Segera saya bisa melihat persamaan dan perbedaan Jurang Tembelan dengan Kebun Buah Mangunan. Keduanya sama-sama berada di bibir bukit, menghadap ke lembah dengan sungai meliuk yang sama. Jadi kalau di sana tidak ada kabut, di sini juga pasti tidak ada. Dari pinggir jurang ini saya bisa melihat spot kebun buah itu. Bedanya hanya sudut bukitnya saja yang kali ini menghadap selatan, dan adanya beberapa spot foto untuk swafoto, tidak ‘kosong’ seperti di kebun buah tadi.

Gaaasss!
Di bibir bukit, dari barat ke timur berjejer beberapa spot foto yang unik, mulai dari Kapal Titanik (memang pakai ‘k’) dari bambu, pesawat Perang Dunia I, pohon menara pandang, platform beton di pinggir bukit yang menurun, dan Kapal Titanik lagi. Karena letaknya di bibir bukit, berfoto-foto di sini serasa berada di awang-awang. Bayangkan kalau kabutnya tebal dan ‘menyangga’ spot-spot foto ini, pasti terlihat lebih fantastis. Apalagi kalau yang memotret pintar mengambil angle dan yang jadi model juga bisa bergaya serta memakai properti yang mendukung.
Saya mengamati, kalau ingin berfoto di sini, sebaiknya memakai baju atau terusan yang berwarna cerah seperti merah, pink, atau putih. Ini akan membuat si model tampak menonjol dan kontras dengan latar belakangnya yang cenderung berwarna hijau tua atau cokelat kusam. Kalau memakai baju warna hitam, biru tua, abu-abu, atau kombinasi dua warna yang tidak senada, ya, sayang sekali.
Karena saya dan Mas Johan termasuk generasi late baby boomers dan tidak ingin denial dengan berusaha menjadi milenial, kami duduk-duduk saja sambil memperhatikan rombongan turis dari Malaysia yang dari tadi tidak berhenti berswafoto. Saya berdecak, yang mengkreasi tempat ini pasti orang atau tim yang kreatif sekali dan punya selera humor tinggi. Di sandaran bangku kayu yang saya duduki ada tertulis ‘Kamu mau enggak jadi pacarku‘. Di bangku lainnya ada tertulis ‘Elek yo been sing penting marai kangen‘ (Jelek biarin aja yang penting bikin kangen), dan ‘Jodohku lagi OTW‘ (Jodoh saya sedang dalam perjalanan). Wkwkwkwk! Saya dan Mas Johan sampai sakit perut.

Mau nggak?
Waktu baru menunjuk pukul 7.30 ternyata. Di Pasar Kaki Langit mungkin sekarang sudah ramai orang berjualan. Tapi kami baru akan berkunjung pukul 9 nanti sekalian sarapan pagi, jadi kami pindah spot lagi. Kali ini ke Hutan Pinus Mangunan.

Ada yang tak sengaja tertangkap kamera.
Lokasi destinasi-destinasi digital di Mangunan ini cukup berjauhan, jadi lebih efektif dijangkau dengan sepeda motor atau mobil pribadi, atau ikut paket tur jip yang dikelola desa ini juga. Biaya tur jip Rp 350.000-700.000 tergantung jumlah destinasi yang dikunjungi. Yang hobi bersepeda juga boleh uji kemampuan dan stamina di sini, karena kontur jalannya yang turun-naik. Yang patut dipujikan adalah, semua jalan yang kami lalui mulus seperti baru diaspal kemarin.

Spot paling colorful di Hutan Pinus Mangunan.
Hutan Pinus Mangunan rupanya menjadi tempat piknik favorit para keluarga. Sepagi ini sudah ramai dengan anak-anak bermain ayunan dan perosotan, maupun keluarga-keluarga yang menggelar tikar dan membuka bekal piknik mereka, ataupun duduk mengelilingi meja kayu yang tersebar di beberapa sudut. Kalau tidak suka keramaian, di bagian yang paling tinggi di ujung hutan ini ada taman bunga celosia yang berwarna-warni dan instagrammable banget, dengan kursi-kursi dan meja kayu serta menara pandang yang menghadap… lembah dengan sungai meliuk tadi. Sepertinya Mangunan memang dilingkari bukit dan sungai ini, menjadikannya punya lansekap yang unik dan makin cantik dengan sentuhan kreativitas pengelola tempat wisatanya.
cakep tulisannya. mengalir. enak dibaca
Alhamdulillah, terima kasih. Kalo nggak mengalir berarti mampet. Bahaya kalo lagi musim hujan.
Ngakak pol liat lukisan api nya MasTeg. Inget jaman sekolah hihihi. Jadoel
Dan ternyata aku lebih pintar ngelukis dibanding Kang Dudi, wakakakak!
Banyak banget ya yang bisa dieksplor dari Mangunan..aku kemaren cuma ke pasarnya aja. Bawa anak, ribut ngajak pulang..
Iya banyak sekali. Saya 3 hari 2 malam saja masih kurang. Tapi dari artikel ini kira-kira bisa disimpulkan mana yang diprioritaskan kalau jalan bareng keluarga (Rumah Hobbit udah pasti). Sebaiknya memang nginap ya di homestay yang ada di Mangunan supaya lebih santai jalan-jalannya.
Menarik dan informatif
Uhuyyy! Thanks Mas Hatta dah mampir.
Pasti selalu menarik… hal baru dan di pelajari dengan seksama oleh Mas Teguh… Indonesia selalu Indah jika di kemas dengan kreativitas.
Aamiin. Ditunggu juga posting jalan-jalan Mbak Fauziah.
Wah asik nih jalan2
Yang Seribu Batu dan Rumah Hobbit terutama asyik ya kalau bawa anak-anak. Yang lain ok juga sih secara mudah diakses dengan kendaraan.
Terakhir ke Kebun Mangunan dan Pinusan Asri sekitar 3 tahun yang lalu, belum sebagus ini spot-spotnya. Foto-fotonya keren MasTeg, bikin mupeng pengen traveling beberapa hari lagi kesana. Makasih yaa…
Kalau yang Kebun Buah Mangunan cenderung ‘plain’ ya. Menurutku lebih bagus Jurang Tembelan, Bukit Panguk, Puncak Becici, terus yang must-visit itu Seribu Batu dan Rumah Hobbit. Sama Lukis Api! Selamat menjelajah.