Tapi… ternyata sayur rebung, kol, dan kacang panjangnya terlalu asin menurut lidah saya. (Bisa saja tidak asin bagi anda, jadi coba saja mampir ke sini kalau ke Bukittinggi). Yang rasanya agak netral hanya gulai usus sapi yang berisi campuran telur dan tahu yang dilumatkan. Terpaksa, nasi sepiring berisi lauk dan sayur ‘campursari’ itu tidak saya habiskan.
Untung, setelah saya memotret Uni Lis, dengan latar belakang foto-foto pejabat yang pernah makan di warung itu –mulai dari B.J. Habibie, Abdul Latief, Tarmizi Taher, hingga Mari Pangestu– beliau tidak mau menerima uang saya, alias saya mendapat makan siang gratis! Ada-ada saja, hahaha!
Lomba Makan Pensi
Saat hendak pulang ke Padang, saya kembali diantar Jhoni. Kali ini kami hendak mampir dulu ke Koto Gadang dan Danau Maninjau. Mudah-mudahan makanan di Maninjau nanti enak, harapan saya.
Setelah mampir ke Koto Gadang untuk melihat-lihat kerajinan perak, dan ternyata benar kotanya memang sepi, kami langsung ke Danau Maninjau, 34 km arah barat Bukittinggi. Maninjau adalah daerah asal tokoh Buya Hamka, Mohammad Natsir, dan H.R. Rasuna Said.
Kami melewati Kelok 44. Orang sini menyebutnya Kelok Ampek Puluh Ampek. Ada 44 kelokan tajam yang dimulai dari nomor paling tinggi di atas, hingga nomor satu ketika hendak sampai ke Danau Maninjau yang terletak di bawah.
Lagi-lagi kabut. Hanya itu yang bisa dilihat sepanjang Kelok 44, sehingga pemandangan permukaan danau yang indah di bawah, tidak nampak sama sekali. Ketika sampai di pinggir danau juga sama, semuanya berwarna abu-abu. Kami segera mencari makanan khas Maninjau, yakni ikan bilih dan kerang (remis) pensi. Keduanya berasal dari danau. Ternyata kami harus mencarinya pada orang yang berjualan di pinggir jalan, karena restoran-restoran di pinggir danau belum tentu menyediakannya.
“Beli masing-masing 2 ribu rupiah saja,” saran Jhoni. Saya mendapat dua bungkus pepes ikan bilih, dan sebungkus besar pensi. Padahal kalau di Bukittinggi, ikan bilih ini mahal, lho. Satu kilo ikan bilih Danau Maninjau yang sudah diasap, harganya Rp190 ribu per kilo, sementara ikan bilih dari Danau Singkarak hanya Rp 60 ribu per kilo.
Kami mampir ke sebuah warung makan, lalu memesan nasi dan sayur saja, karena kami sudah membawa lauk sendiri. Pepes segera ludes, tapi masalah timbul saat memakan pensi. Remis kecil bewarna kehitaman dan berdaging putih kusam ini lezat sekali. Apalagi bumbunya juga enak, asin-asin pedas. Tapi jumlahnya itu lho, buanyak sekali! Mungkin ada ribuan pensi. Kalau pensinya membuka semua sih, gampang menghabiskannya. Tapi ini pensinya hampir semuanya menutup. Untuk membuka satu cangkangnya saja perlu waktu lima menit. Lhah, perlu berapa jam menghabiskan pensi yang saya beli ini?
“Ah, paling lima belas menit,” kata Jhoni.
Memang, kalau saya kesulitan setengah mati mengorek isi pensi, tidak demikian halnya dengan Jhoni. Kecepatan makannya lima kali lipat saya. “Kalau makan pensi jangan dipegang. Begini nih, caranya.”
Dia lalu mencontohkan. Pensi yang diambil itu ia setengah lempar ke mulut, lalu dengan cepat pensi itu diposisikan sehingga bagian yang membuka menghadap ke atas, lalu gigi atas membukanya, dan isinya disedot dengan bantuan lidah. Cangkang pensi yang sudah kosong itu jatuh begitu saja ke piring seperti keluar dari mesin pengupas otomatis.
Saya berusaha meniru, tapi kebanyakan tetap saja gigi saya ‘terpeleset’ di permukaan cangkang pensi yang tipis dan bergerigi. Kadang malah gigi saya menekan terlalu keras sehingga cangkangnya malah pecah dan mengotori mulut.
Mbak Eka, yang punya warung, rupanya memperhatikan ‘perjuangan’ saya. “Susah ya, Mas, mbukanya?”
Ho-oh, angguk saya kecut.
“Saya juga ada tuh pensi, di rak atas. Sudah kupasan kok…”
Oalah maaak, kenapa tidak bilang dari tadi!
Perjalanan ke bandara Padang, meskipun bakal lebih lama, saya lalui sambil senyum-senyum. Saya pasti akan ke Bukittinggi lagi. [T]


Makasih atas infonya , Aerith
Sama-sama Mas John, semoga bermanfaat.