Journey, Mancanegara

Menjelajahi ‘Little Sahara’ Australia

Sand Dune Adventures New South Wales Australia

Menyusuri Gurun Pasir Worimi dengan quadbike di pagi hari, rasanya seperti tengah berada di Afrika Utara.

 

Satu per satu teman saya bergerak dengan quadbike mereka, mengikuti Scott sang pemandu yang bergerak paling depan. Mereka menyusuri jalan tanah pasir krem yang sesekali dipagari gerumbul tanaman perdu khas daerah pantai.

Di garasi ini tinggal Aaron sang pemandu lain dari tim Sand Dune Adventures, saya, lalu Edmond sang driver kami yang juga mau mencoba petualangan ini, dan Ebony. Ia pemandu ketiga yang bertugas menjadi pengawal di belakang.

Briefing Sand Dune Adventiures sebelum mulai menjelajah

Scott memberikan briefing sebelum kami memulai penjelajahan.

Begitu Aaron memberikan isyaratnya, saya pun menekan tuas gas di dekat setang kanan, dan motor roda empat yang tambun ini pun bergerak. Hawa dingin segera menyelusup ke muka melalui helm yang sengaja tidak saya tutup sepenuhnya. Iring-iringan quadbike teman-teman yang sudah jalan duluan tampak sudah jauh. Warna merah quadbike dan jaket oranye mereka perlahan menghilang di balik gerumbul pepohonan dan jalanan yang menikung.

Quadbike Sand Dune Adventures New South Wales Australia

Teman-teman seperjalanan segera menghilang di balik tikungan.

Meski kata Scott tur ini tidak memerlukan keahlian menyetir atau naik motor, terus-terang saya agak waswas mengendarai quadbike Arctic Cat bermesin 400 cc ini. Motor ini terasa berat, begitu pula setangnya. Rasanya setang ini agak menyerong ke kanan dari yang seharusnya, dan terasa berat kalau dibelokkan ke kiri. Sementara, jalan tanah ini hanya cukup untuk satu quadbike saja dan kedua pinggir jalan ini pasirnya tidak padat. Bisa-bisa roda jadi selip kalau saya melenceng dari bekas tapak roda teman-teman yang sudah jalan duluan. Ah, mudah-mudahan ini perasaan saya saja.

“Bukk!’

Quadbike saya menumbuk dinding tanah di kanan jalan, dan motor ini hanya menggeram ketika saya menarik persneling mundur di bawah setang kiri. Saya pun mengangkat tangan, sesuai yang diajarkan Scott tadi kalau kita ingin berhenti atau meminta bantuan.

Sand Dune Adventures New South Wales Australia in action with quadbike

Edmond dan Ebony, entah sabar entah tidak nungguin saya yang lelet.

Aaron segera datang. Wajah dan kulitnya mengingatkan saya pada aktor Denzel Washington, cuma dia berambut ikal. Aaron segera tahu apa yang saya alami, dan membantu saya dengan menarik si motor besar, mengarahkan setang, lalu mengembalikan persnelingnya. “You’re good to go. Try a bit faster.”

Standard
Taipei 101 Taiwan
Journey, Mancanegara

Brrr! Dinginnya Puncak Taipei 101

Taipei 101 Xinyi Financial District

Yang paling harus dicoba kalau ke Taipei, Taiwan: merasakan sensasi dihembus angin kencang di ketinggian 460 meter.

 

Suasana mendung berubah menjadi rintik hujan saat saya tiba di pelataran gedung Taipei 101 di Distrik Xinyi, kawasan pusat bisnis di Taipei, Taiwan. Berdiri di halaman pencakar langit berdinding kaca emerald kebiruan ini saya tak bisa melihat puncaknya. Selain karena tinggi, struktur bangunannya yang seperti kotak uang kuno cina yang bertumpuk-tumpuk sama besarnya, membuat menara puncaknya terhalang struktur di bawahnya. Ada yang bilang strukturnya mirip pagoda cina, tapi ada juga yang bilang mirip bambu beruas-ruas. Satu kotak atau ruas itu mewakili delapan tingkat, dan ditandai dengan ornamen ruyi alias ‘awan surga’ sebagai jimat pelindung gedung.

Taipei 101 Taiwan dari dekat

Dari dekat strukturnya tampak seperti tumpukan kotak makanan chinese food.

Sejak diresmikan 31 Desember 2004 dan menjadi gedung tertinggi di dunia hingga 2010 -sebelum kemudian digantikan oleh Burj Khalifa di Dubai- Taipei 101 telah menjadi ikon wisata paling terkenal di Taiwan. Setiap tahun jutaan turis mengunjungi gedung yang punya tinggi 509,2 meter ini. Selain untuk mencoba lift tercepat di dunia -dari lantai 5 ke lantai 89 hanya butuh 37 detik- tentu untuk menikmati pemandangan kota Taipei dan sekelilingnya dari gedung ini.

Pendulum 660 Ton

Taipei 101 Mall di lantai dasar gedung ini telah penuh oleh pengunjung, dengan tiap konter menawarkan oleh-oleh khas Taiwan yang bisa dicicipi dulu. Saya naik lift ke lantai 5, di mana penjualan tiket berada. Sudah bisa diduga, antrinya panjang sekali. Beruntung saya sudah punya tiket 101 Skyline 460 yang tak hanya bisa untuk menikmati indoor observatory di lantai 88 dan 89, tapi juga outdoor observatory di lantai 101, tingkat tertinggi gendung ini.

Standard
Air mancur Bassin dApollo yang sama persis dengan di Istana Versailles
Journey, Mancanegara

Decak Kagum di Chimei Museum

Air mancur Bassin d'Apollo

Takkan pernah menyesal mengunjungi Tainan, kota tua di Taiwan Selatan. Museumnya memiliki koleksi patung, lukisan, fosil, senjata, hingga jumlah biola terbanyak di dunia.

 

Sungguh saya tidak mengira, bangunan museum saja bisa semegah ini. Terlebih, mengingat lokasinya yang cukup jauh dari kota tua Tainan, di Taiwan Selatan. Tadi sewaktu di bus saya sampai mengeluh, koq tidak sampai-sampai ya? Begitu berhenti di sebuah taman parkir 30 menit kemudian, ternyata saya masih juga berada di area yang masuk wilayah kota ini, tepatnya di Tainan Metropolitan Park.

Dan sekarang, berdiri di depan air mancur Bassin d’Apollo yang sama persis ukuran dan bentuknya dengan yang ada di Istana Versailles, Prancis, saya jadi melongo. Konon arsitek Gills Perrault yang diminta Chimei Museum membuat replika air mancur ini tahun 2008 sampai butuh waktu 6 tahun. Mulai dari pengukuran dimensi kolam dan patung-patungnya, hingga pembuatan patung marmernya sendiri yang dilakukan di Carrara, Italia.

Kira-kira seratus meter di belakang sana, gedung museum yang kubahnya tinggi mirip Gedung Capitol di Washington DC, terasa masih jauh terpisahkan oleh Jembatan Olympus dan halaman depan Muse Plaza yang luas. Ingin rasanya saya berlama-lama mengambil foto di air mancur ini. Tapi saya ingat pesan seorang teman yang sudah sering ke museum ini, supaya jangan berlama-lama di halaman. “Di dalam museum lebih keren lagi,” katanya.

Olympus Bridge dan Danau Muse Chimei Museum Tainan

Olympus Bridge dan Danau Muse menjelang senja,

Saya melewati Olympus Bridge yang membentang di atas Muse Lake, dengan 12 patung dewa-dewi Romawi di kanan-kirinya, dan sampai di Muse Plaza. Ini adalah pelataran rumput luas di depan museum. Suasana Eropa segera terasa melihat pola rerumputan yang ditata berselang-seling dengan kotak-kotak ubin berukuran besar. Baru sampai di sini saja, saya sudah mulai merasa capek saking luasnya. Namun saya memaksakan diri untuk segera menaiki anak tangga di bawah pilar-pilar raksasa dengan atapnya yang tinggi, dan masuk ke lobi museum.

Impian Masa Kecil

Chimei Museum ini adalah sebuah museum pribadi yang dibuka untuk umum. Pendirinya, Wen-Long Shi, adalah pemilik perusahaan Chi Mei Group dan juga salah satu orang terkaya di Taiwan. Dia lahir tahun 1928 dari sebuah keluarga miskin saat Taiwan masih menjadi bagian dari Jepang (1895-1945). Masa kecil Wen dihabiskan dengan mengunjungi Museum Pendidikan Tainan, museum pertama -dan gratis- yang didirikan pemerintah Jepang di Taiwan. Tak heran jika setiap pulang sekolah Wen pasti mampir ke museum ini.

Lobi Chimei Museum Tainan yang megah di bawah kubah

Lobi Chimei Museum yang megah di bawah kubah.

Kenangan masa kecil itu rupanya begitu membekas, sehingga Wen kemudian bercita-cita ingin mendirikan museum sendiri, yang gratis dan terbuka bagi semua orang. Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan musik dan benda-benda seni, terutama seni Barat, agar bisa dinikmati oleh masyarakat umum.

Standard
Bayern Muenchen Allianz Arena Munich
Journey, Mancanegara

Bayern Muenchen Uber Alles!

Ramainya Allianz Arena saat Bayern Muenchen bertanding

Penggila bola atau bukan, mari rasakan kemegahan Allianz Arena, stadion sepakbola milik juara enam kali Piala Champions.

 

Dari stasiun kereta Frottmaning, tempat yang akan saya tuju sudah terlihat: sebuah bangunan lebar berwarna putih dengan dindingnya yang bergaris-garis miring saling menyilang dan sedikit gembung. Tak salah lagi, inilah Allianz Arena, stadion sepakbola tempat bermain home (kandang) klub Bayern Muenchen dan juga TSV 1860. Namun saya masih harus berjalan kaki lagi sekitar 30 menit, melewati tempat parkir dan halaman depan yang luas, di tengah siang yang terik. Mestinya saya bisa datang lebih awal, namun hari ini ada pergantian arah jalan kereta, sehingga kereta U6 yang membawa saya dari Marienplatz di pusat kota Munich telat sampai ke sini.

Allianz Arena yang sepi saat tidak ada pertandingan

Allianz Arena yang sepi saat tidak ada pertandingan. Tapi tur stadion akan ditiadakan saat ada pertandingan. Pilih yang mana?

Saya sampai keringatan dan ngos-ngosan ketika tiba di pagar jeruji besi dan palang cek pengunjung yang menjadi batas untuk masuk ke halaman dalam. Tidak ada penjaga satu pun di sini, hanya CCTV yang tersamar di dinding stadion. Oang-orang keluar-masuk dengan mudah, dan sepertinya semuanya menuju ke sisi timur. Dari peta di halaman depan tadi, pasti mereka akan menuju Blok H yang berisi toko suvenir, atau Blok L tempat dimulainya tur melihat-lihat stadion.

Pagar pembatas masuk Allianz Arena

Saat ada pertandingan, nggak punya tiket nggak bisa masuk.

Hari sudah lewat pukul 1 siang. Berdasar informasi sebelumnya dari seorang teman di Munich, saya sudah telat karena tur berbahasa Inggris cuma ada pukul 1 siang. Tidak apa-apalah. Lagipula saya juga tidak akan dapat menemui para pemain Bayern Muenchen, karena mereka tidak sedang latihan atau bertanding. (Kemudian saya tahu, kalau ingin bertemu para pemain Bayern Muenchen, datanglah saat mereka bertanding di stadion ini, atau di markas utama mereka di Sabener Strasse).

Dinding Jaket Bulu Angsa

Terlindung dari matahari oleh struktur dinding stadion yang miring, sambil menuju Blok H saya tak henti mengagumi desain stadion yang mulai digunakan tahun 2005 in. Kalau dari jauh, stadion ini terlihat bulat melingkar, padahal sebenarnya persegi empat memanjang arah utara-selatan. Namun karena  sudut-sudutnya melengkung smooth sehingga tampak seperti melingkar.

Dinding seperti kaca yang menggembung putih dengan garis-garis menyilang jajaran genjang itu kini tampak putih kusam karena tidak terkena sinar tahari. Kalau diperhatikan, desain dinding ini mirip dengan down jacket, yakni jaket bulu angsa yang biasa dipakai saat musim dingin. Cuma kalau diperhatikan lebih dekat, panel-panel penyusun dinding ini tidak menyambung tapi ada celah pemisah. Masing-masing panel diikatkan ke rangka penyokongnya dengan sekrup. Di balik dinding ini ada ruang kosong, lalu dinding dalam yang juga miring dan sebagian merupakan dinding kaca.

Toko suvenir di Allianz Arena

Toko suvenir Allianz Arena. Penggila Bayern Muenchen bisa kalap di sini.

Standard
Frauenkirche salah satu landmark Kota Tua Munich dengan menara bawangnya yang khas
Journey, Mancanegara

‘Gempa’ di Kota Tua Munich

Kawasan Kota Tua Munich dari udara. Kiri bawah Frauenkirche, tengah Neues Rathaus

[Dok. Muenchen.de]

Kota Tua Munich menyuguhkan gedung-gedung kuno yang disesaki turis. Bersiaplah dengan goyangan tak terduga di Gereja St. Peter.

 

Kereta bawah tanah S2 yang membawa saya dari stasiun Obermensing berhenti di Stasiun Marienplatz, dan saya pun mencari-cari pintu keluar stasiun yang beberapa dindingnya tengah direnovasi ini. Eskalatornya kelihatan tua, namun berfungsi dengan baik.  Mengikuti arus para penumpang yang pagi ini cukup ramai, saya sampai di permukaan tanah dan tiba-tiba sudah berada di sebuah pelataran luas (plaza) yang riuh oleh orang-orang.

Namun daya tarik plaza ini tak hanya Pilar Maria. Tak jauh dari pilar ini adalah pintu masuk dari bangunan panjang dengan menaranya yang runcing menjulang setinggi 85 meter, yakni Neues Rathaus (Gedung Balai Kota Baru). Perlu waktu 42 tahun (1867-1909) untuk membangun gedung pengganti Altes Rathaus (Balaikota Lama) yang terletak di sisi timur Marienplatz, atau di belakang sekarang saya berdiri. Di belakang saya lagi masih ada Peterskirche atau St. Paul’s Church, gereja tertua di Munich. Sementara di kejauhan depan sana, menyembul dua menara ‘bawang’ yang menjadi landmark kota Munich, yakni menara Frauenkirsche (Church of Our Lady).

Maria menggendong Yesus and boneka-boneka Carillon

Maria yang menggendong Yesus, dan boneka-boneka Carillon yang siap menari.

Saya masuk dulu ke pintu utama Neues Rathaus dan sampai ke halaman dalam yang berisi bangku-bangku dan orang melepas penat sambil makan di sini, semntara para pengunjung lain dalam rombongan mendengarkan penjelasan dari guide yang menerangkan tentang patung-patung gothic yang menyembul di berbagai sisi menara yang menjulang. Di salah satu sudut pintu utama ada lift yang mengarah ke puncak menara, jadi saya pun iseng naik lift ini. Ternyata lift hanya sampai lantai 4, dan di sini mesti membeli tiket 5 euro kalau ingin meneruskan ke menara pandang dengan lift lainnya. Saya pun membeli tiket ke ibu tua satu-satunya penjaga di sini dan meneruskan naik lift.

Udara segar dan sinar matahari pagi menyambut begitu saya keluar dari lift. Rupanya tidak sampai di bagian menara yang mengerucut ataupun paling tinggi, tapi di tingkat yang bentuk menaranya masih segi empat. Dinding  batu menara ini yang berlubang-lubang seperti pagar membuat saya bisa melihat keseluruhan sudut kota dengan memutari dindingnya. Di sisi tenggara tampak menara Altes Rathaus dan Gereja St. Peter. Ternyata menara utaka gereja ini, di bagian yang hampir sama tinginya dengan tempat saya berdiri, juga menjadi menara pandang untuk para turis. Bahkan jumlah turis di sana lebih banyak daripada di menara Neues Rathaus ini. Hmm, sepertinya saya nanti harus naik menara itu juga untuk mencari tahu apa sebabnya.

Marienplatz dengan menara Altes Rathaus, Neues Rathaus dan Frauenkirche

Marienplatz dengan menara Altes Rathaus, Neues Rathaus dan Frauenkirche.

Jika melihat ke utara dari menara ini, tampak sebuah bangunan gereja lain yang berwarna kuning. Tak lain ini adalah Theatinerkirche (Theatines’ Church) yang ada di Odeonplatz. Sementara kalau mlihat ke selatan, di sisi bawah adalah orang-orang yang myemut di Marienplatz. Sementara kalau melihat cakrawala jauh di sana, tampak bayangan deretan Pegunungan Alpen dengan beberapa puncaknya yang masih tertutup salju.

Di sisi baratlah pemandangan yang lebih spektakuler menanti, karena dari menara ini kita bisa melihat lebih jelas sepasang ‘menara bawang’ Frauenkirche yang berwarna hijau, termasuk bangunan gerejanya yang cokelat memanjang dengan atap berwarna merah. Menara bawang ini merupakan landmark kota Munich dan selalu menjadi foto di sampul buku-buku panduan wisata tentang Munich. Langit biru dan cuaca cerah membuat saya tak bosan-bosa memotret menara kembar ini, meski sekarang fotonya tidak sempurna karena bagian bawah kesua menara itu diselimuti jaring pengaman karena tengah direnovasi.

Saya turun dan menuju Gereja St. Peter. Memasuki pintu gereja yang ada di samping kanan, saya mengira pintu masuk ke menara pandangnya dari situ. Ternyata bukan, karena di sini merupakan ruang utama para jamaah yang hendak berdoa. Seorang bapak penjaga yang berpakaian jas rapi menunjuk ke pintu keluar di sisi kiri. “Setelah keluar, belok kanan,” katanya. Saya sempat melihat deretan bangku gereja dan patung-patung para santo di kiri-kanan atasnya, dan sebuah altar bergaya barok di bagian ujung sana. Wheww, altarnya besar dan tinggi seperti hendak mencapai langit-langit ruangan gereja, serta penuh ukiran.

Standard