau, Sundoro, Bromo, Mahawu, dan kawah Gunung Lokon. Semua pendakian itu, dan juga sekarang ini, bisa dibilang impulsif atau dadakan, karena memang tidak ada rencana sebelumnya. Hanya karena ‘ingin’ saja, lalu mendaki. Sudah tentu, ini tidak patut ditiru.

Kami menyeberangi sebuah ceruk berpasir begitu melihat ada jalur treking ke atas di salah satu lereng di depan kami. Pak Mul memimpin di depan. Dia membawa backpack berisi bekal makan dan minum, dan juga tas kamera DSLR saya. Saya hanya membawa iPhone, masker, sarung tangan, dan sebotol air minum.

Namun setelah beberapa langkah, jalur treking itu ternyata menyeberang ke lereng di sisi kanan. Memang kemudian kami melihat, di lereng itu terdapat jalur treking yang memanjang hingga ke atas. Sementara lereng yang kami daki ini, jalur ke atasnya tidak ada lagi. Kalau dari jauh, akan lebih mudah melihat apakah jalur-jalur treking itu sampai ke puncak. Tidak semua lereng mempunyai jalur treking. Kalau tidak ada jalurnya, kemungkinan besar jalur itu sangat curam sehingga susah atau tidak bisa didaki.

Ilalang kering dan tanaman pakis pendek kini memenuhi jalur treking di depan saya. Jalurnya tak lebih dari lebar satu lengan. Di bagian tengahnya, selebar ukuran telapak kaki, berupa ceruk sedalam betis, persis seperti bekas perosokan jalur ban sepeda motor kalau melalui jalan tanah becek. Mungkin ini jalur aliran air dari atas, mungkin juga jalur treking. Untuk mendaki, kita mesti menapaki sisi kanan atau kiri ceruk ini secara zigzag, tergantung di bagian mana yang lebih nyaman dan aman diinjak. Kedua tangan membantu naik dengan cara memegang ilalang atau pakis meranggas yang kira-kira akarnya masih kuat. Mendaki dengan menapaki ceruk itu akan lebih berat karena penuh oleh debu dan lurus menanjak sehingga pendakian jadi berat karena kita akan sering merosot.

Pura Poten di Lautan Pasir Gunung Bromo

Pura Poten dan jip-jip yang tampak makin mengecil di bawah.

Pak Mul sudah sekitar sepuluh meter di atas saya, meninggalkan kepulan debu yang sebagian mengendap, sebagian lagi mungkin masih beterbangan dan menempel ke badan atau masuk ke hidung tanpa saya sadari. Saya memasang masker kain yang diberi Bu Mul tadi pagi, namun ternyata timbul masalah lain. Saya lebih susah bernafas dan hidung serta mulut menjadi panas, sehingga tidak nyaman. Masker itu terpaksa saya lepas lagi. Memang, saya jadi banyak ‘makan debu’, tapi dengan memalingkan pandangan dan menghirup udara segar, hal itu tak begitu jadi masalah.

Segera saya sadari, lereng gunung ini tidak selandai yang saya duga sebelumnya. Saat dilihat dari jauh, sepertinya kemiringan lereng ini 45 derajat. Tapi begitu didaki, sepertinya kemiringannya 60 derajat. Dan memandang ke atas sana, sepertinya kami tidak akan menemui jalur datar sebagai ‘bonus’.

Pak Mul sudah menghilang di atas sana, dan saya jadi waswas. “Paak, tunggu saya di situ ya. Jangan naik dulu!” Saya berteriak untuk mengingatkannya.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *