Gunung-Pangrango-terlihat-dari-Kolam-Besar-Kebun-Raya-Cibodas
Indonesia, Journey

Menikmati Surga yang Sepi

Kolam-Besar-Kebun-Raya-Cibodas

Ketika sebuah taman surga yang setiap sudutnya instagenik luput dari perhatian kaum milenial, apakah ini sebuah ironi atau justru keberuntungan?

Saya kembali duduk di bangku beton sederhana ini, di ujung timur sebuah kolam besar. Hangat sinar mentari terasa mengusap punggung, ditingkahi cericit tupai dan gemeresak daun dari pohon-pohon besar di belakang saya.

Biasanya, air mancur di tengah kolam ini akan memancar dengan deras, memendarkan kabut air yang jatuh kembali ke kolam, dan sebagian terbawa angin. Tapi mungkin ini masih terlalu pagi, jadi petugasnya belum datang untuk membuka keran saluran airnya.

Pikiran dan mata saya segera tersita oleh pemandangan di sebelah barat sana. Ujung kolam ini menyambung dengan sebuah lapangan berumput hijau segar yang agak menanjak, yang kemudian dipagari oleh deretan pohon Araucaria dengan cabang-cabangnya yang membentuk seperti kipas raksasa. Jauh di belakangnya, menyembul dengan gagah kerucut Gunung Pangrango yang membiru, dengan sepotong awan putih di atas puncaknya. Alur-alur dan bekas guguran lerengnya dapat terlihat dengan jelas dari tempat saya duduk, dan ini adalah pemandangan yang baru pertama saya lihat dari enam atau tujuh kali berkunjung ke Kebun Raya Cibodas dan duduk di bangku ini.

Spot foto terbaik Kebun Raya Cibodas

Spot terbaik memotret Kebun Raya Cibodas dari Kolam Besar

Tapi kebun raya ini tak hanya cantik di saat pagi cerah dan rumput menghijau. Berada di ketinggian antara 1.300-1.425 meter di atas pemukaan laut dan tepat di kaki Gunung Gede dan Pangrango, berharaplah bahwa cuaca cerah di taman ini dapat berubah cepat menjadi berkabut, mendung, dan hujan disertai angin dingin. Namun di saat mendung tebal pun, Gunung Pangrango di sana akan tetap menampilkan pesonanya, karena kini ia menjadi siluet ungu, dan seorang fotografer atau pelukis pasti tak akan melewatkan momen ini untuk mengabadikannya.

Guung Pangrango dari Kebun Raya Cibodas.

Saat mendung pun Gunung Pangrango tetap memesona.

Di kunjungan tahun lalu, pertengahan Oktober, saya menemukan rumput lapangan besar di samping kolam ini meranggas akibat kemarau. Awalnya saya agak kecewa. Sudah datang ke sini agak kesiangan, eh rumputnya tidak hijau lagi. Namun begitu matahari meninggi dan bersinar benderang, rumput lapangan itu pun berubah menjadi kuning keemasan dan membuat anak-anak dan beberapa orang dewasa bergembira bermain bola.

Di kunjungan sebelumnya, entah di kunjungan kedua atau ketiga, saya duduk di bangku beton itu lagi. Tak berapa lama, sepasang anak muda datang membawa beberapa sepeda ke pinggir kolam. Yang saya tahu kemudian, mereka mau menyiapkan sebuah sesi pemotretan iklan dengan bintangnya anak-anak balita. Sambil menunggu kru lainnya datang, mereka lalu berfoto-foto sendiri, dan kesempatan itu tak saya lewatkan untuk membuat mereka menjadi ‘model’ di dalam foto saya. Saya mendapat beberapa frame foto yang bagus, dan segera pindah begitu tempat itu telah ramai oleh anak-anak.

Kemarau membuat rumput di Lapangan Besar Kebun Raya Cibodas menjadi keemasan.

Kemarau membuat rumput di Lapangan Besar Kebun Raya Cibodas menjadi keemasan.

Tapi secara umum, saya cukup heran dengan sepinya kebun raya seluas 87 hektar ini. Berbeda dengan saudara tuanya, Kebun Raya Bogor, yang banyak pengunjungnya bahkan di hari kerja – terlebih di akhir pekan. Jarak yang lebih jauh dan kemacetan rutin di jalur Puncak setiap akhir pekan mungkin menjadi alasan utamanya. Ditambah lagi, bus-bus mini yang biasa melayani rute Jakarta-Cianjur dan melewati Cibodas, kini rutenya dialihkan melalui Jonggol dan langsung menuju Cianjur, sehingga waktu tempuhnya lebih lama, sekitar tiga jam. Jadi, membawa mobil sendiri ataupun memakai transportasi umum sama-sama dilematisnya.

Dan uniknya lagi, orang-orang yang telah berhasil menjadi ‘survivor’ dari kemacetan lalulintas itu, mereka umumnya terbagi antara anak-anak sekolah yang akan kemping di Bumi Perkemahan Mandalawangi dan Mandala Kitri di depan kebun raya, dan anak-anak milenial yang akan mendaki Gunung Gede-Pangrango. Salah satu pintu masuk jalur pendakiannya memang dari Cibodas ini. Entah mereka tidak punya waktu atau tidak tahu tentang taman surga ini.

Tapi sepanjang saya bolak-balik ke sini, pengunjung yang paling sering saya temui adalah anak-anak desa di sekitar kebun raya dan para wanita penyedia tikar sewa. Yang paling banyak malah keluarga-keluarga dari Timur Tengah. Mereka datang bersama anak-anak untuk piknik, atau yang muda bersama teman-teman sebayanya mengisap shisha di tepi kolam besar. Para traveler maupun instagramer yang datang untuk berfoto-foto, ataupun yang memakai jaket lab dan meneliti pohon-pohon (bukankah kebun raya ini laboratorium biologi yang sangat besar?) hampir-hampir tak pernah saya temui. Jadi, apakah ini sebuah ironi, atau justru keberuntungan bagi orang yang tahu tentang taman surga ini, waktulah yang akan menentukan.

Mengantarkan shisha di Kebun Raya Cibodas.

Mengantarkan shisha untuk para wisatawan Middle East.

Tapi, kalau saya saja tidak pernah bosan untuk kembali dan kembali lagi ke sini, berarti ada banyak hal unik yang menjadi magnet dari tempat ini dong. Dan inilah, menurut saya, beberapa hal yang menjadi daya tarik utama taman surga ini:

Sakura dan Lumut Liliput

Daya tarik utama Kebun Raya Cibodas tentu saja koleksi tanamannya, yang terdiri dari 1.014 jenis tumbuhan tinggi. Ini belum termasuk koleksi kaktus, anggrek, sukulen –tanaman berdaun tebal dan mengandung banyak air– dan koleksi yang lebih baru yakni tanaman lumut dan bunga sakura.

Standard
Indonesia, Journey

Jakarta 360 Derajat

Monumen-Nasional-Monas-landmark-Jakarta

Setiap hari ribuan orang melewatinya. Tapi, siapa yang peduli?

 

Monumen Nasional, atau Monas, mungkin sebuah ironi. Terletak di sebuah taman megah dan rimbun seluas 90 hektar tepat di jantung Jakarta, dan tiap hari dilewati ribuan orang, tapi coba tanya, siapa di antara mereka yang pernah berkunjung dan naik ke puncaknya? Apalagi jika ditanya dari mana orang bisa masuk dan naik ke Monas. Pasti yang tahu akan sama sedikitnya.

Jasa-tukang-foto-keliling-di-Monas

Mesti kreatif agar pengunjung bisa memegang emas Monas.

Yang sering berkunjung ke Monas dan ‘menyelamatkannya’ mungkin hanya anak-anak sekolah yang tengah mendapat tugas pelajaran IPS, atau anak-anak sekolah dari luar kota yang darmawisata. Dan tentu saja, para pedagang asongan, yang sering kucing-kucingan dengan satpam Monas, tak peduli pagi, siang, atau malam.

Proses-pembuatan-tugu-api-emas-Monas

Proses pembuatan api emas.

Dimulai pembangunannya 17 Agustus 1961 atas perintah Presiden Soekarno, Monas selesai dibangun tahun 1967, namun baru dibuka untuk publik tahun 1975. Bangunan setinggi 132 meter ini mempunyai puncak berbentuk nyala api yang terbuat dari 14,5 ton perunggu berlapis 50 kilogram emas. Desain Monas melambangkan lingga dan yoni, perpaduan elemen maskulin dan feminin dalam konsep Hindu-Jawa. Meski, kadang sering ‘dihaluskan’ sebagai lambang lesung dan alu. Dengan tiket masuk Rp 20.000, kita bisa masuk ke bagian yoni ini dan juga naik melalui satu-satunya lift hingga ke menara pandang di puncak, sedikit di bawah api emas.

Anak-anak-sekolah-pengunjung-utama-Monas

Tak sabar menunggu giliran meneropong Jakarta.

Di bagian yoni terdapat Ruang Kemerdekaan yang merupakan amfiteater. Di sini kita bisa mendengarkan rekaman suara Ir. Soekarno sewaktu membacakan teks proklamasi. Ruangan bawahnya adalah Museum Sejarah Nasional, tempat yang sejuk dan luas, yang keempat sisinya berisi diorama perjalanan bangsa Indonesia, dan juga beberapa panel yang memamerkan proses pembangunan Monas.

Monas-saat-bulan-purnama

Pernahkah kamu menikmati Monas saat purnama?

Bagian puncaknya menawarkan pandangan ke empat penjuru mata angin Jakarta, dilengkapi 4 teropong pandang di setiap sudut. Jika cuaca cerah, di sebelah utara kita bisa melihat Laut Jawa, di sebelah selatan bisa melihat Gunung Salak. Sayangnya, menara pandang ini dipagari oleh jeruji-jeruji baja, sehingga menyulitkan bagi yang ingin memotret. Apalagi bila postur anda kecil. Dari menara pandang ini ironisnya kita juga tidak bisa melihat emas yang tepat berada di atas kepala kita, karena satu-satunya pintu menuju api emas itu terkunci, dan hanya dibuka saat petugas membersihkan api emas, yang kita tak tahu kapan jadwalnya.

Meski agak jauh dari sempurna, begitu turun dari puncak dan menjelajahi taman Monas yang luas, mungkin anda akan mendapat ide bahwa ini adalah tempat yang sempurna untuk jogging, membawa keluarga jalan-jalan di sore hari, atau untuk tempat berfoto-foto. [T]

 

Standard
Indonesia, Journey

Menjelajah 12 Destinasi Instagrammable di Kaki Langit

Watu-Goyang-Desa-Wisata-Kakilangit-Bantul-Jogja

Bagaimana ceritanya sebuah desa bisa punya begitu banyak spot wisata yang semuanya asyik untuk foto-foto? Saya mencoba menelusurinya selama tiga hari, dan ternyata waktunya masih kurang!

 

Langit di ufuk timur yang terhalang ranting-ranting pohon jati yang meranggas di depan Homestay Joyo tempat saya menginap itu tampak mulai terang. Kepanikan pun mulai merambat dalam diri saya. Pasti bakal telat nih mengejar sunrise dan kabut di Kebun Buah Mangunan! Padahal ini baru pukul 5 pagi. Tapi kok langit sudah terang begitu ya?

Watu-Goyang-Desa-Wisata-Kakilangit-Bantul-Jogja

Sore yang berbunga-bunga di Watu Goyang.

Untungnya dua pengojek yang kami tunggu, Mas Kencrung dan Pak Parman, segera muncul. Mereka memang sudah kami beritahu tadi malam untuk menjemput saya dan Mas Johan, teman seperjalanan, sehabis subuh ini. Mereka bukan pengojek, melainkan dua staf sekretariat Desa Wisata Kaki Langit -nama keren atau ‘brand‘ untuk destinasi wisata Desa Mangunan- yang menawarkan diri untuk mengantar kami berkeliling, setelah tahu kami tidak membawa kendaraan sendiri.

Pemandu-wisata-di-Watu-Goyang-Kakilangit-Bantul-Jogja

Pemandu wisata lokal sudah mulai banyak untuk membantu para turis yang perlu informasi lebih.

Kemarin sore mereka sudah mengantar kami untuk melihat sunset dan kompleks makam para sultan Mataram di Imogiri dari ketinggian di Batu Goyang. Meski kami kurang beruntung karena langitnya mendung, tapi saya menikmati sekali suasana sejuk dan berangin di bukit itu, dan berhasil menggoyangkan dua batu besar yang saling menumpuk di bibir puncak bukit. Sungguh ajaib, kedua batu itu tidak menggelundung ke lembah sana, meskipun sudah digoyang-goyang oleh para wisatawan, entah sudah berapa ribu kali.

Memanfaatkan Bukit, Jurang, dan Lembah

Langit sudah benar-benar terang ketika kami sampai di pintu masuk Kebun Buah Mangunan. Setelah membayar tiket masuk Rp 6.000 per orang, ternyata kami masih harus masuk agak jauh lagi untuk sampai ke ujung bukit, tempat untuk memandang kabut. Kebun buahnya sendiri tak tampak seperti kebun buah karena tidak ada pohon yang tengah berbuah di akhir Oktober ini.

Menunggu-kabut-Kebun-Buah-Mangunan-Desa-Wisata-Kakilangit-Bantul-Jogja

Setia menunggu kabut yang tak kunjung datang.

Ini Minggu pagi dan undak-undakan yang menurun hingga ke bibir bukit yang hanya dipagari bambu itu ramai sekali oleh para pengunjung yang sebagian besar anak-anak muda generasi milenial. Mereka sibuk berfoto-foto, atau duduk-duduk di undakan dan beberapa gazebo, menunggu matahari yang belum muncul, dan belum tahu juga dari arah mana akan muncul. Dan, oh iya, di mana gerangan kabutnya, yang menjadi ikon di foto-foto instagram tentang tempat ini?

Sepertinya saya tidak beruntung kali ini. Lembah curam di depan pagar bambu itu bisa saya lihat dengan jelas, dengan sungai yang menyisakan sedikit airnya, mengular hingga menghilang di balik bukit di depan sana. Rumah-rumah di Desa Sriharjo yang ada di lembah juga terlihat dengan jelas. Entah bagaimana caranya bisa ke desa itu, karena lembah di bawah sana itu dalam sekali dan tidak mungkin turun dari bukit ini. Pasti memakai jalan memutar.

Matahari yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dari balik kabut tipis dan ternyata sudah cukup tinggi, dari arah kiri kami, terhalang dahan dan ranting-ranting pohon jati yang meranggas. Ooh, berarti mungkin dari spot ini yang dicari itu kabutnya, bukan sunrise-nya.

“Biasanya kabut tebal muncul saat musim hujan, Mas. Sekarang ini di Mangunan belum sekalipun hujan,” terang Pak Parman, lelaki berambut putih yang saya taksir usianya sekitar 65 tahun itu.

Kami pun memutuskan untuk pindah ke lokasi foto-foto yang lain. Setelah hampir setahun ini mem-branding diri dengan nama ‘Desa Wisata Kaki Langit’, Mangunan, yang berada di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini punya sekurangnya 12 destinasi wisata digital di berbagai sudut desa, plus di Desa Muntuk yang menjadi tetangganya. ‘Destinasi digital’ ini maksudnya adalah destinasi yang heboh di dunia maya, viral di medsos, dan ngehits di instagram. Sejak setahun lalu Kementerian Pariwisata RI menggaungkan kampanye ini dan punya target membuat 100 destinasi digital di seluruh Indonesia untuk menggaet lebih banyak lagi wisatawan.

Selain Kebun Buah Mangunan dan Watu Goyang, masih ada Jurang Tembelan, Bukit Mojo, Bukit Panguk, Watu Lawang, Watu Mabur, Pintu Langit, Lintang Sewu, Puncak Becici, Hutan Pinus, serta Watu Sewu daaan… Rumah Hobbit! (Kemudian saya tahu, spot hutan pinusnya pun ada empat: Hutan Pinus Mangunan, Pinus Sari, Pinus Asri, dan Pinus Pengger. Dua yang terakhir ini masuk Desa Muntuk). Belum dihitung Pasar Kaki Langit yang digagas Genpi Jogja, yang buka setiap Sabtu dan Minggu pagi pukul 6 hingga 12. Lalu ada wisata kuliner, wisata jelajah desa dengan jip, dan wisata kerajinan.

Bagaimana sebuah desa bisa punya spot wisata sebanyak itu, dan bagaimana saya akan bisa menghabiskannya dalam waktu 3 hari 2 malam ini, nantilah dipikir sambil jalan. Kalau bisa sih kami jelajahi semuanya!

Jurang-Tembelan-Desa-Wisata-Kakilangit-Bantul-Jogja

Berpakaian dengan warna mencolok mencegah model tersamar dari latar belakang.

Pilihan destinasi berikutnya adalah ke Jurang Tembelan, yang tak jauh dari kebun buah ini. Hanya 5 menit berkendara, kami pun sampai. Tiket masuknya hanya Rp 2.500, dan harga yang sama juga berlaku untuk destinasi-destinasi lainnya. “Yang berbeda cuma di kebun buah tadi, karena dikelola oleh Dinas Perkebunan, bukan oleh desa,” terang Mas Kencrung yang memboncengkan Mas Johan.

Standard
Indonesia, Journey

10 Destinasi Wajib Kunjung di Swiss van Java

Kampung-Sampireun-Garut-di-waktu-pagi

Dibanding Bandung, Garut tidaklah crowded, serta menawarkan banyak tempat unik dan aktivitas asyik untuk dikunjungi, bahkan saat weekend.

 

Selalu menyenangkan untuk kembali dan kembali lagi ke Garut. Apalagi jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 3-4 jam naik bis umum dari Jakarta. Sebagian orang suka dengan dodolnya yang sudah menjadi trade-mark Garut sejak lama. Yang lain suka dengan suasana resor Kampung Sampireun yang asri dan benar-benar ‘Sunda’. Saya sendiri lebih suka Cipanas, di mana deretan penginapan, resor, hingga fasilitas umum semuanya menawarkan keasyikan yang sama: air panas alami yang membuat badan jadi relaks.

Yakin deh, kalau cuma sekali saja ke sana saat akhir pekan, daftar tempat di bawah ini nggak akan bisa semuanya dikunjungi. Apalagi kalau ditambah hingga ke Pantai Pamengpeuk atau Pantai Santolo di ujung selatan Kabupaten Garut, yang perlu waktu 2-3 jam sendiri dari kota Garut.

1. Situ dan Candi Cangkuang

Ini obyek wisata pertama yang akan dijumpai, beberapa kilometer sebelum kita masuk ke kota Garut. Situ (danau) Cangkuang dengan sebuah candi Hindu di pulau di tengahnya ini  sebenarnya tempat wisata untuk ‘orang biasa’ yang hendak berziarah. Tapi asyik juga kalau kita mampir untuk menikmati keunikan rakit penyeberangannya. Rakit bambu ini panjangnya sekitar 30 meter, dan bisa mengangkut puluhan orang. Sambil menyeberang, iringan musik dari grup pengamen menemani kita menikmati panorama sekitar danau. Usahakan datang ke sini pagi sekitar jam 8-9.

Danau-Situ-Cangkuang-Garut-yang-fotogenik

Danau Cangkuang dan latar belakangnya yang bikin sejuk mata.

Candi Cangkuang, yang ada di tengah danau, diperkirakan berasal dari abad ke-8. Di dalamnya ada arca Dewa Shiwa berukuran kecil, sedang bersila di atas lembu Nandi. Uniknya, di samping candi ini terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad, yang menyebarkan agama Islam di daerah ini pada abad ke-17. Ia mempunyai keturunan 6 anak perempuan dan 1 laki-laki. Rumah-rumah anak perempuan yang semuanya enam, bentuknya rumah semi-panggung, mengelilingi sebuah masjid kecil, membentuk sebuah kampung yang dinamakan Kampung Pulo. Jumlah rumah ini dipertahankan tetap enam, sehingga jika ada keturunan Embah Dalem yang membentuk keluarga baru, ia mesti keluar dari kampung ini.

2. Cipanas dan Gunung Guntur

Beberapa kilometer dari Situ Cangkuang, begitu sampai di Jalan Tarogong Raya, beloklah ke kanan begitu ada penunjuk jalan ke arah Cipanas. Sebagian besar orang yang berwisata ke Garut menginap di daerah ini, dan jarang sekali yang menginap di kota Garut. Alasannya sederhana: Cipanas mudah dijangkau angkutan umum, banyak tempat makan, dan terutama… sumber air panas alami yang melimpah.

Tersedia banyak tempat menginap mulai dari resor mewah seperti Kampung Sumber Alam (www.resort-kampungsumberalam.com), Hotel Danau Deriza, Tirtagangga, Sabda Alam, dan sebagainya, sampai penginapan murah bertarif 75 ribu per malam. Resor dan hotel-hotel ini memang rada susah booking-nya kalau mendadak, apalagi kalau weekend. Tapi kalau mau go show, tidak usah khawatir karena penginapan di sini banyak sekali, bahkan sampai masuk ke gang-gang.

Kampung-Sumber-Alam-Cipanas-Garut-resort-terbaik

Beginilah suasana resor Kampung Sumber Alam, Cipanas.

Yang unik ya itu tadi, dari resor kelas atas sampai penginapan murmer ini, semuanya menyediakan fasilitas air panas mengandung belerang, langsung dari sumbernya. Pemandian-pemandian umum juga buka hampir 24 jam. Jangan heran kalau ada orang berenang jam 2 atau jam 4 pagi. Semuanya itu mungkin karena airnya panas. Cipanas juga tempat menginap favorit para pendaki yang hendak mendaki Gunung Guntur atau sekedar kemping di Curug Citiis, yang terletak di belakang penginapan-penginapan ini.

3. Masjid Art Deco

Letaknya memang agak jauh, di Dusun Cipari, Desa Cimaragas, Kecamatan Pangatikan. Kira-kira 45 menit berkendara ke arah timur laut dari kota Garut. Tapi kalau menyukai bangunan-bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda, pastinya mesti ke sini.

Masjid-Art-Deco-keren-di-Cipari-Garut

Masjid Art Deco menyambut mentari pagi.

Bangunan masjid berwarna krem ini bentuknya memang aneh, bangunannya kotak memanjang. Tembok bagian bawah disusun dari pondasi batu kali, sedangkan bagian atasnya campuran pasir dan batu kapur, yang konon direkatkan memakai putih telur. Di atas jendela-jendela masjid ini ada ventilasi, yang dihiasi dengan garis-garis membujur mengelilingi bangunan, yang menjadi ciri gaya art deco, sebuah aliran arsitektur yang populer di era 1920-1930-an. Lampu-lampu gantungnya mirip dengan yang ada di film-film Perang Dunia II. Di atas pintu utama menjulang menara masjid setinggi 17 meter yang berbentuk kubah segi delapan. Di atasnya lagi ada tiang setinggi 8 meter, dengan lambang bulan sabit dan bintang. Konon masjid bergaya art deco ini hanya ada dua di Indonesia. Yang pertama masjid ini, yang kedua Masjid Sumobito di Mojowarno, Mojokerto, Jawa Timur.

Masjid-Art-Deco-Cipari-Garut

Dari kejauhan sudah terlihat ciri khasnya.

Masjid yang berdiri tahun 1935 ini didesain oleh Ir. Abikusno Tjokrosuyoso, teman Ir. Soekarno. Sejak dulu masjid ini memang menjadi tempat rapat-rapat organisasi Sarekat Islam. Tak heran masjidnya pun bernama Masjid As-Syura (tempat bermusyawarah), hanya saja masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Masjid Cipari. Satu fakta unik yang lain, Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI/TII, dulunya termasuk salah seorang yang terlibat dalam pembangunan masjid ini.

4. Gunung Papandayan

Dari kota Garut ke selatan, kita akan sampai ke sebuah pertigaan. Yang ke kiri menuju Cikajang, ke kanan mengarah ke Gunung Papandayan. Meski puncak Gunung Papandayan ini cukup tinggi, 2.665 meter di atas permukaan laut, nggak usah jiper dulu. Nggak perlu naik sampai puncaknya, karena kawah-kawahnya yang keren tidak terletak di puncak, melainkan di pinggangnya, tak jauh dari tempat parkir kendaraan.

Kawah-Baru-Papandayan-warna-airnya-eksotis

Warna air Kawah Baru Papandayan yang eksotis dan menyihir pengunjung.

Kawah Mas, Kawah Manuk, Kawah Nangklak, dan Kawah Baru –yang terbentuk dari letusan tahun 2003 lalu– tak henti-hentinya menggelegak dan mengeluarkan asap berbau belerang. Kalau status gunungnya bukan ‘Awas!’ (artinya berbahaya), asyik banget lokasi ini untuk berfoto-foto.

Standard
Ngarai Sianok Bukittinggi
Indonesia, Journey

Cholesterol Journey

Jam-Gadang-Bukittinggi-landmark-kota

Kenangan menyantap makanan yang aneh-aneh membuat saya selalu ingin kembali ke kota ini.

 

Rasanya aneh saja kalau saya belum pernah ke Bukittinggi. Padahal kota ini merupakan destinasi wisata  paling terkenal di Pulau Sumatra, bahkan menjadi tujuan utama wisatawan Malaysia. Makanya, setelah membaca  artikel-artikel pengalaman perjalanan ke Bukittinggi di www.cimbuak.net, dan melihat foto-foto keindahan alam Sumatra Barat di www.west-sumatra.com, keinginan saya pun makin kuat. Libur panjang Agustus lalu, saya pun mengunjungi kota perbukitan yang konon katanya paling cantik di dunia ini.

Mampir ke SMS

Keluar dari Bandara Internasional Minangkabau, saya segera disambut Jhoni (35), sopir dari Hotel Bukittinggi Hills, di mana saya akan menginap.

Sate-Mak-Sukur-sate-padang-legendaris

Sate Mak Sukur yang tidak pelit seperti di Jakarta.

“Bukittinggi masih sekitar 90 kilometer lagi ke arah utara,” tutur bapak dua anak yang sudah delapan tahun bekerja di hotel ini. Itu kalau memakai rute yang melewati Lembah Anai dan kota Padang Panjang. Kalau memakai rute Pariaman-Danau Maninjau-Kelok 44, jaraknya bisa mencapai 170 kilometer. Saya tidak memilihnya, takut menjadi tua di jalan. Lagipula ada beberapa tempat yang akan saya kunjungi di sepanjang rute pertama. Itu pula sebabnya saya memilih jadwal penerbangan pagi, agar bisa mampir-mampir dulu sebelum check-in.

Air-Terjun-Lembah-Anai-Sumatera-Barat

Mengabadikan kenangan keluarga di Air Terjun Lembah Anai.

Jalan yang kami lalui cukup lebar dan mulus, dan mulai berkelok-kelok serta menanjak setelah melewati air terjun Lembah Anai. Air terjun yang ada di kiri jalan ini, sekitar 10 kilometer sebelum kota Padang Panjang, konon tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang.

Menjelang masuk kota Padang Panjang, kami mampir ke Sate Mak Syukur (SMS), yang cabang-cabangnya juga tersebar di Jakarta. Restoran penuh oleh pengunjung, dan kami mendapat tempat di lantai dua. Begitu sate padang dihidangkan, saya baru sadar, kalau selama ini saya ‘tertipu’ oleh penjual sate padang keliling di Jakarta. Sate di SMS ini besar-besar, mungkin satu potong sate bisa menjadi satu tusuk sate kalau di Jakarta!

Padang Panjang kotanya kecil. Kami melewatkan saja Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) serta Perkampungan Minangkabau yang ada di pusat kota, karena tak lama kemudian, jalanan macet. Ternyata, Senin ini adalah hari pasar di Koto Baru, pusat sayur-mayur di Sumatra Barat. Truk-truk pengangkut sayur melakukan bongkar muat di pinggir jalan.

Untuk melepaskan diri sementara dari kemacetan, sebelum pasar, kami belok kiri ke Pandai Sikek, pusat kerajinan songket dan ukiran kayu. Di sini ada beberapa toko yang menjual tenun songket, meski orang-orang yang mengerjakan tenunannya sendiri tidak saya lihat, karena ada di desa-desa sekitar sini. Satu set sarung bantal, yang terdiri dari 4 sarung dan 1 taplak meja, dijual Rp450 ribu. Satu set kebaya warna pink dijual Rp475 ribu, sedangkan sarung songket untuk bawahan dijual Rp1,1 juta.  “Harganya agak mahal, karena menenun songket butuh waktu dan keterampilan khusus,” kata Erma Yulnita, di toko Satu Karya. “Untuk membuat satu selendang saja dibutuhkan 850 baris benang, sementara untuk sarung sampai 2.000 benang.”

Berbeda dengan kain biasa, yang makin mahal kalau memakai banyak jenis benang, untuk kain songket justru sebaliknya. Yang memakai satu jenis benang malah yang paling mahal, karena membuatnya lebih sulit, dan juga hasilnya makin halus. Begitu kami hendak pergi, satu bis berisi rombongan ibu-ibu dari Malaysia, mampir ke toko itu.

Jam Gadang, Pusat Keramaian

Bukittinggi terletak di ketinggian 1.000 meter di atas pemukaan laut, jadi hawanya sejuk dan nyaman untuk berjalan-jalan, sekalipun siang hari. Di selatan dan tenggara kota membentang Ngarai Sianok, di belakangnya menjulang Gunung Singgalang. Di sebelah timur terletak Gunung Marapi, sedangkan di utara ada sisa-sisa benteng Fort de Kock dan kebun binatang. Berbeda dengan alun-alun pusat kota lain yang biasanya besar, pusat kota Bukittinggi kecil saja, berupa taman beton berukuran sekitar 25 x 25 meter persegi. Di sini berdiri kokoh Jam Gadang, landmark kota. Kontur tanah di sini berjenjang dan juga tidak landai, sehingga kadang bangunan Jam Gadang tampak miring seperti Menara Pisa.

Gunung Singgalang dan kabut putih yang menutupi Ngarai Sianok.

Gunung Singgalang dan kabut putih yang menutupi Ngarai Sianok.

Kalau arah menjadi hal penting, maka sebagai patokan, Hotel Bukittinggi Hills menghadap ke utara –meski perasaan saya bilang hotel itu  menghadap ke barat– sedangkan pagar masuk bangunan Jam Gadang, yang digembok, berada di sisi timur.

Bukittinggi juga kota yang kecil. Pusat kotanya bisa dicapai hanya dengan jalan kaki. Museum Bung Hatta, Rumah Makan Simpang Raya, ada di sekeliling Jam Gadang. Jalan utama di kota ini, Jl. Ahmad Yani, merupakan pusat kafe dan hotel-hotel kecil. Sedangkan Jl. Sudirman, pusat makan di malam hari, juga hanya 5 menit dengan berjalan kaki dari sini.

Hari libur akhir pekan membuat suasana Jam Gadang sore itu ramai sekali oleh para pengunjung yang duduk-duduk atau berfoto, serta para pedagang. Bendi-bendi pun berjejer menunggu penumpang. Memang tak ada air mancur atau burung-burung dara di sini, namun keramahan kota ini segera menyapa saya. Zainal, pedagang gelembung busa, menjadi kenalan pertama saya. Wajahnya mengingatkan saya kepada tukang cukur langganan saya di Duren Tiga, yang berasal dari Pariaman.

Mendung tak menyurutkan orang-orang ke Jam Gadang.Bangunan Jam Gadang dibuat tahun 1926 di masa kolonial Belanda. Bangunan lima tingkat ini puncaknya berujud rumah bagonjong, rumah adat Minangkabau, yang sering juga disebut rumah gadang. Tingkat dua menjadi tempat tidur para penjaganya. Konon, Jam Gadang yang berdiameter 80 cm ini merupakan hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris kota Bukittinggi waktu itu. Rook Maker lalu memerintahkan arsitek dan pemborong lokal, Yazid Abidin dan Haji Moran, untuk membuat bangunannya, yang setinggi 26 meter dan menghabiskan biaya 3.000 gulden.

Standard