Indonesia, Journey

Menjelajah 12 Destinasi Instagrammable di Kaki Langit

Hutan-Pinus-Mangunan-Desa-Wisata-Kakilangit

Mumpung latar belakangnya bersih meski lagi banyak pengunjung di sini.

Kami sempat melongok ke amfiteater dan panggung hutan yang terletak di seberang jalan hutan pinus ini, dan mendapati hutan pinus mini ini justru lebih cantik, dengan bangku-bangku kayu bersusun rapi bertingkat, dan sebuah panggung di ujung paling bawah. Sayang, di sini justru tidak ada pengunjung sama sekali, jadi tidak ada ‘model’ untuk difoto. Kalau tidak ada manusianya, tempat ini jadi terasa kosong dan ada yang kurang. Lain kali kami akan membawa teman jalan wanita yang mau difoto-foto ah.

Pasar Milenial atau…?

Pasar Kaki Langit, yang terletak di belakang sekretariat desa wisata, lokasinya bersebelahan dengan amfiteater mini dan Sendang Mangunan, serta diapit homestay-homestay bergaya joglo. Jadi sebenarnya cuma 1 menit berjalan kaki dari Homestay Joyo tempat kami menginap. Pagi itu hampir separuh makanan tradisional yang dijual sudah habis. Wow, sepertinya kami telat datang nih. Kayaknya nggak sampai pukul 12 nanti warung-warung ini bakal tutup.

Pasar ini kira-kira seluas lapangan futsal, dengan warung-warung dari bambu yang tampak masih baru, meski sebenarnya sudah beroperasi sejak Desember 2017 lalu atas inisiatif Genpi Jogja. Sebelum makan, kami mesti menukar uang kami dulu di gubug Lurah Pasar, yang dijaga seorang bapak berbadan tambun berpakaian tradisional Jogja, lengkap dengan blangkonnya.

Pasar-Wisata-Kakilangit

Pak Parman menggantikan lurah pasar yang mendadak ada acara.

Pak Lurah menyediakan koin uang kayu yang bernominal 1, 2, 5, dan 10, dengan kantongnya. Angka 1 setara dengan Rp 1.000. Saya menukar Rp 50.000 (yang ternyata setelah dipakai berdua masih tersisa Rp 15.000).

Mata-uang-koin-kayu-di-Pasar-Wisata-Kakilangit

Koin yang tersisa bisa ditukar kembali dengan uang. Tapi kantongnya jangan dibawa, hahaha!

Yang dijual di sini makanan tradisional rumahan seperti nasi gudeg, bledak (nasi jagung), thiwul (pengganti nasi dari singkong parut yang dikukus), tumis-tumisan, camcao (cincau) dan kopi kampung. Makanan keringnya seperti rengginang, thiwul panggang, dan paket wedang uwuh. Itu lho, minuman tradisional Jogja semacam teh tapi terdiri dari beberapa jenis bahan seperti kulit secang, daun cengkeh, daun pala, kayu manis, jahe, plus sebongkah gula batu. Tinggal seduh dengan air panas, bahan-bahan itu pun mengembang dalam gelas, seraya mengeluarkan aroma harum dan warnanya yang merah muda keemasan. Sekali mencoba, dijamin ketagihan deh. Saya sudah pernah mencoba dan suka, jadi saya beli saja satu kemasan besar berisi lima paket kecil wedang uwuh yang sudah lengkap dengan gula batunya, hanya Rp 20.000 di warung Mbak Wanti – yang beberapa detik kemudian saya baru tahu kalau dia itu istrinya Mas Kencrung, hahaha!

Sarapan-makanan-tradisional-Jogja-di-Pasar-Wisata-Kakilangit

Sarapan pagi yang berat dengan bledak (kanan) dan teman-temannya.

Sambil menikmati bledak yang ternyata padat sekali -terlalu banyak untuk ukuran perut saya yang kecil- saya melihat bahwa yang datang ke pasar ini hampir semuanya pasangan ‘zaman old‘ yang tampaknya ingin bernostalgia dengan makanan desa atau makanan masa kecil mereka. Yang generasi milenial malah nggak nampak di sini.

“Biasanya anak-anak muda itu langsung ke tempat foto-foto, Mas. Mereka makan di warung-warung di situ juga,” tutur Wanti. “Kalau sudah dari sana mereka nggak mampir ke sini tapi langsung lewat saja.”

Suasana-Pasar-Wisata-Kakilangit

Baru pukul 10 tapi banyak makanan yang sudah habis.

Well, ini mungkin sebuah masukan juga buat para penggagas pasar digital, bagaimana caranya mendorong anak-anak muda itu supaya mau mampir dan mencicipi makanan dan minuman tradisional khas daerah mereka sendiri, bukan lagi-lagi makan mi instan dan kopi sachet.

Thiwul-jajanan-tradisional-Jogja-di-Pasar-Wisata-Kakilangit

Salah satu cara memperpanjang masa konsumsi thiwul.

Satu hal yang unik dan patut dicontoh dari Pasar Kaki Langit ini adalah, yang boleh berjualan di sini hanya penduduk yang tidak punya homestay. Jadi yang punya homestay tidak boleh buka warung, sebagai wujud pemerataan penghasilan. Ini sesuai dengan semangat kata ‘kaki langit’ juga. Selain bermakna horizon -yang cocok dengan lansekap bukit-bukit di Mangunan yang memberi pandangan hingga jauh sekali- Mas Khoirudin yang memegang akun instagram @kakilangit_mangunan dan website dewikakilangit.com, juga punya penjelasan lain.

“Kaki Langit mengandung makna ‘kaki’ yg artinya berdaya, bergerak, dan membangun bersama. Sementara ‘langit’ bermakna tinggi, yaitu cita-cita untuk membangun hidup yang lebih baik.”

Melukis Api ala Mas Ilul

Kami kedatangan teman jalan yang lain, Mas Dudi, yang menyusul dari Jakarta, dan menginap bareng kami di Homestay Joyo. Di siang yang terik di ujung kemarau ini, yang menjadi surga di sini setelah makan kenyang adalah mengambil bantal dan tiduran di kursi kayu panjang di beranda bergaya joglo ini.

Standard

14 thoughts on “Menjelajah 12 Destinasi Instagrammable di Kaki Langit

    • Iya banyak sekali. Saya 3 hari 2 malam saja masih kurang. Tapi dari artikel ini kira-kira bisa disimpulkan mana yang diprioritaskan kalau jalan bareng keluarga (Rumah Hobbit udah pasti). Sebaiknya memang nginap ya di homestay yang ada di Mangunan supaya lebih santai jalan-jalannya.

  1. Terakhir ke Kebun Mangunan dan Pinusan Asri sekitar 3 tahun yang lalu, belum sebagus ini spot-spotnya. Foto-fotonya keren MasTeg, bikin mupeng pengen traveling beberapa hari lagi kesana. Makasih yaa…

    • Kalau yang Kebun Buah Mangunan cenderung ‘plain’ ya. Menurutku lebih bagus Jurang Tembelan, Bukit Panguk, Puncak Becici, terus yang must-visit itu Seribu Batu dan Rumah Hobbit. Sama Lukis Api! Selamat menjelajah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *