Indonesia, Journey

Jakarta 360 Derajat

Monumen-Nasional-Monas-landmark-Jakarta

Setiap hari ribuan orang melewatinya. Tapi, siapa yang peduli?

 

Monumen Nasional, atau Monas, mungkin sebuah ironi. Terletak di sebuah taman megah dan rimbun seluas 90 hektar tepat di jantung Jakarta, dan tiap hari dilewati ribuan orang, tapi coba tanya, siapa di antara mereka yang pernah berkunjung dan naik ke puncaknya? Apalagi jika ditanya dari mana orang bisa masuk dan naik ke Monas. Pasti yang tahu akan sama sedikitnya.

Jasa-tukang-foto-keliling-di-Monas

Mesti kreatif agar pengunjung bisa memegang emas Monas.

Yang sering berkunjung ke Monas dan ‘menyelamatkannya’ mungkin hanya anak-anak sekolah yang tengah mendapat tugas pelajaran IPS, atau anak-anak sekolah dari luar kota yang darmawisata. Dan tentu saja, para pedagang asongan, yang sering kucing-kucingan dengan satpam Monas, tak peduli pagi, siang, atau malam.

Proses-pembuatan-tugu-api-emas-Monas

Proses pembuatan api emas.

Dimulai pembangunannya 17 Agustus 1961 atas perintah Presiden Soekarno, Monas selesai dibangun tahun 1967, namun baru dibuka untuk publik tahun 1975. Bangunan setinggi 132 meter ini mempunyai puncak berbentuk nyala api yang terbuat dari 14,5 ton perunggu berlapis 50 kilogram emas. Desain Monas melambangkan lingga dan yoni, perpaduan elemen maskulin dan feminin dalam konsep Hindu-Jawa. Meski, kadang sering ‘dihaluskan’ sebagai lambang lesung dan alu. Dengan tiket masuk Rp 20.000, kita bisa masuk ke bagian yoni ini dan juga naik melalui satu-satunya lift hingga ke menara pandang di puncak, sedikit di bawah api emas.

Anak-anak-sekolah-pengunjung-utama-Monas

Tak sabar menunggu giliran meneropong Jakarta.

Di bagian yoni terdapat Ruang Kemerdekaan yang merupakan amfiteater. Di sini kita bisa mendengarkan rekaman suara Ir. Soekarno sewaktu membacakan teks proklamasi. Ruangan bawahnya adalah Museum Sejarah Nasional, tempat yang sejuk dan luas, yang keempat sisinya berisi diorama perjalanan bangsa Indonesia, dan juga beberapa panel yang memamerkan proses pembangunan Monas.

Monas-saat-bulan-purnama

Pernahkah kamu menikmati Monas saat purnama?

Bagian puncaknya menawarkan pandangan ke empat penjuru mata angin Jakarta, dilengkapi 4 teropong pandang di setiap sudut. Jika cuaca cerah, di sebelah utara kita bisa melihat Laut Jawa, di sebelah selatan bisa melihat Gunung Salak. Sayangnya, menara pandang ini dipagari oleh jeruji-jeruji baja, sehingga menyulitkan bagi yang ingin memotret. Apalagi bila postur anda kecil. Dari menara pandang ini ironisnya kita juga tidak bisa melihat emas yang tepat berada di atas kepala kita, karena satu-satunya pintu menuju api emas itu terkunci, dan hanya dibuka saat petugas membersihkan api emas, yang kita tak tahu kapan jadwalnya.

Meski agak jauh dari sempurna, begitu turun dari puncak dan menjelajahi taman Monas yang luas, mungkin anda akan mendapat ide bahwa ini adalah tempat yang sempurna untuk jogging, membawa keluarga jalan-jalan di sore hari, atau untuk tempat berfoto-foto. [T]

 

Standard
Indonesia, Journey

Menjelajah 12 Destinasi Instagrammable di Kaki Langit

Watu-Goyang-Desa-Wisata-Kakilangit-Bantul-Jogja

Bagaimana ceritanya sebuah desa bisa punya begitu banyak spot wisata yang semuanya asyik untuk foto-foto? Saya mencoba menelusurinya selama tiga hari, dan ternyata waktunya masih kurang!

 

Langit di ufuk timur yang terhalang ranting-ranting pohon jati yang meranggas di depan Homestay Joyo tempat saya menginap itu tampak mulai terang. Kepanikan pun mulai merambat dalam diri saya. Pasti bakal telat nih mengejar sunrise dan kabut di Kebun Buah Mangunan! Padahal ini baru pukul 5 pagi. Tapi kok langit sudah terang begitu ya?

Watu-Goyang-Desa-Wisata-Kakilangit-Bantul-Jogja

Sore yang berbunga-bunga di Watu Goyang.

Untungnya dua pengojek yang kami tunggu, Mas Kencrung dan Pak Parman, segera muncul. Mereka memang sudah kami beritahu tadi malam untuk menjemput saya dan Mas Johan, teman seperjalanan, sehabis subuh ini. Mereka bukan pengojek, melainkan dua staf sekretariat Desa Wisata Kaki Langit -nama keren atau ‘brand‘ untuk destinasi wisata Desa Mangunan- yang menawarkan diri untuk mengantar kami berkeliling, setelah tahu kami tidak membawa kendaraan sendiri.

Pemandu-wisata-di-Watu-Goyang-Kakilangit-Bantul-Jogja

Pemandu wisata lokal sudah mulai banyak untuk membantu para turis yang perlu informasi lebih.

Kemarin sore mereka sudah mengantar kami untuk melihat sunset dan kompleks makam para sultan Mataram di Imogiri dari ketinggian di Batu Goyang. Meski kami kurang beruntung karena langitnya mendung, tapi saya menikmati sekali suasana sejuk dan berangin di bukit itu, dan berhasil menggoyangkan dua batu besar yang saling menumpuk di bibir puncak bukit. Sungguh ajaib, kedua batu itu tidak menggelundung ke lembah sana, meskipun sudah digoyang-goyang oleh para wisatawan, entah sudah berapa ribu kali.

Memanfaatkan Bukit, Jurang, dan Lembah

Langit sudah benar-benar terang ketika kami sampai di pintu masuk Kebun Buah Mangunan. Setelah membayar tiket masuk Rp 6.000 per orang, ternyata kami masih harus masuk agak jauh lagi untuk sampai ke ujung bukit, tempat untuk memandang kabut. Kebun buahnya sendiri tak tampak seperti kebun buah karena tidak ada pohon yang tengah berbuah di akhir Oktober ini.

Menunggu-kabut-Kebun-Buah-Mangunan-Desa-Wisata-Kakilangit-Bantul-Jogja

Setia menunggu kabut yang tak kunjung datang.

Ini Minggu pagi dan undak-undakan yang menurun hingga ke bibir bukit yang hanya dipagari bambu itu ramai sekali oleh para pengunjung yang sebagian besar anak-anak muda generasi milenial. Mereka sibuk berfoto-foto, atau duduk-duduk di undakan dan beberapa gazebo, menunggu matahari yang belum muncul, dan belum tahu juga dari arah mana akan muncul. Dan, oh iya, di mana gerangan kabutnya, yang menjadi ikon di foto-foto instagram tentang tempat ini?

Sepertinya saya tidak beruntung kali ini. Lembah curam di depan pagar bambu itu bisa saya lihat dengan jelas, dengan sungai yang menyisakan sedikit airnya, mengular hingga menghilang di balik bukit di depan sana. Rumah-rumah di Desa Sriharjo yang ada di lembah juga terlihat dengan jelas. Entah bagaimana caranya bisa ke desa itu, karena lembah di bawah sana itu dalam sekali dan tidak mungkin turun dari bukit ini. Pasti memakai jalan memutar.

Matahari yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dari balik kabut tipis dan ternyata sudah cukup tinggi, dari arah kiri kami, terhalang dahan dan ranting-ranting pohon jati yang meranggas. Ooh, berarti mungkin dari spot ini yang dicari itu kabutnya, bukan sunrise-nya.

“Biasanya kabut tebal muncul saat musim hujan, Mas. Sekarang ini di Mangunan belum sekalipun hujan,” terang Pak Parman, lelaki berambut putih yang saya taksir usianya sekitar 65 tahun itu.

Kami pun memutuskan untuk pindah ke lokasi foto-foto yang lain. Setelah hampir setahun ini mem-branding diri dengan nama ‘Desa Wisata Kaki Langit’, Mangunan, yang berada di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini punya sekurangnya 12 destinasi wisata digital di berbagai sudut desa, plus di Desa Muntuk yang menjadi tetangganya. ‘Destinasi digital’ ini maksudnya adalah destinasi yang heboh di dunia maya, viral di medsos, dan ngehits di instagram. Sejak setahun lalu Kementerian Pariwisata RI menggaungkan kampanye ini dan punya target membuat 100 destinasi digital di seluruh Indonesia untuk menggaet lebih banyak lagi wisatawan.

Selain Kebun Buah Mangunan dan Watu Goyang, masih ada Jurang Tembelan, Bukit Mojo, Bukit Panguk, Watu Lawang, Watu Mabur, Pintu Langit, Lintang Sewu, Puncak Becici, Hutan Pinus, serta Watu Sewu daaan… Rumah Hobbit! (Kemudian saya tahu, spot hutan pinusnya pun ada empat: Hutan Pinus Mangunan, Pinus Sari, Pinus Asri, dan Pinus Pengger. Dua yang terakhir ini masuk Desa Muntuk). Belum dihitung Pasar Kaki Langit yang digagas Genpi Jogja, yang buka setiap Sabtu dan Minggu pagi pukul 6 hingga 12. Lalu ada wisata kuliner, wisata jelajah desa dengan jip, dan wisata kerajinan.

Bagaimana sebuah desa bisa punya spot wisata sebanyak itu, dan bagaimana saya akan bisa menghabiskannya dalam waktu 3 hari 2 malam ini, nantilah dipikir sambil jalan. Kalau bisa sih kami jelajahi semuanya!

Jurang-Tembelan-Desa-Wisata-Kakilangit-Bantul-Jogja

Berpakaian dengan warna mencolok mencegah model tersamar dari latar belakang.

Pilihan destinasi berikutnya adalah ke Jurang Tembelan, yang tak jauh dari kebun buah ini. Hanya 5 menit berkendara, kami pun sampai. Tiket masuknya hanya Rp 2.500, dan harga yang sama juga berlaku untuk destinasi-destinasi lainnya. “Yang berbeda cuma di kebun buah tadi, karena dikelola oleh Dinas Perkebunan, bukan oleh desa,” terang Mas Kencrung yang memboncengkan Mas Johan.

Standard
Indonesia, Journey

10 Destinasi Wajib Kunjung di Swiss van Java

Kampung-Sampireun-Garut-di-waktu-pagi

Dibanding Bandung, Garut tidaklah crowded, serta menawarkan banyak tempat unik dan aktivitas asyik untuk dikunjungi, bahkan saat weekend.

 

Selalu menyenangkan untuk kembali dan kembali lagi ke Garut. Apalagi jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 3-4 jam naik bis umum dari Jakarta. Sebagian orang suka dengan dodolnya yang sudah menjadi trade-mark Garut sejak lama. Yang lain suka dengan suasana resor Kampung Sampireun yang asri dan benar-benar ‘Sunda’. Saya sendiri lebih suka Cipanas, di mana deretan penginapan, resor, hingga fasilitas umum semuanya menawarkan keasyikan yang sama: air panas alami yang membuat badan jadi relaks.

Yakin deh, kalau cuma sekali saja ke sana saat akhir pekan, daftar tempat di bawah ini nggak akan bisa semuanya dikunjungi. Apalagi kalau ditambah hingga ke Pantai Pamengpeuk atau Pantai Santolo di ujung selatan Kabupaten Garut, yang perlu waktu 2-3 jam sendiri dari kota Garut.

1. Situ dan Candi Cangkuang

Ini obyek wisata pertama yang akan dijumpai, beberapa kilometer sebelum kita masuk ke kota Garut. Situ (danau) Cangkuang dengan sebuah candi Hindu di pulau di tengahnya ini  sebenarnya tempat wisata untuk ‘orang biasa’ yang hendak berziarah. Tapi asyik juga kalau kita mampir untuk menikmati keunikan rakit penyeberangannya. Rakit bambu ini panjangnya sekitar 30 meter, dan bisa mengangkut puluhan orang. Sambil menyeberang, iringan musik dari grup pengamen menemani kita menikmati panorama sekitar danau. Usahakan datang ke sini pagi sekitar jam 8-9.

Danau-Situ-Cangkuang-Garut-yang-fotogenik

Danau Cangkuang dan latar belakangnya yang bikin sejuk mata.

Candi Cangkuang, yang ada di tengah danau, diperkirakan berasal dari abad ke-8. Di dalamnya ada arca Dewa Shiwa berukuran kecil, sedang bersila di atas lembu Nandi. Uniknya, di samping candi ini terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad, yang menyebarkan agama Islam di daerah ini pada abad ke-17. Ia mempunyai keturunan 6 anak perempuan dan 1 laki-laki. Rumah-rumah anak perempuan yang semuanya enam, bentuknya rumah semi-panggung, mengelilingi sebuah masjid kecil, membentuk sebuah kampung yang dinamakan Kampung Pulo. Jumlah rumah ini dipertahankan tetap enam, sehingga jika ada keturunan Embah Dalem yang membentuk keluarga baru, ia mesti keluar dari kampung ini.

2. Cipanas dan Gunung Guntur

Beberapa kilometer dari Situ Cangkuang, begitu sampai di Jalan Tarogong Raya, beloklah ke kanan begitu ada penunjuk jalan ke arah Cipanas. Sebagian besar orang yang berwisata ke Garut menginap di daerah ini, dan jarang sekali yang menginap di kota Garut. Alasannya sederhana: Cipanas mudah dijangkau angkutan umum, banyak tempat makan, dan terutama… sumber air panas alami yang melimpah.

Tersedia banyak tempat menginap mulai dari resor mewah seperti Kampung Sumber Alam (www.resort-kampungsumberalam.com), Hotel Danau Deriza, Tirtagangga, Sabda Alam, dan sebagainya, sampai penginapan murah bertarif 75 ribu per malam. Resor dan hotel-hotel ini memang rada susah booking-nya kalau mendadak, apalagi kalau weekend. Tapi kalau mau go show, tidak usah khawatir karena penginapan di sini banyak sekali, bahkan sampai masuk ke gang-gang.

Kampung-Sumber-Alam-Cipanas-Garut-resort-terbaik

Beginilah suasana resor Kampung Sumber Alam, Cipanas.

Yang unik ya itu tadi, dari resor kelas atas sampai penginapan murmer ini, semuanya menyediakan fasilitas air panas mengandung belerang, langsung dari sumbernya. Pemandian-pemandian umum juga buka hampir 24 jam. Jangan heran kalau ada orang berenang jam 2 atau jam 4 pagi. Semuanya itu mungkin karena airnya panas. Cipanas juga tempat menginap favorit para pendaki yang hendak mendaki Gunung Guntur atau sekedar kemping di Curug Citiis, yang terletak di belakang penginapan-penginapan ini.

3. Masjid Art Deco

Letaknya memang agak jauh, di Dusun Cipari, Desa Cimaragas, Kecamatan Pangatikan. Kira-kira 45 menit berkendara ke arah timur laut dari kota Garut. Tapi kalau menyukai bangunan-bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda, pastinya mesti ke sini.

Masjid-Art-Deco-keren-di-Cipari-Garut

Masjid Art Deco menyambut mentari pagi.

Bangunan masjid berwarna krem ini bentuknya memang aneh, bangunannya kotak memanjang. Tembok bagian bawah disusun dari pondasi batu kali, sedangkan bagian atasnya campuran pasir dan batu kapur, yang konon direkatkan memakai putih telur. Di atas jendela-jendela masjid ini ada ventilasi, yang dihiasi dengan garis-garis membujur mengelilingi bangunan, yang menjadi ciri gaya art deco, sebuah aliran arsitektur yang populer di era 1920-1930-an. Lampu-lampu gantungnya mirip dengan yang ada di film-film Perang Dunia II. Di atas pintu utama menjulang menara masjid setinggi 17 meter yang berbentuk kubah segi delapan. Di atasnya lagi ada tiang setinggi 8 meter, dengan lambang bulan sabit dan bintang. Konon masjid bergaya art deco ini hanya ada dua di Indonesia. Yang pertama masjid ini, yang kedua Masjid Sumobito di Mojowarno, Mojokerto, Jawa Timur.

Masjid-Art-Deco-Cipari-Garut

Dari kejauhan sudah terlihat ciri khasnya.

Masjid yang berdiri tahun 1935 ini didesain oleh Ir. Abikusno Tjokrosuyoso, teman Ir. Soekarno. Sejak dulu masjid ini memang menjadi tempat rapat-rapat organisasi Sarekat Islam. Tak heran masjidnya pun bernama Masjid As-Syura (tempat bermusyawarah), hanya saja masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Masjid Cipari. Satu fakta unik yang lain, Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI/TII, dulunya termasuk salah seorang yang terlibat dalam pembangunan masjid ini.

4. Gunung Papandayan

Dari kota Garut ke selatan, kita akan sampai ke sebuah pertigaan. Yang ke kiri menuju Cikajang, ke kanan mengarah ke Gunung Papandayan. Meski puncak Gunung Papandayan ini cukup tinggi, 2.665 meter di atas permukaan laut, nggak usah jiper dulu. Nggak perlu naik sampai puncaknya, karena kawah-kawahnya yang keren tidak terletak di puncak, melainkan di pinggangnya, tak jauh dari tempat parkir kendaraan.

Kawah-Baru-Papandayan-warna-airnya-eksotis

Warna air Kawah Baru Papandayan yang eksotis dan menyihir pengunjung.

Kawah Mas, Kawah Manuk, Kawah Nangklak, dan Kawah Baru –yang terbentuk dari letusan tahun 2003 lalu– tak henti-hentinya menggelegak dan mengeluarkan asap berbau belerang. Kalau status gunungnya bukan ‘Awas!’ (artinya berbahaya), asyik banget lokasi ini untuk berfoto-foto.

Standard
Ngarai Sianok Bukittinggi
Indonesia, Journey

Cholesterol Journey

Jam-Gadang-Bukittinggi-landmark-kota

Kenangan menyantap makanan yang aneh-aneh membuat saya selalu ingin kembali ke kota ini.

 

Rasanya aneh saja kalau saya belum pernah ke Bukittinggi. Padahal kota ini merupakan destinasi wisata  paling terkenal di Pulau Sumatra, bahkan menjadi tujuan utama wisatawan Malaysia. Makanya, setelah membaca  artikel-artikel pengalaman perjalanan ke Bukittinggi di www.cimbuak.net, dan melihat foto-foto keindahan alam Sumatra Barat di www.west-sumatra.com, keinginan saya pun makin kuat. Libur panjang Agustus lalu, saya pun mengunjungi kota perbukitan yang konon katanya paling cantik di dunia ini.

Mampir ke SMS

Keluar dari Bandara Internasional Minangkabau, saya segera disambut Jhoni (35), sopir dari Hotel Bukittinggi Hills, di mana saya akan menginap.

Sate-Mak-Sukur-sate-padang-legendaris

Sate Mak Sukur yang tidak pelit seperti di Jakarta.

“Bukittinggi masih sekitar 90 kilometer lagi ke arah utara,” tutur bapak dua anak yang sudah delapan tahun bekerja di hotel ini. Itu kalau memakai rute yang melewati Lembah Anai dan kota Padang Panjang. Kalau memakai rute Pariaman-Danau Maninjau-Kelok 44, jaraknya bisa mencapai 170 kilometer. Saya tidak memilihnya, takut menjadi tua di jalan. Lagipula ada beberapa tempat yang akan saya kunjungi di sepanjang rute pertama. Itu pula sebabnya saya memilih jadwal penerbangan pagi, agar bisa mampir-mampir dulu sebelum check-in.

Air-Terjun-Lembah-Anai-Sumatera-Barat

Mengabadikan kenangan keluarga di Air Terjun Lembah Anai.

Jalan yang kami lalui cukup lebar dan mulus, dan mulai berkelok-kelok serta menanjak setelah melewati air terjun Lembah Anai. Air terjun yang ada di kiri jalan ini, sekitar 10 kilometer sebelum kota Padang Panjang, konon tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang.

Menjelang masuk kota Padang Panjang, kami mampir ke Sate Mak Syukur (SMS), yang cabang-cabangnya juga tersebar di Jakarta. Restoran penuh oleh pengunjung, dan kami mendapat tempat di lantai dua. Begitu sate padang dihidangkan, saya baru sadar, kalau selama ini saya ‘tertipu’ oleh penjual sate padang keliling di Jakarta. Sate di SMS ini besar-besar, mungkin satu potong sate bisa menjadi satu tusuk sate kalau di Jakarta!

Padang Panjang kotanya kecil. Kami melewatkan saja Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) serta Perkampungan Minangkabau yang ada di pusat kota, karena tak lama kemudian, jalanan macet. Ternyata, Senin ini adalah hari pasar di Koto Baru, pusat sayur-mayur di Sumatra Barat. Truk-truk pengangkut sayur melakukan bongkar muat di pinggir jalan.

Untuk melepaskan diri sementara dari kemacetan, sebelum pasar, kami belok kiri ke Pandai Sikek, pusat kerajinan songket dan ukiran kayu. Di sini ada beberapa toko yang menjual tenun songket, meski orang-orang yang mengerjakan tenunannya sendiri tidak saya lihat, karena ada di desa-desa sekitar sini. Satu set sarung bantal, yang terdiri dari 4 sarung dan 1 taplak meja, dijual Rp450 ribu. Satu set kebaya warna pink dijual Rp475 ribu, sedangkan sarung songket untuk bawahan dijual Rp1,1 juta.  “Harganya agak mahal, karena menenun songket butuh waktu dan keterampilan khusus,” kata Erma Yulnita, di toko Satu Karya. “Untuk membuat satu selendang saja dibutuhkan 850 baris benang, sementara untuk sarung sampai 2.000 benang.”

Berbeda dengan kain biasa, yang makin mahal kalau memakai banyak jenis benang, untuk kain songket justru sebaliknya. Yang memakai satu jenis benang malah yang paling mahal, karena membuatnya lebih sulit, dan juga hasilnya makin halus. Begitu kami hendak pergi, satu bis berisi rombongan ibu-ibu dari Malaysia, mampir ke toko itu.

Jam Gadang, Pusat Keramaian

Bukittinggi terletak di ketinggian 1.000 meter di atas pemukaan laut, jadi hawanya sejuk dan nyaman untuk berjalan-jalan, sekalipun siang hari. Di selatan dan tenggara kota membentang Ngarai Sianok, di belakangnya menjulang Gunung Singgalang. Di sebelah timur terletak Gunung Marapi, sedangkan di utara ada sisa-sisa benteng Fort de Kock dan kebun binatang. Berbeda dengan alun-alun pusat kota lain yang biasanya besar, pusat kota Bukittinggi kecil saja, berupa taman beton berukuran sekitar 25 x 25 meter persegi. Di sini berdiri kokoh Jam Gadang, landmark kota. Kontur tanah di sini berjenjang dan juga tidak landai, sehingga kadang bangunan Jam Gadang tampak miring seperti Menara Pisa.

Gunung Singgalang dan kabut putih yang menutupi Ngarai Sianok.

Gunung Singgalang dan kabut putih yang menutupi Ngarai Sianok.

Kalau arah menjadi hal penting, maka sebagai patokan, Hotel Bukittinggi Hills menghadap ke utara –meski perasaan saya bilang hotel itu  menghadap ke barat– sedangkan pagar masuk bangunan Jam Gadang, yang digembok, berada di sisi timur.

Bukittinggi juga kota yang kecil. Pusat kotanya bisa dicapai hanya dengan jalan kaki. Museum Bung Hatta, Rumah Makan Simpang Raya, ada di sekeliling Jam Gadang. Jalan utama di kota ini, Jl. Ahmad Yani, merupakan pusat kafe dan hotel-hotel kecil. Sedangkan Jl. Sudirman, pusat makan di malam hari, juga hanya 5 menit dengan berjalan kaki dari sini.

Hari libur akhir pekan membuat suasana Jam Gadang sore itu ramai sekali oleh para pengunjung yang duduk-duduk atau berfoto, serta para pedagang. Bendi-bendi pun berjejer menunggu penumpang. Memang tak ada air mancur atau burung-burung dara di sini, namun keramahan kota ini segera menyapa saya. Zainal, pedagang gelembung busa, menjadi kenalan pertama saya. Wajahnya mengingatkan saya kepada tukang cukur langganan saya di Duren Tiga, yang berasal dari Pariaman.

Mendung tak menyurutkan orang-orang ke Jam Gadang.Bangunan Jam Gadang dibuat tahun 1926 di masa kolonial Belanda. Bangunan lima tingkat ini puncaknya berujud rumah bagonjong, rumah adat Minangkabau, yang sering juga disebut rumah gadang. Tingkat dua menjadi tempat tidur para penjaganya. Konon, Jam Gadang yang berdiameter 80 cm ini merupakan hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris kota Bukittinggi waktu itu. Rook Maker lalu memerintahkan arsitek dan pemborong lokal, Yazid Abidin dan Haji Moran, untuk membuat bangunannya, yang setinggi 26 meter dan menghabiskan biaya 3.000 gulden.

Standard
Indonesia, Journey

Solo Masih Menari

Pura-Mangkunegaran-Solo-tempat-latihan-menari

Dengan kesederhanaannya, sebuah sanggar terus berkarya untuk melestarikan tari tradisional Jawa.

 

Ini yang ketiga kalinya dalam tiga hari terakhir saya mampir ke sini. Seperti biasa, pintu gerbang utama di sebelah selatan selalu terkunci – tak ada orang yang bisa masuk lewat pintu ini. Pintu gerbang sebelah barat selalu terbuka, dengan penjagaan yang longgar, sehingga orang-orang bisa masuk melalui pintu ini. Pintu gerbang sebelah timur hanya sedikit terbuka, namun orang juga leluasa masuk dari sini. Dan saya masuk dari pintu ini.

Begitu masuk, sebuah halaman yang luas di depan sebuah pendopo besar yang menghadap ke selatan segera menyambut. Di tengah halaman ini ada sebuah kolam berbentuk daun semanggi, dengan ikan-ikan besar di dalamnya yang beberapa kali menggelepakkan ekornya. Di atas kolam ada sebuah air mancur yang keluar dari mulut seekor angsa emas yang dipegang lehernya oleh seorang bocah lelaki. Tak jauh dari sini, dekat pintu gerbang utama, ada garasi berisi mobil-mobil antik.

Di sebelah timur dan barat pendopo ada bangsal yang berisi ruang-ruang kerja, sedangkan di belakang pendopo merupakan teras sebuah rumah yang memajang berbagai lukisan besar, empat buah patung bergaya kolonial, dan dua patung singa. Sebuah plakat wana merah yang bertarikh 1866 dengan lambang MN dan sebuah mahkota menunjukkan dengan jelas kapan rumah ini dibangun. Di belakang rumah ini tampaknya masih ada rumah-rumah lain, namun tembok yang mengelilinginya cukup tinggi dan tertutup, sehingga menyurutkan saya untuk memasukinya.

Ini adalah Pura Mangkunegaran, salah satu dari dua istana yang ada di Solo. Istana lainnya adalah Kraton Kasunanan Surakarta. Semula saya mengira suasana Pura Mangkunegaran ini seperti Kraton Yogyakarta, di mana para tamu atau turis yang datang akan dipandu oleh para guide untuk melihat-lihat isi kraton dan juga melihat aktivitas para abdi dalem di istana. Namun di sini tidak ada yang seperti itu. Tak ada loket karcis, tak ada guide. Sepi.

Bangsal Barat Pura Mangkunegaran Solo

Bangsal Barat Pura Mangkunegaran yang menampilkan sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Sebuah ruangan di bangsal sebelah barat terbuka pintunya. Di dekat pintu itu ada seorang ibu yang berjualan sate. Ruangan itu ternyata tempat penyewaan kostum wayang, dan yang menjaga Bu Juliyah.

“Yang menyewa kostum ini anak-anak yang latihan menari di Sanggar Suryo Sumirat,” tuturnya. Secara teratur sanggar tari itu mengadakan pentas, dan anak-anak menyewa kostum di sini, karena ongkos sewanya yang murah, hanya Rp 25.000. Kalau membuat kostum sendiri biayanya bisa mencapai Rp 200.000.

“Sebentar lagi anak-anak yang latihan menari juga datang. Setiap hari ada latihan, kok. Mulainya  jam 3 sore.”

Murid-murid-Sanggar-Suryo-Sumirat-berlatih-menari

Sejak kecil anak-anak perempuan berlatih menari.

Sanggar Suryo Sumirat merupakan satu-satunya sanggar tari yang ada di lingkungan kraton, dan mengadakan kursus tari baik tari klasik Jawa Solo maupun tari kreasi baru. Didirikan tahun 1982, sanggar ini tampaknya tetap low profile meski telah berulangkali mengadakan pentas berkualitas internasional dan sering ikut dalam misi mengenalkan Indonesia ke luar negeri.

“Biasanya latihan diadakan di Prangwedanan, pendopo samping yang ada di luar gerbang timur. Namun karena saat ini sedang direnovasi, latihan pindah ke pendopo utama,” tambah Bu Juliyah.

Anak-anak mulai berdatangan bersama orangtua mereka ketika saya masih asyik menikmati sate kere yang dijual Bu Marni di depan pintu penyewaan kostum ini. Betapa kontradiktif, pikir saya dalam hati. Di lingkungan kraton, yang dijual adalah sate kere (sate orang miskin). Satenya terdiri dari sate usus sapi, jeroan sapi, ginjal sapi, gembus, dan sate tempe, yang dibakar lalu disajikan bersama lontong dan bumbu kacang. Untuk semuanya itu, saya hanya membayar Rp 6.000. Yang unik, ternyata Bu Marni satu-satunya pedagang asongan yang diizinkan berjualan di sekitar pendopo. Dan yang lebih mengejutkan, dia telah berjualan sate ini selama 40 tahun!

Sanggar-Suryo-Sumirat-mempunyai-beberapa-kelas-tari

Jenis tari berbeda-beda sesuai tingkatan kelas.

Latihan menari ternyata dimulai tepat waktu. Di sisi timur pendopo, yang berlatih adalah anak-anak perempuan berusia 7-10 tahun, dan dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing sekitar 30 anak. Dua guru yang bertugas sore itu, Erni dan partner kerjanya Wanti, melatih dulu anak-anak yang lebih kecil. Gerakan tarinya sederhana, dan Erni serta Wanti masih banyak memberikan instruksi dan membetulkan gerakan tari. Para orangtua yang mengantar tampak duduk lesehan di lantai pendopo, tak jauh dari anak-anak yang latihan. Setiap kali selesai menjelaskan satu gerakan, seorang lelaki kemudian menyalakan sebuah mini compo yang ditaruh di lantai, dan sekarang dimulai praktek dengan iringan musik gamelan dari kaset.

Standard