Satu joke yang sempat saya dengar dari Mike, konon sewaktu jembatan ini dibangun, tahun 1923-1932, ada seorang pekerja yang jatuh ke laut. Untung peralatan bor yang dibawanya menembus air laut terlebih dulu, sehingga dia selamat. Tapi, ada juga para pekerja lain tak seberuntung dirinya, karena selama pembangunan jembatan ini, 16 pekerja meninggal akibat kecelakaan kerja.
Haus, Nggak Nemu Keran Air

Tadaaa! Jangan lihat ke bawaaah!
Dengan nafas tersengal-sengal dan haus karena dari tadi menanjak terus, akhirnya kami sampai di bagian puncak lengkung pertama jembatan. Kira-kira, kami sudah mendaki sekitar 120 meter. Kami beristirahat agak lama di sini, dan bertemu beberapa rombongan tur lain dengan masing-masing pemandunya. Kalau saya tidak salah dengar, tadi Mike bilang, maksimal 100 orang boleh mendaki jembatan ini di waktu yang bersamaan.
Mike tak henti-hentinya bercanda dengan berbagai leluconnya, sehingga kami terpingkal-pingkal dan juga haus karena sedari tadi belum minum. Katanya ada dua keran air di jembatan ini. Satu di awal pendakian, satu lagi menjelang akhir pendakian. Tapi tadi tak ada satupun dari kami yang minum di keran. Mungkin karena Mike terus bercerita, sehingga dia lupa memberitahu di mana letak keran air itu?
Karena cuma Mike yang membawa kamera, kami mesti nurut saat dia minta kami untuk berpose aneh-aneh. Misalnya kami mesti berjejer berurutan di anak tangga menuju puncak lengkungan kedua, dengan latar belakang pilar-pilar baja dan mobil berseliweran di bawah sana. Saat sampai di puncak jembatan, kami juga difoto satu-satu dengan pose seperti pendekar kungfu. Mike baru mulai mengurangi banyolannya setelah dia tahu bahwa kami dari media. Hahaha!

Sebentar lagi mencapai puncak jembatan.
Dua crane dan dua bendera Australia menjadi penanda puncak tertinggi jembatan ini. Gedung Opera House dan feri-feri yang hilir-mudik tampak makin kecil, dan lansekap kota Sydney bisa kami lihat hingga jauh sekali. Langit sore makin menguning membiaskan cahaya matahari sore yang kian menurun. Untungnya, angin tak begitu kencang, sehingga kami benar-benar bisa menikmati suasana sore dari ketinggian ini.

Ciaattt! Mau kungfu tapi nggak berani loncat.
Kini kami tinggal turun, dan sepertinya lebih mudah daripada mendaki tadi. Kami menyeberang ke sisi barat jembatan, dan memulai perjalanan menurun menuju titik awal keberangkatan tadi. Anak-anak tangga yang kami tapaki kesat dan jaraknya berdekatan, jadi lebih nyaman dibanding dengan turun dari pendakian gunung. Kami tidak meneruskan perjalanan hingga ke seberang utara sana – dan memang tidak ada yang ke sana. Dengan kata lain, kami melakukan pendakian ‘separuh jembatan’ pergi-pulang.

Kapan lagi bisa menikmati sunset dari atas jembatan?
Badan terikat, pemandangan di bawah super mini, lalu harus menjaga badan melawan angin. Pengalaman yang super banget Mas. Seandainya saya diajak melewati ini, kira-kira berani gak ya? hahahaha
Berani lah. Kan kamu lebih berat dari aku, jadi nggak kebawa angin.
#kaboooorrr!