Ngarai Sianok Bukittinggi
Indonesia, Journey

Cholesterol Journey

Jam-Gadang-Bukittinggi-landmark-kota

Kenangan menyantap makanan yang aneh-aneh membuat saya selalu ingin kembali ke kota ini.

 

Rasanya aneh saja kalau saya belum pernah ke Bukittinggi. Padahal kota ini merupakan destinasi wisata  paling terkenal di Pulau Sumatra, bahkan menjadi tujuan utama wisatawan Malaysia. Makanya, setelah membaca  artikel-artikel pengalaman perjalanan ke Bukittinggi di www.cimbuak.net, dan melihat foto-foto keindahan alam Sumatra Barat di www.west-sumatra.com, keinginan saya pun makin kuat. Libur panjang Agustus lalu, saya pun mengunjungi kota perbukitan yang konon katanya paling cantik di dunia ini.

Mampir ke SMS

Keluar dari Bandara Internasional Minangkabau, saya segera disambut Jhoni (35), sopir dari Hotel Bukittinggi Hills, di mana saya akan menginap.

Sate-Mak-Sukur-sate-padang-legendaris

Sate Mak Sukur yang tidak pelit seperti di Jakarta.

“Bukittinggi masih sekitar 90 kilometer lagi ke arah utara,” tutur bapak dua anak yang sudah delapan tahun bekerja di hotel ini. Itu kalau memakai rute yang melewati Lembah Anai dan kota Padang Panjang. Kalau memakai rute Pariaman-Danau Maninjau-Kelok 44, jaraknya bisa mencapai 170 kilometer. Saya tidak memilihnya, takut menjadi tua di jalan. Lagipula ada beberapa tempat yang akan saya kunjungi di sepanjang rute pertama. Itu pula sebabnya saya memilih jadwal penerbangan pagi, agar bisa mampir-mampir dulu sebelum check-in.

Air-Terjun-Lembah-Anai-Sumatera-Barat

Mengabadikan kenangan keluarga di Air Terjun Lembah Anai.

Jalan yang kami lalui cukup lebar dan mulus, dan mulai berkelok-kelok serta menanjak setelah melewati air terjun Lembah Anai. Air terjun yang ada di kiri jalan ini, sekitar 10 kilometer sebelum kota Padang Panjang, konon tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang.

Menjelang masuk kota Padang Panjang, kami mampir ke Sate Mak Syukur (SMS), yang cabang-cabangnya juga tersebar di Jakarta. Restoran penuh oleh pengunjung, dan kami mendapat tempat di lantai dua. Begitu sate padang dihidangkan, saya baru sadar, kalau selama ini saya ‘tertipu’ oleh penjual sate padang keliling di Jakarta. Sate di SMS ini besar-besar, mungkin satu potong sate bisa menjadi satu tusuk sate kalau di Jakarta!

Padang Panjang kotanya kecil. Kami melewatkan saja Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) serta Perkampungan Minangkabau yang ada di pusat kota, karena tak lama kemudian, jalanan macet. Ternyata, Senin ini adalah hari pasar di Koto Baru, pusat sayur-mayur di Sumatra Barat. Truk-truk pengangkut sayur melakukan bongkar muat di pinggir jalan.

Untuk melepaskan diri sementara dari kemacetan, sebelum pasar, kami belok kiri ke Pandai Sikek, pusat kerajinan songket dan ukiran kayu. Di sini ada beberapa toko yang menjual tenun songket, meski orang-orang yang mengerjakan tenunannya sendiri tidak saya lihat, karena ada di desa-desa sekitar sini. Satu set sarung bantal, yang terdiri dari 4 sarung dan 1 taplak meja, dijual Rp450 ribu. Satu set kebaya warna pink dijual Rp475 ribu, sedangkan sarung songket untuk bawahan dijual Rp1,1 juta.  “Harganya agak mahal, karena menenun songket butuh waktu dan keterampilan khusus,” kata Erma Yulnita, di toko Satu Karya. “Untuk membuat satu selendang saja dibutuhkan 850 baris benang, sementara untuk sarung sampai 2.000 benang.”

Berbeda dengan kain biasa, yang makin mahal kalau memakai banyak jenis benang, untuk kain songket justru sebaliknya. Yang memakai satu jenis benang malah yang paling mahal, karena membuatnya lebih sulit, dan juga hasilnya makin halus. Begitu kami hendak pergi, satu bis berisi rombongan ibu-ibu dari Malaysia, mampir ke toko itu.

Jam Gadang, Pusat Keramaian

Bukittinggi terletak di ketinggian 1.000 meter di atas pemukaan laut, jadi hawanya sejuk dan nyaman untuk berjalan-jalan, sekalipun siang hari. Di selatan dan tenggara kota membentang Ngarai Sianok, di belakangnya menjulang Gunung Singgalang. Di sebelah timur terletak Gunung Marapi, sedangkan di utara ada sisa-sisa benteng Fort de Kock dan kebun binatang. Berbeda dengan alun-alun pusat kota lain yang biasanya besar, pusat kota Bukittinggi kecil saja, berupa taman beton berukuran sekitar 25 x 25 meter persegi. Di sini berdiri kokoh Jam Gadang, landmark kota. Kontur tanah di sini berjenjang dan juga tidak landai, sehingga kadang bangunan Jam Gadang tampak miring seperti Menara Pisa.

Gunung Singgalang dan kabut putih yang menutupi Ngarai Sianok.

Gunung Singgalang dan kabut putih yang menutupi Ngarai Sianok.

Kalau arah menjadi hal penting, maka sebagai patokan, Hotel Bukittinggi Hills menghadap ke utara –meski perasaan saya bilang hotel itu  menghadap ke barat– sedangkan pagar masuk bangunan Jam Gadang, yang digembok, berada di sisi timur.

Bukittinggi juga kota yang kecil. Pusat kotanya bisa dicapai hanya dengan jalan kaki. Museum Bung Hatta, Rumah Makan Simpang Raya, ada di sekeliling Jam Gadang. Jalan utama di kota ini, Jl. Ahmad Yani, merupakan pusat kafe dan hotel-hotel kecil. Sedangkan Jl. Sudirman, pusat makan di malam hari, juga hanya 5 menit dengan berjalan kaki dari sini.

Hari libur akhir pekan membuat suasana Jam Gadang sore itu ramai sekali oleh para pengunjung yang duduk-duduk atau berfoto, serta para pedagang. Bendi-bendi pun berjejer menunggu penumpang. Memang tak ada air mancur atau burung-burung dara di sini, namun keramahan kota ini segera menyapa saya. Zainal, pedagang gelembung busa, menjadi kenalan pertama saya. Wajahnya mengingatkan saya kepada tukang cukur langganan saya di Duren Tiga, yang berasal dari Pariaman.

Mendung tak menyurutkan orang-orang ke Jam Gadang.Bangunan Jam Gadang dibuat tahun 1926 di masa kolonial Belanda. Bangunan lima tingkat ini puncaknya berujud rumah bagonjong, rumah adat Minangkabau, yang sering juga disebut rumah gadang. Tingkat dua menjadi tempat tidur para penjaganya. Konon, Jam Gadang yang berdiameter 80 cm ini merupakan hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris kota Bukittinggi waktu itu. Rook Maker lalu memerintahkan arsitek dan pemborong lokal, Yazid Abidin dan Haji Moran, untuk membuat bangunannya, yang setinggi 26 meter dan menghabiskan biaya 3.000 gulden.

Standard
Indonesia, Journey

Solo Masih Menari

Pura-Mangkunegaran-Solo-tempat-latihan-menari

Dengan kesederhanaannya, sebuah sanggar terus berkarya untuk melestarikan tari tradisional Jawa.

 

Ini yang ketiga kalinya dalam tiga hari terakhir saya mampir ke sini. Seperti biasa, pintu gerbang utama di sebelah selatan selalu terkunci – tak ada orang yang bisa masuk lewat pintu ini. Pintu gerbang sebelah barat selalu terbuka, dengan penjagaan yang longgar, sehingga orang-orang bisa masuk melalui pintu ini. Pintu gerbang sebelah timur hanya sedikit terbuka, namun orang juga leluasa masuk dari sini. Dan saya masuk dari pintu ini.

Begitu masuk, sebuah halaman yang luas di depan sebuah pendopo besar yang menghadap ke selatan segera menyambut. Di tengah halaman ini ada sebuah kolam berbentuk daun semanggi, dengan ikan-ikan besar di dalamnya yang beberapa kali menggelepakkan ekornya. Di atas kolam ada sebuah air mancur yang keluar dari mulut seekor angsa emas yang dipegang lehernya oleh seorang bocah lelaki. Tak jauh dari sini, dekat pintu gerbang utama, ada garasi berisi mobil-mobil antik.

Di sebelah timur dan barat pendopo ada bangsal yang berisi ruang-ruang kerja, sedangkan di belakang pendopo merupakan teras sebuah rumah yang memajang berbagai lukisan besar, empat buah patung bergaya kolonial, dan dua patung singa. Sebuah plakat wana merah yang bertarikh 1866 dengan lambang MN dan sebuah mahkota menunjukkan dengan jelas kapan rumah ini dibangun. Di belakang rumah ini tampaknya masih ada rumah-rumah lain, namun tembok yang mengelilinginya cukup tinggi dan tertutup, sehingga menyurutkan saya untuk memasukinya.

Ini adalah Pura Mangkunegaran, salah satu dari dua istana yang ada di Solo. Istana lainnya adalah Kraton Kasunanan Surakarta. Semula saya mengira suasana Pura Mangkunegaran ini seperti Kraton Yogyakarta, di mana para tamu atau turis yang datang akan dipandu oleh para guide untuk melihat-lihat isi kraton dan juga melihat aktivitas para abdi dalem di istana. Namun di sini tidak ada yang seperti itu. Tak ada loket karcis, tak ada guide. Sepi.

Bangsal Barat Pura Mangkunegaran Solo

Bangsal Barat Pura Mangkunegaran yang menampilkan sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Sebuah ruangan di bangsal sebelah barat terbuka pintunya. Di dekat pintu itu ada seorang ibu yang berjualan sate. Ruangan itu ternyata tempat penyewaan kostum wayang, dan yang menjaga Bu Juliyah.

“Yang menyewa kostum ini anak-anak yang latihan menari di Sanggar Suryo Sumirat,” tuturnya. Secara teratur sanggar tari itu mengadakan pentas, dan anak-anak menyewa kostum di sini, karena ongkos sewanya yang murah, hanya Rp 25.000. Kalau membuat kostum sendiri biayanya bisa mencapai Rp 200.000.

“Sebentar lagi anak-anak yang latihan menari juga datang. Setiap hari ada latihan, kok. Mulainya  jam 3 sore.”

Murid-murid-Sanggar-Suryo-Sumirat-berlatih-menari

Sejak kecil anak-anak perempuan berlatih menari.

Sanggar Suryo Sumirat merupakan satu-satunya sanggar tari yang ada di lingkungan kraton, dan mengadakan kursus tari baik tari klasik Jawa Solo maupun tari kreasi baru. Didirikan tahun 1982, sanggar ini tampaknya tetap low profile meski telah berulangkali mengadakan pentas berkualitas internasional dan sering ikut dalam misi mengenalkan Indonesia ke luar negeri.

“Biasanya latihan diadakan di Prangwedanan, pendopo samping yang ada di luar gerbang timur. Namun karena saat ini sedang direnovasi, latihan pindah ke pendopo utama,” tambah Bu Juliyah.

Anak-anak mulai berdatangan bersama orangtua mereka ketika saya masih asyik menikmati sate kere yang dijual Bu Marni di depan pintu penyewaan kostum ini. Betapa kontradiktif, pikir saya dalam hati. Di lingkungan kraton, yang dijual adalah sate kere (sate orang miskin). Satenya terdiri dari sate usus sapi, jeroan sapi, ginjal sapi, gembus, dan sate tempe, yang dibakar lalu disajikan bersama lontong dan bumbu kacang. Untuk semuanya itu, saya hanya membayar Rp 6.000. Yang unik, ternyata Bu Marni satu-satunya pedagang asongan yang diizinkan berjualan di sekitar pendopo. Dan yang lebih mengejutkan, dia telah berjualan sate ini selama 40 tahun!

Sanggar-Suryo-Sumirat-mempunyai-beberapa-kelas-tari

Jenis tari berbeda-beda sesuai tingkatan kelas.

Latihan menari ternyata dimulai tepat waktu. Di sisi timur pendopo, yang berlatih adalah anak-anak perempuan berusia 7-10 tahun, dan dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing sekitar 30 anak. Dua guru yang bertugas sore itu, Erni dan partner kerjanya Wanti, melatih dulu anak-anak yang lebih kecil. Gerakan tarinya sederhana, dan Erni serta Wanti masih banyak memberikan instruksi dan membetulkan gerakan tari. Para orangtua yang mengantar tampak duduk lesehan di lantai pendopo, tak jauh dari anak-anak yang latihan. Setiap kali selesai menjelaskan satu gerakan, seorang lelaki kemudian menyalakan sebuah mini compo yang ditaruh di lantai, dan sekarang dimulai praktek dengan iringan musik gamelan dari kaset.

Standard
Motif tenun songket Pantai Sikek Sumatera Barat
Indonesia, Journey

Ratu Songket Pandai Sikek

Kapan benang masuk dari bawah atau atas itu perlu skill tersendiri untuk menenun songket Pandai Sikek

Mempelajari mekanisme menenun songket saja pusing, apalagi menyelesaikan tenunannya yang bisa berbulan-bulan.

 

Dari arah kota Padang Panjang, mobil kami berbelok ke kiri memasuki jalan kecil, begitu melihat papan petunjuk ke arah Pandai Sikek, sebelum pasar Koto Tinggi. Pemandangan berganti menjadi suasana pedesaan, dan beberapa rumah di kanan-kiri masih terlihat ada yang rusak, bekas terkena gempa beberapa waktu lalu. Untunglah, tampaknya gempa di desa di kaki Gunung Singgalang ini tidak parah, sehingga kehidupan sudah berjalan normal kembali.

Kami melewati deretan toko yang menjual ukiran kayu serta kain-kain songket. Keduanya memang kerajinan khas daerah ini. Ukiran umumnya dikerjakan laki-laki, sedangkan songket umumnya dikerjakan kaum perempuan. Kalau kita mengikuti paket wisata, umumnya penyelenggara tur akan mengantar kita ke toko-toko ini. Di bagian belakang toko biasanya tersedia alat tenun songket, dan karyawan toko akan memberikan ‘demo kilat’ tentang cara membuat songket, jika kita memintanya.

Tapi bukan ini yang kami cari. Pak Mulyadi dan Pak Ujang, dari Dinas Pariwisata Sumbar, hendak mengantar kami ke Hajjah Yurni, salah satu sesepuh dan guru menenun songket di Pandai Sikek. Atas jasa-jasanya memajukan songket, beliau pernah menerima penghargaan Upakarti tahun 1989 dari Presiden Suharto.

Penenun songket Pandai Sikek yang sudah ahli pun dalam sehari paling bisa menyelesaikan 6 cm kain.

Penenun songket Pandai Sikek yang sudah ahli pun dalam sehari paling bisa menyelesaikan 6 cm kain.

Tak jauh dari pasar Pandai Sikek, dari sebuah rumah berwarna oranye dan dua pohon bougenville merah dan putih di halaman, muncul wajah orang yang kami cari. Meski usianya sudah di atas 60 tahun, rona kecantikan masih terlihat jelas pada wanita yang berkulit kuning langsat dan berdagu runcing itu.

Kami berempat lalu mengikuti langkah beliau, melewati pematang sawah, kolam ikan, menuju rumah salah satu mantan muridnya. Udara segar menyertai cuaca yang sedikit berkabut. Gunung Singgalang tampak perkasa di depan mata, sedangkan di belakang kami menjulang Gunung Merapi.

Linda, murid yang kami cari, tengah menenun sebuah selendang songket di ruang tamu rumah, yang sekaligus menjadi tempat kerjanya. Ditemani putranya yang masih balita, selendangnya baru separuh jadi.

Sekilas, tampaknya apa yang dikerjakannya sederhana: memasukkan benang dari sisi kanan ke kiri melewati rangkaian benang linen yang membentang memanjang, gerakkan sisir besi besar, suara benturan ‘pak-pak’, lalu terbentuklah satu garis kain baru dari persilangan dua benang ini. Tapi sebenarnya ini hanya bagian kecil dari keseluruhan proses.

Standard
Indonesia, Journey

Romansa Rhoma

Bus-Kalideres-Mauk-Banten

Perjalanannya biasa saja, tapi Rhoma Irama berhasil membawa saya kembali ke masa lalu.

 

Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan

Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi…

Saya yang tadinya mau tidur, tersentak mendengar syair-syair lagu ini. Apakah ini déjà vu? Rasanya saya pernah mendengar lagu ini ketika saya naik elf jurusan Kalideres-Mauk saat hendak ke Pulau Laki, beberapa bulan yang lalu. Kok sekarang saya mendengar lagu itu lagi? Jangan-jangan… saya naik elf yang sama?

Saya jadi tak bisa tidur setelah mendengar lagu Pertemuan ini. Bukan karena syairnya klop dengan apa yang akan saya alami – bertemu lagi dengan Ella dalam trip ke Pulau Lancang kali ini. Namun karena lagu dangdut yang dinyanyikan Rhoma Irama dan Nur Halimah ini merupakan lagu ‘klasik’ yang sudah saya dengar di akhir era 80-an, sewaktu saya masih di kampung saya di Brebes sana, dan juga saat naik angkot ataupun naik bis antar-kota jurusan Semarang-Tegal sewaktu saya masih kuliah dulu.

Dulu, saat naik bis dan melewati daerah seperti Weleri, Kaliwungu, atau Pekalongan, dan mendengar lagu ini, entah kenapa, rasanya klop sekali dengan suasana yang tergambar di kiri-kanan jalan. Suasana kota kecil yang damai dan tenang, dengan dokar, becak, pasar, serta para pedagang kaki lima berjejeran di trotoar. Salah satunya pedagang kaset yang menarik pembeli dengan memutar lagu-lagu seperti Pertemuan ini.

Bagi para backpacker yang sering menjelajahi pelosok Jawa, pasti juga sering mendengar lagu-lagu dangdut ‘jadul’ seperti ini diputar di dalam angkot maupun di angkutan pedesaan. Dan anehnya kok ya sampai sekarang, sudah bertahun-tahun lewat, bahkan sudah ganti milenium, lagu itu masih saja diputar, bahkan di pinggiran Jakarta ini! Entah apakah ini karena sesuai dengan tipikal orang Jawa yang masih suka terbuai dengan romantisme masa lalu, ataukah sekadar pertanda bahwa lagu-lagu dangdut lama ini memang timeless dan lebih baik mutunya dibanding lagu-lagu yang lebih baru.

Lagu yang mellow dan romantis ini juga seperti menjadi penawar kecewa saya, yang baru berangkat dari Terminal Bus Kalideres jam 8 pagi. Padahal saya sudah janjian mau ketemu Ella –dan juga Marley dan Bolang– di perempatan Mauk jam 9. Sementara, waktu tempuh Kalideres-Mauk sekitar 1,5 jam. Itu kalau elf berjalan cepat. Sayangnya, kali ini elf berjalan pelan sekali, mungkin dengan kecepatan 10 km/jam. Sang sopir tampaknya ikut terbuai oleh lagu yang diputarnya sendiri, sampai dia lupa menginjak pedal gas! Kalau saya lihat wajahnya yang kalem dan sabar, sepertinya dia orang Jawa juga. Jangan-jangan aslinya dari Kaliwungu! Oke lah, demi Bang Rhoma Irama dan kenangan masa lalu, dia saya maafkan. Biasanya sih pasti saya sudah teriak, “Mas! Bisa cepet dikit nggak!?”

[Kalau di Brebes, sindiran untuk angkot atau angkudes yang berjalan pelan sekali –karena mencari penumpang– ini biasanya lebih kasar. Begini: “Mas, ini angkot apa katil!” Katil itu keranda orang mati, yang digotong oleh empat orang. Jadi, seperti katil artinya jalannya pelan sekali, sama dengan berjalan kaki biasa!]

Elf baru mulai berjalan cepat setelah melewati Penjara Wanita Tangerang. Saya, tentu saja, tidak mengerti apa hubungannya.

Sepertinya, seluruh lagu yang diputar dari CD dan dikumandangkan melalui dua speaker active yang sudah ditempeli stiker Michelin dan Repsol ini merupakan karya Bang Haji semua, yang berpasangan dengan Nur Halimah atau Riza Umami. Tidak ada satu lagu pun yang merupakan duet Bang Haji dengan Rita Sugiarto atau Elvy Sukaesih, pasangan sebelumnya.

Setelah lagu Pertemuan, lagu berikutnya berjudul Bahtera Cinta. Syair awalnya begini:

Beredar sang bumi
Mengitari matahari
Merangkaikan waktu
Tahun-tahun berlalu

Namun cintaku takkan pernah berubah
Masa demi masa
Kita berdua takkan pernah berpisah
Baur dalam cinta… 

Standard
Indonesia, Journey

Kereta Api Hantu ke Sindangbarang

KRL-kereta-jurusan-Bogor

Perjalanan yang tak sampai-sampai, kereta yang bolak-balik antara dua stasiun, orang-orang yang diam tak bicara…

 

Sabtu pagi, 16 Januari 2010, pukul 7.10

Saya bergegas naik mikrolet M16 jurusan Pasar Minggu untuk mengejar KRL yang akan ke Bogor dari Stasiun Kalibata. Sebenarnya, dari Stasiun Tebet ada kereta Pakuan Ekspres yang ke Bogor, namun baru tiba di Tebet pukul 8 lebih, jadi saya tak mengambil pilihan ini. Mengapa? Karena saya buru-buru hendak ke Sindangbarang, meliput acara Seren Taun. Ini adalah Seren Taun yang kelima kalinya, dan belum sekalipun saya sempat ke sini. Jadi kali ini saya harus datang.

Perayaan yang berlangsung sejak Kamis ini tinggal menyisakan 2 hari lagi sebelum acara puncak besok Minggu. Hari ini acaranya pecah kue (membagi-bagikan kue kepada para penduduk), dan ngarak munding (mengarak kerbau) untuk dijadikan kurban. Acara berlangsung mulai jam 8 pagi. Jadi dengan berangkat sepagi mungkin dari Jakarta, saya berharap masih bisa meliput prosesi acara, meskipun mungkin hanya sebagian saja.

Tadinya saya hendak ke Sindangbarang bersama Vivi, tapi pagi-pagi dia SMS, katanya sakit perut, jadi batal ikut. Jadi saya sekarang jalan sendirian. Saya sampai di Stasiun Kalibata pukul 7.28, dan setelah membeli karcis, saya langsung naik begitu ada kereta ekonomi jurusan Depok  masuk stasiun. Ya, saya tahu kereta ini tidak akan sampai Bogor, melainkan Stasiun Depok Lama. Nanti saya akan nyambung lagi kereta lain yang akan ke Bogor. Mudah-mudahan bisa sampai ke Bogor lebih pagi daripada kalau memakai Pakuan, harapan saya.

Terus-terang saya tidak melakukan kebiasaan rutin saya di pagi hari: minum kopi. Saya hanya minum teh dan makan roti bakar, untuk mendampingi minum Panadol karena kepala saya agak sakit. Begitu kena angin pagi yang sejuk, efek obat ini pun mulai terasa. Saya jadi ngantuk. Jadi sepanjang perjalanan, saya antara tidur dan tidak, sambil mendekap ransel berisi tas kamera dan baju ganti, karena saya berencana menginap di Sindangbarang. Tapi ini tak mengurangi kewaspadaan saya, dan saya hampir selalu sadar setiap kali kereta ini berhenti di stasiun yang dilewatinya. Saya sendiri hafal nama dan urutan stasiun kereta dari Kalibata sampai Depok Lama: Pasar Minggu Baru-Pasar Minggu-Tanjung Barat-Lenteng Agung-Pancasila-UI-Pondokcina-Depok Baru-Depok Lama. Dan kalaupun saya tidur, toh nanti pasti terbangun di perhentian terakhir.

Alhamdulillah, akhirnya saya sampai di Stasiun Depok Lama dengan selamat, dan bersama para penumpang lain turun, lalu saya duduk di kursi peron, menunggu kereta lain yang akan ke Bogor. Eh, tidak disangka-sangka, dari arah Jakarta masuk kereta Pakuan jurusan Bogor. “Aduh, kalau tahu begini, mendingan saya tadi naik Pakuan dari Tebet,” dalam hati saya mengeluh.

Saya menunggu, dan menunggu lagi, sampai akhirnya datang juga kereta ekonomi yang ke Bogor. Kali ini keretanya agak penuh, jadi saya berdiri, dan ransel saya taruh di tempat barang di atas kepala. Namun ini tak lama, karena seorang penumpang wanita di depan saya kemudian hendak turun di Stasiun Citayam. Saya lalu duduk dan minta tolong seorang pemuda untuk mengambilkan ransel saya. Ransel saya pangku dan peluk, dan saya pun meneruskan kantuk saya. Saya hafal nama dan urutan stasiun antara Depok Lama dan Bogor: Depok Lama-Citayam-Bojonggede-Cilebut-Bogor. Jadi, mudah-mudahan 30 menit lagi sampai di Bogor….

Perasaan saya, semuanya normal-normal saja, ya penumpangnya, ya keretanya. Dan lamat-lamat, antara sadar dan tidur, saya mendengar kereta api berhenti dua kali. Dengan kata lain, berhenti di Stasiun Bojonggede dan Cilebut, dan tinggal menuju stasiun tujuan akhir saja, Bogor.

Baru di sinilah keanehan terjadi.

Standard