Takkan pernah menyesal mengunjungi Tainan, kota tua di Taiwan Selatan. Museumnya memiliki koleksi patung, lukisan, fosil, senjata, hingga jumlah biola terbanyak di dunia.
Sungguh saya tidak mengira, bangunan museum saja bisa semegah ini. Terlebih, mengingat lokasinya yang cukup jauh dari kota tua Tainan, di Taiwan Selatan. Tadi sewaktu di bus saya sampai mengeluh, koq tidak sampai-sampai ya? Begitu berhenti di sebuah taman parkir 30 menit kemudian, ternyata saya masih juga berada di area yang masuk wilayah kota ini, tepatnya di Tainan Metropolitan Park.
Dan sekarang, berdiri di depan air mancur Bassin d’Apollo yang sama persis ukuran dan bentuknya dengan yang ada di Istana Versailles, Prancis, saya jadi melongo. Konon arsitek Gills Perrault yang diminta Chimei Museum membuat replika air mancur ini tahun 2008 sampai butuh waktu 6 tahun. Mulai dari pengukuran dimensi kolam dan patung-patungnya, hingga pembuatan patung marmernya sendiri yang dilakukan di Carrara, Italia.
Kira-kira seratus meter di belakang sana, gedung museum yang kubahnya tinggi mirip Gedung Capitol di Washington DC, terasa masih jauh terpisahkan oleh Jembatan Olympus dan halaman depan Muse Plaza yang luas. Ingin rasanya saya berlama-lama mengambil foto di air mancur ini. Tapi saya ingat pesan seorang teman yang sudah sering ke museum ini, supaya jangan berlama-lama di halaman. “Di dalam museum lebih keren lagi,” katanya.
Olympus Bridge dan Danau Muse menjelang senja,
Saya melewati Olympus Bridge yang membentang di atas Muse Lake, dengan 12 patung dewa-dewi Romawi di kanan-kirinya, dan sampai di Muse Plaza. Ini adalah pelataran rumput luas di depan museum. Suasana Eropa segera terasa melihat pola rerumputan yang ditata berselang-seling dengan kotak-kotak ubin berukuran besar. Baru sampai di sini saja, saya sudah mulai merasa capek saking luasnya. Namun saya memaksakan diri untuk segera menaiki anak tangga di bawah pilar-pilar raksasa dengan atapnya yang tinggi, dan masuk ke lobi museum.
Impian Masa Kecil
Chimei Museum ini adalah sebuah museum pribadi yang dibuka untuk umum. Pendirinya, Wen-Long Shi, adalah pemilik perusahaan Chi Mei Group dan juga salah satu orang terkaya di Taiwan. Dia lahir tahun 1928 dari sebuah keluarga miskin saat Taiwan masih menjadi bagian dari Jepang (1895-1945). Masa kecil Wen dihabiskan dengan mengunjungi Museum Pendidikan Tainan, museum pertama -dan gratis- yang didirikan pemerintah Jepang di Taiwan. Tak heran jika setiap pulang sekolah Wen pasti mampir ke museum ini.
Lobi Chimei Museum yang megah di bawah kubah.
Kenangan masa kecil itu rupanya begitu membekas, sehingga Wen kemudian bercita-cita ingin mendirikan museum sendiri, yang gratis dan terbuka bagi semua orang. Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan musik dan benda-benda seni, terutama seni Barat, agar bisa dinikmati oleh masyarakat umum.
Penggila bola atau bukan, mari rasakan kemegahan Allianz Arena, stadion sepakbola milik juara enam kali Piala Champions.
Dari stasiun kereta Frottmaning, tempat yang akan saya tuju sudah terlihat: sebuah bangunan lebar berwarna putih dengan dindingnya yang bergaris-garis miring saling menyilang dan sedikit gembung. Tak salah lagi, inilah Allianz Arena, stadion sepakbola tempat bermain home (kandang) klub Bayern Muenchen dan juga TSV 1860. Namun saya masih harus berjalan kaki lagi sekitar 30 menit, melewati tempat parkir dan halaman depan yang luas, di tengah siang yang terik. Mestinya saya bisa datang lebih awal, namun hari ini ada pergantian arah jalan kereta, sehingga kereta U6 yang membawa saya dari Marienplatz di pusat kota Munich telat sampai ke sini.
Allianz Arena yang sepi saat tidak ada pertandingan. Tapi tur stadion akan ditiadakan saat ada pertandingan. Pilih yang mana?
Saya sampai keringatan dan ngos-ngosan ketika tiba di pagar jeruji besi dan palang cek pengunjung yang menjadi batas untuk masuk ke halaman dalam. Tidak ada penjaga satu pun di sini, hanya CCTV yang tersamar di dinding stadion. Oang-orang keluar-masuk dengan mudah, dan sepertinya semuanya menuju ke sisi timur. Dari peta di halaman depan tadi, pasti mereka akan menuju Blok H yang berisi toko suvenir, atau Blok L tempat dimulainya tur melihat-lihat stadion.
Saat ada pertandingan, nggak punya tiket nggak bisa masuk.
Hari sudah lewat pukul 1 siang. Berdasar informasi sebelumnya dari seorang teman di Munich, saya sudah telat karena tur berbahasa Inggris cuma ada pukul 1 siang. Tidak apa-apalah. Lagipula saya juga tidak akan dapat menemui para pemain Bayern Muenchen, karena mereka tidak sedang latihan atau bertanding. (Kemudian saya tahu, kalau ingin bertemu para pemain Bayern Muenchen, datanglah saat mereka bertanding di stadion ini, atau di markas utama mereka di Sabener Strasse).
Dinding Jaket Bulu Angsa
Terlindung dari matahari oleh struktur dinding stadion yang miring, sambil menuju Blok H saya tak henti mengagumi desain stadion yang mulai digunakan tahun 2005 in. Kalau dari jauh, stadion ini terlihat bulat melingkar, padahal sebenarnya persegi empat memanjang arah utara-selatan. Namun karena sudut-sudutnya melengkung smooth sehingga tampak seperti melingkar.
Dinding seperti kaca yang menggembung putih dengan garis-garis menyilang jajaran genjang itu kini tampak putih kusam karena tidak terkena sinar tahari. Kalau diperhatikan, desain dinding ini mirip dengan down jacket, yakni jaket bulu angsa yang biasa dipakai saat musim dingin. Cuma kalau diperhatikan lebih dekat, panel-panel penyusun dinding ini tidak menyambung tapi ada celah pemisah. Masing-masing panel diikatkan ke rangka penyokongnya dengan sekrup. Di balik dinding ini ada ruang kosong, lalu dinding dalam yang juga miring dan sebagian merupakan dinding kaca.
Toko suvenir Allianz Arena. Penggila Bayern Muenchen bisa kalap di sini.
Kota Tua Munich menyuguhkan gedung-gedung kuno yang disesaki turis. Bersiaplah dengan goyangan tak terduga di Gereja St. Peter.
Kereta bawah tanah S2 yang membawa saya dari stasiun Obermensing berhenti di Stasiun Marienplatz, dan saya pun mencari-cari pintu keluar stasiun yang beberapa dindingnya tengah direnovasi ini. Eskalatornya kelihatan tua, namun berfungsi dengan baik. Mengikuti arus para penumpang yang pagi ini cukup ramai, saya sampai di permukaan tanah dan tiba-tiba sudah berada di sebuah pelataran luas (plaza) yang riuh oleh orang-orang.
Namun daya tarik plaza ini tak hanya Pilar Maria. Tak jauh dari pilar ini adalah pintu masuk dari bangunan panjang dengan menaranya yang runcing menjulang setinggi 85 meter, yakni Neues Rathaus (Gedung Balai Kota Baru). Perlu waktu 42 tahun (1867-1909) untuk membangun gedung pengganti Altes Rathaus (Balaikota Lama) yang terletak di sisi timur Marienplatz, atau di belakang sekarang saya berdiri. Di belakang saya lagi masih ada Peterskirche atau St. Paul’s Church, gereja tertua di Munich. Sementara di kejauhan depan sana, menyembul dua menara ‘bawang’ yang menjadi landmark kota Munich, yakni menara Frauenkirsche (Church of Our Lady).
Maria yang menggendong Yesus, dan boneka-boneka Carillon yang siap menari.
Saya masuk dulu ke pintu utama Neues Rathaus dan sampai ke halaman dalam yang berisi bangku-bangku dan orang melepas penat sambil makan di sini, semntara para pengunjung lain dalam rombongan mendengarkan penjelasan dari guide yang menerangkan tentang patung-patung gothic yang menyembul di berbagai sisi menara yang menjulang. Di salah satu sudut pintu utama ada lift yang mengarah ke puncak menara, jadi saya pun iseng naik lift ini. Ternyata lift hanya sampai lantai 4, dan di sini mesti membeli tiket 5 euro kalau ingin meneruskan ke menara pandang dengan lift lainnya. Saya pun membeli tiket ke ibu tua satu-satunya penjaga di sini dan meneruskan naik lift.
Udara segar dan sinar matahari pagi menyambut begitu saya keluar dari lift. Rupanya tidak sampai di bagian menara yang mengerucut ataupun paling tinggi, tapi di tingkat yang bentuk menaranya masih segi empat. Dinding batu menara ini yang berlubang-lubang seperti pagar membuat saya bisa melihat keseluruhan sudut kota dengan memutari dindingnya. Di sisi tenggara tampak menara Altes Rathaus dan Gereja St. Peter. Ternyata menara utaka gereja ini, di bagian yang hampir sama tinginya dengan tempat saya berdiri, juga menjadi menara pandang untuk para turis. Bahkan jumlah turis di sana lebih banyak daripada di menara Neues Rathaus ini. Hmm, sepertinya saya nanti harus naik menara itu juga untuk mencari tahu apa sebabnya.
Marienplatz dengan menara Altes Rathaus, Neues Rathaus dan Frauenkirche.
Jika melihat ke utara dari menara ini, tampak sebuah bangunan gereja lain yang berwarna kuning. Tak lain ini adalah Theatinerkirche (Theatines’ Church) yang ada di Odeonplatz. Sementara kalau mlihat ke selatan, di sisi bawah adalah orang-orang yang myemut di Marienplatz. Sementara kalau melihat cakrawala jauh di sana, tampak bayangan deretan Pegunungan Alpen dengan beberapa puncaknya yang masih tertutup salju.
Di sisi baratlah pemandangan yang lebih spektakuler menanti, karena dari menara ini kita bisa melihat lebih jelas sepasang ‘menara bawang’ Frauenkirche yang berwarna hijau, termasuk bangunan gerejanya yang cokelat memanjang dengan atap berwarna merah. Menara bawang ini merupakan landmark kota Munich dan selalu menjadi foto di sampul buku-buku panduan wisata tentang Munich. Langit biru dan cuaca cerah membuat saya tak bosan-bosa memotret menara kembar ini, meski sekarang fotonya tidak sempurna karena bagian bawah kesua menara itu diselimuti jaring pengaman karena tengah direnovasi.
Saya turun dan menuju Gereja St. Peter. Memasuki pintu gereja yang ada di samping kanan, saya mengira pintu masuk ke menara pandangnya dari situ. Ternyata bukan, karena di sini merupakan ruang utama para jamaah yang hendak berdoa. Seorang bapak penjaga yang berpakaian jas rapi menunjuk ke pintu keluar di sisi kiri. “Setelah keluar, belok kanan,” katanya. Saya sempat melihat deretan bangku gereja dan patung-patung para santo di kiri-kanan atasnya, dan sebuah altar bergaya barok di bagian ujung sana. Wheww, altarnya besar dan tinggi seperti hendak mencapai langit-langit ruangan gereja, serta penuh ukiran.
Mengunjungi sebuah istana dengan halaman seluas kota Munich, namun akhirnya saya tenggelam dalam sihir sebuah lukisan.
“Sudah sampai di sini, jangan lupa mampir ke Schloss Nymphenburg,” kata teman saya, Ditta, di mana saya menumpang tidur di rumahnya selama tiga hari mengunjungi Munich ini.
Mula-mula saya tidak ‘ngeh’ dengan apa yang dikatakannya. Maklum, tadi seharian saya sibuk mencoba kereta bawah tanah, menjelajahi kawasan kota tua Munich di seputaran Marienplatz, hingga mengunjungi stadion Allianz Arena yang menjadi kandang klub sepakbola Bayern Muenchen. Hingga saat malam, ketika sedang membuka-buka sebuah buku panduan wisata kota yang tergeletak di meja, pandangan saya terantuk pada sebuah foto kecil lukisan seorang wanita muda di halaman buku itu. Dalam balutan baju tradisional Bavaria elegan bernuansa sutera pink dan biru, tatapan matanya yang menerawang ke atas itu menyisakan misteri. Antara kepolosan, kekhawatiran, sendu, keanggunan, bercampur jadi satu.
Air mancur utama depan Schloss Nymphenburg yang terlihat dari jalan raya.
“Gallery of Beauties ini ada di mana? Aku mau berkunjung,” saya tak tahan untuk menanyakannya ke Ditta.
“Iya itu, di Schloss Nymphenburg!”
Ooh. Berarti saya harus ke sini.
Pagi, sambil menggandeng si sulung Maruscha dan mendorong stroller si bayi Sophia, Ditta mengantar saya ke schloss alias istana itu. Kami cuma sekali naik tram, dan turun di halte di depan istana ini. Dari pinggir jalan raya, mengikuti alur kanal air, di ujung depan sana saya bisa melihat gedung utama istana ini, yang berbentuk kotak kubus bertingkat lima, bercat putih, di belakang sebuah air mancur yang menjulang tinggi. Dari jalan raya ke istana itu sepertinya satu kilometer sendiri, jadi kami mampir dulu ke Kafe Backspielhaus di ujung jalan untuk ngopi dan mengisi perut. Baru kemudian kami berjalan kaki menyusuri pinggiran kanal.
Kalau cuma melihat dengan pandangan mata, kita bisa tertipu. Benar, untuk menuju halaman depannya saja kita perlu berjalan kaki cukup lama. Tapi sebenarnya ini -termasuk keseluruhan bangunan istananya- hanya bagian kecil dari keseluruhan kompleks yang mencakup istana, paviliun, taman, kanal, museum, dan hutan, yang keseluruhannya mencapai 221 hektar. Sebagai perbandingan, luas Taman Mini Indonesia Indah adalah 150 hektar. Saat tanah ini dibeli tahun 1663 oleh Ferdinand Maria, elektor Bavaria (memerintah tahun 1651-1679), luasnya bahkan lebih besar dari kota Munich saat itu.
Nymphenburg Palace – yakin bisa menjelajahi dalam sehari? [Dok. Schloss Nymphenburg]
Pembelian tanah itu sebagai hadiah untuk istrinya, Henriette Adelaide, di ulang tahun pertama putera mahkota mereka, Max Emanuel. Maklum, mereka menunggu 10 tahun untuk kelahiran pewaris takhta ini. Elektor sendiri adalah sebutan untuk raja yang mempunyai hak pilih dan dipilih sebagai kaisar Holy Roman Empire, gabungan beberapa kerajaan di Eropa Tengah dan Timur.
Henriette akhirnya memilih desain istana musim panas yang dibuat arsitek Agostino Barelli, yang saat itu juga tengah diminta membangun Gereja Theatinekirsche di Munich. Tahun 1664, peletakan batu pertama istana dimulai, begitu juga pembuatan taman belakang. Namun progres pembangunannya lambat sekali karena dananya juga dipakai untuk membangun istana-istana yang lain, dan baru benar-benar dikebut tahun 1670. Akhirnya, tahun 1672 Nymphenburg Palace selesai dibangun. Bangunan istana utama berbentuk kotak kubus berlantai lima -desain yang tidak umum saat itu- diapit oleh bangunan paviliun berlantai tiga di kanan-kiri, dan ketiganya dihubungkan dengan koridor yang sekaligus galeri seni.
Ferdinand Maria dan Henriette Adelaide.
Pembangunan kompleks istana ini tidak sekaligus, melainkan berlangsung secara bertahap hingga pertengahan abad ke-19, melibatkan lima raja dari Dinasti Wittelsbach ini. Jika dilihat dari udara, kompleks istana yang menghadap ke timur ini berbentuk seperti busur dengan anak panah di tengahnya, dengan bangunan utama istana berada di pusat busur itu.
Traveling ke Jepang tak lengkap tanpa mencoba Shinkansen si kereta peluru.
Saya bergegas menaiki undak-undakan stasiun sentral Tokyo menuju peron di lantai atas, begitu terdengar pengumuman bahwa kereta Nozomi 221 sudah tersedia di jalur 15. Pagi ini saya bersama Umi dan Lia bermaksud ke Kyoto, dan transportasi yang kami pilih adalah naik shinkansen alias kereta peluru.
Kunjungan kami ke Tokyo untuk sebuah keperluan keluarga ini agak mendadak, begitu pula dengan keinginan untuk pergi ke Kyoto memanfaatkan dua hari yang tersisa. Makanya kami tak sempat membeli JR Pass, tiket kereta api terusan yang lebih murah, yang diperuntukkan bagi wisatawan yang ingin berkeliling Jepang dengan kereta api. Tapi saat membeli tiket kereta ini kemarin di konter Japan Railways (JR) di Stasiun Ikebukuro, ternyata memang kereta Nozomi –tipe shinkansen yang tercepat– tidak tercakup dalam JR Pass. Jadi kami memang mesti membeli tiket lagi. JR Pass hanya berlaku untuk shinkansen Hikari dan Kodama yang lebih lambat.
Saya setengah berlari mencari gerbong keempat sesuai yang tertera di tiket. Ternyata letaknya agak jauh di depan. Maklum, kereta Nozomi tipe N700 ini sekali jalan membawa 16 gerbong dan panjang rangkaiannya bisa mencapai 455 meter. Begitu ketemu gerbongnya, saya pun segera meloncat masuk, tak memperdulikan seorang bapak berjas rapi yang sedang berdiri di peron di depan gerbong itu.
Tiket Shinkansen Nozomi Kyoto-Tokyo – setara harga tiket pesawat.
Tapi, begitu masuk, saya disambut seorang ibu petugas cleaning service yang mengibas-ngibaskan tangannya. “No, no, no!” katanya menyuruh saya keluar. Saya bertiga pun keluar lagi, dan begitu melihat lantai peron, ternyata si bapak berjas tadi –yang tanpa ekspresi tapi mungkin menertawakan keudikan saya– berdiri di atas jalur antri. Jalur itu ditandai dengan anak-anak panah yang berkelak-kelok ke belakang. Ooh, jadi saya mesti antri toh untuk masuk keretanya.
Tolong antri sesuai arah anak panah.
Antrian makin banyak, dan kereta pun selesai dibersihkan. Petugas kereta yang berjas dan bertopi hitam pun mempersilakan para penumpang, dan kami masuk kereta dengan tertib. Gerbong keretanya cukup panjang, sekitar 25 meter, dengan 17 baris kursi yang masing-masing berisi 5 kursi dengan konfigurasi 3+2. Semua kursinya reclining berwarna biru indigo dengan ruang kaki yang lega seperti di kereta eksekutif di Indonesia. Masing-masing deretan kursi mempunyai fasilitas colokan listrik serta kantong majalah dan meja lipat di kursi depannya. Tapi ternyata tidak ada layar televisi dan in-flight entertainment seperti di pesawat, dan juga tidak ada sandaran kaki. Kompartemen untuk menaruh tas ada di atas kepala, namun tidak mempunyai penutup.
Tak ubahnya seperti pramugari pesawat terbang. [Dok. JNTO]
Begitu melihat tempat duduk kami bertiga yang nomor 11 A-B-C, saya agak kecewa, karena letak kursinya ada di sisi kiri. Padahal nanti kereta ini akan melewati Gunung Fuji (3,776 mdpl), yang ada di sisi kanan kereta kalau dari Tokyo. Kursi D-E lah yang ada di sisi kanan. Kemarin sewaktu membeli tiket, mungkin karena melihat kami bertiga, petugasnya membelikan tiket yang tiga kursi berderet. Saya lupa menanyakan harus duduk di kursi mana kalau ingin melihat Gunung Fuji dari kereta.
Okelah, saya terima nasib saja. Terlebih karena gerbong ini memang penuh oleh penumpang, tidak ada kursi D-E yang kosong. Lagipula cuaca pagi ini mendung, jadi mudah-mudahan nanti memang gunungnya tidak kelihatan.
Ada banyak nama dan jurusan shinkansen di Jepang. [Dok. JNTO]
Kereta mulai bergerak dengan sangat halus, seperti meluncur di permukaan es, nyaris tanpa suara roda kereta beradu dengan rel. Padahal kereta ini masih menggunakan rel, hanya saja memang relnya tersendiri, dengan lebar antar-rel 1435 mm. Sementara kalau rel kereta biasa lebarnya 1067 mm.
Pagar dan bangunan-bangunan yang kebanyakan berbentuk kubus mulai tampak berlari dari balik jendela. Tapi kereta belum memakai kecepatan maksimumnya, karena kemudian kereta melambat dan berhenti di stasiun Shinagawa. Di dalam kota Tokyo, Nozomi memang hanya berhenti di dua stasiun. Nanti, menuju stasiun akhir Shin-Osaka (shin menunjukkan bahwa stasiunnya agak di luar kota) kereta ini hanya akan berhenti di stasiun Yokohama, Nagoya, dan Kyoto.
Persiapan berangkat. [by Simon Launay on Unsplash]
Kereta kembali melaju, dan satu atau dua menit kemudian, tampaknya kereta sudah sampai di kecepatan optimalnya, 270 km per jam (kecepatan maksimum 300 km/jam). Pagar pembatas rel, tiang-tiang, dan bangunan-bangunan rumah dan kantor semakin cepat berlari hingga rasanya tak sempat menikmati suasana kehidupan di pinggir rel, karena apa yang saya lihat segera menghilang ditelan laju kereta.
Shinkansen ini memang simbol keunggulan teknologi perkeretaapian Jepang, yang sangat efisien dalam mempersingkat waktu bepergian. Dulu, selama berabad-abad, Jalan Raya Tokaido sepanjang 513,6 km merupakan satu-satunya rute yang menghubungkan Tokyo dengan Kyoto. Jarak ini harus ditempuh selama 12-13 hari perjalanan. Dengan beroperasinya kereta api Jalur Tokaido pada Juli 1889, jalan raya ini ditinggalkan karena sekarang waktu tempuh cukup 20 jam saja. Tahun 1906, saat kereta super express mulai dikenalkan, lama perjalanan pun makin singkat, menjadi 13 jam 40 menit.
Mengular sampai hampir setengah kilometer.
Jalur Tokaido diubah menjadi jalur kereta listrik pada tahun 1956. Di tahun ini pula muncul proposal untuk mempunyai jalur kereta yang lebih cepat antara Tokyo dan Osaka (515,4 km). Osaka ini sekitar 43 km barat daya Kyoto. Proposal itu bukan untuk memperbaiki Jalur Tokaido, namun membuat shinkansen –yang arti harfiahnya ‘jalur kereta api baru’– yang dapat mengakomodasi kecepatan kereta hingga 300 km/jam. Tujuannya, agar para pebisnis bisa pergi-pulang antara kedua kota ini tanpa perlu menginap. Proposal itu disetujui tahun 1958 dengan syarat harus bisa selesai dalam enam tahun agar bisa dipakai saat pembukaan Olimpiade Musim Panas Tokyo tahun 1964. Deadline itu terpenuhi, dan tepat pukul 6.00 pagi 1 Agustus 1964, jalur baru yang menelan biaya 380 miliar yen itu pun diresmikan. Sekarang, dengan memakai Nozomi, waktu tempuh Tokyo-Kyoto hanya 2 jam 18 menit, dan Tokyo-Shin-Osaka 2 jam 26 menit.