Motif tenun songket Pantai Sikek Sumatera Barat
Indonesia, Journey

Ratu Songket Pandai Sikek

Alat penenun (panta), yang menjadi tempat merentangkan benang dasar yang akan ditenun (tagak), merupakan sebuah konstruksi kayu berukuran 2 x 1,5 meter. Di bagian ujung, gulungan benang linen yang panjangnya mencapai 12 meter dan terdiri dari sekitar 3.000 benang itu, tiap 300 benang diikatkan ke paku. Lebar keseluruhan benang sekitar satu meter. Lalu satu-satu benang itu dibentangkan dengan urutan yang teratur melewati dua karok, melewati sisir besi suri –yang dibuat di Jepang– lalu bertemu dengan benang pakan yang disilangkan oleh Linda. Kain yang sudah dirapatkan dengan gerakan suri tadi dijepit kanan kirinya agar tidak mengerut, kemudian digulung di pangkal panta, di depan Linda. Di kiri dan kanan Linda, digantungkan turak (sekoci dari bambu) yang menjadi tempat benang pakan.

Pola motif kain songket Pandai Sikek yang akan ditenun. Kadang ini tidak diperlukan karena penenun sudah hafal di luar kepala.

Pola motif kain songket yang akan ditenun. Kadang ini tidak diperlukan karena penenun sudah hafal di luar kepala.

Antara ujung gulungan benang dengan karok –yang mengatur giliran atas-bawah pada benang yang dianyam– diselipkan lidi-lidi dengan pola tertentu. Inilah ‘template’ yang menentukan motif kain. Template ini diperjelas lagi dengan peregangan oleh batang palapah sebelum karok, sehingga terlihat mana benang yang akan ‘timbul’ sebagai motif, dan mana benang yang ‘tenggelam’.

Tapi, dari mana Linda tahu bahwa dengan menyelipkan lidi ke atas-bawah, akan menghasilkan motif seperti yang dia inginkan? Apakah dia meniru pola di buku? “Kadang ada contoh di buku,” jelas Yurni. “Pola-polanya sendiri ada banyak, peninggalan nenek moyang kami. Tapi seperti Linda ini, dia sudah hafal di luar kepala!”

Padahal, kami yang mengamati detil aliran benangnya saja, dari ujung sampai pangkal, masih tidak paham juga bagaimana mekanisme keluar-masuknya benang itu sehingga terjadi anyaman kain. Apalagi mewujudkan bayangan motif yang ada dalam pikiran menjadi selipan-selipan lidi. “Kalau mau paham, tinggal dulu di sini selama sebulan,” saran Yurni, “nanti sekalian saya carikan istri.” Hahaha!

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *