
Oopss, saya tertinggal makin jauh.
Saya pun melajukan lagi si quadbike merah, berusaha supaya masih bisa melihat rombongan di depan, supaya tahu jalur roda mana yang harus dilalui. Permukaan gurun ini naik turun dan pandangan mata bisa tertutup oleh bukit paling depan. Terlebih di gurun ini juga ada beberapa jalur roda yang bersilangan, mungkin jalur bekas tur grup sebelumnya.
Matahari bersinar sempurna. Angin mendesir dingin, debu pasir yang beterbangan, dan gurun yang begitu luas namun sepi. Bentang alam dan suasananya segera membuat saya terpesona dan tanpa sadar kadang melamun. Rasanya seperti berada di gurun pasir Sahara di Afrika Utara. Hanya saja di sini jauh lebih sejuk, mungkin sekitar 10 derajat celsius.
Nggak Jadi Turun Bukit
Rombongan Scott bergerak terus ke depan, lalu berbelok ke kanan, dan tenggelam oleh bukit pasir yang menghalangi pandangan. Saya percepat laju quadbike, dan kini mereka terlihat memutar balik arah, menyusuri lembah di antara dua bukit pasir. Begitu saya sampai di lembah itu, Scott muncul dari bukit di sisi kiri, lalu dengan pelan teman-teman saya pun menuruni bukit itu satu per satu. Waduh, saya bisa nggak ya? Kalau menanjak sih, bisa. Tapi kalau menurun, apalagi menurun agak tajam, saya masih waswas quadbike ini bakal terbalik.

Untung saya terselamatkan dari ujian berat ini. [Dok. Sand Dune Adventures]

Bagaimana nggak terus memotret kalau pemandangannya sebagus ini.
Ternyata perjalanan masih jauh, karena kini kami masih menyusuri lembah pasir ini. Garis pantai terlihat di kejauhan, dan sepertinya kami menuju ke sana. Tapi ternyata rutenya tidak lurus, karena kini kami belok kiri dan menanjak ke bukit pasir dengan warna krem yang lebih muda. Sepertinya ini karena pengaruh sinar matahari saja yang lebih terasa terang saat di ketinggian. Masih beberapa bukit kecil mesti kami lalui, dan teman-teman di depan lagi-lagi segera melaju meninggalkan saya. Mungkin mereka memang sudah terbiasa naik motor di Jakarta, jadi naik quadbike di sini seperti nge-trek di lapangan saja.

Lautan Pasifik membiru di depan sana.
Akhirnya Scott berhenti, diikuti teman-teman yang lain. Saya, yang masih ketinggalan dan memotret-motret, segera melaju supaya Ebony di belakang saya tidak bete. Ternyata satu teman saya, Raymondo, tadi memisah di depan dan kini sedang memotret dari atas bukit pasir di kanan saya. Mudah-mudahan saya masuk dalam fotonya.