Ngarai Sianok Bukittinggi
Indonesia, Journey

Cholesterol Journey

Bangunan Jam Gadang ini sangat unik, karena dibuat tanpa menggunakan besi penyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur dan pasir putih. Adonan itu dipakai sebagai perekat batu-batu, baik untuk fondasi bangunan maupun untuk dinding bangunan.

Tanda waktu jamnya juga unik, karena berangka Romawi dan angka empatnya tertulis IIII, bukan IV. Bagi warga Bukittinggi, Jam Gadang menjadi penunjuk waktu yang setia.  Setiap jam, jam ini berdentang sebanyak waktu yang ditunjukkannya, dan setiap setengah jam berdentang lagi sebanyak satu kali. Konon, dulu keluarga Bung Hatta memanfatkan jam ini untuk mengukur ketepatan waktu atas jasa pengiriman barang yang mereka tekuni.

Kabut Ngarai Sianok

Sekitar 50 meter di selatan Jam Gadang ada Jl. Panorama. Berjalan kaki selama lima menit menyusuri jalan ini, saya sampai di Taman Panorama, di mana terdapat Lubang Jepang dan pemandangan Ngarai Sianok.

Ngarai atau canyon yang terbentuk akibat adanya gerakan turun kulit bumi jutaan tahun lalu ini, kini menjadi lembah yang subur, dikelilingi tebing-tebing tegak lurus dengan ketinggian 100-150 meter. Dengan panjang sekitar 15 kilometer, ngarai ini berkelok-kelok dari selatan di Koto Gadang sampai kota Palupuah di utara. Ngarai di sisi kiri hanya ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, dengan latar belakang Gunung Singgalang dan Marapi. Sedangkan di sisi kanan terdapat perkampungan penduduk dan jalan raya yang menuju Koto Gadang, pusat kerajinan perak. Dasar lembahnya yang lebar dialiri Batang (sungai) Sianok yang berair jernih, hingga terlihat dasar sungainya. Bila airnya agak banyak dan deras, sungai ini sering menjadi ajang kegiatan off-road yang menantang nyali.

Rumah-rumah terlihat kecil di ngarai yang luas.

Rumah-rumah terlihat kecil di ngarai yang luas.

Jika kita berjalan ke arah barat di areal taman ini, beberapa pelukis memajang lukisan yang umumnya berujud pemandangan ngarai. Lukisan itu punya ciri khas, yakni berlatar belakang hitam dengan sapuan garis-garis lukisan berwarna putih dan emas. Tak jauh dari sini ada menara pandang, agar lebih jelas melihat keindahan ngarai. Sore menjelang magrib itu, sepanjang ngarai diselimuti oleh kabut yang tipis. Monyet-monyet kecil berlompatan dari pepohonan di dekat menara.

Di dalam taman, di dekat pintu masuk, sebenarnya juga ada  Lubang Jepang, sebuah terowongan yang dibuat oleh tentara Jepang di saat Perang Dunia II. Panjangnya sekitar 750 meter dan berbelok-belok, sekitar 2 meter dibawah permukaan tanah kota Bukittinggi. Mulut terowongan tak hanya di taman ini saja, namun juga ada beberapa tempat seperti di tebing Ngarai Sianok, di samping Museum Bung Hatta, dan di kebun binatang. Di dalam terowongan terdapat kamar-kamar, mulai dari kamar untuk rapat, tempat makan, hingga kamar para orang Indonesia yang menjadi tahanan. Ada juga sebuah lubang yang dijadikan tempat pembuangan korban yang telah menjadi mayat. Hiih! Karena sudah menjelang magrib, tawaran untuk masuk lubang itu dengan terpaksa saya tolak….

Perut yang keroncongan minta segera diisi, dan saya mampir ke RM Simpang Raya. Tanpa dipesan, pelayan segera menghidangkan nasi dan berpiring-piring lauk-pauk. Tapi untuk minumnya, saya bingung, karena ada beberapa pilihan yang sama-sama aneh: jus pinang (buah pinang muda diblender bersama susu dan teh), ampiang dadiah (susu kerbau fermentasi dan kerupuk ketan lembek), supradin gaduik (susu kerbau fermentasi plus suplemen multivitamin), dan tomat top. Akhirnya saya pesan tomat top.

Tomat-Top-minuman-khas-RM-Simpang-Raya-Bukittinggi

Tomat Top, sukses membuat saya sakit kepala.

Saya menyantap gulai ginjal sapi dan gulai gajeboh, yakni daging sapi yang sangat berlemak, yang digulai tanpa santan. Begitu minumannya datang, saya kaget. Di dalam gelas minum yang besar, selain menyembul potongan-potongan tomat, juga ada… dua bulatan kuning telur setengah matang. Kelihatannya, minuman ini terdiri atas susu, sedikit sereal, potongan tomat rebus –yang bau langu-nya terasa sekali– dan dua butir telur ayam kampung.  Bau langu tomatnya sih, masih bisa ditahan. Tapi kuning telurnya? Akhirnya kuning telur itu satu persatu saya telan, baru kemudian sisanya saya seruput sambil menutup hidung. Sukses!

Efeknya baru terasa setengah jam kemudian. Begitu saya nongkrong lagi di Jam Gadang, belakang kepala saya menjadi sakit sekali, nyut-nyutan. Jangan-jangan karena saya terlalu banyak menyantap kolesterol? Meski masih sore, terpaksa saya kembali ke hotel dan tidur. Saya tidak berani minum obat, khawatir nanti efeknya malah buruk. Mungkin ini balasannya, terlalu berani mencoba-coba makanan baru….

Ke Pasar Kepagian

Sehabis subuh, saya langsung keluar hotel. Dari dua mesjid terdengar dua ceramah dalam bahasa yang berbeda. Yang satu bahasa Minang, yang satu bahasa Indonesia (kemudian saya tahu, yang satu dari Mesjid Raya, yang satu lagi dari Mesjid Agung). Jalanan berkabut, dan udara dingin menusuk-nusuk tulang pipi saya. Tapi tak apalah, karena saya ingin melihat bagaimana aktivitas dagang orang-orang di Pasar Atas Bukittinggi. Menurut informasi seorang teman di Jakarta yang katanya berasal dari Bukittinggi, pagi-pagi para ibu sudah berduyun-duyun ke pasar.

Patung-harimau-pintu-masuk-ke-Pasar-Atas-Bukittinggi

Baru tau kalau patung ini pintu masuk ke Pasar Atas.

Tapi… kok sepi? Dan, di mana pasarnya? Sampai saya menyusuri Jalan Sudirman, tidak ada tanda-tanda orang mau ke pasar. Yang ada hanya satu-dua orang tengah jogging. Karena bingung, saya kembali ke Jam Gadang dan bertanya ke seorang lelaki yang tengah mendorong gerobak, yang ternyata seorang penjual soto padang. “Ooh, Pasar Atas? Ya, di sini ini tempatnya!” jawab lelaki yang bernama Iwan itu. Kalau mau ke Pasar Lereng tinggal ke sana, kalau turun terus sampai ke Pasar Bawah.”

Oalah, rupanya Pasar Atas itu hanya beberapa meter saja dari Jam Gadang! Itu lho, bangunan dua tingkat yang ada patung harimau di depannya. Saya tidak mengira tempatnya sedekat itu. Sebab kalau melihat di peta, lokasinya agak jauh. Kenapa tadi sore saya tidak bertanya ke orang-orang ya? Dan satu lagi, kenapa jam segini pasarnya masih sepi, tidak ada orang sama sekali?

“Wah, jangan bandingkan pasar di sini sama di Jakarta, Mas,” lelaki yang pernah beberapa tahun berdagang di Pasar Kebayoran Lama itu tertawa. “Kalau di Jakarta, jam 12 malam pasar sudah ramai. Tapi di sini, pasar baru mulai buka jam 8 pagi….”

Saya cuma bisa tersenyum kecut. Begini nih, akibatnya, kalau sok teu.

Sarapan Ekstra Pedas

Untuk mengobati kekecewaan, saya memotret-motret lagi suasana Jam Gadang di pagi berkabut itu. Ternyata, kalau pagi baru ketahuan bahwa tempat ini kotor sekali, banyak sampah berserakan. Petugas kebersihannya ‘panen’ karena banyak sampah botol plastik. Lalu saya pun berjalan kaki lagi ke Ngarai Sianok untuk memotret sunrise.

Standard

2 thoughts on “Cholesterol Journey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *