Bangunan tujuh lantai ini memang surga belanja. Di lantai dasar dipenuhi jaket-jaket dan semua jenis pakaian, lalu lantai berikutnya pusat kain dan mainan, pusat barang-barang elektronik, pusat perhiasan mutiara, lalu barang-barang kerajinan tangan, dan restoran. Para pedagangnya rata-rata gadis usia belasan yang cantik-cantik, gigih, dan tidak mau melepaskan si penawar sampai mereka membeli.

Jangan menawar kalau nggak niat beli. Gadis-gadis di Silk Street nggak akan melepaskanmu.
Saya mendapatkan sebuah pasmina warna krem kotak-kotak yang lebar dan lembut seharga 100 yuan, dari yang ditawarkan semula 500 yuan. Tapi si gadis penjualnya berhasil memaksa saya untuk membelikannya tiga potong es krim seharga 21 yuan. Hmm, ada-ada saja! (Baru lama kemudian saya tahu, pasmina yang model kotak itu aslinya produk Burberry. Karena yang saya beli ini ‘aspal’ jadi ya dipakai buat di rumah saja, malu hahaha!).
Rasa capek dan lapar kami puaskan di makan malam perpisahan di resto bebek peking Quan Ju De. Rasanya, kalaupun saya hanya makan iris-irisan bebeknya saja, saya sudah cukup puas. Kulit dagingnya begitu renyah dan gurih, namun begitu digigit, rasanya saya seperti tengah memeras spons berisi penuh minyak karena begitu berlemaknya.
Teman-teman satu rombongan akan pulang ke Jakarta besok pagi-pagi, tapi saya akan tinggal tiga hari lagi di Beijing. Saya sudah booking hotel di Aman at Summer Palace, dan akan tinggal di sana untuk mengelilingi lagi kompleks Summer Palace. Jadi, masih ada tiga hari lagi buat saya untuk menggigil sendirian di Beijing…. [T]
BOKS 1:
Sebelum Traveling ke Beijing…
Beijing Juga Macet

Senja yang macet di Beijing. Mending eksplor pakai metro.
Beijing adalah kota yang sangat luas, sekitar 1.000 km2 (Jakarta sekitar 600 km2), dengan jumlah penduduk 15 juta orang. Jika digabung dengan daerah-daerah pinggir kota, luasnya menjadi 1.600 km2 dan jumlah total penduduknya 20 juta orang. Kemacetan sudah menjadi hal yang biasa, meski tidak separah Jakarta. Cara terbaik mengeksplorasi Beijing adalah memakai subway, yang ada 9 jalur. Ongkosnya hanya 2 yuan dan transfer antar-jalur tidak perlu biaya lagi.
Iklim
Desember-Februari adalah musim dingin, dan kalau kita traveling ke sini, kita bisa menjadi ‘pemilik’ kota beku ini. Maret-Mei musim semi, kehidupan mulai tumbuh kembali. Juni-Juli, semua orang –termasuk kaisarnya dulu– akan melarikan diri dari Beijing yang berubah menjadi kamar sauna. Agustus merupakan peak season, dan September-akhir Oktober merupakan musim gugur yang nyaman.
Zona Waktu
Beijing lebih cepat 1 jam dari Jakarta. Karena terletak di belahan utara, saat musim gugur atau winter matahari terbit dari arah selatan, dan TIDAK PERNAH di atas kepala meski di tengah hari.
Mata Uang
Mata uang China adalah renminbi (RMB) dengan satuan yuan. Tapi umumnya orang menyebutnya yuan saja. 1 yuan sekitar Rp 1.350.
Menuju Beijing
Garuda Indonesia terbang 3 kali seminggu (Selasa, Jumat, Minggu) dengan GA 890. Berangkat pukul 23.05, sampai pukul 06.50. Lama perjalanan 6 jam. Pulang dari Beijing dengan GA 891 pada hari Rabu, Sabtu, Senin, berangkat pukul 8:50, sampai di Jakarta pukul 14:50. Penerbangan lainnya adalah China Airlines atau Air Asia, yang menuju Beijing (lewat Tianjin) dari KL.
Di Mana Menginap?
Di trip kemarin, saya menginap di FuramaXpress Hotel, No. 39 Maizidian West Road, Chao-Yang, Beijing 100026, Tel. 86-10-65848000. Hotel mungil dengan 150 kamar ini terletak di pusat kota, di tepi Sungai Liang Ma. Dengan 5 menit berjalan kaki kita akan sampai ke Lufthansa Center dan stasiun subway Liang Ma Qiao. Rate kamarnya per malam mulai dari 46 dolar AS. Namun penginapan-penginapan dan hostel bagus dengan rate mulai 80 yuan per malam juga banyak di Beijing. Coba searching di www.tripadvisor.com.

Imperial Suite Bedroom di Aman at Summer Palace Beijing. [Dok. Amanresorts]