
Diklaim dapat menahan guncangan gempa paling kuat di Taiwan.
Seorang petugas khusus membawa saya melewati antrian pengunjung ini menuju ‘lift tercepat di dunia’, yang begitu masuk langsung disambut dengan pemandangan gugusan bintang dari atap lift, dan hitungan detik saat menuju lantai 89. Tepat 37 detik.
Dari lantai ini dan lantai 88, selain melihat pemandangan kota Taipei dari balik dinding kaca, pengunjung juga bisa melihat Tuned Mass Damper, pendulum raksasa berbentuk bola baja bersirip-sirip dan berwarna emas yang beratnya mencapai 660 ton. Pendulum terbesar di dunia ini menggantung di pusat gedung, dari lantai 92 ke lantai 87. Fungsinya untuk meredam goncangan pada gedung jika kena hembusan angin topan. Konon bisa tahan hingga kecepatan angin 213 km/jam. Juga diklaim dapat meredam getaran gempa bumi paling kuat sekalipun yang mungkin akan menguncang Taiwan. Masih ada dua pendulum lagi yang lebih kecil di puncak menara gedung, yang memiliki fungsi sama.
Kalau ingin melihat pemandangan 360 derajat dari luar gedung, pengunjung bisa naik tangga ke lantai 91, di ketinggian 390,6 meter. Cuma, untuk mengatasi angin yang kencang di ketinggian ini, pagar pembatasnya dibuat tinggi dan agak rapat sehingga kita tidak maksimal melihat pemandangan kota. Terlebih bagi pengunjung yang pendek atau duduk di kursi roda. Untungnya, mulai 15 Juni 2019 lalu, para pengunjung bisa naik hingga ke lantai 101, dan melihat pemandangan keempat penjuru kota Taipei dari dek terbuka 101 Skyline 460, dengan pagar yang lebih rendah. Sesuai namanya, ketinggiannya 460 meter dari atas tanah. Bisa kebayang kan sensasinya?

Tuned Mass Damper seberat 660 ton di dalam Taipei 101.
Untuk menuju ke lantai 101 harga tiketnya memang berbeda. Kalau untuk ke lantai 88-89 tiketnya 600 NTD (sekitar Rp 275.000), untuk ke lantai 101 tiketnya 2700 NTD (sekitar Rp 1,25 juta). Harga ini sudah termasuk pemandu khusus, fasilitas pengaman, satu foto cetak saat di dek pandang, gelas dan botol minum bergambar Taipei 101, serta gratis secangkir coffee among the clouds di kafe lantai 89. Jumlah pengunjung per sekali naik juga dibatasi maksimal 12 orang per grup. Tiap grup hanya diberi waktu 40 menit, dan dalam satu hari hanya diperbolehkan tiga grup saja.
Memakai Baju ala Bungee Jumping
Dari lantai 89, pemandu membawa saya naik lift servis ke lantai 93. Di sini, saya mesti menyimpan tas, perhiasan, tongsis, jam tangan, dan dompet di loker. Kamera dan handphone boleh dibawa, tapi handphone mesti dimasukkan ke kantong khusus bertali. Kacamata mesti diikat dengan tali, dan saya juga dibantu staf khusus di situ untuk memakai tali pengaman, sama seperti kalau mau bungee jumping.
Dari sini saya masih naik lift yang berbeda lagi ke lantai 100, dilanjutkan dengan naik tangga sebanyak 9 kali ke lantai 101. Baru kemudian ada pintu keluar ke dek pandang.
Wow😍
Woww juga. 😅😅
Saya 2 kali ngantri disini. Dan selalu terkalahkan dengan rombongan turis manula asal Cina daratan yang diorganisir oleh travel agent yang luar binasa berisiknya. Ampun dah. Dan karena saking panjangnya terus gak bisa nyelip, jadilah tekad untuk naik, dibatalkan dengan hormat.
Aku naiknya pake tiket yang lebih mahal dong, gak pake ngantri, dan gratis. 🤩🤩