Indonesia, Journey

10 Destinasi Wajib Kunjung di Swiss van Java

Kampung-Sampireun-Garut-di-waktu-pagi

Dibanding Bandung, Garut tidaklah crowded, serta menawarkan banyak tempat unik dan aktivitas asyik untuk dikunjungi, bahkan saat weekend.

 

Selalu menyenangkan untuk kembali dan kembali lagi ke Garut. Apalagi jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 3-4 jam naik bis umum dari Jakarta. Sebagian orang suka dengan dodolnya yang sudah menjadi trade-mark Garut sejak lama. Yang lain suka dengan suasana resor Kampung Sampireun yang asri dan benar-benar ‘Sunda’. Saya sendiri lebih suka Cipanas, di mana deretan penginapan, resor, hingga fasilitas umum semuanya menawarkan keasyikan yang sama: air panas alami yang membuat badan jadi relaks.

Yakin deh, kalau cuma sekali saja ke sana saat akhir pekan, daftar tempat di bawah ini nggak akan bisa semuanya dikunjungi. Apalagi kalau ditambah hingga ke Pantai Pamengpeuk atau Pantai Santolo di ujung selatan Kabupaten Garut, yang perlu waktu 2-3 jam sendiri dari kota Garut.

1. Situ dan Candi Cangkuang

Ini obyek wisata pertama yang akan dijumpai, beberapa kilometer sebelum kita masuk ke kota Garut. Situ (danau) Cangkuang dengan sebuah candi Hindu di pulau di tengahnya ini  sebenarnya tempat wisata untuk ‘orang biasa’ yang hendak berziarah. Tapi asyik juga kalau kita mampir untuk menikmati keunikan rakit penyeberangannya. Rakit bambu ini panjangnya sekitar 30 meter, dan bisa mengangkut puluhan orang. Sambil menyeberang, iringan musik dari grup pengamen menemani kita menikmati panorama sekitar danau. Usahakan datang ke sini pagi sekitar jam 8-9.

Danau-Situ-Cangkuang-Garut-yang-fotogenik

Danau Cangkuang dan latar belakangnya yang bikin sejuk mata.

Candi Cangkuang, yang ada di tengah danau, diperkirakan berasal dari abad ke-8. Di dalamnya ada arca Dewa Shiwa berukuran kecil, sedang bersila di atas lembu Nandi. Uniknya, di samping candi ini terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad, yang menyebarkan agama Islam di daerah ini pada abad ke-17. Ia mempunyai keturunan 6 anak perempuan dan 1 laki-laki. Rumah-rumah anak perempuan yang semuanya enam, bentuknya rumah semi-panggung, mengelilingi sebuah masjid kecil, membentuk sebuah kampung yang dinamakan Kampung Pulo. Jumlah rumah ini dipertahankan tetap enam, sehingga jika ada keturunan Embah Dalem yang membentuk keluarga baru, ia mesti keluar dari kampung ini.

2. Cipanas dan Gunung Guntur

Beberapa kilometer dari Situ Cangkuang, begitu sampai di Jalan Tarogong Raya, beloklah ke kanan begitu ada penunjuk jalan ke arah Cipanas. Sebagian besar orang yang berwisata ke Garut menginap di daerah ini, dan jarang sekali yang menginap di kota Garut. Alasannya sederhana: Cipanas mudah dijangkau angkutan umum, banyak tempat makan, dan terutama… sumber air panas alami yang melimpah.

Tersedia banyak tempat menginap mulai dari resor mewah seperti Kampung Sumber Alam (www.resort-kampungsumberalam.com), Hotel Danau Deriza, Tirtagangga, Sabda Alam, dan sebagainya, sampai penginapan murah bertarif 75 ribu per malam. Resor dan hotel-hotel ini memang rada susah booking-nya kalau mendadak, apalagi kalau weekend. Tapi kalau mau go show, tidak usah khawatir karena penginapan di sini banyak sekali, bahkan sampai masuk ke gang-gang.

Kampung-Sumber-Alam-Cipanas-Garut-resort-terbaik

Beginilah suasana resor Kampung Sumber Alam, Cipanas.

Yang unik ya itu tadi, dari resor kelas atas sampai penginapan murmer ini, semuanya menyediakan fasilitas air panas mengandung belerang, langsung dari sumbernya. Pemandian-pemandian umum juga buka hampir 24 jam. Jangan heran kalau ada orang berenang jam 2 atau jam 4 pagi. Semuanya itu mungkin karena airnya panas. Cipanas juga tempat menginap favorit para pendaki yang hendak mendaki Gunung Guntur atau sekedar kemping di Curug Citiis, yang terletak di belakang penginapan-penginapan ini.

3. Masjid Art Deco

Letaknya memang agak jauh, di Dusun Cipari, Desa Cimaragas, Kecamatan Pangatikan. Kira-kira 45 menit berkendara ke arah timur laut dari kota Garut. Tapi kalau menyukai bangunan-bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda, pastinya mesti ke sini.

Masjid-Art-Deco-keren-di-Cipari-Garut

Masjid Art Deco menyambut mentari pagi.

Bangunan masjid berwarna krem ini bentuknya memang aneh, bangunannya kotak memanjang. Tembok bagian bawah disusun dari pondasi batu kali, sedangkan bagian atasnya campuran pasir dan batu kapur, yang konon direkatkan memakai putih telur. Di atas jendela-jendela masjid ini ada ventilasi, yang dihiasi dengan garis-garis membujur mengelilingi bangunan, yang menjadi ciri gaya art deco, sebuah aliran arsitektur yang populer di era 1920-1930-an. Lampu-lampu gantungnya mirip dengan yang ada di film-film Perang Dunia II. Di atas pintu utama menjulang menara masjid setinggi 17 meter yang berbentuk kubah segi delapan. Di atasnya lagi ada tiang setinggi 8 meter, dengan lambang bulan sabit dan bintang. Konon masjid bergaya art deco ini hanya ada dua di Indonesia. Yang pertama masjid ini, yang kedua Masjid Sumobito di Mojowarno, Mojokerto, Jawa Timur.

Masjid-Art-Deco-Cipari-Garut

Dari kejauhan sudah terlihat ciri khasnya.

Masjid yang berdiri tahun 1935 ini didesain oleh Ir. Abikusno Tjokrosuyoso, teman Ir. Soekarno. Sejak dulu masjid ini memang menjadi tempat rapat-rapat organisasi Sarekat Islam. Tak heran masjidnya pun bernama Masjid As-Syura (tempat bermusyawarah), hanya saja masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Masjid Cipari. Satu fakta unik yang lain, Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI/TII, dulunya termasuk salah seorang yang terlibat dalam pembangunan masjid ini.

4. Gunung Papandayan

Dari kota Garut ke selatan, kita akan sampai ke sebuah pertigaan. Yang ke kiri menuju Cikajang, ke kanan mengarah ke Gunung Papandayan. Meski puncak Gunung Papandayan ini cukup tinggi, 2.665 meter di atas permukaan laut, nggak usah jiper dulu. Nggak perlu naik sampai puncaknya, karena kawah-kawahnya yang keren tidak terletak di puncak, melainkan di pinggangnya, tak jauh dari tempat parkir kendaraan.

Kawah-Baru-Papandayan-warna-airnya-eksotis

Warna air Kawah Baru Papandayan yang eksotis dan menyihir pengunjung.

Kawah Mas, Kawah Manuk, Kawah Nangklak, dan Kawah Baru –yang terbentuk dari letusan tahun 2003 lalu– tak henti-hentinya menggelegak dan mengeluarkan asap berbau belerang. Kalau status gunungnya bukan ‘Awas!’ (artinya berbahaya), asyik banget lokasi ini untuk berfoto-foto.

Standard
Ngarai Sianok Bukittinggi
Indonesia, Journey

Cholesterol Journey

Jam-Gadang-Bukittinggi-landmark-kota

Kenangan menyantap makanan yang aneh-aneh membuat saya selalu ingin kembali ke kota ini.

 

Rasanya aneh saja kalau saya belum pernah ke Bukittinggi. Padahal kota ini merupakan destinasi wisata  paling terkenal di Pulau Sumatra, bahkan menjadi tujuan utama wisatawan Malaysia. Makanya, setelah membaca  artikel-artikel pengalaman perjalanan ke Bukittinggi di www.cimbuak.net, dan melihat foto-foto keindahan alam Sumatra Barat di www.west-sumatra.com, keinginan saya pun makin kuat. Libur panjang Agustus lalu, saya pun mengunjungi kota perbukitan yang konon katanya paling cantik di dunia ini.

Mampir ke SMS

Keluar dari Bandara Internasional Minangkabau, saya segera disambut Jhoni (35), sopir dari Hotel Bukittinggi Hills, di mana saya akan menginap.

Sate-Mak-Sukur-sate-padang-legendaris

Sate Mak Sukur yang tidak pelit seperti di Jakarta.

“Bukittinggi masih sekitar 90 kilometer lagi ke arah utara,” tutur bapak dua anak yang sudah delapan tahun bekerja di hotel ini. Itu kalau memakai rute yang melewati Lembah Anai dan kota Padang Panjang. Kalau memakai rute Pariaman-Danau Maninjau-Kelok 44, jaraknya bisa mencapai 170 kilometer. Saya tidak memilihnya, takut menjadi tua di jalan. Lagipula ada beberapa tempat yang akan saya kunjungi di sepanjang rute pertama. Itu pula sebabnya saya memilih jadwal penerbangan pagi, agar bisa mampir-mampir dulu sebelum check-in.

Air-Terjun-Lembah-Anai-Sumatera-Barat

Mengabadikan kenangan keluarga di Air Terjun Lembah Anai.

Jalan yang kami lalui cukup lebar dan mulus, dan mulai berkelok-kelok serta menanjak setelah melewati air terjun Lembah Anai. Air terjun yang ada di kiri jalan ini, sekitar 10 kilometer sebelum kota Padang Panjang, konon tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang.

Menjelang masuk kota Padang Panjang, kami mampir ke Sate Mak Syukur (SMS), yang cabang-cabangnya juga tersebar di Jakarta. Restoran penuh oleh pengunjung, dan kami mendapat tempat di lantai dua. Begitu sate padang dihidangkan, saya baru sadar, kalau selama ini saya ‘tertipu’ oleh penjual sate padang keliling di Jakarta. Sate di SMS ini besar-besar, mungkin satu potong sate bisa menjadi satu tusuk sate kalau di Jakarta!

Padang Panjang kotanya kecil. Kami melewatkan saja Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) serta Perkampungan Minangkabau yang ada di pusat kota, karena tak lama kemudian, jalanan macet. Ternyata, Senin ini adalah hari pasar di Koto Baru, pusat sayur-mayur di Sumatra Barat. Truk-truk pengangkut sayur melakukan bongkar muat di pinggir jalan.

Untuk melepaskan diri sementara dari kemacetan, sebelum pasar, kami belok kiri ke Pandai Sikek, pusat kerajinan songket dan ukiran kayu. Di sini ada beberapa toko yang menjual tenun songket, meski orang-orang yang mengerjakan tenunannya sendiri tidak saya lihat, karena ada di desa-desa sekitar sini. Satu set sarung bantal, yang terdiri dari 4 sarung dan 1 taplak meja, dijual Rp450 ribu. Satu set kebaya warna pink dijual Rp475 ribu, sedangkan sarung songket untuk bawahan dijual Rp1,1 juta.  “Harganya agak mahal, karena menenun songket butuh waktu dan keterampilan khusus,” kata Erma Yulnita, di toko Satu Karya. “Untuk membuat satu selendang saja dibutuhkan 850 baris benang, sementara untuk sarung sampai 2.000 benang.”

Berbeda dengan kain biasa, yang makin mahal kalau memakai banyak jenis benang, untuk kain songket justru sebaliknya. Yang memakai satu jenis benang malah yang paling mahal, karena membuatnya lebih sulit, dan juga hasilnya makin halus. Begitu kami hendak pergi, satu bis berisi rombongan ibu-ibu dari Malaysia, mampir ke toko itu.

Jam Gadang, Pusat Keramaian

Bukittinggi terletak di ketinggian 1.000 meter di atas pemukaan laut, jadi hawanya sejuk dan nyaman untuk berjalan-jalan, sekalipun siang hari. Di selatan dan tenggara kota membentang Ngarai Sianok, di belakangnya menjulang Gunung Singgalang. Di sebelah timur terletak Gunung Marapi, sedangkan di utara ada sisa-sisa benteng Fort de Kock dan kebun binatang. Berbeda dengan alun-alun pusat kota lain yang biasanya besar, pusat kota Bukittinggi kecil saja, berupa taman beton berukuran sekitar 25 x 25 meter persegi. Di sini berdiri kokoh Jam Gadang, landmark kota. Kontur tanah di sini berjenjang dan juga tidak landai, sehingga kadang bangunan Jam Gadang tampak miring seperti Menara Pisa.

Gunung Singgalang dan kabut putih yang menutupi Ngarai Sianok.

Gunung Singgalang dan kabut putih yang menutupi Ngarai Sianok.

Kalau arah menjadi hal penting, maka sebagai patokan, Hotel Bukittinggi Hills menghadap ke utara –meski perasaan saya bilang hotel itu  menghadap ke barat– sedangkan pagar masuk bangunan Jam Gadang, yang digembok, berada di sisi timur.

Bukittinggi juga kota yang kecil. Pusat kotanya bisa dicapai hanya dengan jalan kaki. Museum Bung Hatta, Rumah Makan Simpang Raya, ada di sekeliling Jam Gadang. Jalan utama di kota ini, Jl. Ahmad Yani, merupakan pusat kafe dan hotel-hotel kecil. Sedangkan Jl. Sudirman, pusat makan di malam hari, juga hanya 5 menit dengan berjalan kaki dari sini.

Hari libur akhir pekan membuat suasana Jam Gadang sore itu ramai sekali oleh para pengunjung yang duduk-duduk atau berfoto, serta para pedagang. Bendi-bendi pun berjejer menunggu penumpang. Memang tak ada air mancur atau burung-burung dara di sini, namun keramahan kota ini segera menyapa saya. Zainal, pedagang gelembung busa, menjadi kenalan pertama saya. Wajahnya mengingatkan saya kepada tukang cukur langganan saya di Duren Tiga, yang berasal dari Pariaman.

Mendung tak menyurutkan orang-orang ke Jam Gadang.Bangunan Jam Gadang dibuat tahun 1926 di masa kolonial Belanda. Bangunan lima tingkat ini puncaknya berujud rumah bagonjong, rumah adat Minangkabau, yang sering juga disebut rumah gadang. Tingkat dua menjadi tempat tidur para penjaganya. Konon, Jam Gadang yang berdiameter 80 cm ini merupakan hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris kota Bukittinggi waktu itu. Rook Maker lalu memerintahkan arsitek dan pemborong lokal, Yazid Abidin dan Haji Moran, untuk membuat bangunannya, yang setinggi 26 meter dan menghabiskan biaya 3.000 gulden.

Standard
Indonesia, Journey

Solo Masih Menari

Pura-Mangkunegaran-Solo-tempat-latihan-menari

Dengan kesederhanaannya, sebuah sanggar terus berkarya untuk melestarikan tari tradisional Jawa.

 

Ini yang ketiga kalinya dalam tiga hari terakhir saya mampir ke sini. Seperti biasa, pintu gerbang utama di sebelah selatan selalu terkunci – tak ada orang yang bisa masuk lewat pintu ini. Pintu gerbang sebelah barat selalu terbuka, dengan penjagaan yang longgar, sehingga orang-orang bisa masuk melalui pintu ini. Pintu gerbang sebelah timur hanya sedikit terbuka, namun orang juga leluasa masuk dari sini. Dan saya masuk dari pintu ini.

Begitu masuk, sebuah halaman yang luas di depan sebuah pendopo besar yang menghadap ke selatan segera menyambut. Di tengah halaman ini ada sebuah kolam berbentuk daun semanggi, dengan ikan-ikan besar di dalamnya yang beberapa kali menggelepakkan ekornya. Di atas kolam ada sebuah air mancur yang keluar dari mulut seekor angsa emas yang dipegang lehernya oleh seorang bocah lelaki. Tak jauh dari sini, dekat pintu gerbang utama, ada garasi berisi mobil-mobil antik.

Di sebelah timur dan barat pendopo ada bangsal yang berisi ruang-ruang kerja, sedangkan di belakang pendopo merupakan teras sebuah rumah yang memajang berbagai lukisan besar, empat buah patung bergaya kolonial, dan dua patung singa. Sebuah plakat wana merah yang bertarikh 1866 dengan lambang MN dan sebuah mahkota menunjukkan dengan jelas kapan rumah ini dibangun. Di belakang rumah ini tampaknya masih ada rumah-rumah lain, namun tembok yang mengelilinginya cukup tinggi dan tertutup, sehingga menyurutkan saya untuk memasukinya.

Ini adalah Pura Mangkunegaran, salah satu dari dua istana yang ada di Solo. Istana lainnya adalah Kraton Kasunanan Surakarta. Semula saya mengira suasana Pura Mangkunegaran ini seperti Kraton Yogyakarta, di mana para tamu atau turis yang datang akan dipandu oleh para guide untuk melihat-lihat isi kraton dan juga melihat aktivitas para abdi dalem di istana. Namun di sini tidak ada yang seperti itu. Tak ada loket karcis, tak ada guide. Sepi.

Bangsal Barat Pura Mangkunegaran Solo

Bangsal Barat Pura Mangkunegaran yang menampilkan sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Sebuah ruangan di bangsal sebelah barat terbuka pintunya. Di dekat pintu itu ada seorang ibu yang berjualan sate. Ruangan itu ternyata tempat penyewaan kostum wayang, dan yang menjaga Bu Juliyah.

“Yang menyewa kostum ini anak-anak yang latihan menari di Sanggar Suryo Sumirat,” tuturnya. Secara teratur sanggar tari itu mengadakan pentas, dan anak-anak menyewa kostum di sini, karena ongkos sewanya yang murah, hanya Rp 25.000. Kalau membuat kostum sendiri biayanya bisa mencapai Rp 200.000.

“Sebentar lagi anak-anak yang latihan menari juga datang. Setiap hari ada latihan, kok. Mulainya  jam 3 sore.”

Murid-murid-Sanggar-Suryo-Sumirat-berlatih-menari

Sejak kecil anak-anak perempuan berlatih menari.

Sanggar Suryo Sumirat merupakan satu-satunya sanggar tari yang ada di lingkungan kraton, dan mengadakan kursus tari baik tari klasik Jawa Solo maupun tari kreasi baru. Didirikan tahun 1982, sanggar ini tampaknya tetap low profile meski telah berulangkali mengadakan pentas berkualitas internasional dan sering ikut dalam misi mengenalkan Indonesia ke luar negeri.

“Biasanya latihan diadakan di Prangwedanan, pendopo samping yang ada di luar gerbang timur. Namun karena saat ini sedang direnovasi, latihan pindah ke pendopo utama,” tambah Bu Juliyah.

Anak-anak mulai berdatangan bersama orangtua mereka ketika saya masih asyik menikmati sate kere yang dijual Bu Marni di depan pintu penyewaan kostum ini. Betapa kontradiktif, pikir saya dalam hati. Di lingkungan kraton, yang dijual adalah sate kere (sate orang miskin). Satenya terdiri dari sate usus sapi, jeroan sapi, ginjal sapi, gembus, dan sate tempe, yang dibakar lalu disajikan bersama lontong dan bumbu kacang. Untuk semuanya itu, saya hanya membayar Rp 6.000. Yang unik, ternyata Bu Marni satu-satunya pedagang asongan yang diizinkan berjualan di sekitar pendopo. Dan yang lebih mengejutkan, dia telah berjualan sate ini selama 40 tahun!

Sanggar-Suryo-Sumirat-mempunyai-beberapa-kelas-tari

Jenis tari berbeda-beda sesuai tingkatan kelas.

Latihan menari ternyata dimulai tepat waktu. Di sisi timur pendopo, yang berlatih adalah anak-anak perempuan berusia 7-10 tahun, dan dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing sekitar 30 anak. Dua guru yang bertugas sore itu, Erni dan partner kerjanya Wanti, melatih dulu anak-anak yang lebih kecil. Gerakan tarinya sederhana, dan Erni serta Wanti masih banyak memberikan instruksi dan membetulkan gerakan tari. Para orangtua yang mengantar tampak duduk lesehan di lantai pendopo, tak jauh dari anak-anak yang latihan. Setiap kali selesai menjelaskan satu gerakan, seorang lelaki kemudian menyalakan sebuah mini compo yang ditaruh di lantai, dan sekarang dimulai praktek dengan iringan musik gamelan dari kaset.

Standard
Motif tenun songket Pantai Sikek Sumatera Barat
Indonesia, Journey

Ratu Songket Pandai Sikek

Kapan benang masuk dari bawah atau atas itu perlu skill tersendiri untuk menenun songket Pandai Sikek

Mempelajari mekanisme menenun songket saja pusing, apalagi menyelesaikan tenunannya yang bisa berbulan-bulan.

 

Dari arah kota Padang Panjang, mobil kami berbelok ke kiri memasuki jalan kecil, begitu melihat papan petunjuk ke arah Pandai Sikek, sebelum pasar Koto Tinggi. Pemandangan berganti menjadi suasana pedesaan, dan beberapa rumah di kanan-kiri masih terlihat ada yang rusak, bekas terkena gempa beberapa waktu lalu. Untunglah, tampaknya gempa di desa di kaki Gunung Singgalang ini tidak parah, sehingga kehidupan sudah berjalan normal kembali.

Kami melewati deretan toko yang menjual ukiran kayu serta kain-kain songket. Keduanya memang kerajinan khas daerah ini. Ukiran umumnya dikerjakan laki-laki, sedangkan songket umumnya dikerjakan kaum perempuan. Kalau kita mengikuti paket wisata, umumnya penyelenggara tur akan mengantar kita ke toko-toko ini. Di bagian belakang toko biasanya tersedia alat tenun songket, dan karyawan toko akan memberikan ‘demo kilat’ tentang cara membuat songket, jika kita memintanya.

Tapi bukan ini yang kami cari. Pak Mulyadi dan Pak Ujang, dari Dinas Pariwisata Sumbar, hendak mengantar kami ke Hajjah Yurni, salah satu sesepuh dan guru menenun songket di Pandai Sikek. Atas jasa-jasanya memajukan songket, beliau pernah menerima penghargaan Upakarti tahun 1989 dari Presiden Suharto.

Penenun songket Pandai Sikek yang sudah ahli pun dalam sehari paling bisa menyelesaikan 6 cm kain.

Penenun songket Pandai Sikek yang sudah ahli pun dalam sehari paling bisa menyelesaikan 6 cm kain.

Tak jauh dari pasar Pandai Sikek, dari sebuah rumah berwarna oranye dan dua pohon bougenville merah dan putih di halaman, muncul wajah orang yang kami cari. Meski usianya sudah di atas 60 tahun, rona kecantikan masih terlihat jelas pada wanita yang berkulit kuning langsat dan berdagu runcing itu.

Kami berempat lalu mengikuti langkah beliau, melewati pematang sawah, kolam ikan, menuju rumah salah satu mantan muridnya. Udara segar menyertai cuaca yang sedikit berkabut. Gunung Singgalang tampak perkasa di depan mata, sedangkan di belakang kami menjulang Gunung Merapi.

Linda, murid yang kami cari, tengah menenun sebuah selendang songket di ruang tamu rumah, yang sekaligus menjadi tempat kerjanya. Ditemani putranya yang masih balita, selendangnya baru separuh jadi.

Sekilas, tampaknya apa yang dikerjakannya sederhana: memasukkan benang dari sisi kanan ke kiri melewati rangkaian benang linen yang membentang memanjang, gerakkan sisir besi besar, suara benturan ‘pak-pak’, lalu terbentuklah satu garis kain baru dari persilangan dua benang ini. Tapi sebenarnya ini hanya bagian kecil dari keseluruhan proses.

Standard
Indonesia, Journey

Romansa Rhoma

Bus-Kalideres-Mauk-Banten

Perjalanannya biasa saja, tapi Rhoma Irama berhasil membawa saya kembali ke masa lalu.

 

Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan

Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi…

Saya yang tadinya mau tidur, tersentak mendengar syair-syair lagu ini. Apakah ini déjà vu? Rasanya saya pernah mendengar lagu ini ketika saya naik elf jurusan Kalideres-Mauk saat hendak ke Pulau Laki, beberapa bulan yang lalu. Kok sekarang saya mendengar lagu itu lagi? Jangan-jangan… saya naik elf yang sama?

Saya jadi tak bisa tidur setelah mendengar lagu Pertemuan ini. Bukan karena syairnya klop dengan apa yang akan saya alami – bertemu lagi dengan Ella dalam trip ke Pulau Lancang kali ini. Namun karena lagu dangdut yang dinyanyikan Rhoma Irama dan Nur Halimah ini merupakan lagu ‘klasik’ yang sudah saya dengar di akhir era 80-an, sewaktu saya masih di kampung saya di Brebes sana, dan juga saat naik angkot ataupun naik bis antar-kota jurusan Semarang-Tegal sewaktu saya masih kuliah dulu.

Dulu, saat naik bis dan melewati daerah seperti Weleri, Kaliwungu, atau Pekalongan, dan mendengar lagu ini, entah kenapa, rasanya klop sekali dengan suasana yang tergambar di kiri-kanan jalan. Suasana kota kecil yang damai dan tenang, dengan dokar, becak, pasar, serta para pedagang kaki lima berjejeran di trotoar. Salah satunya pedagang kaset yang menarik pembeli dengan memutar lagu-lagu seperti Pertemuan ini.

Bagi para backpacker yang sering menjelajahi pelosok Jawa, pasti juga sering mendengar lagu-lagu dangdut ‘jadul’ seperti ini diputar di dalam angkot maupun di angkutan pedesaan. Dan anehnya kok ya sampai sekarang, sudah bertahun-tahun lewat, bahkan sudah ganti milenium, lagu itu masih saja diputar, bahkan di pinggiran Jakarta ini! Entah apakah ini karena sesuai dengan tipikal orang Jawa yang masih suka terbuai dengan romantisme masa lalu, ataukah sekadar pertanda bahwa lagu-lagu dangdut lama ini memang timeless dan lebih baik mutunya dibanding lagu-lagu yang lebih baru.

Lagu yang mellow dan romantis ini juga seperti menjadi penawar kecewa saya, yang baru berangkat dari Terminal Bus Kalideres jam 8 pagi. Padahal saya sudah janjian mau ketemu Ella –dan juga Marley dan Bolang– di perempatan Mauk jam 9. Sementara, waktu tempuh Kalideres-Mauk sekitar 1,5 jam. Itu kalau elf berjalan cepat. Sayangnya, kali ini elf berjalan pelan sekali, mungkin dengan kecepatan 10 km/jam. Sang sopir tampaknya ikut terbuai oleh lagu yang diputarnya sendiri, sampai dia lupa menginjak pedal gas! Kalau saya lihat wajahnya yang kalem dan sabar, sepertinya dia orang Jawa juga. Jangan-jangan aslinya dari Kaliwungu! Oke lah, demi Bang Rhoma Irama dan kenangan masa lalu, dia saya maafkan. Biasanya sih pasti saya sudah teriak, “Mas! Bisa cepet dikit nggak!?”

[Kalau di Brebes, sindiran untuk angkot atau angkudes yang berjalan pelan sekali –karena mencari penumpang– ini biasanya lebih kasar. Begini: “Mas, ini angkot apa katil!” Katil itu keranda orang mati, yang digotong oleh empat orang. Jadi, seperti katil artinya jalannya pelan sekali, sama dengan berjalan kaki biasa!]

Elf baru mulai berjalan cepat setelah melewati Penjara Wanita Tangerang. Saya, tentu saja, tidak mengerti apa hubungannya.

Sepertinya, seluruh lagu yang diputar dari CD dan dikumandangkan melalui dua speaker active yang sudah ditempeli stiker Michelin dan Repsol ini merupakan karya Bang Haji semua, yang berpasangan dengan Nur Halimah atau Riza Umami. Tidak ada satu lagu pun yang merupakan duet Bang Haji dengan Rita Sugiarto atau Elvy Sukaesih, pasangan sebelumnya.

Setelah lagu Pertemuan, lagu berikutnya berjudul Bahtera Cinta. Syair awalnya begini:

Beredar sang bumi
Mengitari matahari
Merangkaikan waktu
Tahun-tahun berlalu

Namun cintaku takkan pernah berubah
Masa demi masa
Kita berdua takkan pernah berpisah
Baur dalam cinta… 

Standard