Ngarai Sianok Bukittinggi
Indonesia, Journey

Cholesterol Journey

Tak terasa, gulai di piring saya sudah tandas, sisa tulang-tulangnya saja. Saya tinggal menghabiskan kopi untuk menghilangkan rasa pedas yang masih menyengat di mulut. Seorang ibu berpakaian pegawai negeri dan seorang pria turun dari mobil dan mereka pun memesan gulai. Tak lama kemudian, keduanya sudah sibuk menyantap gulai, dan keringat mulai keluar dari dahi. Setelah membayar makanan, saya pun minta pamit. Perut rasanya kenyang sekali, tanpa ada tanda-tanda mau ‘berontak’.

Sore hari, ketika saya kembali ke hotel, Jhoni menanyakan saya sarapan di mana. Saya bilang, saya sarapan gulai bebek di ngarai.

“Astaga, Mas berani makan gulai itik pagi-pagi? Nggak diare?”

“Nggak tuh,” jawab saya. “Malah rasanya saya jadi tahan lapar. Padahal tadi saya tidak makan siang, dan bepergian hingga ke Payakumbuh dan Batusangkar. Saya baru makan lagi menjelang magrib.”

“Mas makan apa saja, dan bayar berapa?”

Lalu saya jelaskan apa yang saya makan. Semuanya Rp 17.500.

“Waaah… murah sekali! Biasanya kalau Bu Nini tahu yang makan itu tamu dari hotel, dia mahalin. Mungkin dia tahu Mas penulis, jadi dimurahin…”

“Mungkin juga. Atau mungkin Bu Nini senang saya ajak ngobrol, sampai-sampai dia salah menghitung, hehehe!”

Buah Pinang, Obat Kuat

Seharian ke Payakumbuh, ke air terjun Lembah Harau, lalu ke Istana Pagaruyung di Batusangkar membuat perut saya lapar sekali. “Nanti kita mampir ke RM Pergaulan, ada ayam batokok dan teh telur pinang yang enak,” kata Eka dan Afrizal, supir dan co-driver angkot yang hari itu saya ‘bajak’ untuk mengantar saya.

Teh Telur Pinang, obat kuat ala Bukittinggi.

Teh Telur Pinang, obat kuat ala Bukittinggi.

RM Pergaulan terletak di daerah Manggih (manggis), tak jauh dari batas kota Bukittinggi yang ke arah Payakumbuh. Ayam batokok adalah ayam kampung yang daging bersama tulangnya digepuk, lalu digoreng dengan bumbu dan sedikit minyak. Hampir sama dengan dendeng batokok, cuma ayam batokok hanya ada di restoran ini.

Ayamnya enak sih, cuma agak alot. Yang enak malah sambal lado mudo,  serta terong goreng, yang terasa seperti daging. Teh telur pinangnya? Semula, minuman yang terdiri atas teh panas, 5 butir buah pinang muda, 1 kuning telur bebek, gula, dan susu kental manis yang diblender itu saya kira akan terasa pahit. Ternyata tidak. Hanya rasa sepet saja yang tertinggal di langit-langit mulut, selebihnya rasa manis dan bau harum seperti kalau minum STMJ.

“Orang-orang di Pariaman biasa makan buah pinang muda untuk obat kuat. Minuman ini khasiatnya juga sama,” kata Eka. Ah, nggak aneh. Di Jawa, buah pinang alias jambe juga dikunyah bersama tembakau untuk ‘obat kuat’ gigi, kata saya dalam hati. Tapi, bukankah rasanya pahit sekali? Kenapa di sini tidak pahit?

“Oh, itu karena air yang dipakai khusus,” kata Lili, penjaga warung, tanpa mau menjelaskan airnya dari mana. Karena penasaran, saya memotek satu dari setangkai buah pinang hijau segar yang tergeletak di dapur minuman. Saya gigit satu kali, air yang keluar rasanya segar sekali. Gigitan kedua, baru terasa sedikit sepet. Gigitan ketiga, ya ampun, rasanya pahit sekali!

Buah pinang itu langsung saya buang ke tempat sampah. Eka dan Afrizal tertawa terpingkal-pingkal.

Makan Gratis di Uni Lis

Esok siangnya, sebelum ke kerajinan bordir Hj. Rosma di Bonjo Panampuang, sekitar 10 km timur Bukittinggi, saya mampir dulu ke warung nasi kapau Uni Lis di Pasar Lereng  –kini disebut Pasar Wisata. Warung ini sangat terkenal di Bukittinggi, dan siang itu penuh oleh orang makan.

Standard

2 thoughts on “Cholesterol Journey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *