Homestay yang dimiliki Pak Karyadi dan Bu Jumilah ini punya empat kamar tidur dan tiga kamar mandi, salah satunya punya shower air hangat. Homestay ini dan dua homestay lainnya sudah berdiri sejak 5 tahun lalu, sebelum ada desa wisata. Saat itu tujuannya untuk memenuhi kebutuhan menginap para pejalan dan siswa sekolah yang berwisata ke kebun buah dan kesulitan mencari tempat menginap.
“Sekarang sudah ada 25 homestay, dan tarifnya disamakan, Rp 150.000 per kamar untuk dua orang,” jelas Pak Karyadi, yang tinggal di rumah bagian belakang dan membuka warung kelontong di samping rumah. Tarif tadi tidak termasuk sarapan, tapi termasuk free-flow kopi, teh, dan cemilan lokal. Untuk extra bed cuma tambah Rp 50.000. Berandanya sendiri bisa menampung hingga 30 orang, cocok buat yang datang ramai-ramai dan mencari biaya yang lebih murah-meriah.
Pukul 2 siang, Pak Parman, Mas Kencrung dan anaknya Sigit, sudah siap di depan homestay. Kami mau melihat kerajinan melukis api seperti yang tadi dipromosikan Mas Kencrung.
Wow, melukis api? Seperti apakah itu?

Bermacam bentuk kepala pena api alias burner ciptaan Mas Ilul.
Ternyata, yang dimaksud melukis api adalah seni melukis dengan menggunakan bara api dari ujung alat yang mirip solder. Untuk membuat bara itu sendiri memakai arus listrik rumah yang diubah menjadi arus searah. Penanya sendiri dibuat oleh Mas Ilul melalui proses coba-ralat berulangkali dari hasil melihat di Youtube. Seni ini sendiri masih langka, dan di Jogja ini menurutnya baru dia dan satu orang lagi di Gunung Kidul yang mendalami seni ini, dengan alat yang sedikit berbeda. Media lukis atau kanvasnya dari talenan kayu mahoni yang murah dan banyak terdapat di Mangunan.
Uniknya, pria yang punya nama asli Fahlul Mukti dan pernah kuliah di Institut Seni Indonesia di Jogja ini menganggap keterampilannya itu sebagai hobi. Pekerjaan utamanya adalah mengelola Homestay Sahara bersama istrinya Tuti, dan memelihara beberapa ekor sapi.

Mas Ilul dan karya-karya lukis api para wisatawan yang pernah menginap di Homestay Sahara.
Jadi, setiap tamu yang menginap di Mangunan boleh belajar seni lukis yang mirip mencanting batik ini. Cukup meluangkan waktu 1 jam mulai dari membuat sket memakai pensil, lalu menebalkan garis dan arsirannya dengan pena bara api ini, kita bisa membuat lukisan yang bagus. Ya, tentu saja kalau kita juga punya bakat melukis, hahaha!
Ini hasil lukisan saya, yang boleh dibawa pulang buat kenang-kenangan. Dari gambar lukisannya, tahu kan kira-kira saya generasi dari zaman kapan?

Cuma orang Indonesia yang lukisannya seperti ini.
Superb Sunset
Matahari telah tergelincir ke barat dan sinarnya yang kekuningan mengiringi kami yang bergegas konvoi motor menuju Puncak Becici untuk melihat sunset. Kami melewatkan dulu spot Pintu Lawang yang akses jalannya dekat Homestay Sahara ini.
Ternyata lokasi Puncak Becici cukup jauh. Kami melewati spot Seribu Batu dan Rumah Hobbit, Hutan Pinus Mangunan, Pinus Asri, Lintang Sewu, dan Pintu Langit. Ya, kalau kami mampir tiap spotnya cuma 5 menit mungkin bisa sih berhenti dulu di tiap spot itu. Tapi itu sesuatu yang tidak mungkin karena kami bertiga hobi motret dan suka lupa waktu kalau sudah menemukan angle yang bagus. Jadi kami memilih satu dulu yang kata Pak Parman paling bagus.
cakep tulisannya. mengalir. enak dibaca
Alhamdulillah, terima kasih. Kalo nggak mengalir berarti mampet. Bahaya kalo lagi musim hujan.
Ngakak pol liat lukisan api nya MasTeg. Inget jaman sekolah hihihi. Jadoel
Dan ternyata aku lebih pintar ngelukis dibanding Kang Dudi, wakakakak!
Banyak banget ya yang bisa dieksplor dari Mangunan..aku kemaren cuma ke pasarnya aja. Bawa anak, ribut ngajak pulang..
Iya banyak sekali. Saya 3 hari 2 malam saja masih kurang. Tapi dari artikel ini kira-kira bisa disimpulkan mana yang diprioritaskan kalau jalan bareng keluarga (Rumah Hobbit udah pasti). Sebaiknya memang nginap ya di homestay yang ada di Mangunan supaya lebih santai jalan-jalannya.
Menarik dan informatif
Uhuyyy! Thanks Mas Hatta dah mampir.
Pasti selalu menarik… hal baru dan di pelajari dengan seksama oleh Mas Teguh… Indonesia selalu Indah jika di kemas dengan kreativitas.
Aamiin. Ditunggu juga posting jalan-jalan Mbak Fauziah.
Wah asik nih jalan2
Yang Seribu Batu dan Rumah Hobbit terutama asyik ya kalau bawa anak-anak. Yang lain ok juga sih secara mudah diakses dengan kendaraan.
Terakhir ke Kebun Mangunan dan Pinusan Asri sekitar 3 tahun yang lalu, belum sebagus ini spot-spotnya. Foto-fotonya keren MasTeg, bikin mupeng pengen traveling beberapa hari lagi kesana. Makasih yaa…
Kalau yang Kebun Buah Mangunan cenderung ‘plain’ ya. Menurutku lebih bagus Jurang Tembelan, Bukit Panguk, Puncak Becici, terus yang must-visit itu Seribu Batu dan Rumah Hobbit. Sama Lukis Api! Selamat menjelajah.